
Setelah siap, Riri keluar dari dalam kamar untuk menemui Sugi. Ternyata Sugi sudah menunggunya didepan.
Mata Sugi hampir saja terbelalak saat Riri mendekatinya, dia memakai salah satu pakaian yang ia belikan.
"Ya tuhan dia kelihatan lebih memukau pagi ini, tidak kusangka pakaian yang kupilihkan sangat cocok untuknya" batin Sugi
Riri memilih mengenakan kemeja berlengan pendek warna putih bercorak garis-garis vertikal warna biru, dengan bawahan rok hitam berbentuk A Line. Sepatu yang ia pilih berwarna nude dengan model pump shoes dengan tinggi hak sekitar 7 cm. Sudah lama sekali ia tidak memakai rok untuk bekerja. Terakhir kali adalah saat ia tidak sengaja menabrak Sugi di sentral parkir. Saat itulah ia memutuskan untuk berhenti sementara memakai rok.
Aku memperhatikan Sugi yang menatapku tak berkedip "aneh yah?" Ucapku khawatir
"Hah? Aneh? Nggak kok. Cocok, kenapa sebelumnya tidak pernah memakai rok lagi?"Jawab Sugi sedikit gelagapan sambil melangkah menuju garasinya
"Semenjak kita tidak sengaja bertabrakan di sentral parkir, masih ingat? Semenjak itulah aku jadi berpikir dua kali untuk memakainya kembali" ujarku sambil mengekor pada Sugi.
Sugi kembali ingat dengan posisi Riri yang jatuh terjengkang setelah menabraknya. Langkahnya terhenti, ia menoleh ke arah Riri sambil menahan tawanya.
"Ck! Tuh kan masih ingat. Posisi jatuh yang benar-benar memalukan" kataku sambil menggeleng lemah
Sugi tertawa kecil mengikuti Riri yang sudah mendahuluinya.
"Buka tanganmu" perintah Sugi saat kami telah sampai di depan garasi
Ia meletakkan sebuah kunci mobil di atas tanganku yang terbuka
"Kamu yang nyetir, mobil ini aku serahkan padamu. Silahkan dipakai setiap hari"
"ini serius?"
"Iyah, pak Doni bawa yang hitam. Nah kamu yang putih itu" tunjuk Sugi ke arah satu mobil mewah berjenis City car berwarna putih
Aku menatapnya tak percaya
"Hei, kan ini bagian dari pekerjaanmu. Ayo! kita berangkat sekarang" Ujarnya kembali
Aku menuruti perintahnya dan masuk ke belakang stir. Sugi sebagai atasan tentu saja duduk di belakang dengan tenang.
__ADS_1
Dengan perasaan sedikit gugup Riri menyalakan mesin mobil. Ini pertama kalinya ia mengendarai mobil kembali, semenjak pergi dari rumah. Untung saja mereka berangkat lebih awal saat belum banyak kendaraan memenuhi ruas jalan, Sehingga Riri pun bisa lebih santai melajukan mobil Sugi.
"Kalau nanti kita bisa pulang lebih awal, kita ke Eat and Love yah. Ada satu dokumen dalam map plastik berwarna merah ketinggalan di lemari file. Hanya ada satu yang berwarna merah disana. Nanti aku minta tolong ambilkan ya. Kuncinya minta saja sama manager yang baru namanya pak Burhan. aku sudah menghubunginya semalam" kata Sugi dalam perjalanan
"Baik pak" sahutku sambil tersenyum
"ingat pakai maskermu saat kita turun nanti, aku takut alergimu kumat" lanjut Sugi kembali
"aku hanya tidak mau semua orang melihat kecantikanmu Riri" gumam Sugi dalam hatinya
"siap pak" jawabku lagi
Sugi hanya bisa tersenyum melihat tingkah Riri dari belakang.
Kami telah tiba di Kantor pusat, kulihat pak Doni telah menunggu kami di depan pintu masuk kantor.
"Selamat pak Pak Sugi, Bu Riri" sapanya
"Pagi" jawab Sugi singkat sambil tetap melangkah masuk kedalam kantor
kami berdua mengekor pada Sugi memasuki kantor pusat.
Saat kami berada di dalam, semua karyawan tanpa terkecuali berdiri ketika kami masuk. "Selamat pagi pak Sugi" sapa mereka hampir bersamaan.
