Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Sop Buntut


__ADS_3

Aku melanjutkan memeriksa kebersihan semua sudut ruangan sampai toilet dan depan warung


"Bu Riri mau saya buatkan minuman?" Tanya Angga dibelakangku yang sedari tadi memperhatikannya


Aku berpikir sejenak sambil melihat kearahnya


"Mmmm..Coba buatkan satu kreasi minuman apa saja yang menurut kamu enak dan bisa dijual disini"


Senyuman Angga mengembang "Saya boleh bebas memakai semua bahan yang ada bu?"


"Boleh, tapi utamakan bahan yang masih banyak di stok. Saya akan menjual satu kreasi minuman berbeda setiap harinya untuk mengatur stok kita"


"Maksud ibu seperti minuman spesial bulan ini?"


"Tepat sekali" aku tersenyum padanya


"Ok, sebentar yah Bu"


Angga nampak sibuk membuatkan permintaanku


Aku menunggunya sambil memeriksa tanaman hias yang ada disekitar warung


"Bu Riri ini minumannya, silahkan" Angga meletakkan minuman tersebut diatas meja dekat dengan tempat aku berdiri


"Minuman apa ini Angga?" Aku memperhatikan warna merah muda minuman tersebut


"Soda gembira bu, stok soda dan sirup Coco pandan kita masih banyak" katanya agak ragu


Aku duduk di kursi dan mencoba minuman yang disiapkan oleh Angga.


"Segar, cocok untuk cuaca panas belakangan ini. Takarannya pas, tidak terlalu manis jadi tidak bikin eneg. Per hari ini Saya masukkan menu promo soda gembira untuk menu minuman spesial bulan ini. Saya akan buatkan flyernya sekarang juga. Nanti bantu saya pasang di menu paling depan ya"


"Baik Bu" wajah Angga terlihat senang


"Oh iya nanti buatkan saya satu lagi pakai garnis ya biar cantik. Seperti tadi tidak usah diaduk terlebih dahulu, saya mau ambil foto untuk update sosial media. Terimakasih Angga"


"Sama-sama Bu Riri, nanti saya informasikan ke sebelah kalau soda gembiranya sudah jadi"


Riri mengangguk dan bergegas kembali ke kantor untuk membuatkan flyer yang akan secepatnya dipasang untuk nanti siang


Tak terasa hari sudah siang, Flyer yang tadi ia janjikan pada Angga sudah selesai. Dan saat ini sedang dipasang pada menu dan juga ditempelkan pada papan menu dibelakang meja kasir. Lisa pun sudah mendahuluinya untuk makan siang.


Ia juga tidak lupa melakukan update pada beberapa aplikasi media sosial, yang ia buat khusus untuk warung Priboemi seminggu yang lalu


Ponselnya berbunyi, ia melihat Sugi melakukan panggilan


"Hi sayangku cintaku..." jawabku bersemangat


Ia mendengar Sugi sedang menghembuskan napasnya seperti tertawa kecil mendengar jawabannya


"Sayang, aku makan siang disana ya"


"Tapi kita makannya dikantor ya, Lisa lagi keluar makan siang"


"Nggak masalah, sepuluh menit lagi aku sampai"


"Ok"


Aku meletakkan ponselku diatas meja dan menunggu kedatangan Sugi


Tak berapa lama ia pun sampai bersama pak Doni yang seperti biasa mengikutinya dari belakang

__ADS_1


"Pak Dirut mau pesan apa?" tanyaku sambil ikut duduk disebelahnya di atas sofa


"Aku Sop buntut"


"Ok aku pesankan, kalau pak Doni?"


"Saya nasi goreng saja Bu"


"Baiklah, ditunggu sebentar saya telepon dulu"


Riri mengangkat telepon diatas mejanya "Rista, saya Riri. Mau pesan dua SOP buntut, dua nasi putih sama nasi goreng spesial ya"


"...."


"Minumnya saya mau soda gembira dua. Tolong bawa kemari ya Ris. Terimakasih" ia meletakan teleponnya kembali


"Datang darimana sayang?" Tanyaku padanya sambil kembali duduk di tempat semula di sebelahnya


"Aku datang dari meninjau proyek properti baru di daerah Utara"


Riri mengangguk


Pak Doni nampak beranjak dari duduknya lalu menuju ke kamar kecil dibelakang


"Sayang, besok....Silvi akan kembali, ibuku berhasil membujuknya" Sugi berkata dengan hati-hati


"Terus, apa kita perlu berpura-pura putus hubungan? Yah siapa tahu dengan begitu ia lebih cepat menunjukkan karakter aslinya"


Wajah Sugi berubah dingin, ia menatapku tajam


"Itu nggak akan pernah terjadi! Siapa yang bisa menjamin dia cepat menunjukkan wajah aslinya setelah itu?? Nggak ada kan?"


"Ibuku memintanya untuk membantu salah satu proyek kami. Kita hanya perlu waspada saat ini. Pak Jon hari ini meminta ijin, dia sudah bilang padamu?"


"Sudah, katanya dua hari lagi baru bisa berjaga kembali"


"Jangan khawatir setiap hari aku juga sudah menyuruh anak buah pak Doni untuk berjaga dari kejauhan agar tidak terlalu kelihatan mencolok"


Aku mengangguk "ok"


Pak Doni sudah kembali dan duduk disofa di depan kami.


