
Dua jam sebelumnya....
Sugi terlihat gelisah di tempat duduknya, berkali-kali ia melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Perasaannya mengatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Riri.
"Sudah hampir satu jam berlalu, kenapa dia belum sampai juga? Teleponku juga tidak angkat olehnya. Jangan- jangan dia bertemu Andi dan memutuskan untuk pergi bersamanya" pikir Sugi
Sugi menghubungi pak Doni yang saat ini masih sedang berada di Restauran
"Pak Doni, Bu Riri apa masih ada dikantor? Tanyanya pada pak Doni
"Bu Riri sudah keluar kurang lebih sejam yang lalu pak. Ada apa pak?"
"Dia katanya mau kemari, tapi kenapa dia belum sampai? Coba pak Doni cek sepeda motornya di parkiran"
"Baik pak, saya cek sekarang" pak Doni mematikan sambungan telepon dari Sugi
Dengan gelisah Sugi menunggu telepon dari asistennya.
Ketika ponselnya berdering, dia langsung mengangkat tanpa melihat nama yang masuk "gimana pak?"
"Motornya masih ada, tapi saya jadi khawatir bisa jadi Bu Riri diculik pak. Saya melihat banyak jejak kaki seperti orang berkumpul di satu sudut jalan masuk dekat Gapura menuju ke Sentral Parkir"
Sugi terkejut mendengar informasi yang diberikan oleh Pak Doni
"Cari tahu dimana keluarga Wirama tinggal, termasuk kepemilikan rumah-rumah lain diluar dari rumah utama. Sebar orang-orang yang kita miliki untuk mengintai satu persatu rumah mereka. Laporkan pada saya apa yang mereka lihat"
"Baik pak" pak Doni memutuskan sambungan telepon.
Kemudian Sugi mencoba menghubungi Andi
"Selamat siang pak Andi"
"Selamat siang pak Sugi" jawab Andi
"Maaf saya mengganggu, saya mau menanyakan informasi terkait dengan Mentari. Dua hari yang lalu saya melihat pak Andi berbicara dengan Mentari. Apa sekarang dia ada bersama anda?"
"Mentari sedang tidak bersama saya, ada apa dengan Mentari? Jawab Andi dengan suara panik
__ADS_1
"Saya curiga dia di culik seseorang. Hari ini kami ada janji bertemu tapi dia tidak datang. Sedangkan informasi dari tempatnya bekerja dia sudah pergi sekitar satu jam yang lalu, dan sepeda motornya masih ada di tempat parkir sampai sekarang"
"Sebentar pak, nanti saya hubungi kembali" Andi memutuskan sambungan telepon itu
Andi kemudian teringat dengan pertengkarannya dengan Arina di hari Minggu pagi kemarin. Dirinya mengaku bertemu dengan Mentari malam sebelumnya.
"Kamu pasti bahagia kan, bertemu dia kembali? Kata Arina ketus, wajahnya menahan amarah
"Iyah aku bahagia, setidaknya aku tahu dia baik-baik saja"
Tangan Arina terlipat didepan dadanya "Kalau begitu kenapa tidak kembali saja padanya!!"
"Kalau bisa, sudah kulakukan tanpa perlu kau suruh!! Kamu sendiri tahu, aku tidak bisa melakukan itu. Walaupun aku sangat ingin kembali bersamanya!!" Pekik Andi
Wajah Rina seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, hatinya tiba-tiba sakit. Matanya berkaca-kaca
"Kamu jahat Andi!!, sekian tahun kita bersama ternyata kamu memang tidak pernah mencintaiku!!!" tangis Arina pecah
"Aku memang tidak pernah mencintaimu Rina. Aku telah melakukan kesalahan besar dalam hidupku. Kalau saja aku tidak mabuk waktu itu tentu tidak akan pernah ada pernikahan diantara kita"
"Adil!!??? Bagaimana dengan Mentari?? Apakah ini Adil untuknya? Aku sudah cukup bertanggungjawab dengan anak kita dan keluarga ini. Tidak usah menuntut lebih, aku tidak bisa!!!" tegas Andi
"Mentari... Mentari...mentari!!! Kenapa semua orang begitu menyukainya?!!! Aku benci padanya!!!, Akan aku adukan hal ini pada keluarga Wirama, lihat saja nanti" Arina melangkah keluar dari Rumah.
