Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Priboemi


__ADS_3

Semalam Riri sengaja tidak menyetel alarm di ponselnya agar tidak mengganggu tidur Sugi yang nyenyak. Sehingga pagi ini ia hanya mengandalkan jam tubuhnya untuk terbangun tepat pukul 05.00.


Dengan berjingkat-jingkat ia langsung menuju kamar mandi. Setelahnya ia turun untuk menyiapkan sarapan di dapur.


Riri kemudian teringat pada Damar, ia belum sempat mengabarkan rencananya untuk membuka warung makan disebelah kantor mereka.


Sambil menggoreng telur ceplok ia menghubungi Damar.


"Ya, Tarii" terdengar suara Damar yang berat dah tegas di ujung sana


"Kak cuma mau bilang, aku ada rencana membuka warung makan di sebelah kantor kita"


"Wah bagus itu Riri, di coba saja siapa tahu ramai. Seingatku kompleks ruko disebelahnya kan kebanyakan kantor"


"Iya itu dia yang jadi pertimbanganku. Kalau semua rencanaku berjalan lancar mungkin aku akan mencari staff untuk membantuku dikantor"


"Iyah sebaiknya begitu, kalau warungnya ramai pasti kamu akan makin sibuk. Eh iya kasus Sugi gimana? Aku belum sempat menghubunginya"


"Dah selesai kak, orang yang menyebarkan berita palsu itu sudah diamankan pihak berwajib. Tapi sayang, dalangnya belum tertangkap"


"hmm aku yakin dalangnya orang dekat. Kamu sebaiknya berhati-hati Tari. Semoga saja tidak ada lagi kejadian buruk menimpamu, juga Sam"


"Semoga saja kak"


Aku mendengar suara derap langkah kaki seseorang menuruni tangga. Aku menoleh kearah suara, Sugi kini melangkah menghampiriku.


"Siapa?" tanyanya pelan


"Kak Damar"


"Sam menginap ya Tari?" tanya Damar


"Aku yang menginap di rumahnya"


"Mana dia? Aku mau bicara sebentar"


"Kakak mau bicara denganmu" kataku pada Sugi yang kini memelukku dari belakang sambil menghirup wangi tengkukku


"Mmm" Ia mengambil ponsel ditanganku


"Hi bro"


"....."


"Iyah...sudah selesai, yah biasalah"


"....."


"Sebentar lagi aku kekantor"


"...."


"Sudah, tenang bro. gampang lah itu"


"...."


"Sip, yah aku tahu"

__ADS_1


"...."


"thank you bro. You too take care"


Sugi mengembalikan ponselku


Aku melihat ke layar ponselku, rupanya sambungan teleponnya telah di matikan oleh Kak Damar


"Apa katanya? tanyaku pada Sugi


"Mmm...Aku disuruh nikahin kamu cepat-cepat" ia mencolek hidungku


Aku tergelak "Hahaha nggak mungkin dia ngomong begitu"


"Ih beneran... Coba saja kamu tanya dia"


Aku menggeleng sambil membawa dua tangkup roti berisi keju dan telur yang aku buat tadi dan kuletakkan diatas meja makan.


"Pokoknya nggak mungkin, duduk sini deh kita sarapan" ajakku sembari kembali untuk membuatkannya kopi. Aku sengaja memakai kopi kiriman dari Dion kemarin, supaya ia tahu uniknya rasa kopi nusantara ini


Ia bersandar pada di dinding di belakangnya sambil melipat tangan di dada. Ia menatapku dengan wajah cerah penuh senyum. Kemudian ia mengikuti ucapanku untuk duduk di salah satu kursi.


"Ini kopinya" aku meletakkan secangkir kopi di atas meja di depannya.


Ia mengernyitkan keningnya "Wanginya kok beda, ini kopi apa? kamu bawa kopi sendiri?"


"Cobalah dulu, nanti akan aku jelaskan ini kopi apa?" Jawabku sambil ikut duduk disebelahnya


Ia nampak menyeruput kopinya dan terdiam sejenak


"Gimana? Enak?"


"Ini Kopi Papua, Wamena. Kemarin, aku dikirimkan beberapa bungkus kopi Nusantara sama Dion. Salah satunya kopi ini"


Wajahnya berubah dingin


"Aku mau kopi yang biasa aku minum" jawabnya datar


"Heii... kamu marah?"


"Kamu kan tahu aku tidak menyukai orang itu. Kenapa dia mengirimkanmu hadiah?"


