Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Erik


__ADS_3

Pak Doni menatap wajah pak Sugi yang berubah muram. Ia yakin sekali kalau Bu Riri sedang dalam keadaan mood yang benar-benar tidak baik saat menerima telepon dari pak Sugi tadi.


"Pak, sepertinya bapak harus bertemu dengan Bu Mita terlebih dahulu secara diam-diam sebelum tampil di depan publik nanti" ujarnya di sela-sela perjalanan menuju lokasi meeting pertama hari ini


"Untuk apa?" Jawab Sugi dengan suara yang teramat dingin


"Untuk meminta penjelasan padanya. Saya tidak mengenal Bu Mita tapi saya yakin ada hal yang belum selesai diantara kalian berdua. Mungkin Bu Mita masih mengira anda memiliki perasaan istimewa padanya"


Sugi nampak berpikir sejenak kemudian mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya lalu menghubungi seseorang.


"Pagi Rio, sori aku ganggu kamu sepagi ini" kata Sugi


"Nggak apa-apa, ada apa Sam?" tanya Damar dengan suara parau sambil menggeliat diatas ranjangnya


"Kamu punya nomornya Erik nggak?"


"Erik mantan suaminya Mita?"


"Iyah Erik itu"


"Ada kok, ada apa sama Erik Sam?" tanya Damar seperti merasa curiga telah terjadi sesuatu saat ini


"Nanti aku cerita"


"Okeh, aku kirim nomornya sebentar lagi"


"Sip aku tunggu. Thank you yo"


Ia menutup sambungan teleponnya


Sedetik kemudian ponselnya bergetar, nampak Damar mengirimkan nomor yang ia minta tadi padanya.


Ia memutuskan untuk langsung saja menghubungi Erik saat itu juga. Sugi nampak menunggu teleponnya diangkat oleh Erik, akhirnya setelah nada dering ke enam ia mendengar suara Erik yang serak di ujung sana


"Hallo"


"Good morning Erik, ini aku Sammy"


"Sammy? Ehmm!! Sammy yang dulu sama Mita?" Tanyanya tidak yakin


"Iyah ini aku"


"Heii bro apa kabar?! Gila, sudah berapa tahun kamu tidak pernah menghubungiku lagi. Ada apa ini sam?"


"Aku baik, kamu masih tinggal disana?"

__ADS_1


"Masihlah, kan sudah permanen resident sekarang" jawabnya yakin


"Aku mau minta nomornya Mita, Rik" ujar Sugi tanpa basa-basi


"Hah? Buat apa? Kamu masih belum move on? Really Sam?!"


"Bukan, ada masalah lain Rik"


"Masalah apa?"


"Kamu nanti search saja namaku dan Wijaya Grup di pencarian internet. Tapi aku membutuhkan nomor Mita secepatnya"


"Okey, sabar..tunggu ya aku kirim sekarang"


Tanpa memutuskan sambungan teleponnya, terdengar suara layar ponsel sedang di tekan-tekan oleh Erik


"Aku sudah mengirimkannya padamu"


"Ok thanks ya Rik"


"Your welcome, but tunggu jangan ditutup dulu. Kau tahu? Aku sudah berpisah lama dengannya"


"Aku sudah mendengarnya" jawab Sugi dingin


"Tidak masalah sebenarnya kalau kamu mau mendekatinya lagi. Aku akui aku laki-laki brengsek Sam, Mita banyak menderita saat bersamaku. Tapi yahh... Perasaanku padanya tiba-tiba saja memudar setelah anak pertama kami lahir"


"Ok Sam" Erik menjawab dengan lemah


Sugi menutup teleponnya dan memasukkan kembali ponselnya kedalam saku kemeja.


"Pak Doni, sepertinya kita harus mempercepat jadwal kita disini" ujarnya sambil menatap jalan raya yang nampak padat pagi ini


"Nanti coba saya lihat lagi jadwalnya pak, sepertinya bisa saya atur ulang agar lebih ringkas"


"Ok" sahutnya lemah


Pikirannya kembali kepada Riri, ia sangat merindukannya. Ia ingin sekali memeluk erat tubuhnya yang mungil saat ini. Hanya itulah satu-satunya kenyamanan yang ia dambakan di situasi seperti sekarang. Berkali-kali ia terdengar menghela napasnya gelisah.


Sementara itu di dalam rumahnya, Mita sedang merasa emosional, takut dan sekaligus bingung saat ini. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Seharian ini, Ia tidak berani keluar dari rumah yang ia sewa. Semenjak berita skandal itu muncul, hidupnya menjadi tidak tenang. Beberapa kali ponselnya di hubungi oleh wartawan dan sudah dua hari ini ada saja wartawan yang menunggu di depan rumah untuk meminta klarifikasi darinya. Bahkan malam ini nampak dua orang wartawan masih betah menunggunya.


