Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Pencarian


__ADS_3

Sugi dan pak Doni melangkah tergesa-gesa menuju IGD rumah sakit Sempurna . Petugas yang berjaga di depan nampak kaget melihat kedatangan mereka.


"Bukannya itu Direktur Utama Wijaya Grup yang baru-baru ini masuk berita gosip ya?" bisik seorang staf pada temannya


"Iyah benar dia orangnya, ternyata aslinya lebih ganteng dan gagah ya. Tapi untuk apa dia kemari? apa ada keluarga atau kerabatnya yang dirawat disini?" Jawab temannya dengan wajah penasaran


"Entahlah aku juga kurang yakin" ia menaikkan bahunya


Mereka nampak menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk menunggu di sisi taman, menghindari kerumunan. Sugi mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Dion


"Dion, ini saya Sugi. Saya sudah sampai di dekat IGD rumah sakit ini" kata Sugi saat menghubungi Dion


"Tunggu, saya keluar sekarang" jawabnya kemudian mematikan sambungan teleponnya


Beberapa saat kemudian, nampak Sugi menghampiri mereka dengan wajah gelisah. Bagian depan baju yang ia kenakan penuh dengan noda darah.


"Bagaimana keadaan Riri?" tanyanya khawatir


"Masih belum sadar, luka di pinggangnya cukup dalam. Dokter sudah mengambil tindakan tadi dan sekarang masih dilakukan observasi di IGD"


Terdengar suara ponsel pak Doni berbunyi, ia kemudian menjauh dari sana untuk menjawab ponselnya


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa anda sempat melihat orang-orang yang melakukan ini?"


"Saya juga belum tahu apa yang telah terjadi. Ketika saya sampai Riri sudah tergeletak dan bersimbah darah. Begitu juga Sekuriti disana, saya tidak sempat memeriksanya karena harus terburu-buru membawa Riri kemari"


"Tadi siang saya menghubungi Riri untuk bilang padanya akan mampir sebentar ke kantornya"


"Untuk keperluan apa?" tanya Sugi dengan wajah dinginnya


Dion nampak tersenyum, mengerti dengan arah pertanyaannya


"Tenang saja, tidak ada hubungan spesial antara saya dengan Riri. Dia hanya menganggap saya kenalan yang suka mengganggunya, walaupun pada akhirnya dia masih mau berteman dengan saya"


Dion menghela napasnya "Anda beruntung memilikinya. Dia wanita spesial yang sangat setia, memiliki prinsip yang susah untuk digoyahkan. Sebenarnya tadi siang tujuan saya datang kesana hanya untuk berpamitan. Karena besok saya akan pergi ke suatu tempat yang jauh, untuk memulai hidup saya yang baru"

__ADS_1


Sugi memperhatikan raut wajah Dion yang nampak serius "Beruntung anda datang di waktu yang tepat, kalau tidak mungkin saja... " Ia menarik napas panjang, tidak dapat melanjutkan ucapannya dengan wajah muram


"Hanya kebetulan saja, mungkin sudah jalannya begitu. Saya berharap Riri bisa secepatnya siuman"


Sugi mengangguk "Terimakasih Dion atas bantuannya hari ini, saya merasa berhutang budi"


"Tidak usah terlalu dipikirkan, bagi saya keselamatan Riri yang paling utama. mmm saya baru baru ingat, dia sempat menyebut tatto bunga dililit ular. Apa ada hubungannya dengan kejadian ini?" tanya Dion dengan wajah penasaran


"tato bunga dililit ular?" Sugi terlihat berpikir, ia merasa pernah melihat tato tersebut


Pak Doni nampak berlari mendekat


"Pak saya mau ada urusan sebentar, bapak tunggu disini saja"


"Sebentar, bapak dapat informasi apa saja? Bagaimana keadaan pak Jon?"


