
Riri akhirnya pulang setelah dua malam dirumah sakit. Selama dua hari itu Riri tak banyak bicara. Ia lebih sering beristirahat karena pengaruh obat dan kelelahan psikis yang di hadapinya.
Damar dan Sugi pun tak berani banyak bertanya tentang keadaannya, karena setiap mereka membahas tentang Hadi ia selalu terlihat gelisah, kemudian mual dan memuntahkan isi perutnya saat itu juga.
Kejadian itu sangat membekas dalam benaknya, ia merasa jijik setiap mendengar nama Hadi disebut. Ia belum bisa mengenyahkan aroma asap rokok dan minuman keras yang ia sempat hirup dari mulut Hadi dari dalam pikirannya.
Bersama dengan Dion, Damar menurunkan barang-barang mereka dari dalam mobil. Sedangkan Riri atas perintah Damar sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah dan kini sedang duduk berselonjor di atas sofa ruang tamu. Ia nampak kurang bersemangat.
"Tari, urusan villa dan warung biar aku saja yang menangani untuk sementara waktu. Kamu lebih baik ambil cuti panjang. Lakukan apapun yang membuatmu lebih tenang" ujar Damar dengan wajah khawatir, ia ikut duduk di sebelah Riri.
Dion hanya diam menatap Damar dengan wajah bingung. Ia merasa suasana rumah ini tak seperti biasanya yang hangat dan penuh tawa.
Riri hanya mengangguk tak menjawab perkataan Damar, ia terlihat memejamkan matanya dan sesekali menghela napas.
"Tari, kamu baik-baik saja kan? Sudah dua hari ini kami semua merasa kamu berbeda. Kamu menjaga jarak dengan kami semua, seperti ada tembok tinggi di sekelilingmu. Aku bingung Tari, coba kamu katakan apa yang ada dalam pikiranmu itu"
Riri bergeming, tidak ada tanda-tanda ia akan menjawab ucapan Damar
"Ayolah Tari, bantu aku untuk memahami apa yang kamu rasakan. Kamu nggak kasihan sama kami, kami semua sayang sama kamu Tari. Apalagi Sam, selama di rumah sakit dia yang paling merasa bersalah dengan keadaanmu sekarang. Bahkan untuk mendekatimu saja dia ragu sekali"
Damar menghela napasnya
"Aku tahu apa yang kamu alami berat, tapi setidaknya kamu bisa bagi hal itu padaku atau siapa saja, aku nggak tenang melihatmu begini"
Riri membuka matanya, ia menoleh ke arah Damar. Ia terlihat ragu namun kemudian ia akhirnya membuka mulutnya "aku merasa jijik kak" air matanya kembali tergenang suaranya terdengar bergetar
"Aku nggak bisa menghilangkan aroma busuk mulutnya dari ingatanku" ujar Riri dengan air mata yang mengalir deras
"Malah sekarang semua hal yang aku hirup baunya jadi sama busuk kak ... Aku bahkan jijik dengan bau badanku sendiri"
Damar mendekatkan dirinya lalu memeluk Riri dengan perasaan sedih sekaligus kasihan. Ia berusaha kuat menahan air matanya yang juga sudah menggenang.
"Tari..." ujarnya lirih sembari mengelus punggungnya
"Semua akan baik-baik saja, Ini pun akan berlalu. Kamu kuat, aku yakin kita akan bisa melewati ini dengan baik. Kami semua akan selalu ada untukmu"
Tangis Tari kian menjadi dalam pelukan kakaknya. Ia terlihat lemah dan tak berdaya.
Dion terlihat sedih, ia tak bisa melakukan apa-apa saat ini. Tiba-tiba ia teringat akan pamannya Yanuar ,seorang Psikiater yang merupakan adik dari ibunya. Paman Yanuar adalah salah satu psikiater terbaik saat ini yang ia yakin bisa mengatasi traumatis yang dialami Riri. Namun ia ingin menunggu momen yang tepat sebelum melontarkan ide itu pada Damar.
Usai menangis, Riri yang nampak kelelahan akhirnya tertidur pulas dalam pelukan Damar. Ia pun di gendong naik ke kamarnya.
Ponsel Damar bergetar, Sugi melakukan panggilan
__ADS_1
"Ya Sam" jawab Damar sambil menuruni anak tangga
"Gimana Riri?"
"Tari baru saja tidur, ia kelelahan Sam. Dia mengalami PSTD (post traumatic stress disorder) persis seperti dugaan dokter kemarin, dan kita juga sempat membahas ini kan sebelumnya?!"
Sugi diam beberapa saat, Damar pun tahu kalau Sugi sedang sedih dan kecewa pada dirinya sendiri.
"Tenang Sam, kita akan bantu adikku kembali pulih. Kamu nggak usah berpikiran macam-macam. Kamu kemari kan?!"
"Iyah maunya sebentar lagi setelah urusanku selesai, tapi aku takut Riri menolak bertemu denganku. Semalam saja dia bilang ingin sendiri sementara waktu" ujar Sugi pelan
"Sudah, kamu pokoknya datang. Kita bicara pelan-pelan nanti dengan Tari. Kabar bagusnya sejak dia tertidur tadi belum ada sekali pun dia mengigau seperti kemarin"
"Oh ya?! Bagus dong. Ok aku pasti datang" tutupnya singkat
Damar kemudian membuka aplikasi pengiriman makanan online, ia memesan beberapa makanan lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam saku kemejanya
Dion menatapnya tak berkedip.
