
PRANG!!!... KRAKK!!!....GUBRAKK!!! .... BUG!!! GEDUBRAK!!!
Suara gaduh terdengar dari ruang kerja di rumah pak Brata yang sedang mengamuk. Seisi ruangannya habis porak poranda.
"Anak Sial!! Baj*ngan!! Bangs*t!!!
Semua makian dan sumpah serapah keluar dari mulut pak Brata tanpa henti
Istrinya pun tidak berani untuk menghentikan kegilaannya di dalam sana. Ia tahu sekali bagaimana tabiat suaminya ketika rasa marah, kecewa dan putus asa menjadi satu dalam pikirannya. Ia hanya bisa menangis dan menunggu sampai perasaan suaminya sedikit lebih baik setelah ini.
Tadi ia mendengar dari asistennya, orang yang dia sewa untuk mencari Mentari menghubunginya. Ternyata orang tersebut mengetahui keberadaan Mentari dan hampir saja menangkapnya.Tapi akhirnya urung di lakukan karena ternyata Mentari dilindungi oleh orang-orang dari keluarga Wijaya. Hal itu lah yang membuat suaminya kini mengamuk di dalam ruang kerjanya.
Setelah beberapa saat pak Brata akhirnya berhenti dan duduk dalam diam. Pikirannya di penuhi oleh keputusasaan. Pupus sudah harapannya untuk memperalat Mentari atas aset saham yang milikinya. "Kalau dua bulan lagi dia tidak muncul dalam rapat pemegang saham, sudah bisa dipastikan bagian saham yang dimiliki Mentari akan di tinjau ulang kepemilikannya"
"Aku tidak mau saham sebesar empat puluh persen itu jatuh ke tangan orang lain. Itu tidak boleh terjadi.....tidak boleh!!!" pak Brata memijit keningnya berulang kali
Istrinya masuk ke dalam ruangan dan memeluknya erat "yang sabar pak" katanya sambil menangis
"Sia-sia sudah usahaku selama ini. Kau tahu sendiri kan, bagaimana aku juga bekerja keras perusahaan ini. Tapi nyatanya ayahku selalu hanya mengingat jasa kakakku saja. Aku hanya si anak nomor dua yang ikut bekerja di perusahaannya"
"Aku tahu sayang, usahamu sudah luar biasa untuk perusahaan ini"
"Sekarang anak itu sudah berada di tangan Wijaya Grup. Usahaku bertahun -tahun musnah begitu saja" tangannya erat terkepal di atas meja
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita minta Erika untuk membantu membujuk Tari. Mereka sewaktu kecil kan sangat dekat. Mungkin kalau Erika yang meminta secara baik-baik, Tari akan mendengarkan"
Pak Brata nampak memikirkan ucapan istrinya.
"Baik, akan aku coba. Kalau dia berhasil membujuknya keuangan kita akan selamat" jawabnya kemudian merenung
"Kalau saja para investor tidak memaksa untuk meminta akta waris yang asli, tentunya aku tak perlu buru-buru mencari Mentari sampai seperti ini. Keputusannya di setiap rapat setiap tahun selalu di wakilkan keluarga ini. Saham yang dimiliki olehnya sangatlah besar, tanpa kehadirannya setiap tahun membuat para investor bertanya-tanya tentang keabsahan perwakilan ini. Tari memang sempat menandatangani surat kuasa secara sah, keuntungan 50 % miliknya masuk ke rekening kita bu. Tapi sejak lima tahun belakangan surat itu sudah tidak berlaku lagi. Artinya 100% keuntungan dari sahamnya telah masuk ke rekeningnya kembali"
"Supraja si*lan itu membuat aturan dan sistem yang benar-benar rapi. Setelah dia mati pun aku tetap tidak bisa mengubahnya dengan mudah. Jangankan 100%, Pihak Bank bahkan tidak bisa membantu kita untuk mengalihkan kembali keuntungan 50% tanpa ada surat kuasa baru dari Mentari" Ujar pak Brata dengan dahi berkerut
Istrinya hanya bisa terdiam mendengar ucapan Pak Brata. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu suaminya.
