Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Mulai sibuk


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini aku mulai bekerja dari rumah setelah seminggu beristirahat. Setiap sore staf baru yang bernama Lisa selalu mengirimkan laporannya padaku, sehingga aku mengetahui setiap aktifitas yang sedang terjadi di kantor.


Kemarin aku sempat membuka lowongan pekerjaan tukang masak dan pramusaji di beberapa situs pencarian lowongan yang cukup terkenal, untuk persiapan warungku yang tak lama lagi akan mulai buka.


Sekitar siang hari aku banyak menerima email lamaran kerja. Setelah memeriksanya aku mulai menghubungi mereka satu persatu untuk mengatur rencana interview.


Saat sedang berbicara di ponselku, Aku dengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Suara derap kaki yang khas terdengar masuk ke dalam rumah. Sugi muncul dengan wajah yang penuh senyum.


Aku melambaikan tangan padanya, ia berdiri mematung di hadapanku


"Iyah saya tunggu kedatangannya besok siang jam 1 yah pak"


"...."


"Iyah sama-sama pak"


Aku menutup pembicaraan dan meletakkan ponselku di atas meja


"Kok jam segini sudah kembali sayang? Sudah makan siang?"


"Aku kangen sama kamu" katanya pelan sambil


kembali tersenyum


"Pasti jadwalnya tiba-tiba kosong ya?"


"Hahahaha tahu aja. Ada meeting yang cancel padahal aku sudah dalam perjalanan, ya sudah aku mampir aja kemari"


"Aku buatin minum ya? Mau kopi apa yang manis-manis?" Aku beranjak bermaksud menuju ke dapur


"Mau kamu aja sih sebenernya" ia menarik tanganku lembut "cium dulu sini!"


Aku mengikuti tarikan tangannya yang kemudian melingkar di pinggangku. Ia mendaratkan ciumannya pada bibirku berkali-kali


"Nah sekarang aku baru minta tolong dibuatkan secangkir kopi" ia melepaskan lingkaran tangannya di pinggangku


"Tunggu ya sayang, eh pak Doni nggak sekalian dibuatkan?"


"Boleh, kayaknya dia lagi nggak fokus hari ini. Aku panggil dia kemari. Tadi sih sempat mau ikut masuk tapi aku larang. Hehehehe" ia tertawa geli sembari mengetik pesan untuk pak Doni


Aku menuju ke dapur dan mengambil stoples biji kopi dari dalam rak "Tadi makan siang dimana?"


"Di kantor, kamu sudah makan siang sayang? Yanti kemana? Sudah pulang?" tanyanya sambil mengekor padaku dan duduk di kursi panjang yang ada di depan dapur


"Aku juga sudah, tadi sempat masak sayur sama goreng telur aja. Yanti memang sudah dari kemarin minta bekerja setengah hari disini. Katanya jam 3 ikut kursus bahasa Inggris"


"Oh gitu, rajin yah dia"


"Iyah anaknya Bu Widi yang satu ini rajin dan pintar, sayang"

__ADS_1


"Siang Bu Riri" pak Doni dengan wajah muram muncul dari balik pintu


"Siang pak, silahkan pak duduk dulu disitu" aku menunjuk ke arah meja makan


Ia mengangguk dan langsung menuju meja makan tanpa berbasa-basi


Aku meletakkan secangkir kopi di hadapan Sugi lalu kembali menjerang air di panci kecil diatas kompor, perasaanku mengatakan pak Doni sedang sakit


"Pak Doni kenapa pak? Sakit? Kok mukanya pucat dan lesu begitu?"


"Saya lagi pusing dan baru saja meriang Bu"


"Kecapekan yah pak, nanti saya buatkan teh jahe, sereh pakai madu ya" ujarku sambil mengambil obat di salah satu laci dapur


"Wah terimakasih Bu" ia melirik sedikit ke arah Sugi yang sedang terlihat cemberut, ia lalu buru-buru melihat ke arah lain pura-pura tidak melihat wajah cemberutnya


"Sama-sama, ini obat meriang dan air putihnya. Diminum dulu biar nggak kebablasan sakitnya" aku menyerahkan satu strip obat tablet kepada pak Doni


"Ok, thank you Bu Riri"


"Iyah biar pak Doni sehat terus, biar bisa selalu menemani pak Dirut kesayangan saya ini" aku menghampiri Sugi yang masih nampak cemberut


"Hei... Senyum dong. Sudah dibuatkan kopi kan?"


