Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Gugup


__ADS_3

"Jadi datang ke acara wedding Anniversary orangtuanya Sam?!" Tanya Damar sambil mengaduk kopinya


"Jadi " jawabku sambil mengunyah biskuit


Gerakan tangannya terhenti ia memandangku "Kabarin ya kalau acaranya menyebalkan dan kamu ingin pulang. Aku pasti datang menjemput"


Aku menyemburkan tawa "hahahaha masa sampai segitunya kak. Khawatir ya? Tenang kak, aku akan baik-baik saja"


"Gimana nggak khawatir Tari, nanti malam itu akan banyak sekali orang penting yang datang. Ada keluarga, teman dekat dan sudah pasti partner-partner bisnis Wijaya Group. Sam datang sambil menggandengmu, itu sudah statement untuk semua orang bahwa kamu calon pendampingnya"


"Aku sudah tahu kak, tapi mendengarmu mengatakannya langsung kok serasa jadi lebih seram dari pikiranku kemarin"


"Aku nggak tenang Tari"


"Aku janji kak kalau aku merasa nggak nyaman, aku langsung pulang deh. Kan bisa pakai taksi"


"Bener yah? Nggak usah nunggu Sam. Dia pasti mengerti. Lagipula dia tidak mungkin bisa pergi dari acara seenaknya, sebagai pihak tuan rumah dia kan harus menyapa setiap orang yang hadir disana"


"Iya aku tahu kak"


"Ya sudah aku berangkat ke kantor. Hari ini tukang harus sudah selesai bekerja. Mungkin aku juga pulang larut malam"


"Hati-hati ya kak, kalau ada apa-apa aku pasti telepon kamu"


"Ok dah Tari" Damar mengucek rambutku kemudian berlalu dengan langkah cepat


Hari berlalu dengan sangat cepat, sore hari ku dengar bel rumah berbunyi. Aku yakin yang datang Jeany dan Karmila. Persis seperti dugaanku, mereka datang tepat waktu.


"Sore Bu Riri" Jeany menyapaku dengan senyuman lebar


"Sore mba Jeany, mba Karmila"


"Sudah siap Bu, yuk langsung aja kita mulai make up dulu" Jeany nampak bersemangat


"Hayuk! Eh iya ada es kopi di kulkas. Saya memang nggak keluarin takut meleleh duluan" ujarku pada mereka


"Wahhh mantap Jean" Karmila berseru


"Ho'oh seruuu!!! Thank you Bu Riri, Nanti aku ambil sendiri aja" kata Jeany sambil tersenyum padaku


Wajah Riri pun mulai dirias oleh Jeany, sedangkan rambutnya di tata oleh Karmila. Jeany memberi ide untuk menguncir rambutku agak tinggi dengan sedikit sasak di depan agar terlihat lebih elegan.

__ADS_1


Dua jam berlalu kini aku sudah nampak siap, wajah Jeany dan Karmila berseri-seri menatapku puas sambil menghirup es kopi di tangan mereka masing-masing.


"Masterpiece banget hari ini Jean. Bu Riri jadi lebih cantik luar biasa" seru Karmila


"Sudah kubilang kan kemarin, ini persis seperti apa yang ada dalam pikiran eik. Yakin deh sampai di lokasi acara, Bu Riri akan jadi topik utama dan perhatian. itu pasti!!" jawab Jeany yakin


"Terimakasih pujiannya, tapi kayaknya kalian terlalu berlebihan. Kalau beneran saya bisa mencuri perhatian orang-orang, kok rasanya nggak enak hati ya" sahutku ragu


"Heii Bu Riri, be yourself. Kalau cantik yah cantik aja kenapa harus merasa tidak enak karena cantik. Jangan pedulikan orang lain, fokus sama diri sendiri saja. Yang penting pak Sugi cinta mati sama Bu Riri, urusan lain belakangan. Percaya diri yah Bu. Kalau saya bilang ibu Riri cantik cukup bilang terimakasih. Titik"


"Terimakasih mba Jeany, mba Karmila" sahutku akhirnya setelah mendengar nasehat dari Jeany


"Nah begitu baru benar" Jeany tersenyum lebar


"Yah sudah Bu, kami pamit dulu. Pekerjaan kami disini sudah selesai"


"Sekali lagi terimakasih sudah membuat saya jadi lebih menarik"


"Itu sudah tugas kami Bu. Enjoy your night"


"Ok, itu es kopi yang dalam botol berwarna putih boleh dibawa pulang mba. Ada di pintu kulkas"


"Ahhh thanks God hahahahaha" seru Jeany sambil berlari dengan gayanya yang luwes kembali ke dapur mengambil es kopi yang aku sebutkan tadi.


