
Seorang wanita datang membawa baki yang berisi minuman yang tadi di pesan oleh Bu Alina
"Silahkan tehnya Mba Riri ada bolu pandan juga" ujar Bu Alina sambil membantu wanita itu menurunkan sepiring bolu pandan dari atas baki
"Iya Bu, terimakasih" sahutku
"Terimakasih kasih ya Lisa" katanya pada wanita pembawa teh itu
"Sama-sama Bu Alina" jawabnya lalu bergegas menjauh
Aku menyomot sepotong bolu pandan dari atas nampan. Rasa manisnya pas, wanginya mengingatkan aku pada wangi dapur sewaktu Ibu masih ada di setiap malam pergantian tahun baru.
"Enak Bu.." kataku hampir tercekat, buru-buru aku mengambil teh dalam mug di depanku
"Hati-hati masih panas mba" kata Bu Alina tersenyum
Aku hanya bisa tertawa kecil menahan maluku sendiri.
"Kita makan siang bareng yah" katanya tiba-tiba
"Boleh Bu, kebetulan hari ini jadwal saya kosong"
"Ok, ini baru jam hmmm hampir jam sebelas. Bagaimana kalau kita berangkat sebentar lagi setelah tehnya habis"
"Iyah boleh Bu"
"Mba Riri naik apa kemari? titip disini dulu. Kita naik mobil saya saja"
"Sepeda motor Bu, iya nanti saya titip sama satpam di depan
Beberapa saat kemudian aku sudah berada dalam mobil Bu Alina. Beliau ternyata menyetir sendiri kendaraannya.
"Mba Riri bisa nyetir?"
"Bisa Bu, panggil saya Riri saja Bu, aneh rasanya di panggil pakai mba"
"Ok, Riri mau makan siang apa? Jangan bilang terserah ya. Karena saya juga sedang bingung mau makan siang apa hari ini"
"Mmm bagaimana kalau kita makan siang yang berkuah bu cuacanya mendung, dingin, mungkin akan turun hujan"
"Wah ide bagus, kita makan soto daging saja. Saya punya langganan, sotonya enak banget"
"Saya mau Bu, kebetulan saya juga sudah lama tidak pernah lagi makan soto daging"
"Ok... oh iya Di restauran Eat and Love kemarin Riri bekerja di bagian apa?"
"Saya membantu Pak Sugi di bagian PR Bu"
"Oh ya? Kalau begitu mau bantu saya nggak? Oh iya Riri kan sudah ada kerjaan lain. Saya lupa hahaha" ia terkekeh sendiri, suara tawa renyahnya sangat enak untuk di dengar
Aku tersenyum melihat ke arahnya "bantu apa Bu? Kalau bisa saya pasti bantu. Sambil menunggu kantor kakak saya operasional"
"Saya kan bisnis perhiasan, saya mau usaha saya itu punya image yang kuat dan diketahui lebih banyak orang lagi. Nah Saya sebaiknya ngiklan dimana yah? Saya juga mau buat katalog baru. Ada saran photographer yang bagus nggak?"
"Ada Bu, untuk perhiasan saya ada kenalan photographer yang memang khusus menangani produk. Nanti saya kirim portofolionya. Untuk iklan sepertinya saya punya beberapa media yang bisa saya sarankan ke Bu Alina. Oh iya Bu sekarang kan banyak yang pakai media sosial Bu, pakai jasa influencer juga, nggak mau coba Bu?"
"Kalau akun medsos saya ada, tapi yang mengurus belum ada Riri. Ini kartu nama saya, kirim kemari saja informasinya" ia menyerahkan sebuah kartu nama kepadaku
"Baik bu, sebentar lagi saya kirim informasinya. Untuk media sosial spesialis memang barus cari orang yang benar-benar bisa Bu"
"Iyah itu juga saya belum ketemu tuh"
"Nanti coba saya bantu informasikan ke teman-teman lama siapa tahu ada yang bisa bantu"
"Wah terimakasih yah Riri bantuannya, saya senang hari ini kita bertemu"
"Saya juga senang bisa membantu Bu Alina"
Kami akhirnya sampai di satu pertokoan dekat dengan persimpangan jalan. Bu Alina memakirkan kendaraannya dengan sangat hati-hati.
"Yuk turun, warung sotonya di sebelah sana. Itu yang lagi ramai" katanya kemudian sambil menunjuk satu ruko di sisi paling kanan. Mataku mengikuti arah gerakan tangan Bu Alina.
Kami pun turun. Aku mendongakkan kepalaku. Mendung masih terlihat tebal, angin dingin mulai berhembus menerpa wajahku. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Aku melihat antrian mulai mengular di depan warung soto yang akan kami datangi.
"Astaga kenapa ramai sekali Bu?"