Langkah Sugi terhenti ia melihat sekeliling kemudian membalas sapaan mereka "Selamat pagi semua" sahutnya tegas lalu melanjutkan langkah menuju ruangannya tanpa senyum sama sekali.
"Wow Sugi seperti dua orang yang berbeda. Saat di kantor dan di rumah sangat berbeda. Tiba-tiba saja aku merasakan aura seorang pemimpin yang tegas dan berkharisma kembali lagi padanya. Ini sama persis yang aku rasakan saat bekerja bersamanya di Restauran" aku bergumam dalam benakku saat berjalan mengikuti Sugi masuk kedalam ruangannya.
Kulihat juga seorang wanita tinggi dan cantik berdiri di depan pintu.
"Selamat pagi pak Sugi, saya Dewi sekretaris bapak" sapa wanita itu sambil menyalami Sugi dengan senyum sedikit menggoda
Sugi menyambut salaman Dewi dengan cepat "ok" katanya sambil terus melangkah melewatinya
Wajah ramah wanita bernama Dewi itu hilang seketika saat melihat Riri melewatinya dan ikut masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"wah sepertinya akan ada Suci kedua nih" aku bergumam
"Bu Riri silahkan berkoordinasi dengan sekretaris di depan mengenai jadwal saya hari ini dan seterusnya. Nanti setiap meeting, siapkan berkas yang diperlukan"
"Baik pak" aku keluar dari ruangan sugi menuju meja sekretaris Dewi yang berada diluar"
Pagi itu di dalam rumah Hadi terdengar suara teriakan pak Brata yang nyaris kehilangan kendali atas dirinya.
"Jawab pertanyaanku Hadi!!! Apa ini semua karena kau menemukan Mentari dan membawanya ke rumahmu ??!" Tanya pak Brata dengan wajah penuh amarah
Hadi hanya menunduk terdiam di tempatnya. Luka-luka yang dia alami akibat kejadian itu belum sembuh benar.
"Kenapa kau diam saja !!! Percuma aku mengangkatmu anak. Mengurus hal seperti ini saja tidak becus!!! Kenapa kau tidak membawanya langsung padaku??? Kenapa??!!"
"Maaf ayah, aku tidak bermaksud untuk membangkang. Hanya saja aku kasihan padanya, aku ingin meminta surat itu secara baik-baik. Lagipula dia kan adikku ayah, aku tidak tega memaksanya seperti itu"
Pak Brata terlihat emosi, dia menendang kursi yang ada di depannya "Gubrakkk!!!"
"Apa katamu!!?? Kasihan??!! Hadi, kamu pikir saat ini keadaan keuangan kita baik-baik saja, Hah!!?? Lihat dirimu Sekarang, apa kamu merasa dia bisa diajak bicara secara baik-baik?? Brengs*kk!!!"
"Aku akan mencarinya lagi ayah, beri aku kesempatan sekali lagi. Aku mohon ayah!" Suara Hadi terdengar memelas
"Aku akan mencarinya sendiri. Kamu urus saja dirimu!! Semua anak buahmu aku pecat!!, Awas kalau kau mengacau lagi, aku akan mengembalikanmu ke tempat kelahiranmu" ancam Pak Brata kemudian pergi dari rumah Hadi.
Hadi mengeratkan giginya menahan emosi mendengar ancaman pak Brata.
"Sial, seharusnya aku tidak mengajaknya kemari. Kalau saja aku lebih waspada kemungkinan besar Riri sudah ada dalam genggamanku saat ini. Pasti ada orang yang membocorkan rahasia ini. Lihat saja pembalasanku Riri. Aku akan menemukanmu kembali" gumam Hadi
Pak Brata masuk ke dalam mobilnya yang langsung melaju tanpa menunggu aba-aba darinya. Tangannya mengeluarkan ponsel dari kantongnya dan menghubungi seseorang.
"Saya mau anda mencari seorang gadis bernama Mentari" Ujar pak Brata
"......Hmm uang sebesar itu tidak masalah buat saya, sebentar lagi saya kirim datanya" kata Pak Brata kemudian mengakhiri sambungan telepon.
"Mentari, aku harus membawamu kembali dengan cara apapun, termasuk cara yang kasar" gumam pak Brata dalam hatinya.
__ADS_1