
Sugi baru saja tiba di Hotel Mahardika. Beberapa staf kantor depan menyambutnya dengan ramah. Mereka mengenali wajah Sugi dari profile yang sudah di bagikan oleh pihak Wijaya Grup pada staf Hotel Mahardika beberapa hari yang lalu, untuk menghindari kekeliruan yang fatal di acara besar nanti.
Nampak dua orang bell boy sengaja disiapkan untuk mengantar Sugi menuju presidential Suite yang berada di lantai paling atas hotel ini.
Langkah Sugi tiba-tiba terhenti saat ia membaca pesan dari Riri. Perasaannya seketika menjadi tidak tenang. Ia merasa ada sesuatu yang salah hari ini, kemudian ia memutuskan untuk mencoba menghubungi pak Doni kembali. Namun seperti sebelumnya, ponsel itu hanya berdering tanpa ada yang mengangkatnya.
"Tolong bawa kopernya ke atas pak, saya masih ada urusan" ujarnya pada Bellboy yang menungguinya sejak tadi
"Baik pak" jawab satu orang bellboy kemudian mereka berlalu membawa koper Sugi melalui lift
Sugi pun menghubungi Riri untuk memastikan kalau semua sedang baik-baik saja.
"Sayang, pasti sudah di lokasi ya?" Jawab Riri
Suara Riri yang renyah seketika mampu membuat perasaannya lebih tenang
"Iyah, sudah sampai mana?" tanyanya
"Baru keluar dari Villa, sebentar lagi masuk jalan utama"
"Mmm... Sopirnya tidak ugal-ugalan kan? Maksudku semua baik-baik saja kan?" tanyanya lagi dengan ragu, takut membuat Riri merasa tidak nyaman
"Lancar kok nggak ada masalah, ada apa sayang?" Riri balik bertanya, ia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Mungkin saja perasaan khawatirku tadi sebuah alarm alam bawah sadarku, agar aku waspada seperti yang sudah-sudah. Tapi ini pun bisa salah kan?" Gumam Riri dalam hati
Sugi menghela napasnya "Nggak ada apa-apa, hanya merasa sedikit khawatir saja karena biasanya kan pak Doni yang mengatur semuanya. Kalau ada apa-apa info cepat ya Sayang"
"Siap bos hehehe tenang saja, ada pak Yuda juga yang ikut denganku"
"Ohh ok baguslah, aku bisa lebih tenang sekarang"
"Jangan khawatir sayang, lebih baik fokus ke acara malam ini saja"
__ADS_1
"Kalau begitu, sampai nanti ya. I love you"
"Iyah, I love you too"
Sugi memutus sambungan teleponnya lalu menuju lift untuk menuju ke lantai paling atas hotel ini.
Sementara itu Riri merasa semakin gelisah sejak ia menutup pembicaraannya. Tadi ia sengaja mengatur suaranya agar terdengar baik-baik saja. Padahal kewaspadaannya sedang meningkat tinggi saat ini. Debaran jantungnya bertalu-talu, ia sampai harus menggenggam erat tas tenteng yang ada di pangkuannya.
Pak Yuda pun sepertinya bisa menangkap bahasa tubuh Riri. Ia pun sejak tadi juga sudah meningkatkan kewaspadaannya tanpa perlu aba-aba dari Riri.
"Pak Iwan, tiba-tiba saya ingin buang air kecil. Apa bisa kita minggir sebentar di salah satu pom bensin terdekat?" Riri berkata dengan sopan. Ia ingin sekali turun dari dalam mobil ini. Rasa gelisahnya kini sudah memuncak, ini sungguh tidak masuk akal.
"Baik Bu" jawab Iwan singkat sambil tersenyum
Riri juga diam-diam mengunduh aplikasi pelacak untuk ponselnya, ia kemudian mengirimkan informasi tersebut pada Damar beserta informasi nama, nomor plat dan foto orang yang mengantarnya saat ini
"Ini untuk jaga-jaga aja. Entahlah aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi hari ini kak. Perasaanku biasanya jarang salah, tapi mudah-mudahan saja aku memang salah. Anggaplah aku overthinking"
"Hah?!! Kamu sendiri? Pak Doni kemana??!! Tahu gitu kan aku yang jemput"
"Aku susulin kamu sekarang, sabar ya"
"Ok kak"
Mobil pun berbelok ke arah pom bensin. Tanpa ragu Riri pun turun. Ia menatap pak Yuda sambil mengangguk memberikan isyarat agar ia tetap berjaga di tempatnya.