"Soto daging ini memang terkenal karena rasanya yang mantap, belum buka saja sudah di tungguin. Jadi ini pemandangan biasa setiap hari disini. Tapi tenang saja, saya kenal sama penjualnya. Nanti mungkin kita akan makan di lantai dua, di balkon"
Aku tersenyum mendengar ceritanya.
"Pak Toto selamat siang" sapanya pada seorang laki-laki yang sedang sibuk mengaduk kuah kaldu dalam kuali besar.
Terlihat asap mengepul dari kuali besar itu lalu menguar ke segala penjuru arah mata angin. Tanpa ku sadari aku menelan ludahku sendiri saat aroma gurih kaldu daging yang kuat menyapa Indra penciumanku.
__ADS_1
"siang Bu Alina" jawab penjual Soto yang bernama pak Toto itu
Dengan cekatan bapak Toto memotong-motong daging sapi berukuran kira-kira seruas ibu jari di atas talenan. Kemudian ia meletakkan potongan daging tersebut pada sebuah mangkok. Bumbu-bumbu pelengkap ia tambahkan diatas daging tersebut sebelum menyiramnya dengan kaldu.
"Seperti biasa ya pak dua porsi, Minumnya saya air mineral saja" kata Bu Alina pada pak Toto "Riri mau minum apa?" Lanjutnya sambil menoleh kearahku
"Saya jeruk hangat pak"
"Ok, Makan diatas saja Bu seperti biasa" pak Toto tersenyum menaikkan ibu jarinya
"Iyah saya naik pak, terimakasih banyak pak Toto"
Bu Alina menarikku untuk ikut naik ke lantai dua.
Suasana di dalam warung sangat ramai. Pramusaji di warung ini terlihat sibuk hilir mudik melayani pembeli.
Kami sampai di lantai dua. Kulihat ada sebuah meja dengan 4 buah kursi disisi-sisinya. Disebelah meja tersebut ada sebuah loker karyawan dan sebuah ruangan kecil yang kemungkinan tempat untuk beristirahat karyawan disini. Bu Alina mengambil tempat disebelahku menghadap tembok balkon.
"Ibu pasti langganan terbaik disini" ujarku sambil tersenyum
Tawanya kembali terdengar "hahahaha saya pelanggan beliau dari awal buka. Hampir setiap hari kemari karena saya ngidam soto ini di kehamilan anak saya yang pertama. Makanya pak Toto ingat pada saya"
Ponselku tiba-tiba berbunyi kulihat Damar melakukan panggilan video
"Kakak"
"Tari, transferanku sudah masuk apa belum?"
"Sudah kak, proses DP mobilnya juga sudah selesai"
"Nice, eh ini aku mau liatin kantor baru kita. Aku baru ketemu pemiliknya. Aku sudah pasti mau ambil yang ini Tari" Damar memperlihatkan bagian depan ruko tersebut melalui video
"Wah keren kak, sepertinya luas ya?"
"Iyah lumayan, eh kamu lagi dimana?"
"Makan siang"
"Sama Sam ya?" Tanyanya yang membuatku gelagapan
"Ehm ini sama Bu Alina, Nyonyah pemilik showroom mobilnya kak"
"Loh kok bisa?"
"Kenalin kak ini Bu Alina" kataku sambil mengarahkan kamera ke arah Bu Alina
Damar terlihat sedikit kaget saat melihat wajah Bu Alina "Selamat siang Bu Saya Damar kakaknya Riri" ia terdiam sejenak memperhatikan wajah yang ada di ponselnya
"Da..mar?!" Wajah Bu Alina berubah terkejut saat mendengar nama Damar
Aku mengalihkan kamera kembali ke hadapanku
"Kakak sudah makan siang? Kalau belum datang kemari saja kak. Boleh kan Bu?" Tanyaku pada Bu Alina
"Mmmm ee.. eh iya boleh" jawabnya terbata-bata
"Sini kak!"
"Iyah aku kesana sekarang, share lokasimu ya" jawabnya lalu menutup sambungan telepon videonya tanpa menunggu jawaban dariku.
"Riri, kalau boleh saya tahu sekarang Riri tinggal dimana?"
"Tinggal di daerah selatan bu, kakak baru beli Rumah disana" jawabku sambil mengirimkan lokasi warung ini pada Damar
"Orang tua kalian tinggal dimana?"
Aku menoleh ke arahnya "Orang tua saya sudah tiada Bu. Mereka meninggal saat saya masih di sekolah menengah"
Wajah Bu Alina terlihat kaget "Maafkan saya Riri... Saya.. saya tidak bermaksud..."
"Oh tidak apa-apa Bu. Kejadiannya juga kan sudah lama sekali"
"Maaf kalau saya agak keterlaluan menanyakan hal-hal pribadi. Tapi saya penasaran, mereka meninggal karena apa?"
