Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Sugi dan Mita


__ADS_3

Sugi tertawa melihat tautan berita yang dikirimkan oleh Riri. Ia kemudian membalas pesannya


"😅 Ada-ada aja beritanya 😘 sayangku lagi apa?"


Pak Doni yang sedari tadi masih menemani Sugi nampak menyunggingkan senyumannya kala melihat raut wajah bahagia Sugi saat ini. Ia seperti biasa terlihat duduk tenang tak jauh dari sana.


Usai mengirimkan pesan ia memencet satu nomor yang sudah beberapa hari ini ia ingin hubungi. Terdengar nada dering beberapa kali namun tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirimkan pesan padanya


"Mita, ini aku Sam. Aku ingin bicara"


Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi, nampak nama Mita muncul di layar ponsel


"Halo Mita"


"Halo...Sam!" suara Mita terdengar bersemangat


"Aku ingin membahas tentang berita yang beredar, aku yakin kamu pasti sudah mengetahuinya"


"A...., Maafkan aku Sam. Aku benar-benar tidak menyangka akan begini jadinya. Ini bukan ulahku, please kamu harus percaya padaku. Tempat tinggal ku sekarang sedang di kerumuni wartawan Sepanjang hari. Beruntung aku masih bisa kabur ke tempat temanku di pagi buta kemarin. Sementara, ini jauh lebih baik"


"Aku akan kembali besok, Kita harus bertemu secepatnya, nanti detailnya akan aku informasikan lagi"


Mita terdiam beberapa saat, menyadari ada yang berubah dari Sam "Baik Sam..sampai berjumpa besok" ujarnya lemah, matanya mulai berkaca-kaca


"Ok sampai besok" sugi memutuskan sambungan teleponnya


Mita melihat ponsel yang sudah terkunci kembali di tangannya. Tangisnya pecah seketika, air matanya berlinang menangisi nasibnya kini. Pupus sudah harapan dalam hatinya untuk mendekati Sammy kembali. Dari suaranya yang dingin tadi, ia sadar telah benar-benar kehilangan Sam. Kehilangan cinta yang begitu besar dari seorang laki-laki terbaik yang pernah singgah dalam hidupnya.


"Aku bersalah Sam! ....Ini salahku karena meninggalkanmu...!" Ia terisak memeluk tubuhnya sendiri di dalam kamar yang sunyi


Ponsel Sugi kembali berdering, kali ini nama ayahnya muncul dilayar ponselnya


"Halo ayah"


"Sam, ayah mendapat informasi dari staf disini. Katanya sehari sebelum berita itu muncul, Mita datang ke kantor untuk mencarimu. Staf disini tidak memberikan informasi pribadimu padanya sesuai dengan prosedur.....


Sugi mendengarkan penjelasan dari ayahnya dengan cermat. Ia mengerutkan dahinya kala ayahnya menyebut nama Dewi dalam cerita itu.


"CCTV di depan kantor sayangnya hanya bisa menangkap sedikit saja ketika Dewi keluar dari kantor. Itu masih belum cukup bukti untuk kita menuduhnya"


"Sudah periksa transaksi rekeningnya?"


"Oh iya kamu benar"

__ADS_1


"Tapi itu juga belum tentu dia menggunakan rekening yang sama untuk kejahatan ini atau bisa jadi dia bekerja sendiri" Sugi nampak berpikir


"Besok siang, aku akan bertemu Mita, incognito yah. aku akan mendarat di tempat lain"


"Ayah mengerti"


Sugi meletakkan ponselnya diatas meja.


"Pak Doni, sepertinya kasus ini ada kaitannya dengan Dewi"


"Dewi sekretaris pak?" tanya pak Doni penasaran, ia nampak bergegas mendekat


"Iyah, kemungkinan dia bekerja sendiri atau ada orang lain yang membayarnya"


"Seingat saya Dewi memang tidak pernah menyukai Bu Riri, bahkan sempat menjadi mata-mata ibu anda pak"


Sugi menoleh kearahnya dengan wajah kesal "kenapa saya baru tahu sekarang?"


"Bu Riri yang menyuruh saya untuk tidak mengatakannya pada anda, khawatir akan memperuncing hubungan anda dengan Bu Rita. Lagipula Bu Riri sudah tidak bekerja lagi dikantor kita pak, saya anggap Bu Riri sudah aman"


"Ck! Apa bapak tahu berapa Dewi dibayar oleh ibu?"


