
Aku menuruti perintahnya segera masuk ke dalam dan duduk di sebelahnya.
Dia melajukan mobil ini dengan mengebut.
"Pelan-pelan Sugi, kamu sepertinya marah padaku. Aku ingin tahu kenapa?"
Sugi tiba-tiba menghentikan mobilnya di tengah jalan. Aku kaget dan melihat kesekitar, beruntung jalanan ini sedang sepi.
"Astaga, kenapa berhenti mendadak di tengah jalan seperti ini. Kita bisa celaka!" kataku khawatir
Sugi menoleh ke arahku "aku tidak sesembrono itu. Karena jalanan sepilah aku bisa berhenti mendadak begini"
Aku menghela napasku "jadi kenapa kamu marah?"
"........ Kenapa tidak berterimakasih juga padaku?, aku lebih hebat dari si Tua itu" ujarnya dengan wajah kesal luar biasa
Aku melongo mendengar ucapannya. "Astaga jadi hanya karena itu?" Aku menutup mulutku menahan tawa
"Ya Tuhan laki-laki ini benar-benar tidak bisa ditebak, membuat aku gemas" Aku membatin. Kulihat wajahnya menatapku dingin
Aku memegang lengannya dengan kedua tanganku "maafkan aku Sugi. Aku tadi benar-benar lupa mengatakannya padamu. Terimakasih atas bantuannya lagi. Ini ketiga kalinya aku berhutang padamu, entah kapan aku bisa membalasnya. Siapa bilang kamu tidak hebat?! Kamu tahu, buat aku kamu yang terbaik, lelaki yang paling super diantara yang lain"
"Kalau aku memang seperti yang kamu bilang, sudah sepantasnya kan mendapat hadiah ?!" Tanyanya dengan wajah yang berubah penuh senyum
"Hadiah? Kalau aku mampu pasti akan aku berikan" kataku dengan nada serius
"ingat ya kamu sudah berjanji"
"Iyah sekarang hadiah apa yang kamu minta?"
Dia terlihat berpikir, bola matanya bergerak kesana kemari "Setiap malam tunggu aku pulang dari bekerja. Aku ingin di temani mengobrol sebentar saja" Sugi lalu menghadap kearahku "Bangunkan aku setiap pagi. Masuk saja ke kamarku dan buka jendelanya. Jangan hanya menyiapkan kopi lalu pergi mendahuluiku"
Ada rasa nyeri-nyeri aneh berputar-putar di dalam perutku saat mendengar permintaannya.
"Satu lagi, kalau aku terlalu lelah temani aku tidur sesekali, karena di hari-hari seperti itu insomniaku akan kambuh" dia menatapku lembut
"Hanya itu?"
Dia mengangguk pelan
"Yang benar?! Dia hanya meminta hal semacam itu? Apa aku salah dengar?. Aku pikir dia akan meminta sesuatu yang mungkin akan membuatku takut dan menjauhinya" aku melepaskan lengannya perlahan
"Baiklah akan aku lakukan"
"Apa aku berlebihan?" Tanyanya ragu
"Tidak sama sekali, kenapa tidak mengatakannya sebelum ini? Kalau hanya seperti itu, tanpa kejadian hari ini pun aku pasti menyanggupinya. Aku juga minta maaf kalau belakangan tidurku selalu awal. Mungkin karena aku merasa sangat lelah dengan ritme bekerja yang luar biasa seperti sekarang" sahutku sambil membenarkan posisi dudukku
Sugi memperhatikan kakiku "Sepatumu kemana?"
__ADS_1
"Ah itu dibelakang, tadi aku tenteng sewaktu mengendap-endap masuk ke mobil"
"Eh, Kita mau mengobrol terus di tengah jalan begini?" Aku lagi-lagi melihat sekeliling, khawatir ada kendaraan yang.lewat
Sugi tersenyum geli sambil menghidupkan kembali mobilnya lalu bergerak maju secara perlahan
Aku tiba-tiba saja teringat dengan nama asliku tadi sempat disebut oleh orang yang bermuka seram itu, dan pak Doni menyebut namaku juga dengan wajah biasa saja tidak terkejut. Belum lagi dia menyebut nama paman.
"Jangan-jangan..." Aku menoleh ke arah Sugi dengan banyak pertanyaan di kepalaku
"Ada apa?" Sugi ikut menoleh
"Sejak kapan kalian tahu namaku Mentari?"
"Mmmm Sejak tanganmu bengkak berkelahi dengan orang yang memeras temanmu Gia"
Aku terperanjat "Hah?! Sudah selama itu?"
"Iyah, kenapa? Aku tidak masalah dengan identitasmu Riri. Tenang saja"
"Bukan itu, maksudku hmm seberapa banyak yang kamu tahu tentang latar belakangku?"
