
"Sayang, kamu kirim hadiah apa untuk ayah?"
Riri membaca pesan yang baru saja dikirimkan Sugi padanya
"Ada deh ๐๐" Jawabku sambil tersenyum sendiri
"Ihhh... Kalau aku bisa menebaknya, aku dapat apa?"
"Nggak mau ah, palingan ayahmu sudah kasih bocoran ๐"
"๐ ayah nggak ada bilang apa-apa, sayang. Aku hanya mencoba menerka hadiahmu" Sugi tanpa sadar tersenyum saat membaca balasan dari Riri
Beberapa orang yang melihat hal tersebut langsung mengambil fotonya
"Walaupun hanya dari bagian samping, tapi aku bisa melihat senyumnya yang manis" bisik seorang tamu pada teman disebelahnya, mereka berdua menatap lekat foto yang ada si layar diponsel
Riri lagi-lagi tersenyum "Aku nggak percaya, aku yakin kalau kamu sudah mendapatkan informasinya walaupun hanya sedikit ๐คช. Pak Dirut sebaiknya jangan mencoba menipu wanita baik-baik seperti diriku ๐คญ"
"๐ , sini aku cubit pipimu"
Aku tanpa sadar terkekeh "๐"
"Riri, ponselnya di taruh dulu. Itu makanannya dikerubuti laler loh" suara Bu Alina mengagetkanku
"Hahahaha Bu Ina ah bikin kaget"
"Pacarannya nanti aja, ayooo makan dulu"
"Iyah Bu" kataku, lalu mulai menyantap makanannya. Namun sedetik kemudian matanya kembali ke layar ponsel yang ada di tangan kirinya
Bu Alina nampak menggeleng melihat kelakuan keponakannya ini
"Pajangan Batu Kristal berwarna biru turquoise itu kirimanmu?"
"Iyah, semoga ayahmu menyukainya"
"Dia bukan hanya menyukainya tapi tadi sempat di singgung pada wartawan. Tentu saja ia tidak menyebut itu pemberian dari siapa"
"Hehehehe baguslah kalau ayahmu menyukainya, aku jadi lebih tenang"
"Ku dengar tadi ada insiden kamu hampir ditabrak pramusaji?"
"Iyah, aku yakin itu ulah Silvi. Untung saja aku bisa menghindar"
"Wuihhh calon istriku hebat banget sih ๐"
"Calon istri? Maksudmu yang tadi ikutan ke depan pakai gaun merah? ๐คญ Kasihan kok dicuekin sih? Kenapa nggak diajak duduk bareng?!"
"Ihhh nggak ya!!! ๐ก"
"๐ ๐ "
Bu, Aku ke toilet dulu ya!" Kataku pada Bu Alina yang sedang menikmati makan malamnya dengan tenang
"Iyah, hati-hati. Kalau tidak salah toiletnya di luar. Kamu lewat kiri lurus nah disekitar sana" Bu Alina menunjuk ke arah yang ia sebutkan tadi.
"Oh ok Bu" jawabku lalu ke arah yang ia sebutkan tadi
Sepanjang jalan yang ku lalui, beberapa laki-laki nampak menatapku kemudian tersenyum. Dengan enggan aku membalas senyuman mereka dan berharap mereka tidak mendekatiku untuk berbasa-basi.
__ADS_1
Di depanku ku lihat Sugi juga menuju ke arah yang sama denganku. Ia nampak menyapa seseorang kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari tempat ini.
Bersama pak Doni yang mengikutinya dari jauh ia berhenti di satu sudut gelap untuk menghubungi seseorang dengan posisi tubuh membelakangi. Walaupun beberapa tamu terlihat berlalu lalang di sekitar tempat ini, namun karena pencahayaannya yang redup hingga tak seorangpun mengenali Sugi.
Ponsel ditanganku bergetar, kulihat Sugi melakukan panggilan. Pak Doni yang berada persis di depanku menoleh ke belakang. Aku menaikkan telunjuk ke bibirku untuk mengisyaratkan padanya agar tidak menyapaku.
