Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Kelelahan


__ADS_3

Dua orang staff housekeeping yang datang nampak termangu saat Sugi menyerahkan gaun hitam Riri pada mereka. Mereka seperti terbius oleh kharisma yang dimiliki oleh Dirut Muda ini. Sudah lama sekali mereka mendengar rumor bahwa Dirut muda Wijaya Grup yang baru tidak hanya rupawan namun memiliki kharisma yang luar biasa. Ternyata rumor itu terbukti saat keduanya mendapat kesempatan bertemu langsung dalam jarak dekat saat ini.


"Bu.... Helo...Bu!!... Halo" Panggil Sugi berulangkali pada dua orang yang sedang didepannya ini.


Setelah akhirnya tersadar mereka pun kaget dan gelagapan salah tingkah


"Maaf pak, eee... baik nanti gaunnya akan kami bantu setrika" ujar salah satu dari mereka saat mengambilnya dari tangan Sugi yang sedari tadi terulur


"Hati-hati, jangan sampai rusak. Nanti dibawa kembali lagi secepatnya"


"Baik pak, permisi pak" jawab keduanya berbarengan lalu dengan kikuk berbalik badan lalu pergi tergesa-gesa.


"Gila, pak Dirut itu beneran ganteng ya! Aku sampai bengong loh tadi" ujar salah seorang housekeeper saat mereka telah berada di luar villa


"Iyah kita jadi kayak orang bego!" Jawab temannya dengan wajah meringis


"Nggak nyangka kita dapat kesempatan langsung bertemu beliau. Tahu gitu aku makeup dulu tadi" ia mengusap-usap pipinya dengan wajah penuh penyesalan


"Halah, di makeup-in juga hasilnya segitu-gitu aja'. Jangan menghayal deh"


"Ehhh siapa tahu kan? Duh! ganteng banget sih" ia memeluk badannya sendiri merasa gemas


"Hahahaha mimpi siang bolong!!"


"Hahahaha eh Ini gaun siapa ya kira-kira? Kudengar beliau masih single. Bisa jadi ini gaun pacarnya"


"Bisa jadi, beruntungnya wanita itu. Sayangnya kita nggak bisa masuk ruangan acara nanti sore. Aku penasaran siapa wanita beruntung itu"


"Iyah aku juga penasaran"


"HEIII!!! Kalian berdua malah ngobrol santai. Kerjaan kita lagi banyak!!!" Teriak seorang laki-laki pada mereka, yang telah menunggu keduanya di ruangan clerk.


Sementara itu Riri baru saja bangun dari tidur siangnya yang lelap. Dengan mata yang masih setengah terpejam ia meraba-raba di sekitar tempat tidurnya. Tak ia dapati Sugi disebelahnya lagi. Ia langsung terduduk karena baru saja ingat acara ulang tahunnya ayah Sugi yang akan berlangsung sebentar lagi.


Wajahnya kemudian terlihat panik mencari-cari ponselnya diatas nakas untuk melihat pukul berapa saat ini.


"Kamu lagi nyari apa?" Suara Sugi yang berat dan lembut mengagetkanku.


"Astaga, kamu disana rupanya?" Sahutku dengan suara parau sambil menoleh kearahnya yang ternyata sedari tadi duduk di samping tempat tidur. Ia nampak duduk tenang dengan kaki menyilang


"Aku lagi melihat pemandangan alam. Ada kelinci putih baru bangun tidur lucu deh hahahaha" ia tergelak


"Ck! Sayang, ini jam berapa sih?"


"Jam 5" jawabnya santai


"Hah!!? Kenapa tidak membangunkanku? Aku kan harus siap-siap. Gaun ku dimana?" Ujarku sembari bergegas turun dari ranjang


Ia tersenyum geli "masih sejam lagi, lagipula acaranya pasti mulai jam tujuh kan?! Gaunmu ada di dalam lemari. Sudah rapih kok"

__ADS_1


Tangannya terulur perlahan untuk menyentuhku yang hanya mengenakan pakaian dalam.


"CK! Jangan...hehehe" aku tertawa geli lekas menangkap tangannya dan meletakkannya di atas ranjang


Wajahnya berubah cemberut


"Bentar, aku mau cuci muka"


"Aku bantu ya?" Senyumnya mengembang kembali bersiap menangkapku


"Nggakkkk... hahahaha" Aku lari terbirit-birit menghindari tangkapan tangannya


"Hahahahaha" tawanya terdengar menggelegar memenuhi kamar ini, cara Riri berlari nampak lucu di tambah ia hanya mengenakan pakaian dalamnya saja.


Pikirannya kembali melayang saat ia terbangun sekitar satu jam yang lalu. Ia melihat Riri tidur dengan nyenyak dalam pelukannya. Beberapa kali ia tidak mampu menahan diri untuk sekedar mengecup rambut, pipi dan keningnya. Ia merasa bahagia karena sampai sekarang Riri masih begitu percaya padanya.