Dia melirik tajam kearah pak Doni yang sedang merebahkan wajahnya diatas meja makan. Aku sudah sedari tadi menyadari kecemburuannya yang kadang memang muncul tanpa alasan seperti saat ini.


Ia memejamkan matanya sambil tersenyum


"Mau..." jawabnya dengan nada manja


"Hari ini jadwal pak Dirut padat nggak? Kalau memang masih kosong, biarkan saja pak Doni istirahat di kamar atas"


Ia mengangguk setuju


Aku kemudian bergegas membuatkan mereka minuman.


"Besok rencananya aku sudah mulai bekerja kembali ke kantor, sayang. Aku menghubungi beberapa kandidat tukang masak dan pramusaji untuk interview besok siang" kataku sambil meletakkan minuman dingin dalam tumbler di depan Sugi.


"Perlu diantar?"


"Nggak usah aku bisa sendiri kok"


"Yakin? Masih sakit nggak?"


"Masih tapi kalau pelan-pelan harusnya nggak apa-apa"


"Jadwalku hari ini kan kosong, gimana kalau kita kesana untuk melihat warungnya sebentar?" ujarnya terlihat bersemangat


"Boleh, aku ganti baju dulu yah"

__ADS_1


Ia mengangguk


Kemudian aku meletakkan minuman hangat di depan pak Doni yang nampak lemas


"Pak Doni!, minum dulu pak mumpung masih hangat" aku membangunkannya


Pak Doni mengerjap dan perlahan bangkit


"Makasih yah Bu Riri" ia nampak mengambil tangkai mug dan meniup-niup asap yang mengepul lalu menghirup minuman tersebut sedikit demi sedikit


"Enak Bu" ujarnya lemah


"Pak Doni sebaiknya beristirahat disini, sementara bisa pakai kamar saya diatas. Lebih baik menginap saja biar cepat pulih kondisinya"


Ia menoleh pada Sugi


"Silahkan beristirahat untuk hari ini pak" kata Sugi


"Kalau begitu saya naik dulu yah Bu"


"Iyah pak"


ia berdiri sambil membawa mug tadi lalu bergegas naik ke lantai dua


Aku mulai membereskan peralatan yang tadi aku gunakan, setelah selesai aku berniat mengganti pakaianku


"Aku ganti baju dulu ya, Sayang" kataku sambil berlalu


Ia nampak mengikutiku menuju kamar Damar. Langkahku terhenti dan menoleh padanya tanpa mengatakan apapun


Ia sepertinya mengerti arti pandangan mataku yang masih merasa agak kurang nyaman kalau harus diperhatikan saat mengganti pakaian


"Nggak usah protes, aku pokoknya mau ikut masuk" ia menarik tanganku masuk ke dalam kamar. Aku hanya bisa mengikuti tarikan tangannya sambil menghela napas


Ia melipat kakinya ketika duduk dengan tenang sambil memperhatikan setiap gerak-gerik ku dengan wajah penuh senyum.


"Yuk berangkat, aku sudah siap" aku menghampirinya


"Aku suka kamu nggak seribet wanita lain kalau mengganti baju. Sat set.. sat set.. selesai"


"Kan mampir bentar aja, nggak ketemu siapa-siapa. Apa aku perlu pakai make up berat?"


Ia menggeleng "nggak usah. Sudah cantik kok" ia berdiri dan merangkulku


"Yuk, biar nggak kesorean"


Aku mengikuti langkahnya keluar dari rumah


Sugi mengendarai mobilnya dengan perlahan keluar dari rumah ini, setelah menutup pagar aku pun ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2