
Aku menoleh ke arahnya "aku kan belum bilang mau nginep"
"Aku memaksa" katanya dengan santai
"Ck!" Aku berdecak kesal
"Riri, Aku janji tidak akan macam - macam. Aku hanya butuh bantuanmu itu saja"
aku menghela napasku "ternyata selain bawel aku juga baru tahu dia orang yang seenaknya sendiri. Tapi kasihan juga sih Sugi, lagipula dia juga beberapa kali telah menolongku. Masa hanya segini saja aku tidak mau membantu? Ingat Riri, kamu itu sekarang sudah jadi asistennya Bapak Sugi!" aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal
"Sedang ngomongin saya dalam diam yah?" Sugi tersenyum
Aku terperanjat "astaga dia tahu" Aku tidak menjawab pertanyaannya dan memutuskan untuk diam saja selama sisa perjalanan.
Kami akhirnya sampai di rumah Sugi. Dia langsung mengajakku masuk ke kamarnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanyanya
Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama, dia memang terlihat benar-benar kelelahan.
"Mandi air hangat, kalau perlu berendam. Ada garam untuk berendam?"
Dia menggeleng "Mandi air hangat saja yah, biar cepat. Kamu bisa pakai kamar mandi yang dibawah, lengkap kok. Ini pakai kaos saya dan celana panjang
ini" Sugi mengambil pakaian dari dalam lemari dan menyodorkannya padaku
Aku mengambilnya dari tangan Sugi "Lagi-lagi celana yang serupa seperti celana saat terakhir aku tidur disini. Apa ini celana panjang bekas mantan pacarnya Sugi yah?" Aku menepis pikiran aneh itu
__ADS_1
Tapi pikiran dan tindakanku terkadang tidak sejalan, aku tiba-tiba saja sudah menyemburkan pertanyaan "Ini celana panjang siapa? Mantan yah? Kok sama kayak celana yang aku pakai sewaktu aku tidur disini sebelumnya? Hanya warnanya saja yang berbeda"
"Mantan? Bukan, aku sengaja membelinya untukmu" Sugi berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan senyum lebar
Aku masih bingung mendengar jawabannya
"Kenapa dia sampai membeli celana untukku? Seberapa banyak dia membelinya? Darimana dia tahu ukuran celanaku?" Berbagai macam pertanyaan singgah dikepalaku ketika turun ke lantai satu untuk mandi
Setelah aku kembali, aku melihat Sugi sudah duduk di sofa dalam kamarnya yang kali ini nampak remang. Rupanya lampu kamar telah dimatikan dan digantikan dengan lampu tidur.
"Kok ukuran celananya bisa pas yah? tanyaku masih penasaran
"Bisa aja pokoknya" sahutnya dengan wajah biasa saja, padahal Sugi sampai harus mengecek ukuran standar gadis mungil dari situs pencarian di internet sebelum memutuskan membeli ukuran yang mana dari olshop.
"Aku heran, kok kamu bisa kepikiran membeli stok celana panjang buat aku sih?"
"Ya siapa tahu menginap lagi. Ternyata benar kan?"
Sugi tersenyum melihat Riri yang terlihat bingung dan kehabisan kata-kata.
Sebenarnya Sugi selalu teringat dengan kejadian sewaktu Riri pertama kali menginap disini. Tidurnya malam itu nyenyak sekali disebelah Riri. Walaupun hanya beberapa jam, tapi itu tidur paling nyenyak yang pernah ia rasakan selama ini. Jadi setelahnya dia berharap Riri bisa menemaninya kembali.
"Terus sekarang kita ngapain?" Tanya Sugi
Aku memutar otak "Tunggu sebentar" aku mencari-cari minyak gosok andalan dalam tasku. Aku sengaja membawanya di tas, karena kadang-kadang pusingku kambuh lagi. Untungnya minyak gosok yang aku miliki multifungsi, selain bisa dioles untuk meredakan sakit bisa juga digunakan untuk memijat.
"Kemarilah" tanganku menepuk-nepuk tempat tidurnya, mengajaknya untuk naik keatas ranjang.
__ADS_1
Sugi mendekat dengan senyum yang sangat lebar selayaknya anak kecil yang mendapat permen sebulan sekali. Aku menggeleng keheranan, baru kali ini aku melihat dia seperti ini.
