
Silvi mengembalikan ponsel yang dipinjamnya ke tangan Sugi
"Sudah, terimakasih ya" katanya sambil tersenyum senang
Sugi mengambil ponsel tersebut dan memasukkannya kedalam kantong kemeja.
Acara baru saja di mulai, ia bisa mendengar suara pembawa acara sedang membuka acara ini.
"Bu Riri belum kembali ya?"
"Belum" katanya dengan raut wajah gelisah
"Aku akan membantumu mencarinya kesana. Kamu jangan kemana-mana Sam, acara ini baru saja dimulai. Kehadiranmu pasti diperlukan diacara ini, sebentar lagi kamu harus memberikan sedikit ucapan selamat pada mereka. Kalau kamu tidak ada ditempat, aku takut orang tuamu akan menanggung malu dihadapan para undangan yang datang" ujar Silvi berusaha meyakinkan Sugi
Sugi mengangguk setuju.
Silvi kemudian pergi menuju ke arah dimana wartawan sedang berkumpul sambil mendendangkan secara samar sebuah lagu yang saat ini muncul secara tiba-tiba dikepalanya yang di penuhi dengan kegembiraan.
Ketika sampai ia melihat jam di pergelangan tangannya "sudah dua puluh menit berlalu, kuberi mereka waktu tiga puluh menit. Seharusnya mereka sekarang sedang sibuk menikmati buruannya" Gumamnya sambil tersenyum lebar
Riri mengikuti tiga sekuriti yang sedang bergegas menuju kamar 201. Ia teringat pada pak Doni yang seharusnya bisa membantu mereka saat ini. Sebelum masuk ke dalam lift ia menghubungi pak Doni.
"Pak Doni, posisi bapak ada dimana? Bisa temui saya dikamar 201? Ada sesuatu yang sedang terjadi" kata Riri di ponselnya
"Saya sedang menunggu di luar ballroom bu, Baik Bu saya kesana sekarang" jawabnya lalu mematikan sambungan ponselnya
Ketika kami sampai, sekuriti langsung menggedor pintu kamar tersebut.
"GOOD EVENING, ROOM SERVICE!!!" Teriak satu orang sekuriti
Tak lama pintu terbuka, seorang laki-laki berkumis muncul dari balik pintu dengan wajah terkejut. Ia nampak menahan pintu dengan setengah tubuhnya yang gempal dan tinggi. Rambutnya terlihat basah oleh keringat, begitu juga di dahinya. Ia tidak mengenakan atasan hanya sepotong celana pendek melekat ditubuhnya.
"Selamat malam pak, kami mendengar laporan ada teriakan seorang wanita dari kamar ini. Kami bermaksud untuk masuk dan melihat sebentar ke dalam untuk memastikan tidak terjadi hal-hal yang merugikan hotel ini maupun tamu yang menginap" ujar pak Jono sekuriti pertama yang Riri temui tadi dibawah
Laki-laki berkumis itu mendengus kesal "Apa hotel ini tidak mengenal namanya privasi???!!!. Saya bisa tuntut hotel ini karena memaksa masuk ke dalam kamar yang saya sudah sewa" Teriaknya kearah petugas sekuriti
Ketiga sekuriti tadi saling berpandangan dengan wajah ragu.
__ADS_1
"Kami hanya memastikan keadaan memang baik-baik saja pak. Kalau di dalam tidak ada kegiatan yang melanggar hukum pastinya bapak mempersilahkan kami untuk masuk"
Ia memandang tajam kearah mereka "sebentar, Istri saya di dalam tidak memakai busana. Setelah kalian periksa nanti, kalau tidak ada sesuatu yang melanggar saya pastikan akan menuntut hotel ini. Saya akan proses ke media agar semua orang tahu betapa hotel ini tidak sesuai dengan imagenya!!!" suara laki-laki itu bergetar kemudian dengan cepat menutup pintu kamar
Pak Jono melihat kearahku dibelakangnya "anda yakin Bu?"
"Yakin pak, saya sendiri yang melihat kejadian itu" kataku dengan tegas
"Kalau nanti tidak kami temukan apa-apa, anda bisa di tuntut secara hukum Bu. Posisi kami juga akan terancam di hotel ini" kata pak Jono dengan wajah gelisah
Terdengar langkah seseorang berlari mendekati kami, ku lihat pak Doni sudah tiba.
"Ada apa Bu Riri?" Tanyanya
"Bantu saya, ini emergency pak!!!" Aku berteriak kecil kearah pak Doni kemudian mengeluarkan cardlok dalam tas lalu bergegas membuka pintu kamar tersebut
Sekuriti terlihat bingung melihat Riri memiliki cardlock kamar tersebut. Pintu terbuka Riri berlari masuk, diikuti oleh yang lain.