"Hampir semua yang kamu sembunyikan" kata Sugi dengan tenang sambil menepikan mobilnya.
Dia menghadap ke arahku yang masih memproses informasi yang baru saja aku dengar.
"Tapi ... kenapa kamu tidak pernah menanyakannya langsung padaku?
"Aku tidak mau menambah beban pikiranmu dengan hal-hal yang tidak penting. Aku hanya berharap ketika kamu sudah siap, kamu akan menceritakannya sendiri padaku. Aku akan menunggu saat itu tiba"
"Apa itu termasuk tentang Hadi?"
"Iyah, aku akan jujur padamu. Aku meminta Andi menceritakan semuanya padaku sehari setelah kejadian itu. Jangan marah padanya, dia laki-laki yang baik. Karena bantuan dari dialah aku bisa menyelamatkanmu waktu itu"
"Sepertinya aku memang harus menceritakan ini semua padamu"
"Tidak usah terburu-buru, kapan kamu siap saja. Aku mengerti beban emosi yang kamu pikul sangat berat Riri"
Aku menunduk "baiklah nanti pasti akan aku ceritakan semuanya, tapi kalau seandainya aku merasa tidak sanggup untuk melanjutkannya mungkin ceritaku hanya akan menjadi sepenggal-sepenggal"
"Aku mengerti" katanya sambil melanjutkan perjalanan pulang kami
Setelah sampai, aku bergegas membersihkan diri kemudian masuk ke kamar Sugi dengan membawa minyak hangat.
Kulihat Sugi sudah menungguku di atas ranjangnya. Ia menatapku lekat sambil memencet remote yang ada di tangannya. Lampu kamar pun padam, berganti lampu tidur yang menyala temaram.
"ehm.. ma...mau di pijat atau dibalur minyak?" kataku hampir tercekat, jantungku berdebar saat aku naik keatas ranjangnya.
"Di balur saja" jawabnya lalu menelungkup.
__ADS_1
Seperti biasa aku menggulung bajunya sampai pundak, setelah menggosok-gosokkan kedua tanganku dengan perlahan aku membalur punggungnya dengan minyak. Aku mengusap-usap punggungnya sebentar.
Kemudian aku turun ke bagian kakinya. Sugi menjauhkan kakinya dari tanganku
"Jangan di kaki"
"geli ya?"
"Aku tidak nyaman orang lain melihat kakiku secara jelas"
"kenapa?"
"Aku pernah kecelakaan yang cukup fatal saat masih sekolah dulu. Ada bekas jahitan panjang di sebelah betis kananku"
"Apa masih sakit?"
Sugi menggeleng "sudah lama sembuh, tapi bekasnya susah di hilangkan. Aku beberapa kali menjalani operasi untuk mengurangi jaringan parutnya tapi tak banyak perubahan"
"Aku boleh lihat?"
Dia menggeleng
"please"
Dia tetap menggeleng
"Gini deh, aku juga punya bekas jahitan yang orang lain tidak pernah aku perlihatkan. Aku malu kalau orang-orang sampai tahu. Kalau aku berani meperlihatkannya padamu artinya kamu harus berani melakukan hal yang sama. Gimana?"
Dia nampaknya berpikir lama, sampai akhirnya setuju dengan usulanku.
Dengan santainya aku memperlihatkan bekas jahitan kecil yang ada di lenganku "ini hadiah dari tembok yang diplester beling di belakang rumah" kataku dengan wajah yakin
Sugi tertawa "hahahaha itu kecil Riri, jahitannya juga hanya satu. kamu menjebakku"
"Kan aku nggak bohong, ayo mana kakimu. Janji harus ditepati loh" kataku padanya yang terlihat menggeleng kehabisan akal menghadapiku
"Ck!" Dia akhirnya menyerah dan memberikan kakinya padaku dengan wajah tegang dan gelisah.
Aku mulai menaikkan celana panjangnya sampai ke lutut. Persis seperti apa yang Sugi katakan. Aku bisa melihat jelas bekas luka yang memanjang dari bawah lutut sampai diatas pergelangan kaki.
Dengan perlahan aku membalurkan sedikit minyak dan mengusap sekelilingnya. Aku memutuskan memijatnya sedikit agar dia rileks.
Ku perhatikan wajah Sugi terlihat lebih santai daripada sebelumnya
"Nggak seburuk yang kukira, tapi kalau pun ternyata lebih buruk itu juga tidak mengubah apapun. Kamu masih menjadi lelaki paling super yang pernah aku kenal"
Sugi tersenyum menggeleng "Memang paling pintar membuat hati orang lain senang"
"Kenyataannya begitu kok"
__ADS_1