"Pak Jon sudah ditangani anak-anak. Menurut informasinya, salah satu dari dua penyerang itu bertato bunga dililit ular di bagian lehernya"


"Riri juga mengatakan hal yang sama" kata Dion menimpali


"Saya boleh ikut? " Ujar Dion dengan wajah bersemangat, berharap bisa menonton adegan pertarungan seru


"Maaf pak Dion. Demi keselamatan bapak sebaiknya bapak menunggu disini saja bersama Pak Sugi. Saya pergi dulu, permisi" pak Doni melangkah dengan langkah panjang berlalu dari tempat itu


"Yahhh" jawab Dion Kecewa


Beberapa saat kemudian, pak Doni yang baru saja sampai di lokasi grup preman yang dimaksud. Ia dan anak buahnya langsung menyerbu kawasan ini tanpa ada peringatan terlebih dahulu. Grup preman ini sangat terkenal dan memang sering di pakai jasanya oleh orang-orang kaya sebagai debt collector untuk menagih hutang yang menunggak.


Beberapa orang yang sedang berjaga-jaga di depan langsung di habisi oleh mereka tanpa ampun. Melihat kejadian tersebut, beberapa preman nampak menghadang mereka, dan perkelahian besar nampaknya tidak bisa di hindari. Suasana di kawasan ini seketika menjadi gaduh.


Seorang laki-laki berkacamata hitam dengan kumis yang tebal sedang sibuk menghitung uanf seketika menghentikan kegiatannya saat mendengar keributan diluar


"Coba kamu cek itu ada apa diluar?" Perintahnya


"Baik bos" seorang bawahannya berlari keluar ruangan dan kembali dengan cepat

__ADS_1


"Bos kita diserbu!!!" Pekiknya khawatir


Laki-laki yang di panggil bos tersebut nampak berdiri dengan wajah garang, ia menekan tombol merah di sebelah tempat duduknya. Seketika alarm tanda bahaya berbunyi. Panglima-panglima yang dimilikinya langsung turun dari apartemen masing-masing.


Perkelahian mereka semakin sengit saat beberapa panglima muncul untuk ikut ambil bagian. Pak Doni nampak mengayunkan tangannya bersiap untuk memukul salah satu panglima, tangannya lalu ditangkis dengan cepat


"Doni!!!" Pekiknya kaget luar biasa


Pak Doni menatap wajah orang tersebut


"Sena!"


"Stopppp!!!" Sena berteriak, semua orang yang berada disana serentak berhenti. Kawasan ini mendadak hening


"Apa yang sedang kamu lakukan Don?"tanyanya


"Kamu mengenalnya?" tanya panglima yang lain


"Ia pernah menyelamatkan aku, aku berhutang nyawa padanya" sahut Sena sambil tersenyum. Ia selalu mengingat peristiwa pengeroyokan di malam itu. Pak Doni yang kebetulan lewat tanpa menanyakan permasalahan yang terjadi, tiba-tiba saja membantunya. Kalau tidak, mungkin saja ia sudah tidak ada lagi di muka bumi ini atau bisa jadi cacat permanen seperti yang ia takutkan saat itu


"Kau ternyata masih ingat. Aku kemari ingin mencari seseorang yang melakukan penyerangan terhadap seorang wanita dan satu bawahanku tadi siang!!!" Suara pak Doni terdengar menggelegar


Sena terlihat bingung "siapa orangnya? Kami disini sudah lama sekali tidak mengambil pekerjaan seperti itu. Kami belakangan fokus ke urusan bisnis perjudian, cafe dan penagihan hutang. Itu saja?"


"Sena, bosmu kemana? Aku ingin bertemu?"


"Aku disini!! Pak Tua!!" Teriak Laki-laki yang berkumis tebal tadi, ia menyembulkan kepalanya keluar di jendela ruangannya di lantai tiga


"Untuk apa kamu kemari Don?! Bahkan mengacak-acak kawasan tenang ini?!!!"


"Gatot!!! Kamu masih hidup rupanya?? Aku sedang mencari anak buahmu yang menyerang seorang wanita dan bawahanku tadi siang!!" Teriak pak Doni dari bawah


"Kamu sudah dengar kan tadi, Sena bilang apa? Kita sekarang hanya mengurusi bisnis Don. Mana mungkin anak buahku melakukan tindakan sembrono begitu?!!"


"Bawahanku sendiri yang bilang, kalau orang yang menyerangnya memiliki tato kelompok kalian di lehernya!!!"

__ADS_1


"Ok sebentar, aku turun dulu" ia memasukkan kepalanya kembali ke dalam lalu turun melalui tangga diikuti oleh tiga orang asistennya


__ADS_2