Sejenak makanan yang aku pesan tadi akhirnya datang. Wajah Rista terlihat agak kaget saat melihat Sugi duduk disana sambil menggenggam erat tanganku


Ia meletakkan bakinya diatas meja dan dengan agak kikuk menurunkan makanan yang ada diatasnya satu persatu.


Aku memperhatikan gerakan Rista sambil menahan tawa. Setelah selesai Rista nampak melihat kearahku dengan wajah penuh dengan pertanyaan.


"Terimakasih Rista" ucapku sambil tersenyum


"...e..Iyah sama-sama Bu Riri, saya kembali ke sebelah" ia nampak melangkah terburu-buru sampai akhirnya punggungnya tidak terlihat lagi


"Pasti dia kaget melihatmu disini, mana siang-siang pegangan tangan begini hahahaha" aku tergelak sambil mengangkat tanganku yang berada dalam genggamannya


Pak Doni pun ikut menyunggingkan senyumannya


"Dia mengenaliku? Kenapa memangnya? Biarlah dia tahu kalau kamu milikku" jawab Sugi sambil perlahan melepaskan genggamannya kemudian menarik semangkuk sop butut yang masih panas mendekat kearahnya.


"Semenjak kasus skandal mantan pacarmu itu, siapa yang tidak mengenalimu?"


"Ck!" Ia berdecak sambil menyantap makanannya dengan tenang

__ADS_1


Aku pun melakukan hal yang serupa, ikut menikmati makan siangku dengan santai


"Enak Bu, nasi gorengnya benar-benar cocok dengan selera saya" kata pak Doni, ia terlihat memasukkan suapan sesendok besar ke mulutnya


"Wah saya senang mendengarnya, nanti kalau porsinya kurang boleh nambah lagi pak" ujarku senang


Pak Doni mengangguk sambil mengunyah, ia nampak tidak mampu mengucapkan sepatah katapun karena mulutnya yang sedang penuh.


"Sop buntutnya juga enak" Sugi tersenyum, makanan yang ada di depannya nyaris saja tandas


"Sop buntutnya memang makanan utama warung ini, yah tentu harus enak dong" jawabku bangga


"Selama minggu ini, berapa porsi rata-rata sop buntut yang sudah terjual?"


"Rata-rata 50 porsi perhari, aku juga kaget melihat respon orang-orang yang datang dihari pertama buka. Mungkin karena aku sempat menyebarkan flyer ke kompleks kantor di depan, beberapa hari sebelumnya. Tapi melihat banyaknya orang yang mau datang pas makan siang di hari pertama itu bikin aku deg-degan sekaligus bersemangat"


"Mungkin karena rasanya enak dan harganya terjangkau. Yang namanya bisnis makanan yang paling penting adalah rasa makanannya kemudian masalah harga. Pelanggan yang susah di peroleh adalah pelanggan yang datang kembali setelah mencoba untuk pertama kalinya"


"Iyah benar, aku bersyukur sekali karena rata-rata orang yang pernah coba makan disini datang kembali kok"


"Nice, sekarang tinggal menjaga kualitasnya makanan dan pelayanannya"


"Iyah aku tahu"


Kami memperhatikan beberapa orang yang sedang berlalu lalang di depan kantor. Beberapa orang terlihat membawa tentengan bungkusan makanan sambil menghirup minuman berwarna merah muda di dalam gelas plastik berukuran sedang. Sugi tiba-tiba berdiri dan melangkah keluar.


"Ramai banget disebelah, kamu ada promo apa?" Ia menatapku keheranan


"Nggak begitu spesial sih, hanya minuman soda gembira. Aku menjualnya tidak terlalu mahal untuk minuman promo bulan ini sekalian menyeimbangkan stok"


"Makanannya nggak ada promo?"


"Belum, mungkin bulan depan mulai lagi. Waktu pembukaan warung, semua makanan kan sempat diskon 15% selama tiga hari"


Sugi mengangguk sambil tersenyum


"Bu Riri hebat ya pak?!" Ujar pak Doni sambil mengacungkan jempolnya


"Tentu saja, kan calon istri Dirut hehehe" ia menyenggol lenganku sambil tergelak


"Ah pak Doni bisa saja, saya masih jauh dari hebat pak. Masih harus banyak belajar"


"Yang penting semua kesibukan ini tidak membuatmu tertekan" Sugi menatapku


"Aku menikmatinya sayang" jawabku sambil menatapnya balik


"Nanti malam aku menginap ya"


"Iyah, datang saja seperti biasa"


"Terimakasih Bu Riri untuk makan siangnya"pak Doni berdiri


"Sama-sama pak Doni"


"Saya tunggu di mobil pak" ujar pak Doni kembali sambil melangkah dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari Sugi


""Ok, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai nanti malam. Thanks makan siangnya" ia mengelus pipiku dengan ibu jarinya. I Love you"


Aku mengangguk " I love you too" jawabku dengan senyuman lebar


Aku memandangi punggungnya yang menjauh menuju mobil yang telah siap menunggunya di depan. Biasanya mobil yang ingin bertamu ke kantor ini bisa langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan kantor. Namun sekarang tamu kantor ini harus memarkirkan mobilnya agak jauh karena belakangan banyak yang datang untuk makan siang di warungnya.

__ADS_1


__ADS_2