
Sore ini Riri mendapatkan kabar dari Damar mengenai urusan kepemilikan rumah yang akan mereka tempati akhirnya selesai. Rumah tersebut sudah sah menjadi milik mereka per hari ini. Damar juga ingin agar mereka bisa pindah secepatnya.
"Malam ini aku harus mengepak pakaian dan barang-barang yang ada di kamarku" gumamku dalam hati sambil membaca pesan Damar di ponselnya
Tiba-tiba saja pintu ruangan ini dibuka kasar oleh seseorang dari luar. Aku sangat terkejut ketika kulihat Bu Rita, ibu dari Sugi masuk ke dalam ruangan dengan wajah muram.
"Selamat siang Bu Rita" aku berdiri
"Pak Dirut belum kembali Riri?" Tanyanya tanpa menjawab salamku
"Belum Bu, beliau masih ada meeting makan siang hari ini"
"Hmm saya kemari sebenarnya memang mau bertemu dengan Anda, Riri"
"Saya Bu?"
"Saya dengar pak Sugi memberikan anda keistimewaan. Salah satunya jam kerja yang fleksibel, anda bisa pulang kapan saja dan mengambil libur seenaknya. Apa itu benar?"
"Beliau tidak mengistimewakan saya Bu. Hanya kebetulan saya beberapa hari yang lalu memang minta ijin untuk pulang lebih awal karena ada urusan keluarga. Mengenai saya yang mengambil libur sampai seminggu memang benar, saat itu saya sedang sakit Bu. Tapi saya tetap bekerja dari rumah selama saya sakit"
"Anda masih tinggal disana?" Bisiknya masih dengan wajah tidak bersahabat, kali ini ia sambil sesekali menoleh kearah pintu masuk seperti takut didengarkan oleh seseorang dari balik pintu
"Mulai besok sudah tidak Bu"
"Bagus, saya tidak mau ada gosip-gosip tidak penting yang akan mengganggu kinerja anak saya. Saya berharap kalian tidak menjalin hubungan yang lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Saya yakin wanita baik-baik seperti anda mengerti maksud saya"
"Saya mengerti Bu"
"Baik, kalau pun kalian mungkin memiliki hubungan istimewa dibelakang saya, saya akan tetap menganggap hal tersebut tidak pernah ada. Saya bisa maklumi, saat ini mungkin beliau memang sedang membutuhkan pegangan sementara atau membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya setiap malam. Tapi nanti saya akan pastikan ia menikahi wanita yang sesuai dan selevel dengannya. Wanita dengan latar belakang keluarga yang jelas dan mampu meningkatkan image beliau di mata umum. Saya juga yakin anda mengerti sekali betapa pentingnya image tersebut untuk seorang pemimpin dari sebuah perusahaan besar" Jelas Bu Rita dengan nada bangga
__ADS_1
Kali ini aku tidak mampu menjawab, hanya bisa menganggukkan kepalaku dalam diam. Hatiku tiba-tiba saja terasa sakit seperti kena torehan silet mendengar tuduhan ibu Rita. Secara tidak langsung ia mengatakan kalau hubungan yang aku miliki dengan Sugi itu tidak nyata dan aku hanya sebagai pelampiasannya sementara.
"Sungguh rendah nilaiku dimatamu Bu. Kenapa setega ini mengeluarkan kata-kata tajam menusuk hati?" Gumamku dalam hati. Aku kembali memasang wajah datar seperti tidak terpengaruh sama sekali oleh hal ini.
"Saya tidak akan bicara lebih banyak lagi. Saya kira semua sudah jelas. Baik-baiklah bekerja disini Riri, kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali" ujarnya lagi dengan wajah terangkat, seperti ingin mengatakan betapa beruntungnya bisa bekerja di perusahaan sebesar ini.
Aku menghela napasku untuk menenangkan diri. "Maaf Bu, tapi saya sebenarnya akhir bulan ini ingin mengajukan resign. Pak Sugi belum mengetahui hal ini, nanti biar saya yang memberitahukan secara langsung agar beliau bisa lebih cepat mencari pengganti saya. Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan pada saya. Walaupun hanya sebentar tapi saya belajar banyak disini"
Wajah Bu Rita tiba-tiba berubah kaget, seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ada sebersit rasa bersalah dalam pandangan matanya.
"Resign? Apa karena ucapan saya barusan? Jangan membuat saya merasa tidak enak begini Riri" ucapnya dengan raut muka bingung
"Bukan Bu, saya akan jujur mengatakan kalau saya memang ada tawaran bagus dari perusahaan lain" jawabku sambil menatapnya tajam
Bu Rita terdiam sejenak
"Jangan sampaikan pada pak Sugi kalau saya kemari karena ingin berbicara dengan anda. Pembicaraan kita selesai sampai disini. Selamat siang Riri" kata Bu Rita lalu bergegas pergi dari ruangan ini.