"Apa benar Sam sudah tidak mencintainya lagi? Ah tidak mungkin, perasaannya tidak mungkin berubah begitu saja. Aku yakin dia masih memiliki sisa-sisa cinta untuk kami bisa memulai kembali" Mita termenung


"Tapi....melihat kondisi saat ini, kenapa aku jadi ragu ya?? kalau ternyata gara-gara ini, semuanya jadi kacau dan dia membenciku..aku...aku...apa yang harus aku lakukan??!!" Mata Mita mulai berkaca-kaca, ada rasa takut terselip dalam hatinya


"Sial, harusnya aku tidak mempercayai ucapan Dewi waktu itu. Aku merasa bodoh karena telah menceritakan kisah hidupku dan Sam di masa lalu padanya. Bahkan aku sempat mengundangnya datang kemari" gumam Mita sambil bersidekap mengelus-elus lengannya sendiri dengan gelisah. Berusaha menenangkan dirinya sendiri

__ADS_1


Ponselnya kembali berdering, perasaannya menjadi lebih tenang saat melihat nama Eko melakukan panggilan


"Eko, aku nggak bisa keluar rumah. Ada wartawan yang menunggu didepan" kata Mita agak panik


"Sebentar lagi aku sampai. Ini sudah dekat"


"Tapi bagaimana caranya kamu masuk kemari?"


"Tenang saja, aku kan bisa melalui tembok belakang. Temboknya cukup rendah.


"Oke aku menunggumu"


Ia nampak memeluk putranya dalam diam. Perutnya terasa lapar luar biasa karena belum terisi sedari siang hari.


"DUG!!!" Mita mendengar seperti suara sesuatu terjatuh menghentak tanah dibelakang. Sambil menggendong anaknya ia berlari kebelakang. Dilihatnya Eko sudah berada di pekarangan belakang dan sedang berjalan menuju ke dalam rumah. Perasaannya menjadi lebih tenang saat melihatnya sudah berada disini.


"Syukurlah kamu baik-baik saja" ujar Mita terlihat lega


"Apa kamu khawatir padaku?" tanya Eko penasaran


Mita mengangguk


Eko nampak tersenyum senang karena Mita mengkhawatirkannya.


"Aku membawakan makan malam untukmu dan Zac"


Mita menatap Eko dengan perasaan terharu, ia tak pernah menyangka akan menerima banyak sekali bantuan darinya. Bahkan disaat-saat seperti ini hanya Eko yang peduli padanya. Bahkan Erik yang mantan suaminya pun hanya tertawa mendengar kemalangan yang menimpanya kali ini.


Erik menghubunginya tadi sebelum Eko datang untuk menanyakan kabar Zac. Ia menuntut untuk segera memulangkan Zac padanya.


"Aku mau Zac kembali tinggal bersamaku secepatnya. Kalau dibandingkan denganmu aku lebih percaya ibuku yang mengurusnya. Aku membiarkan kalian sementara bersama karena putusan pengadilan"


"Kau sudah gila ya?? Zac juga anakku!!! Sampai kapanpun aku akan memperjuangkan dia untuk tinggal sepenuhnya denganku!!!" Teriak Mita penuh amarah


'Hahahaha jangan mimpi kamu, dulu sewaktu dia berumur setahun kamu kemana? Bukannya kamu pergi mengejar impianmu kembali menjadi pramugari?? Ibuku yang mengurusnya, Mita. Jangan lupa itu!"


"Aku sudah bilang padamu, aku pergi karena tidak tahan dengan kelakuanmu!!! Suami macam apa kamu??!!"


"Cukup Mita, alasanmu jadi terdengar konyol sekarang. Dan berhentilah mengejar Sam!! Sam sudah tidak mencintaimu lagi!!!"


"Tahu apa kamu tentang Sam??!!!" Teriak Mita kembali histeris


Erik terdengar menghela napasnya "Ck! Aku sudah membaca beritanya Mita. Sam juga sempat menghubungiku tadi untuk menanyakan nomor ponselmu"


"Dia sendiri yang mengatakan sudah tidak peduli lagi denganmu. Kamu pasti juga baru tahu kan, kalau ternyata dia anak dari seorang pengusaha sukses. Hahahaha kasihan sekali kamu Mita meninggalkannya demi laki-laki sepertiku... " Ejek Erik sambil tergelak

__ADS_1


"Cukup Erik!!! Kamu keterlaluan!!" Dengan amarah yang mendidih di dalam hatinya ia segera mematikan sambungan teleponnya dengan Erik.


__ADS_2