Padahal sebenarnya ia hanyalah laki-laki dewasa normal pada umumnya. Yang bisa tergoda melakukan hal-hal lebih intim pada wanita yang dicintainya. Namun ia merasa sementara ini masih harus menahan diri demi menjaga kepercayaan Riri padanya. Beberapa kali Sugi tersenyum menggeleng karena tidak habis pikir dengan dirinya sendiri yang sampai saat ini masih kuat dengan prinsip itu.


"Aku percaya saat itu akan tiba dengan sendirinya" ia bergumam sendiri


"Nggak siap-siap?" tanyaku pada Sugi yang kulihat masih duduk dengan tenang


"Aku tinggal ganti baju, sudah!..selesai"


"Enak banget jadi laki-laki, sementara aku harus make up, menata rambut. Ribet banget"


Aku memberikan lirikan tajam padanya "yeah right!" Ujarku lalu kembali sibuk mempersiapkan diri


"Bahahaha" Gelak tawa Sugi terdengar kembali


Setelah usai mempersiapkan diri, kulihat Sugi sedang memakai kemejanya. Ia kali ini memilih mengenakan kemeja putih dengan blazer dan celana panjang berwarna abu tua. Seperti biasa dia kelihatan sangat gagah dan berkharisma.


"Sayang, nanti aku lebih dulu berangkat ke lokasi ya!"


"Mmm...ok. Padahal aku mau pamer punya calon istri cantik di depan semua tamu yang datang" ia menghela napasnya


"Hehehe pamernya kan bisa nanti aja pas nikah"


Ia tersenyum dan terdiam agak lama "ok" ucapnya singkat lalu kembali sibuk memakai blazernya


"Marah ya sayang?" tanyaku merasa tidak enak hati dengan responnya


Ia menggeleng "nggak, aku yang kurang bersabar"


Aku menghampirinya lalu memeluknya dari belakang


"Aku bilang aku nggak marah sayang. Sini..." Ia menarik tanganku agar berdiri di hadapannya


Ia tersenyum "Apapun akan ku lakukan untuk membuatmu merasa nyaman. Nanti saat semuanya sudah berjalan lancar aku harap kau menepati janjimu"

__ADS_1


Aku mengangguk pelan "Iyah aku tahu"


"Mau berangkat duluan?"


Aku mengangguk "ini sudah hampir pukul enam" kataku sambil melihat ke layar ponsel


"Ok, Aku telepon pak Doni dulu"


Ia nampak berbicara dengan pak Doni melalui ponselnya


"Sebentar lagi dia kemari, katanya tamu-tamu yang lain juga sudah ramai berdatangan"


Aku menghela napas "ok aku siap"


Ia merundukkan kepalanya dan mengecup kening , pipi dan turun ke leherku "Ririku sayang, hati-hati ya. Kita akan bertemu kembali disini usai acara"


Bisikannya menyadarkan aku kembali bahwa sebentar lagi aku akan berada di tempat yang sama dengan Silvi. Itu berarti aku harus meningkatkan kewaspadaanku.


Ku dengar ponsel Sugi berbunyi, ia membaca pesan yang masuk


"Pak Doni sudah berada di depan"


"Aku berangkat sekarang" ujarku sambil memeluknya sekali lagi dan berlalu keluar kamar


Sugi masih mematung memperhatikan punggung Riri yang nampak menjauh.


Di luar villa, Riri yang baru saja naik kendaraan Buggy bersama pak Doni. Dalam perjalanan pak Doni beberapa kali terlihat menyunggingkan senyuman pada Riri


"Pak Doni kenapa senyum-senyum?" tanyaku keheranan


"Masa senyum saja nggak boleh Bu"


"Make up saya jelek ya? Atau ada yang aneh dengan penampilan saya?"


"Semuanya sempurna Bu, Bu Riri terlihat mempesona malam ini. Jangan khawatir. Saya senyum karena ikut senang. Hari ini Bu Riri bisa bertemu dengan bapak dan.... Eee.. eee...jadi bisa mengobrol lama-lama hehehehe" ia seperti terlihat bingung dengan ucapannya sendiri lalu terkekeh


"Saya tahu ini....Pak Doni pasti mikir jorok ya? Hahahaha saya aduin ah ke bapak"


"Hehehehe jangan dong Bu" ia kembali terkekeh "Tapi benar, saya senang Bu Riri bisa menemani bapak hari ini. Tadi waktu menghubungi saya, suaranya sudah tidak seketus biasanya, saya lega Bu"


"Mungkin karena tadi sempat tidur siang sebentar"


Wajahnya pak Doni terlihat antusias "Wahh sempat tidur siang juga rupanya, pantas saja moodnya lebih baik. Beliau pasti 'kelelahan', kalau tidak mana mungkin bisa tidur siang. Ya nggak Bu?!"


Aku menatap tajam ke arahnya


Melihat perubahan dari wajah Riri, ia pun kaget "Eh.. .maksud saya kelelahan karena beberapa hari kurang tidur bu" ia menggaruk kepalanya sendiri salah tingkah


"Duh kok bisa? tatapan tajam mereka sama persis bikin merinding begini sih?!" Pak Doni bergidik sendiri teringat wajah kejam Sugi saat sedang marah.

__ADS_1


__ADS_2