Pemandangan didepan kami sungguh sangat mengejutkan. Dua orang laki-laki nampak seperti sedang berusaha memakaikan pakaian ke seorang wanita diatas ranjang, dengan tangan terikat kebelakang dan mulut tertutup lakban. Sedangkan laki-laki yang berkumis tadi sedang mengacungkan pisau kecil berdiri didepan wanita yang terikat. Ketiga laki-laki itu terkejut melihat kedatangan kami secara mendadak.
"Diam ditempat!!! Angkat tangan!!!!" Pak Jono berteriak
Pak Doni dengan tenang merangsek maju secara perlahan
"Ok, tenang dulu pak, kami akan menuruti keinginan anda. Kami tidak akan menghalangi kalian keluar" katanya dengan pandangan waspada
Suara ponsel terdengar berdering di kantong kemeja laki-laki berkumis itu yang menyebabkan konsentrasinya mendadak teralihkan. Kesempatan itu tentu tidak dilewatkan begitu saja oleh pak Doni. Dicengkeramnya tangan Laki-laki yang sedang memegang pisau itu, kemudian dua jarinya dipatahkan dengan mudah oleh pak Doni.
"AAaa!!!! BANG**T!!!" Teriaknya kesakitan, pisau terlepas dari tangannya.
Tanpa jeda pak Doni kemudian menarik wanita yang sedang di sandera dengan kencang ke arah sekuriti dan kembali melakukan serangan pukulan ke arah laki-laki berkumis tadi.
Satu sekuriti menangkap wanita yang disandera dan dua lainnya mulai menangkap dua laki-laki yang lain.
Setelah mereka berhasil di ringkus, ketiga laki-laki tadi diikat kencang, dengan mulut di plester lakban.
Bunyi ponsel kembali terdengar berdering. Kali ini bukan dari ponsel milik laki-laki berkumis, melainkan ponsel yang berada di bawah ranjang di dalam sebuah kantong celana panjang berwarna hitam.
__ADS_1
Riri mengambil ponsel tersebut dan melihat siapa yang menelepon. Ia melihat nama Bu Silvi melakukan panggilan.
"Pak Doni, telepon dari Bu Silvi" aku melempar ponsel itu ke arah pak Doni
Ponsel itu di tangkapnya "Kenapa dia bisa memiliki nomor Bu Silvi dalam ponselnya?" Tanya Pak Doni penasaran
"Sebenarnya sayalah yang mau dijebak kemari dan dikerjai oleh tiga orang laki-laki ini atas perintah Silvi pak"
Wajah tiga orang sekuriti dan pak Doni terlihat kaget mendengar cerita Riri
"Maaf bapak dan Ibu ini siapa?" Tanya pak Jono
"Saya Doni, asisten pak Sugi Direktur Utama Wijaya Grup dan ini Ibu Riri calon istri beliau" Kata pak Doni
"Maaf pak kami tidak mengetahuinya" ujar pak Jono sambil menunduk
"Tidak masalah pak, kalian sudah melakukan tugas dengan sangat baik" kata pak Doni sambil mendekat ke arah wanita yang terikat. Pak Doni membuka ikatan wanita itu dibantu oleh Riri.
Riri kemudian mengambil pakaian dan celananya lalu membantu wanita itu memakainya kembali. Wanita itu tampak menunduk, gemetar dan masih menangis ketakutan
"Siapa yang merencanakan ini semua? Apa benar Silvi?" Pak Doni mengajukan pertanyaan padanya
Wanita itu tidak menjawab pertanyaannya, hanya terduduk dalam diam.
"Ok, kalau kamu tidak mau mengaku dengan terpaksa kami akan memprosesmu juga ke pihak berwajib" pak Doni mengambil ponselnya
"Mm..Maafkan saya pak, Bu....hhhh... Ss..saya takut nasib keluarga saya akan terancam kalau saya sampai mengaku ... Hhh" ia menjawab sambil terisak
"Itu tidak akan terjadi, saya akan membantu mengamankan keluargamu kalau kamu mau bersaksi tentang masalah ini"
"Ssaya... Takut pak hhhh"
Ponsel wanita itu kembali berdering
"Pak Doni, kalau saya tidak salah dengar tadi, Silvi sepertinya bersiap untuk mengajak wartawan kemari setelah pekerjaan mereka selesai. Saya yakin dia bermaksud akan mempermalukan saya juga" bisikku padanya sambil menghidupkan perekam video pada ponselku
Pak Doni menggangguk kemudian mengangkat telepon wanita itu tanpa berbicara, lalu ia menekan tombol speaker di ponsel tersebut. Sementara Riri merekam ponsel yang menampilkan nama Silvi pada layarnya tersebut.
__ADS_1
"Ani!!! Sudah apa belum sih? Kenapa saya tidak dikabari!!??? Pokoknya saya mau mengajak tiga wartawan ini naik sekarang. Bersiaplah!!!" Katanya lalu menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari sini.