"Tidur tengkurap" perintahku
Sugi mengikuti perintahku
"Kapan lagi bisa memerintah seorang Direktur Utama seperti ini" aku menahan tawaku yang hampir saja meledak
Sugi tiba-tiba menoleh "aku tahu apa yang baru saja kamu pikirkan" wajahnya terlihat curiga, kemudian kembali tengkurap.
"Apa sih?" Jawabku sambil menahan tawaku kembali "ck! jangan-jangan dia cenayang" aku bergidik
"Bajunya boleh diangkat?"
Tanpa menjawab dia mengangkat baju dan menggulungnya sampai ke bahu.
Aku menatap bagian punggung Sugi "Astaga punggungnya putih, bersih, keras dan berotot. Seperti model-model iklan susu protein di televisi. Untung saja lampunya redup, jadi aku bisa berkonsentrasi dengan baik. Please yah kamu tenang, jangan membuat kekacauan" aku berkata pada diriku sendiri.
Tanganku seperti biasa aku gosokkan satu sama lain supaya hangat, kemudian aku membalurkan minyak gosok ke punggungnya. Pelan-pelan aku mulai mengusap minyak keseluruh punggungnya. Kali ini aku tidak memijatnya, hanya mengusap-usapnya berulang kali bergantian disisi kanan dan kiri. Setelah beberapa saat aku menurunkan bajunya kembali perlahan. Aku baru sadar Sugi tidak lagi mengobrol seperti tadi sewaktu didalam mobil. Aku mendekat kearahnya, matanya terlihat terpejam dengan napas yang teratur. Aku yakin dia sudah tertidur dengan nyenyak.
"Apanya yang susah tidur? Baru juga di usap bentar" batinku sambil memandangi wajahnya yang harus kuakui memang setampan itu. Aku kembali ke kesadaranku
"Ck! Udah ah, Aku tidur dimana ini??" Aku melihat sekeliling, "di sofa aja deh, sepertinya nyaman" aku turun dari ranjang membawa serta satu buah bantal dan berjingkat agar Sugi tidak terganggu.
Aku merebahkan tubuhku diatas sofa yang ternyata memang empuk. Walaupun hanya bisa meringkuk tapi empuk sofa ini membuatnya mengingat kembali pada ruang tamunya semasa dia masih kanak-kanak. Ia ingat sekali hari itu hari Minggu. Sambil menungggu film kartun kesayangannya mulai, ayahnya menemaninya disana sambil mengobrol dan mengelus kepalanya. Karena merasa lelah, tidak butuh waktu lama untuknya juga ikut tertidur.
Beberapa jam kemudian Sugi terbangun dari tidurnya, dia melihat ke sebelahnya tidak ada Riri disana. Dengan perasaan kaget ia beringsut dari tidurnya dan memincingkan mata untuk melihat sekeliling. Sugi bangkit dan mengambil remote untuk menyalakan lampu kamarnya, di dapati Riri sedang dalam posisi meringkuk tidur di atas sofa. Hatinya merasa terenyuh "kenapa malah tidur di sini sih Riri?!" Gerutunya
__ADS_1
Sugi menggendongnya dan membawa Riri kembali ke ranjang. Tiba-tiba saja Riri mengigau "Ayah.. hehehe iya... " Riri seperti terbangun kemudian memeluk Sugi erat lalu tidur kembali. Sugi yang kaget hanya bisa tersenyum. Dia merebahkan tubuh mungil Riri keatas Ranjang tapi pelukannya sangat erat. Karena takut ia terbangun akhirnya memutuskan ikut tidur dengan posisi Riri memeluknya.
"Maafkan aku Riri, kalau tidak dengan cara seperti ini, kita tidak akan bisa bertemu kembali. Aku yang mengatur lowongan pekerjaan di Padi Villa untukmu, aku juga yang merekomendasikan dirimu pada tim seleksi di kantor pusat. Untung saja seperti perkiraanku, kamu lulus seleksi dengan nilai yang sangat bagus. Aku berharap kita bisa bersama selamanya" Sugi bergumam sambil mengelus kepala Riri berkali-kali, kemudian ia pun kembali tertidur.