Namun ada hal yang tidak diketahui Riri, saat ia masuk ke dalam toilet seseorang juga telah masuk ke dalam mobil Iwan. Ia menyerang pak Yuda dengan dibantu oleh Iwan.
Saat perhatian pak Yuda teralihkan untuk bertahan sambil melancarkan serangan balik, Iwan mengeluarkan jarum berisi cairan dari dalam dasbor lalu menusukkan jarum tersebut ke lengan pak Yuda. Perlahan pandangannya mulai kabur, ia pun lemas dan pingsan seketika.
Mobil terlihat bergoyang-goyang tak karuan. Satu, dua orang yang sedang mengantri mengisi BBM terlihat sesekali melirik ke arah mobil yang bergoyang-goyang itu dengan senyuman sinis. Mungkin mereka menduga telah terjadi adu asmara dari pasangan yang sedang di mabuk cinta didalam mobil yang tertutup kaca hitam ini. Bahkan ada yang terang-terangan tertawa sambil menggeleng.
Riri pun nampaknya sudah kembali, namun ia tidak langsung masuk ke dalam mobil, melainkan ke mini market yang berada tak jauh dari sana.
__ADS_1
"Lihat, wanita ini sepertinya sedang mengulur waktu. Ia pasti mencurigai kita. Apa yang harus kita lakukan sekarang?!" tanya laki-laki misterius tadi pada Iwan.
"Kita tunggu saja sebentar, lagipula di daerah pinggiran begini mana ada taksi atau ojek online yang beroperasi. Dia tak akan bisa kemana-mana"
"Bagaimana kalau dia menghubungi keluarganya?"
"Mereka tidak akan bisa secepatnya kemari, kalau pun mengebut paling tidak butuh satu sampai satu setengah jam untuk tiba disini" jawab Iwan sambil tetap memantau pergerakan Riri
Riri di dalam minimarket berjalan mondar-mandir. Ia memang sedang mengulur waktu, sambil berharap Damar cepat sampai disini. Ia melihat jam di ponselnya.
"Ini sudah lima belas menit sejak aku turun dari mobil. Kenapa pak Yuda tidak turun mencariku ya? Ini benar-benar diluar kebiasaannya. Jangan-jangan pak Iwan sudah menghabisi nyawanya...argh tidak mungkin!! Pak Yuda memiliki kemampuan beladiri yang sangat baik seharusnya dengan mudah melawan orang seukuran pak Iwan" aku bergumam dalam hatinya sambil mengusap-usap lenganku sendiri
"Selamat siang Bu, ada yang bisa saya bantu?" suara seorang perempuan mengagetkanku
Aku menoleh ke arah suara, ternyata pramuniaga mini market sedang menghampirinya. Ia menatapku khawatir
"Selamat siang Bu, saya sedang mengingat pesanan teman saya. Dia sekarang lagi menunggu di dalam mobil" jawabku sekedarnya
"Oh begitu, saya pikir ada apa. Karena dari tadi saya melihat ibu bengong memandang keluar hampir lima menit. Telepon saja temannya Bu, biar tidak capek bolak-balik kesana" ujarnya sambil tersenyum
"Iyah Bu terimakasih sarannya" sahutku yang tiba-tiba saja mendapatkan ide dari ibu tadi.
Aku pun menekan nomor pak Yuda, terdengar beberapa kali deringan kemudian diangkat olehnya. Sejenak aku merasa tenang, karena artinya pak Yuda dalam keadaan baik-baik saja. Namun sudah beberapa detik tidak ada suara jawaban yang terdengar. Hanya keheningan dan suara pelan nafas seseorang.
Aku menarik napasku pelan, lalu memberanikan diri untuk berbicara
"Halo pak Yuda. Mau nitip beli minum nggak? Saya kebetulan lagi beli jus jambu sama biskuit. Sekalian tanya ke pak Iwan juga, siapa tahu dia haus"
"Saya Iwan Bu, ini pak Yudanya ketiduran. Kalau tidak merepotkan saya nitip air mineral dingin satu ya Bu" jawabnya pak Iwan pelan
"DHEG!!!" Jantungku kembali berdetak kencang "Astaga pak Yuda!!!" Aku membathin
"Ok, Tunggu sebentar ya pak" kataku berhati-hati, takut kalau suaraku tiba-tiba terdengar serak atau tertahan karena perasaan takut yang ku rasakan saat ini
__ADS_1
Aku mematikan sambungan telepon dan menarik napas dalam-dalam
"Apa yang sudah ia lakukan padanya??!! Orang sebesar dan sekuat pak Yuda saja bisa dihadapi dengan mudah olehnya, bagaimana aku yang seukuran ini?! Aku harus bagaimana sekarang?!?"