"Kecelakaan pesawat Bu"
Wajah Bu Alina terperangah mendengar jawabanku
"Ibu baik-baik saja kan? Kenapa wajah ibu tiba-tiba pucat? Saya ambilkan air dibawah ya Bu"
Aku berdiri berniat untuk turun, tapi tangannya memegang erat lenganku
"Tidak usah Riri, duduk saja disini. Saya tidak apa-apa. Kalau boleh saya tahu Nama orang tua Riri siapa?"
__ADS_1
"Ayah saya Supraja Wirama bu, Ibu saya..."
"Ya Tuhan!!!!!" Pekik Bu Alina memotong pembicaraannku. Ia memegang erat tanganku dengan mata berkaca-kaca
"Bu Alina kenal ayah saya?"
Bibirnya bergetar, air mata terlihat mulai turun di pipinya. "Riri.... Ibu mu bernama Lilyana?"
Aku mengangguk "Iyah Bu"
Ia mendekat dan memelukku erat "Aku.... aku ini bibimu Riri. Aku adik tiri Ibumu" ia mulai terisak
Aku terdiam seperti membeku mendengar ucapannya. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Airmataku pun ikut jatuh merasa terharu "aku ternyata masih punya bibi dan paman yang baik" gumamku dalam hati
Bu Alina melepaskan pelukannya
"Pantas saja aku seperti melihat mba Lily saat melihat matamu waktu itu. Apalagi hari ini, cara berbicara kalian pun sama" katanya sambil menghapus air matanya
"Saya juga merasakan hal yang sama malam itu Bu. Ibu sekilas mirip dengan Ibu saya terutama di bagian mata" jawabku sambil tersedu
"Sampai sebesar ini, aku baru tahu keponakanku, Lily!!!" Katanya setengah menjerit ia mulai menangis lagi
Aku mengelus punggungnya untuk mencoba menenangkan hatinya
"Kenapa saya sampai tidak tahu bu, kalau saya ternyata masih punya kerabat dekat"
Ia menghapus air matanya kembali "Ceritanya panjang, setelah kita makan nanti akan aku ceritakan semuanya padamu. Untung saja tadi aku melihat wajah Damar, kalau tidak mungkin sampai sekarang kita hanya bertemu sebagai kenalan saja"
"Saya harus panggil Bu Alina apa?"
"Panggil Tante boleh, Ibu juga tidak apa-apa. Aku kan juga ibumu. Paman pasti akan sangat terkejut mendengar berita ini" ia menatapku lekat
Aku menghapus sisa-sisa air mataku sambil tersenyum
"Kalau ibumu masih ada, dia pasti bangga dan bahagia melihatmu tumbuh menjadi gadis yang cantik, cerdas dan cekatan" katanya sambil mengelus pipiku
Aku hanya bisa tersenyum tanpa mampu menjawabnya
Makanan kami pun datang. Pramusaji menurunkan satu persatu pesanan kami di atas meja.
"Ini Bu bapak juga menyuruh saya membawakan rempeyek ini" ia meletakkannya juga diatas meja
"Iyah pak, terimakasih" jawab Bu Alina
Pramusaji tersebut kemudian kembali turun.
"Yuk kita makan dulu, nanti sotonya keburu dingin"
Aku mengangguk. Kulihat hujan akhirnya turun dengan deras
"Damar naik apa kemari?"
"Naik mobil"
"Kalian sudah punya mobil?"
"Punyanya Pak Sugi Bu"
"Kok mobilnya masih boleh dibawa? Kan Riri sudah nggak kerja disana? Tatapnya curiga
"Mmm Damar ternyata teman baik Sugi di luar negeri bu. Jadi semua kayak sinetron, serba kebetulan hehehe" jawabku sambil tertawa geli
"Jadi Damar kuliah di luar?"
"Iya Bu"
Tap!..tap!tap! kudengar suara kaki seseorang menaiki anak tangga dengan langkah cepat dan tegas. Aku menoleh kearah tangga
"Selamat siang" Suara Damar yang dalam jelas terdengar
"Sini kak, udah pesen dibawah?"
"Sudah," jawab Damar sembari mendekat, matanya melekat pada wajah Bu Alina yang terlihat menangis. Ia berdiri lalu memeluk Damar yang kebingungan
"Ada apa Riri?" Damar melihat ke arahku
"Bu Alina ternyata adik Tiri dari Ibu kita kak"
Damar menghela napasnya "pantas saja aku seperti pernah bertemu dengannya" gumam Damar dalam hati
"Ya Tuhan Damar kamu gagah sekali, mirip kakekmu" Bu Alina meregangkan pelukannya dan mengusap-usap lengan Damar
Damar terlihat kikuk "hei aku ini ibumu juga, jangan sungkan. Kamu boleh panggil aku Ibu juga kalau kamu mau. Sini duduk disebelahku" katanya pada Damar sambil duduk di kursinya kembali.
__ADS_1
Damar mengikuti ucapan Bu Alina
"Luar biasa kalian berdua benar-benar tumbuh dengan baik, aku bersyukur sekali" ujar Bu Alina memandangku dan Damar bergantian