Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Terlambat


__ADS_3

Setelah membawa pak Yuda ke dalam mobil, bawahan Pak Doni kemudian mengikuti jejak ban mobil di atas tanah menuju rute berbeda dari rute mereka masuk tadi. Sambil mengikuti jejak itu mereka tetap melakukan komunikasi dengan seorang hacker yang bertugas memantau rekaman CCTV di sepanjang jalan itu


Walaupun mobil yang mereka cari telah berubah warna dan nomor plat namun hal tersebut tidak menyulitkan si hacker untuk melacak kembali kemana mereka pergi.


"Dapat!!! Kita harus segera ke pelabuhan kecil yang letaknya tak jauh dari sini!!" Laju mobil mereka pun mengebut menuju tempat tersebut.


Di saat yang sama Damar dan Dion baru saja berbelok masuk ke suatu jalan kecil, sesuai dengan panduan aplikasi pelacak yang ada di ponsel Riri. Wajah mereka berdua terlihat sama-sama tegang, beberapa kali Damar mengeratkan kepalan tangannya di atas paha.


"Mudah-mudahan mereka belum mengetahui aplikasi pelacak yang ada di ponsel Tari. Aku khawatir mereka sengaja menggunakan ponselnya untuk mengelabui kita" ujar Damar


"Aku juga berharap begitu" jawab Dion


Jalan kecil yang mereka masuki ini ternyata cukup sepi. Hanya ada satu dua sepeda motor yang melintas disini. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara mobil yang berdecit di belakang mereka. Damar melihat dari spion atas, nampak sebuah mobil hitam jenis Jeep berniat untuk mendahului mereka.


Dion tak mau kalah, ia tetap berada di jalurnya tanpa mau mengalah. Dua mobil itu seperti sedang berkejaran menempel ketat. Dion dengan lincahnya memainkan persneling, gas dan kopling seperti pembalap profesional, ia terlihat semakin bersemangat.


"Hati-hati Dion!!!" Teriak Damar, ia memegangi pegangan atas untuk mempertahankan keseimbangannya


"Tenang saja kak, ini mainanku sejak dulu. Aku bisa mengatasi hal ini!!!" Jawab Dion juga berteriak


"Mereka siapa ya?!!"


"Entahlah, mungkin tujuannya sama dengan kita, bisa jadi penjahat atau orang suruhan Pak Dirut"


"Sial!!! Baj*ng*n!!! ponsel Tari berhenti mengirimkan signal lokasinya pada kita" pekik Damar kesal


Signal pelacak dari ponsel Riri tiba-tiba saja hilang dan mereka pun berhenti di tempat itu. Begitu pula mobil yang membuntuti mereka.


Damar bergegas turun dan mencari-cari dimana Riri berada dengan wajah panik.


"Tari!!!!....Tari!!!!... Tariiii!!! Damar berteriak memanggil nama Riri berulang kali dengan wajah putus asa.


Mereka ternyata telah sampai di suatu dermaga kecil, seperti yang Damar katakan tadi. Mereka hanya melihat dermaga yang sudah kosong, tak ada satu pun perahu yang berlabuh disana. Dari kejauhan ia mendengar suara mesin perahu samar-samar. Tanpa menunda lagi ia berlari dengan kencang mengejar suara perahu tersebut. Namun rupanya mereka sudah terlambat, perahu itu sudah berlayar jauh ke tengah pantai. Ia yakin Riri berada di dalam perahu tersebut.


Damar menatap nanar perahu yang sudah menjauh itu. Ia kini tak tahu harus berbuat apa. Dengan kedua tangan yang gemetar ia mengusap wajah menahan amarahnya yang meluap.

__ADS_1


"Tariii...." Ucapnya lirih, air matanya kini tumpah membasahi pipinya.


Dion nampak berlari menyusul, ia memegangi Damar yang nampak mulai limbung.


"Bagaimana ini Dion?! Kita terlambat..." Suara Damar bergetar.


"Kakak harus memberitahu pak Dirut secepatnya mengenai hal ini, aku yakin dia punya cara yang efektif untuk menemukan Riri"


Terdengar derap langkah kaki berlari mendekat kearah mereka. Nampak dua orang berpakaian setelan resmi berwarna hitam menghampiri. Damar memperhatikan pin yang tersemat di dada mereka.


"Kalian bawahan pak Doni ya?" tanyanya


"Iyah, darimana anda tahu?" Jawab salah seorang dari mereka


"Dari pin kalian"


"Bu Riri...?"


