
Semua orang di ruangan ini masih sibuk dengan makanan dan pembicaraan mereka masing-masing. Ku lihat Bu Alina dan Paman Arya sedang berbicara dengan seseorang. Dari tawanya yang berderai nampaknya orang tersebut berteman baik dengan mereka.
"Kok lama banget sih?" bisik Bu Alina padaku
"Iyah Bu, tadi ramai di belakang" jawabku sambil tersenyum
Teman paman Arya melihat ke arahku lalu tersenyum "Ini siapa pak? Kok aku nggak pernah melihatnya dirumahmu?" Ujarnya pada Paman Arya dengan wajah keheranan
"Oh ini keponakan saya namanya Riri, Pak Heru" jawabnya singkat
Riri mengulurkan tangannya "Saya Riri pak"
Pak Heru menyambut uluran tangan Riri "Saya Heru" jawabnya tegas
"Masih single kan?"
"Masih pak, tapi..."
Belum usai Riri bicara, ia nampak berpaling dan antusias memanggil anak-anaknya yang duduk tidak jauh dari sana
"Agus, Ridwan kemari sebentar..." Panggilnya pada mereka. Yang dipanggil mendekat bersama.
"Perkenalkan ini anak-anak saya, Riri"
Riri pun mengulurkan tangannya pada dua pemuda tadi
"Saya Riri"
"Saya Agus", "Saya Ridwan" jawab mereka bergantian menyalami Riri
Mata keduanya melekat pada wajah Riri, mereka terlihat tidak sungkan untuk menunjukkan rasa ketertarikannya.
"Oh great!!" Keluh Riri dalam hati
"Siapa tahu kan pak hahahaha namanya jodoh bisa ketemu dimana saja hahaha" Pak Heru nampak tergelak
Paman Arya dan Bu Alina hanya tersenyum geli melihat semangat Pak Heru.
"Kalian ngobrol disini saja ya, kami mau mencari angin segar, sebentar" ujar pak Heru sembari menarik tangan Paman Arya untuk pergi dari sana.
"Bu Alina, yuk kita kesana sebentar. Kita beri kesempatan pada anak-anak muda untuk bergaul" katanya kemudian pada Bu Alina
Bu Alina mengangguk "Iyah, anda benar pak. Selagi muda memang harus bergaul lebih luas" ia pun beranjak dari sana sambil melirik pada Riri dan mengerling menggodanya. Bu Alina nampak menahan tawanya karena mengetahui Riri paling malas kalau harus berbasa-basi begini.
Riri hanya bisa menghela napasnya, seperti biasa memasang wajah datar disaat-saat seperti ini. Ia hanya bisa berharap obrolan ini berhenti dengan cepat.
Pembicaraan membosankan itu akhirnya dimulai. Mereka memulai dengan menanyakan kesibukan dan kegiatan Riri saat ini. Riri pun menjawabnya dengan tenang dan sesopan mungkin. Berbeda dengan suasana hatinya, dia malah terlihat menikmati pembicaraan ini.
Beberapa orang pemuda dari kejauhan nampaknya melihat keakraban mereka bertiga. Karena salah seorang dari mereka mengenal Agus dan Ridwan, mereka akhirnya memutuskan untuk bergabung di meja Riri.
Hal ini tak luput dari perhatian Sugi. Ia merasa gelisah melihat Riri di kerubungi banyak laki-laki muda. Ia hendak bergabung untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan, namun pak Doni menghalanginya
"Sebaiknya bapak tidak usah kesana, nanti bu Riri menjadi sorotan tamu-tamu disini" bisik pak Doni
"Tapi sekarang pun ia sudah menjadi sorotan orang-orang pak. Mereka akan berpikir Riri wanita yang gampang untuk didekati sembarangan orang. Saya juga tahu dia tidak nyaman dengan situasi seperti itu" Sugi terlihat khawatir
__ADS_1
"Ini situasi yang serba salah untuk Bu Riri, apa sebaiknya bapak beritahu Bu Alina?"
"Sebaiknya begitu" jawab Sugi, matanya masih menatap Riri dari kejauhan
"Lihat tuh, keponakan Bu Alina asyik ngobrol sama gerombolan laki-laki. Kalau tidak salah mereka kan anak-anak dari pengusaha yang sedang berkembang yah?" Ujar seorang ibu-ibu pada Bu Teti
Bu Teti dan Silvi melirik kearah mereka "Iyah dia memang cocoknya bergaul sama mereka sih, selevel hehehe. Nak Silvi sebaiknya jangan sampai kalah. Dengan kecantikan Nak Silvi saya yakin bisa mendapatkan teman baru yang kualitasnya lebih dari itu"
Silvi tersenyum, kepalanya masih terasa agak pusing akibat benturan tadi.