"Persetan dengan perusahaan ini!! aku yakin Bu Rita yang menyuruh Dewi mengecek meja kerjaku setiap hari. Mungkin juga ia yang melaporkan segala tindak tandukku setiap hari disini" gumamku dalam hati
Sementara itu diluar ruangan nampak Bu Rita menuju kearah Dewi yang sedang menunggunya sedari tadi.
"Saya mau bicara" kata Bu Rita sambil berlalu, tanpa menjawab Dewi mengikuti langkah Bu Rita menuju ke tempat yang agak sepi. Dalam perjalanannya mereka berpapasan dengan Sugi dan Pak Doni yang baru saja kembali ke kantor.
"Ibu, kok kemari nggak ngabarin dulu"
Wajah Bu Rita yang nampak terkejut buru-buru tersenyum memeluk Sugi "Ibu tadi kebetulan ketemu teman di cafe atas, sekalian main ke kantormu. Tapi ternyata kamu lagi ada meeting di luar. Sering-sering pulang dong Sam, ibu kan kangen pengin ngobrol sama kamu" jawabnya sambil menyembunyikan wajah bersalahnya pada Sugi
"Iya nanti kalau sempat aku pulang Bu. Aku masuk dulu yah masih banyak urusan yang belum selesai" ujar Sugi lalu memeluk ibunya dan berlalu
__ADS_1
Pak Doni mengekor pada Sugi sambil memperhatikan Dewi yang sedang berdiri memalingkan wajah dibelakang Bu Rita.
"Aku sudah tahu kamu yang memata-matai Bu Riri, Dewi. Dan aku baru tahu ternyata itu perintah dari Bu Rita" Batinnya
"Selamat siang Bu Rita" sapanya saat melewati Bu Rita yang dibalas anggukan olehnya.
Bu Rita Dewi terlihat kembali bergegas menuju belakang kantor yang sepi.
"Dewi, sepertinya Riri akan resign. Saya tidak mau disangkutpautkan dengan urusan itu. Anggap saja saya tidak pernah memerintahkan kamu untuk memata-matai Riri." kata Bu Rita pada Dewi yang nampak gelisah
"Hah Resign? Yang benar Bu?" Dewi menyunggingkan senyuman karena akhirnya harapannya untuk menjadi asisten Pak Sugi bisa terwujud secepatnya. Ia merasa dirinya lah yang pantas untuk posisi itu karena sudah cukup la bekerja disini.
"Pokoknya kamu tutup mulut perihal perintah-perintah dari saya. Eh Kenapa kamu tersenyum?"
"Tidak ada apa-apa bu, saya hanya senang mendengar kabar itu" Dewi makin sumringah
"Maksudmu kabar dia akan resign?"
"Iyah Bu saya mau kok menggantikan Riri menjadi asistennya bapak" Dewi menjawab dengan wajah optimis
Mendengar jawaban Dewi, Bu Rita baru menyadari kalau ternyata Dewi berambisi untuk menjadi asisten
"Ck! Sayang sekali Riri harus resign, kalau dilihat dari laporan hasil kinerjanya selama ini ia patut mendapat apresiasi lebih. Orangnya cerdas, kerjanya cepat dan sangat tekun. Aku harus akui ia bisa mengimbangi pekerjaan Sammy disini. Tapi apa boleh buat kalau ternyata dia lebih memilih untuk resign. Hmm bagaimana ini? Sammy pasti marah besar kalau tahu aku kesana mengintimidasinya tadi. Tidak mungkin juga aku lalu menawarkan Dewi untuk menggantikannya, seperti langit dan bumi perbedaannya" Dahi Bu Rita berkerut
"Itu keputusan dari HRD dan Pak Sugi, Dewi. Maaf saya tidak bisa ikut campur masalah itu"
Wajah Dewi berubah kecewa, dia tidak menyangka kalau Bu Rita ternyata juga tidak bisa membantunya
"Kalau begitu saya pergi dulu, ingat apa yang saya bilang tadi. Kalau sampai ini bocor saya tahu siapa yang harus saya cari" Ujar Bu Rita kemudian pergi meninggalkan Dewi sendirian di tempat sepi itu.
__ADS_1
Dewi baru saja menyadari kalau ia telah di manfaatkan oleh Bu Rita tanpa keuntungan apapun untuk dirinya sendiri. Tangisnya pecah, harapan yang ia kumpulkan setitik demi setitik hingga menjulang tinggi harus musnah dihadapannya.