Pak Doni tersenyum sambil mengangguk. Sambil mengangkat telepon darinya, pelan-pelan aku menyusulnya dari belakang.
"Sayang..." Kudengar ia berbicara dengan suara yang lembut
"Iya..." aku menjawabnya saat sudah berada tepat dibelakangnya sambil mencubit pantatnya yang kencang dengan gemas. Kemudian lari terbirit-birit melewatinya sambil menahan tawaku. Beberapa tamu yang kebetulan lewat keheranan melihat tingkahku yang tiba-tiba saja berlari dengan kencang
"Heiii!!!" Ia memekik tertahan karena kaget, tangannya terlambat menjangkauku yang sudah lari lebih dulu.
Pak Doni terlihat menutup mulutnya menahan tawa di belakang.
Sugi mengelus tengkuknya kehabisan kata-kata "CK! Awas yah, nanti kalau aku balas nggak boleh marah"
"Hahahaha bentar sayang, aku ke toilet dulu"
"Teleponnya nggak usah dimatikan"
"Tapi?!"
"Nggak ada tapi-tapi" ujarnya tegas
"Ya deh" ujarku pasrah sambil memasukkan ponselku ke dalam tas kecil yang aku bawa.
Saat masuk ia melihat Silvi juga ada disana, sedang memperbaiki riasannya di depan cermin wastafel. Empat bilik toilet yang ada disana nampak dalam keadaan kosong.
Langsung saja ia masuk ke dalam salah satu bilik tanpa menoleh pada Silvi. Ketika keluar, Silvi ternyata masih berada disana.
"Ternyata hotel mahal ini dermawan. Orang miskin bisa masuk seenaknya. Kalau miskin minimal tahu dirilah" ujar Silvi sambil melirik ke arah Riri
Riri melihat dari sudut matanya, dan masih santai mencuci tangan.
"Cuih!!! Seketika image hotel ini jadi murahan gara-gara si gadis miskin datang kemari... toiletnya juga jadi bau busuk!!!" Silvi meludah
Riri masih terdiam, ia mematikan keran dan menarik satu lembar tisu untuk mengelap tangannya.
"Lama-lama disini aku jadi merasa ikut miskin, ihhh" ujar Silvi lagi sambil bergidik
"Anda baik-baik saja? Sepertinya Anda sedang sedikit sakit. Dari tadi saya lihat, Anda bicara sendiri seperti orang tak waras" Riri menaikkan jari telunjuknya ke dahi dan memiringkan jarinya disana. Ia sengaja menunjukkan isyarat kalau Silvi gila sambil tersenyum mengejek padanya.
"Kurang ajar!!!" Silvi berteriak, tangannya terangkat hendak menampar Riri. Riri menangkap tangan Silvi dengan cepat dan meremasnya dengan kuat
"Lepaskan tanganku brengs*kkk!!!" Pekiknya sambil mencoba menarik tangannya dari genggaman Riri. Tarikan Silvi makin kuat, dengan sengaja ia melepaskan genggamannya. Akibatnya Silvi terpental menghantam tembok dibelakangnya.
"Aw! Sakit! Hiks!" Ia meringis kemudian terisak
"Anda sepertinya butuh rawat inap di RSJ!!! Otak anda mungkin baru saja bergeser lebih jauh dari sebelumnya" ujar Riri lalu keluar dari toilet
"*Njing!!! #%$&%ยฅยงยฃ....."
Terdengar berbagai macam makian yang dilontarkan oleh Silvi di dalam toilet. Ia seakan -akan lupa akan keharusan menjaga image di tempat umum, apalagi di acara penting semacam ini.
Langkah Riri terhenti saat melihat pak Doni sedang menungguinya di luar. Pak Doni nampaknya tidak bisa menahan tawanya sendiri saat melihat Riri.
"Hahaha... Astaga itu apa tadi bu???!!" Katanya sambil berusaha untuk menenangkan dirinya kembali
__ADS_1
Riri menaikkan telunjuknya kedepan bibir sambil berbisik "sttt... ada orang yang lagi ngamuk dibelakang, mungkin bentar lagi jadi zombie hehehe" Ia melanjutkan langkahnya menuju tempat dimana Sugi berdiri tak jauh dari sana.