"Sudah terlambat, adik saya sudah dibawa dengan perahu, kalian laporan dulu sana!!!" Teriak Damar dengan geram


Di dalam ruangan meeting, Sugi baru saja selesai melakukan pertemuan dengan ayah dan tamunya. Ia masih sangat khawatir dengan Riri. Karena sampai saat ini pun Riri belum sampai disini. Bahkan pesannya pun belum dibalas sejak setengah jam yang lalu.


"Kenapa kamu masih ada disini?" tanyanya ketus pada Silvi


Silvi tersenyum "Menemanimu. Sekarang kamu boleh tidak suka padaku, tapi nanti ada waktunya kamu terpaksa harus menyukaiku, Sam" sahutnya lembut


Sugi berdiri dan meninggalkannya. Ia berniat untuk kembali ke kamarnya. Ponselnya kemudian bergetar, Ridwan mengirimkan pesan padanya. Wajahnya terlihat dingin saat membaca pesan itu. Silvi diam-diam membuntutinya dari belakang.


"Sekarang!!!" ia mengirimkan pesan balasan pada Ridwan. Di tengah jalan ia kemudian memanggil seorang staf yang masih berdiri di pintu masuk ruangan meeting.


"Selamat sore pak"


"Tolong bawakan teh hangat madu ke kamar saya"


"Baik pak" jawab staf tersebut sambil tersenyum.

__ADS_1


Ketika ia berlalu, Staf tersebut melirik ke arah Silvi sambil mengusap hidungnya seperti memberikan tanda padanya.


Senyuman Silvi semakin lebar, ia terlihat gembira luar biasa.


Di dalam kamarnya, Sugi menghubungi ponsel Riri berkali-kali. Namun ternyata ponselnya tidak aktif. Perasaannya pun semakin khawatir. Ia lalu menghubungi Ridwan, belum sempat Ridwan mengangkat ponselnya sebuah ketukan di pintu membuat perhatiannya teralihkan.


"Good Afternoon, Room service!"


"Masuk" jawab Sugi.


Seseorang membuka pintu dan membawa masuk sebuah troli yang diatasnya berisi satu set teh pesanannya dengan tambahan satu piring kecil kue tradisional dan pastry.


Staf kemudian meletakkan set jamuan teh tersebut di atas meja. Ia memperhatikan gerak gerik staf itu dengan teliti.


"S..silahkan pak" ujarnya sedikit terbata dengan senyuman kaku


"Terimakasih"


"Dengan senang hati pak, permisi" staf tersebut lalu melangkah keluar dari kamar ini dengan membawa serta trolinya


Sugi menuangkan tehnya ke dalam cangkir lalu menambahkan madu dan mengaduknya dengan tenang. Ia kemudian menghirup sedikit. Ia membawa cangkir itu berjalan mondar-mandir bahkan sampai toilet. Kemudian ia meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja.


"Kesempatan ini tidak datang dua kali" Gumamnya sendiri dalam benaknya lalu bersandar di sandaran sofa. Sejenak kemudian Ia tiba-tiba saja memejamkan matanya dan tertidur.


Beberapa menit berlalu, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka perlahan. Nampak Silvi masuk ke dalam dengan tangan menutupi mulutnya menahan tawa. Ia ikut duduk disebelah Sugi, matanya menjelajah ke atas meja. Dilihatnya sisa teh yang nyaris habis di dalam cangkir. Ia pun mengintip isi teko yang telah berkurang setengahnya.


"Sam!...Sam!.. Sammy!!!.." panggil Silvi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Sugi nampak diam terpejam dengan nafas yang teratur


Melihat hal itu tawa Silvi pecah seketika "Hahahaha!!.." ia kegirangan


"Duh Sam... Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku, sayang. Akhirnyaaaaa...!!!!" Ujarnya sambil mengelus-elus rambut dan pipinya dengan lembut


Ia mengecup lembut kening dan pipinya berulang kali


"Aaahhhh.. rasanya seperti mimpi!!! Hahahaha" Silvi terkekeh sambil memeluk tubuh Sugi dengan erat. Ia menyandarkan kepala di atas dadanya.

__ADS_1


"Ok, kita harus melakukan ini dengan cepat. Aku minta kerjasamamu, ya sayang. Ini untuk kebaikan kita berdua loh. Kita kan pasangan yang serasi" Ujar Silvi berbicara sendiri


"Hmm kita harus membuka pakaianmu lebih dulu, setelah itu baru pakaianku. Hehehehe Ihhh aku jadi malu" ia menutup mulutnya kembali


__ADS_2