"Setahu saya dari informasi asisten ibu, Dewi tidak dibayar, kemungkinan dijanjikan hal lain pak"


"Baik pak, saya mengerti"


"Kirimkan alamat restauran di pelosok desa ini pada Mita, katakan padanya untuk datang sendiri. Atau pertemuan ini akan dibatalkan. Kalau sampai batal bilang saja aku akan langsung menuntutnya secara hukum"


Sugi menuliskan nomor ponsel Mita dan nama restauran yang ia maksud pada selembar kertas.


"Baik pak" jawab pak Doni, ia mengambil selembar kertas yang ada di atas meja.


Sugi nampak kembali terdiam memikirkan siapa dalang dari masalah ini.


"Pak Doni, besok bantu saya memeriksa CCTV yang ada di depan meja Dewi. Pasti ada hal-hal baru yang bisa kita lihat sebagai petunjuk"


"Iyah pak, saya catat jadwal itu untuk besok"


"Ok, pak Doni silahkan beristirahat"


"Baik pak" ujarnya kemudian beranjak dari kamar Sugi


__________________________________________________

__ADS_1


Waktu berlalu, saat ini Sugi sudah berada dalam pesawat private jet untuk membawanya kembali pulang. Mereka mendarat di suatu bandara di pulau lain dan melanjutkan perjalanan dengan helikopter menuju suatu tempat di pedesaan. Tak satu pun wartawan mengetahui hal ini, mereka hanya mendengar desas-desus kalau Sugi akan kembali hari ini. Beberapa wartawan nampak menunggu di bandara.


Ketika mereka mendarat nampak sebuah mobil sudah menunggu. Mereka berdua kemudian bergegas menuju ke restauran tempat Sugi dan Mita akan bertemu. Sepanjang perjalanan Sugi nampak diam, ia memejamkan matanya sambil menengadah.


Sekitar satu jam perjalanan mereka akhirnya sampai. Restauran ini benar-benar jauh dari pemukiman warga. Sehingga sangat tepat berada disini dalam kondisi sekarang.


Pak Doni nampak turun dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam restauran tersebut. Di dalam Ia melihat seorang wanita sedang duduk sendirian. Wajahnya sama persis dengan foto Bu Mita di media online yang beredar.


Dengan perlahan pak Doni kembali ke mobilnya


"Pak, Bu Mita sudah menunggu di dalam"


Sugi membuka matanya dan perlahan turun. Ia melangkah ke dalam diikuti oleh pak Doni dibelakangnya


"Mita!" panggilnya ketika sampai di mejanya


Mita terperanjat, ia berdiri wajahnya terlihat kaget saat menyadari Sugi telah berada di depan matanya.


"Sam..." Panggilnya dengan suara lemah


"Duduklah" kata Sugi sambil mengambil tempat di depannya, diikuti oleh Pak Doni yang duduk di kursi lain tak jauh dari sana


Seorang pramusaji datang mendekat


"Selamat datang pak, silahkan dilihat menunya" ia menyodorkan menu ditangannya pada Sugi dan Doni dengan hati-hati


"Saya pesan kopi hitam dua" kata pak Doni tanpa perlu menanyakannya lagi pada Sugi


"A..ada.. lagi pak?" tanya Pramusaji itu dengan wajah tegang


"Tidak hanya itu pesanan kami" jawab pak Doni sambil menyerahkan kembali menu ditangannya


"Ditunggu sebentar yah pak" Pramusaji itu bergegas pergi, ia merasa sedikit gemetar karena aura intimidasi yang memancar dari arah laki-laki yang duduk bersebrangan dengan wanita yang pertama datang


"Apa kabar Mita?" tanya Sugi


"A..aku baik Sam, aku lihat... kamu dalam keadaan sehat. Aku bersyukur" jawab Mita yang terdengar seperti basa basi belaka


"Coba ceritakan saat kejadian kamu pertama kali sampai, aku ingin tahu" tanya Sugi lagi, kedua tangannya nampak terbuka diatas meja.


Mita menoleh pada Pak Doni, ia terlihat gelisah


"Dia asistenku, Pak Doni. anggap saja dia tidak sedang berada disini" ujar Sugi seperti mengetahui kekhawatiran Mita

__ADS_1


Sugi sengaja mengajak Pak Doni untuk ikut duduk di sana agar ikut menjadi saksi mendengarkan cerita Mita sekaligus menjadi pihak pengamanan Sugi seandainya hari ini tidak sesuai dengan rencana. Mungkin saja wartawan tiba-tiba saja muncul entah darimana. Yang lebih penting lagi agar penjelasan Mita tidak melenceng dari hal-hal penting yang ingin ia ketahui. Terus terang Ia malas mendengarkan drama tangisan Mita untuk saat ini.


__ADS_2