"Kamu kenapa Dion?!" Tanya Damar, dia tahu Dion ingin mengatakan sesuatu padanya
"Hmm apa sebaiknya kita bawa Riri ke psikiater ya kak?!"
"Rencanaku begitu, mudah-mudahan dia mau. Aku khawatir dia takut dan menolak, bisa-bisa Tari makin menutup diri dari kita bahkan semua orang"
Damar mengangguk-angguk "nanti kita bahas rencananya gimana. Aku maunya kita nggak secara langsung bilang mau bawa dia ke psikiater"
"Aku tahu maksud kakak. Nanti aku coba bicarakan pada paman siapa tahu bisa bertemu dengannya dirumah Ibuku diluar jam kerjanya sambil ngobrol-ngobrol biasa"
Damar tersenyum lega, ia merasa setengah bebannya terangkat saat ini.
"Dion aku berterima kasih sekali atas semua bantuanmu padaku dan Tari"
"Ah ini tidak seberapa kak, hanya kalian berdua yang menerimaku dengan baik walaupun semua orang mengatakan aku buruk dan tak berguna. Bahkan aku sudah dianggap adik olehmu itu sudah luar biasa bagiku" Dion tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih
Damar menepuk pundaknya "Iya Dion... Iya" jawabnya sambil ikut tersenyum
Mereka kemudian kembali ke kesibukan masing-masing. Damar dan Dion terlihat sibuk dengan Notebooknya di meja makan. Sudah beberapa hari ini urusan pekerjaan mereka terbengkalai. Terutama Damar, selain mengurusi perusahaannya sendiri ia pun harus memeriksa pembukuan dan beberapa laporan dari warung Priboemi dan Villa Lembayung.
Hari beranjak senja terdengar suara pintu pagar di buka dan sebuah mobil masuk ke dalam. Langkah kaki tegas Sugi yang khas terdengar mendekat.
"Rio, Riri sudah bangun?" tanyanya sambil ikut duduk di meja makan
__ADS_1
"Belum, cek keatas gih" jawab Damar dengan wajah tenang dan pandangan meyakinkan seolah-olah mengatakan Riri baik-baik saja, dan dia tidak usah terlalu khawatir.
Sugi memandang Damar sejenak dengan perasaan ragu, namun akhirnya ia pun bergegas menaiki anak tangga untuk ke kamar Riri. Ia pun sebenarnya tak bisa menahan diri untuk sekedar melihat keadaannya hari ini
Pak Doni pun ikut duduk disebelah Damar. Ia nampak berbisik pada Dion. Entah apa yang sedang mereka bicarakan
Sugi tanpa suara pelan-pelan masuk ke dalam kamarnya. Ia memandangi wajah Riri yang nampak polos dan tenang dalam tidurnya. Tangannya terulur ingin menyentuh pipinya, namun urung ia lakukan. Ia takut Riri akan terkejut dan mengganggu istirahatnya.
Ia kembali teringat dua hari kemarin di rumah sakit. Beberapa kali ia menenangkan Riri yang mengigau ketakutan dalam tidurnya. Namun kali ini ia cukup senang karena tidurnya ternyata lebih lelap daripada di rumah sakit.
Sugi pun kemudian keluar dari kamar Riri untuk membahas beberapa hal dengan Damar.
"Urusan kalian sudah selesai?" Tanyanya pada Damar dan Dion.
"Saya sudah" jawab Dion
"Aku lagi ngecek laporan, sambil-sambil aja" Sahut Damar tanpa menoleh kearah Sugi
"Aku bawa kabar tentang Silvi. Ibuku bilang dia akan di pindahkan ke Rumah sakit Jiwa usia pemeriksaan dari dokter waktu itu"
"Tempat yang cocok" celetuk Dion dengan wajah kesal
"Sedang hamil kan?! kasihan juga sebenarnya. Tapi itu tidak sebanding dengan apa yang dia telah perbuat pada Tari" Damar menggeleng
"Dia keguguran di sel kemarin sewaktu orangtuanya menjenguk kesana. Sekarang sedang dirawat di rumah sakit" kata Sugi, ia menghela napas, ada sebersit rasa kasihan di matanya. Apalagi setelah dia mendengar cerita dari ibunya kalau Silvi sekarang terlihat sangat menyedihkan.
Sedetik kemudian semua orang terdiam dengan pikiran masing-masing
"Bagaimana dengan Hadi?" tanya Damar
"Hadi juga masih dirawat di rumah sakit, kemungkinan besar kedua kakinya tidak akan bisa berfungsi kembali dengan normal"
Kali ini Damar terlihat kesal "Kenapa nggak sekalian kena otaknya aja sih?!" ujarnya ketus
"Aku juga mendengar informasi tuntutannya, dia kena pasal penculikan dan penyekapan, percobaan pemerk*saan dan pengancaman hukuman kurungannya sekitar 18-20 tahun"
Wajah Damar mengeras, ia terlihat tidak puas dengan informasi itu.
"Tapi jangan khawatir aku akan pastikan dia di kenakan hukuman maksimal" lanjut Sugi
Walaupun Damar masih terlihat kecewa namun ia masih mengangguk paham pada Sugi
"Aku berniat mengajak Riri ke psikiater" Damar menoleh ke arah Sugi
__ADS_1
"Iyah sepertinya itu memang diperlukan"
Dion pun mendekatkan dirinya untuk bersama-sama membahas rencana mereka untuk mengenalkan Riri dengan hati-hati pada psikiater yang dimaksud dirumah Bu Siska