"Kita sempat mengobrol masalah kopi sebelumnya, mungkin tujuannya supaya aku tahu jenis-jenis kopi yang ada di negara kita"


"Wahh...baik sekali anak itu mau mengajarimu?" Ujarnya sinis


"Jangan begitu sayang, aku hanya ingin memperkenalkan rasa kopi ini padamu. Sebagai selingan saja, aku nggak ada maksud lain kok" aku mengusap lembut tangannya


Ia menghela napasnya masih menatapku dingin


"Ok, kalau kamu nggak suka aku akan memberikan hadiah Dion pada Bu Widi. Tunggu ya, aku buatkan kopi yang biasa" aku berdiri bermaksud untuk kembali ke dapur


Tiba-tiba ia menarik tanganku dengan cukup keras, hingga aku jatuh ke pangkuannya. Tangannya melingkar di pinggangku, ia menatapku tajam


"Saat bersamaku, jangan menyebut namanya lagi. Aku nggak suka"


"Terus aku harus gimana? Kamu lebih suka aku berbohong tentangnya? Baik akan aku lakukan"

__ADS_1


"Sebut saja dia "orang itu", jadi bibir manismu ini tidak perlu menyebut namanya berulang kali di hadapanku. Telingaku jadi sakit. Sekali lagi kamu menyebut namanya aku akan benar-benar membuat perhitungan dengannya"


Aku menahan tawaku saat mendengar kata-kata "telingaku jadi sakit" ini.


Aku hanya terdiam menatap matanya "Untung saja tawaku tidak jadi menyembur keluar. Ya ampun kenapa jadi serius begini sih? ia ternyata selain posesif juga sangat cemburuan" gumamku dalam hati


Ia kemudian memelukku erat "aku nggak mau kehilangan kamu, please pahami perasaanku ini. Maaf aku tadi agak kasar, aku terbawa emosi" ia berbisik


Aku menjadi luluh dengan bisikannya dan balas memeluknya erat.


"Tolong buatkan aku kopi yang biasa ya sayang" bisiknya lembut


"Tunggu yah" aku turun dari pangkuannya dan bergegas membuatkan kopi sesuai permintaannya. Perasaanku diliputi oleh rasa bersalah karena tanpa sengaja membuat mood paginya berantakan.


Aku kembali dengan kopinya. Kali ini aku menggeser meja kemudian duduk dipangkuannya. Ia mengelus kepalaku. "maaf ya sayang" ujarku di dadanya sambil memeluknya


Ia tersenyum samar lalu menghirup kopinya pelan.


Aku meregangkan pelukanku dan memandang wajahnya "masih marah?"


Ia menggeleng sambil mengelus pipiku


"Senyum dong sayang"


Ia tersenyum "ini sudah"


"Nah gini dong, gantengnya pacarku sudah balik lagi"


Ia lagi-lagi cemberut "gara-gara siapa coba?"


"Aku" jawabku sambil nyengir


"Ck!" Ia hanya menggeleng


"Gimana semalam? Nyenyak tidurnya?" Godaku sambil mengulum senyum


Ia memalingkan wajahnya sambil menahan tawanya "its my first time, jadi rasanya ya... Nggak tahu ah" ia mengangkat bahunya sambil mengelus lehernya


"Hahaha dari nyenyaknya tidurmu aku yakin ini pengganti pijat yang efektif. Ya kan?" Aku tergelak


Ia nampak terkekeh salah tingkah "hehehe"


Aku mengecup pipinya dan turun dari pangkuannya "aku juga mau sarapan, dah siang"


Kami melanjutkan sarapan yang tertunda ini dengan cepat


"Bu Widi kok belum datang jam segini?


"Bu Widi aku suruh datangnya agak siang" ia melirik ke arahku sambil menyunggingkan senyuman


"Ooo, ya sudah aku pulang dulu ya sayang. Mau ganti baju terus langsung berangkat ke kantor" aku berdiri


"Cium dulu" katanya lalu ikut berdiri dan mendekat untuk mengecup bibirku


"Hati-hati ya Sayang, nanti kabari aku kalau pak Budi sudah ke kantor"


"Ok, dah baby" jawabku sambil keluar dari rumah Sugi

__ADS_1


Sepanjang perjalananku menuju kantor hari ini, pikiranku hanya terisi dengan rencana-rencana untuk warung makan yang akan aku buat. Aku tiba-tiba mendapat ide untuk memberikan nama "Priboemi" untuk warung ini.


"yah aku akan memberi nama itu untuk warungku" gumamku senang


__ADS_2