Dengan cepat Andi menghadang Arina
"Jangan macam-macam Rina, itu akan sangat berbahaya untuknya"
"Aku tidak peduli!! Aku malah senang dia menderita!!" Wajah Arina dipenuhi kebencian
"Cukup!!! Aku menyesal menceritakan hal ini padamu. Ku pikir kau telah berubah dan menerima kenyataan bahwa aku akan tetap mencintainya seumur hidupku apapun yang terjadi. Kalau kau berani melaporkan hal ini, aku akan menceraikanmu. Aku akan mengambil hak asuh anak kita" tegas Andi
Arina hanya terdiam, wajahnya masih diselimuti kebencian yang mendalam.
Tangan Andi terkepal saat mengingat pertengkaran itu "Sudah pasti ini perbuatanmu Rina" gumam Andi sembari mencari keberadaan Rina di dalam kamar.
Ketika ia melihat Arina sedang tertawa-tawa sambil melihat ponselnya, tangan Andi mencengkram leher baju Arina dengan penuh kemarahan
__ADS_1
"Siapa yang menculik Mentari??? Cepat katakan!!"
Arina tersenyum lebar "Aku tidak akan mengatakannya"
"Baik, Aku akan mengembalikanmu ke rumah orangtuamu sekarang juga. Kamu pikir ucapanku kemarin main-main hah!!? Andi berlalu keluar dari kamar
Wajah Arina kelihatan panik, ia mengekor pada Andi "jangan Andi, ayahku sedang sakit, aku mohon. Ok, baik aku mengaku. Tapi berjanjilah padaku, kita tak akan berpisah hanya gara-gara ini" Tangan Arina memegang lengan Andi
Langkah Andi terhenti, ia menatap Arina dengan rasa amarah yang meletup-letup.
"CEPAT KATAKAN!!!" Bentak Andi
Arina gemetar, belum pernah ia melihat Andi Semarah ini
"Semalam aku menghubungi Hadi, katanya dia yang akan menjemput Mentari. Aku rasa tidak masalah kan kalau ...kalau Mentari dijemput untuk kembali pulang. Mereka kan keluarganya"
"TAHU APA KAMU HAH?!!" Tangan Andi menunjuk dahi Arina dengan geram
"Aku ...aku..tidak mengerti, apa salahku? Aku hanya menginginkan Mentari bisa kembali kepada keluarganya. Itu saja Andi" Arina menggigit bibirnya, tak menyangka kemarahan Andi akan sebesar ini
"Sekarang katakan kemana dia membawa Mentari?!!"
"Se...se..sebentarrr Andi, aku akan menanyakannya pada ..pada..sepupuku yang bekerja untuknya" suara Arina gemetar
Dengan tangan yang gemetar, Arina mengambil ponselnya untuk menghubungi sepupunya.
Andi terlihat gusar berjalan kesana kemari untuk menenangkan dirinya "Ya Tuhan, lindungilah Mentari. Semoga dia dijauhkan dari segala niat jahat Hadi. Aku sangat mengenal Hadi dengan kelicikannya. Dahulu dari sorot matanya aku tahu dia sangat cemburu padaku. Kemungkinan dia menyimpan perasaan lebih untuk Mentari dan itu bukan perasaan seorang kakak pada adiknya. Semoga aku salah menilai hal ini"
Arina berlari mendekati Andi "Hadi membawa Mentari kerumah barunya. Ini alamatnya" Arina menyerahkan selembar kertas pada Andi.
Andi dengan cepat mengirimkan informasi tersebut pada Sugi.
Sugi yang telah siap diatas sepeda motornya baru saja mendapatkan informasi dari mata-matanya di setiap rumah tinggal keluarga Wirama. Hanya satu tempat yang nampaknya mencurigakan, karena dijaga ketat oleh beberapa orang.
Disaat yang bersamaan pesan Andi baru saja masuk, dia membaca alamat yang diberikan oleh Andi sama persis dengan alamat satu rumah yang dijaga ketat itu.
Sugi mengirimkan informasi alamat lengkap itu pada Pak Doni dengan tambahan kata "serbu!" Ia menghidupkan sepeda motornya lalu memutar kencang gasnya, mengebut.
__ADS_1