"Eh itu pak Bram kan? Siapa yang ganteng disampingnya?" tanya Bu Teti pada temannya
"Kalau tidak salah itu putranya yang punya bisnis Tambang"
"Ohh pantas saja, mereka memang mirip"
"Mana pak Bram?" Ujar Silvi tiba-tiba wajahnya terlihat antusias
"Itu yang mendekat kemari" Bu Teti menunjuk secara sembunyi-sembunyi
Setelah agak dekat, secara tiba-tiba Silvi berdiri dan mendekati pak Bram
Bu Teti tersenyum samar ia berbisik pada teman disebelahnya "Tuh kalau yang selevel pasti saling mengenali satu sama lain. Beda kelas kalau yang ini. Kita lihat saja apa mereka memang saling mengenal"
"Selamat malam pak Bram, apa kabar? Masih ingat saya pak? Saya Silvi anaknya pak Karta"
Silvi menyodorkan tangannya untuk bersalaman
Wajah pak Bram terlihat sedikit kaget dan kemudian tersenyum ramah "Ohhh sudah lama sekali kami tidak bertemu, apa kabar pak Karta? Wah putrinya juga sudah dewasa begini hehehehe. Waktu cepat sekali berlalu ya?"
"Kalau tidak salah sekarang beliau tinggal di luar negeri ya?"
"Iyah pak, ayah jarang sekali pulang kemari. Karena bisnisnya tidak bisa ditinggalkan sering-sering"
"Iyah memang seperti itu, apapun jenis bisnisnya harus tetap ada kontrol dalam menjalankannya"
Tiba-tiba wajahnya seperti teringat akan sesuatu. Pak Bram nampak berpikir, ia mengedarkan pandangan seperti mencari seseorang.
"Oh iya saya sampai lupa, selamat atas Michelin Star yang diperoleh Penumbra. Saya turut senang mendengar berita itu pak"
"Ohh iya iya.. terimakasih" jawabnya sambil tersenyum. Ia semakin tersenyum lebar saat melihat Riri berdiri tak jauh dari sana.
"Baiklah eee... Siapa tadi?"
"Silvi pak" jawabnya dengan wajah sedikit kecewa
"Oh iya Silvi, maklum saya sudah berumur jadi mulai pikun. Salam buat ayahmu ya. Katakan padanya kalau pulang kabari saya"
"Baik pak nanti saya sampaikan" jawab Silvi dengan tatapan kecewa. Ia merasa pak Bram memang sengaja menyudahi obrolan ini. Bahkan pak Bram tidak sempat mengenalkan anaknya.
"Saya harus bertemu dengan seseorang, mari Silvi"
"Silahkan pak Bram" ujar Silvi sambil sedikit bergeser memberikan jalan padanya
Betapa kagetnya Silvi saat mengetahui kalau orang yang di cari pak Bram adalah Riri.
__ADS_1
Riri akhirnya beranjak dari tempat duduknya
"Maaf yah semua, saya harus undur diri dari obrolan yang menyenangkan ini. Lain kali kita sambung lagi" ucapnya santai sembari tersenyum
"Ok Riri, nanti kapan-kapan kita ngopi-ngopi bareng yah" jawab Ridwan
"Iyah boleh"
"Info ke yang lain juga dong kalau kalian janjian. Ah nggak seru nih masa ketemuan berdua aja?" Sahut yang lain yang kemudian di dukung oleh teman-temannya
"Iyah nih masa kalian berdua aja" Agus menimpali
Sedangkan Ridwan terlihat kesal.
"Iyah saya sih terserah kalian, malah kalau ramai-ramai jadi lebih seru " jawab Riri berusaha menenangkan mereka
"Nah benar itu" jawab Agus, yang lain pun mengiyakan jawaban Riri
"Ya sudah kalau begitu, mari semua"
"Ok Riri", "Silahkan Riri", "Sampai kita bertemu kembali" , "See you"
Sahut mereka bergantian
Baru dua langkah ia menjejakkan kakinya, tak disangka seseorang menghadang langkahnya.
Ia menatap orang yang berada didepannya ini. Wajahnya seperti tak asing baginya. Namun Riri sendiri tidak yakin, apakah ini orang yang sama dengan yang ia kenal.
"Ini mirip bapak-bapak yang sering makan bubur di warung Priboemi kan? Ah masa sih? Orang kaya mana yang mau makan di warung biasa begitu?" Gumamnya sendiri dalam hati
"Riri kan?" tanyanya sambil tersenyum
"Iyah pak... saya Riri" jawab Riri ragu
"Tommy, ini Riri" pak Bram memperkenalkan putranya pada Riri
"Saya Tommy" ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum
"Saya Riri" Riri ikut mengulurkan tangannya untuk bersalaman
"Riri ini masih muda Tommy tapi semangatnya berwiraswasta patut diacungi jempol. Ia bisa melihat peluang dengan baik. Warung makan yang dikelolanya laris manis dalam sekejap"
Wajah Riri berubah kaget, karena tidak menyangka kalau bapak ini memang ternyata orang yang sama dengan bapak-bapak langganan warungnya setiap pagi.
"Astaga saya dari tadi berpikir, kok bapak mirip langganan warung saya. Eh ternyata benar hahahaha" tawa Riri yang renyah pecah seketika
Pak Bram tersenyum lebar, tidak berbeda dengan Tommy. Ia sedari awal sudah merasa tertarik dengan sosok Riri, bahkan sebelum mereka berkenalan secara resmi.
"Ayah hampir setiap pagi mampir ke warungnya beli bubur. Buburnya enak, jam makan siang juga sering mesen sop disana"
"Oh ternyata begitu, pantas saja ayah jarang makan di rumah hahaha" goda Tommy pada ayahnya
"Hahaha ah kamu jangan keras-keras ngomongnya" pak Bram ikut tergelak
Riri terlihat senang melihat interaksi akrab ayah dan anak ini.
__ADS_1