"Kau terlalu baik pada anak itu, sudah kubilang kan seharusnya sewaktu dia masih disini akta waris yang ia miliki kita sita saja. Dan kita jebak Tari untuk menandatangani surat pemindahan kepemilikannya" ucap Nyonya Brata geram
"Diam!!! Jangan ungkit lagi masalah itu"
Pak Brata menghela napas mendengar ujaran istrinya
"Kalau dia menjual sahamnya pada Wijaya Grup tamatlah nasib kita pa"
"Itu takkan terjadi, tenang saja. Kita akan berusaha merebutnya kembali. Apa yang menjadi milik keluarga ini akan terus berada disini. Sampai mati pun aku akan perjuangkan mati-matian" ucap pak Brata dengan mata penuh amarah
___________________________
__ADS_1
Setelah mengobrol banyak hal, Sugi nampak tertidur lelap saat aku memijat telapak dan jari tangannya.
Aku meletakkan tangannya perlahan di atas kasur. Usai mencuci tangan aku pun naik kembali ke atas ranjang. Aku teringat akan janjiku untuk tetap tidur di sebelahnya kalau dia tertidur lebih dahulu.
"Apa yang sedang terjadi padaku saat ini? Kenapa aku bisa menangis di depannya seperti semalam yah? Ini sudah ketiga kalinya ia melihatku menangis. Dan kenapa juga aku mau saja melalukan hal-hal diluar dari kebiasaanku selama ini. Bahkan pada Andi pun aku tidak pernah begini. Aku mulai merasa nyaman dengan kedekatan kami. Padahal sebelumnya, jangankan tidur berdua dengan lawan jenis, mengobrol terlalu lama pun aku terkadang risih. Apalagi harus menyentuh bagian tubuh untuk di pijat begini. Entahlah, yang aku tahu aku merasa aman saat bersamanya. Ada perasaan bahagia yang selalu kurasakan saat bisa membantunya sedikit. Kelegaan yang luar biasa saat melihatnya tertidur lelap seperti ini. Aku juga tidak mengharapkan apapun di masa depan, aku takut merasakan kekecewaan mendalam kembali" pikirannya berputar-putar kesana kemari. Karena kelelahan, Riri pun juga akhirnya tertidur.
Dua jam kemudian, Sugi terjaga. Matanya dengan cepat menoleh ke sebelahnya. Dilihatnya Riri masih terlelap dengan wajahnya yang tenang. Senyum Sugi terkembang melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Tangannya terulur untuk mengelus kepala Riri dengan sayang.
Keesokan harinya Riri terbangun dari tidurnya yang lelap. Sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela kamar. Mata Riri memperhatikan sekelilingnya, tidak ia dapati Sugi di sebelahnya lagi. Betapa kagetnya ia kala melihat jam di dinding. Jam menunjukkan pukul 06.45 menit. Riri bergegas turun dari ranjang dan berlari keluar kamar.
Riri mendapati Sugi duduk di meja makan sambil melihat ponsel. Mata Sugi terarah padanya saat ia menuruni tangga dengan gaduh.
"Kok aku nggak dibangunin?" Kataku padanya dengan wajah cemberut
Sugi tersenyum melihat wajah Riri yang cemberut. "Ck! Baru bangun aja dia masih cantik. Rambutnya yang hitam tergerai dengan bebas mengikuti gerak badannya. Wajah alaminya terlihat segar, muda dan cerah tanpa riasan. Mata bantal dan kaos kebesaran yang dipakainya membuat dia terlihat menggemaskan" gumamnya dalam hati
"Kok senyum aja sih?!, aku bisa telat sampai dikantor tauuu!. Lagian siapa sih yang matiin alarmku? Kamu yah? Bisa-bisanya loh!!" Aku mengomelinya
Sugi mengangguk "aku yang matiin alarmnya, berisik!. Aku kasihan sama kamu tidurnya nyenyakkk!! banget. Nggak apa-apa kok kalau hari ini kamu libur sehari. Nanti aku yang tanggungjawab. Kan aku bosnya"
"Nggak bisa gitu, mau ngajarin aku bolos yah?! Nggak ah nggak mau. Aku mau siap -siap dulu" jawabku sambil berlari masuk ke dalam kamar
Sugi tersenyum geli melihat reaksi Riri si pegawai teladan ini.
__ADS_1