"Riri my Baby!!!" Panggilnya ketika masuk, ia langsung terpana saat melihat Riri berdiri di depannya


"Hai sayang, gimana penampilanku?" Tanyaku padanya


"You look wonderful honey! Jadi makin cantik aaaaaa... Cantik Bangettt sayang" ia mendekat dan memelukku dengan hati-hati


"Awas make-up ku nempel di bajumu


"Iyah aku tahu, boleh cium dikit ya?" Ia mengecup bibirku dengan cepat


"Lipstiknya mate jadi nggak nempel" ujarku sambil mengusap lembut bibirnya takutnya ternyata masih ada noda lipstik yang menempel disana


"Coba aku lihat pacarku yang ganteng ini" aku memandangnya dari atas sampai bawah


Kulihat ia memakai kemeja putih dipadukan dengan jas dan celana panjang bahan kain pas dibadan serta sepatu pantofel berwarna putih.


"Bapak Direktur Utama hari ini gantengnya kelewatan" kataku sambil tersenyum

__ADS_1


"Masa??" Ia terlihat tersenyum senang kemudian tiba-tiba cemberut "Sayang, aku sekarang ini bukan lagi pacarmu, aku ini calon suamimu loh"


"Iyah apalah yuk berangkat" jawabku santai sembari memeluk lengannya, tapi tiba-tiba langkahnya berhenti.


"Iyah apa? Kok gitu?! sebut dulu aku calon suamimu!" Gerutunya kearahku


Aku tergelak "hahahaha astaga kenapa tiba-tiba begini sih. Ok baik calon suamiku yang ganteng. Ayo kita berangkat"


"Nah itu baru benar. Nanti disana, biasakan dirimu mendengarnya dari mulut orang lain yang menyapa kita"


"Hah?!" Kali ini aku yang terkejut mendengarnya. Kakiku seperti enggan melangkah


"Ayo berangkat...!" kata Sugi sambil menarik tanganku lembut. Aku berjalan setengah menyeret kakiku. Aku merasa digiring ke suatu tempat antah berantah yang sangat sunyi.


Tiba-tiba saja aku mulai merasa menyesal untuk menyanggupi ajakannya ini "gawat, kok tiba-tiba rasanya nggak siap begini sih?" Gumamku dalam hati


"Kenapa diam sayang? kok wajahnya jadi datar begitu?" tanyanya ketika kami sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju


"Aku gugup" jawabku jujur


"Kan ada aku, jangan gugup. seperti biasa saja kalau bertemu orang-orang disana"


"Bagaimana bisa aku biasa saja, aku baru sadar ini akan jadi berita besar untuk Wijaya Grup"


"Hahaha merasa terjebak ya? maaf Riri sudah terlambat" godanya dengan wajah jenaka


"Nggak lucu ah, aku lagi deg-degan. ini pertama kalinya aku segugup ini bertemu orang lain"


"Ck! masa hanya segini saja bisa bikin nyali wanita perkasa bernama Mentari langsung ciut?" godanya lagi sambil menahan tawa


Aku mencubit gemas pinnggangnya yang mulai berlemak


"awww!! sakit sayang, tapi kalau itu bisa membuat kamu tenang cubit aja terus nggak apa-apa kok. Atau boleh sekalian saja tempeleng pak Doni biar kamu semangat lagi yah!! hahaha" ujarnya sambil tergelak


"Loh kok jadi saya yang kena?" protes pak Doni yang sedang menyetir


"Bu Riri sedang gugup pak. Hanya saran sih, itu pun kalau dia mau"


"Jangan Bu, Bu Riri sudah cantik hari ini jangan yang aneh-aneh ya. Cukup napas yang panjang berulangkali nanti sampai disana saya yakin ibu bisa menghadapi situasinya. Lawan preman saja berani masa yang kecil begini nggak mampu?!" ujar pak Doni menyemangati


Seperti saran pak Doni aku mulai menarik napasku panjang-panjang sambil terpejam

__ADS_1


Sugi nampak tersenyum geli melihat Riri terpejam di sebelahnya. Ia menggenggam erat tangan Riri sambil berbisik


"You are amazing just the way you are Riri. And I love you so much"


__ADS_2