Sementara beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar sana terlihat kaget mendengar suara teriakan dan makian Silvi didalam toilet. Sampai ada tamu yang melaporkannya pada sekuriti hotel yang secepat kilat datang untuk memeriksa apa yang sedang terjadi di dalam.
Dengan santainya Riri mengambil ponselnya yang masih terhubung dengan Sugi dari dalam tas. Ia yakin sekali Sugi juga telah mendengar semua yang terjadi di dalam toilet.
"Sayang, aku ketemu orang gila di toilet, dia hampir saja menamparku" ujarnya manja
"Hahahaha masa??... Duh kasihan sekali pacarku diganggu orang gila"
"Hahahaha aku masuk dulu ya, aku takut gilanya menular kan serem!"
Sugi menatap Riri yang sedang melewatinya
"CK! Dasar!, I love you sayang"
"I love you too sayang" jawab Riri lalu menutup ponselnya
Sementara itu dua sekuriti mengajak Silvi yang masih belum tenang keluar dari toilet.
"Saya wanita terhormat!!! Berani-beraninya kalian menarik paksa saya seperti ini!!!"
"Ibu tenang dulu, kami sengaja mengeluarkan anda dari toilet agar bisa bernapas lebih baik diluar. Mungkin dengan angin segar Anda jadi lebih tenang" kata seorang sekuriti ketika mereka sudah berada diluar.
Orang-orang yang berlalu lalang nampak mulai berkerumun didepan mereka.
Silvi hampir saja memaki-maki kedua sekuriti itu, namun urung ia lakukan karena sadar semakin banyak orang yang datang melihatnya.
"Tadi ada seseorang yang menyerang saya di dalam. Kemana saja kalian hah? Kenapa baru datang? Saya ini kerabat dekat keluarga Wijaya! Saya akan adukan kalian" Ujarnya lantang
Wajah kedua orang sekuriti nampak kaget sekaligus khawatir
"Malam pak, ada apa ini?" tanya pak Doni pada dua orang sekuriti tersebut. Nampaknya mereka langsung mengenali wajah pak Doni.
Wajah Silvi berubah terkejut melihat pak Doni juga ada disana
"Ini pak, kami tadi mendengar laporan dari tamu hotel katanya ada orang yang mengamuk di dalam toilet"
"Agar semuanya menjadi jelas, sebaiknya hal ini kita proses ini di dalam saja. " jawab pak Doni tanpa basa basi. Ia menatap wajah Silvi dengan sinis
Wajah Silvi berubah ramah, ia tersenyum salah tingkah "Eee..Saya tidak apa-apa pak, tadi hanya salah paham saja. Tidak perlu sampai harus ke kantor. Saya sudah baik-baik saja kok"
"Anda yakin Bu Silvi?" Pak Doni menatapnya tajam
"Yakin pak, tidak ada masalah. Hanya sedikit salah paham" Silvi mengangguk-angguk, ia terlihat sedikit panik
"Saya harap ibu Silvi menjaga sikap di hotel ini supaya tidak terjadi keributan. Apalagi saat ini sedang berlangsung acara yang penting di dalam" kata pak Doni mengingatkan Silvi
"Kalau begitu semua sudah clear ya? Tidak ada masalah lagi. Ok silahkan lanjutkan pekerjaan bapak-bapak kembali di pos masing-masing"
"Huuuu!!!...Huuu!!! sorak kecewa orang-orang yang berkerumun dan satu persatu mulai membubarkan diri.
"Baik Pak Doni, terimakasih" ujar kedua sekuriti hotel dengan wajah penuh kelegaan
Pak Doni menghela napasnya lalu kembali pada Sugi.
"Sudah clear semua. Untung saja tidak ada wartawan yang mengetahui hal ini pak"
Sugi mengangguk dan melangkah pergi dari tempat itu. Pak Doni seperti biasa terlihat mengekor padanya.
__ADS_1