
Seorang laki-laki muda usia sekitar pertengahan dua puluhan, berbadan tegap berwajah dingin nampak melangkah tergesa-gesa. Pakaiannya terlihat formal memakai kemeja pria putih dan terusan berwarna Hitam polos dengan pin sebagai tanda pengenal staf keamanan Wijaya Grup yang mudah dikenali pada bagian dadanya. Ia menaiki lift dan berhenti di lantai paling atas menuju presidential suite, dimana Sugi berada saat ini.
Ia cukup terkejut saat Pak Sugi menghubunginya langsung untuk meminta dirinya menggantikan pak Doni hari ini.
Memang beberapa kali event besar sebelum ini, dirinyalah yang bertugas untuk memimpin rekan-rekannya menjalankan semua perintah dan rencana pak Doni selama ini. Ia juga terbiasa bekerja cepat di bawah tekanan dan semua pekerjaan yang dibebankan padanya dipastikan selesai dengan sangat baik.
Atas dasar itulah pak Doni sering berpesan padanya agar selalu siap untuk menggantikannya apabila ia tiba-tiba berhalangan hadir.
Dengan hati-hati ia membuka pintu kamar ini. Ia ingat pesan Pak Dirut Sugi tadi padanya, untuk langsung masuk tanpa mengetuk pintu lagi.
"Selamat siang...pak" sapanya ragu pada Sugi yang sedang duduk di sofa dengan mata tajam menatap kearahnya
"Anda Ridwan?" tanyanya singkat
"Benar pak"
"Pak Doni beberapa kali mengingatkan saya untuk menghubungi anda, kalau sesuatu terjadi padanya. Dan hari ini sepertinya saya membutuhkan bantuan anda. Saya percaya dengan pilihannya, jadi saya yakin anda bisa menggantikannya untuk sementara"
"Saya mengerti pak, tapi kalau saya boleh tahu pak Doni kemana pak?"
"Katanya sakit, tapi tidak begitu yakin. Sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi saat ini"
Wajah Ridwan terlihat kaget "apa beliau baik-baik saja pak?"
"Saya juga belum tahu pasti. Apa sudah ada yang menyusul Bu Riri ke Villa Lembayung?"
"Sudah pak, saya sedang menunggu kabar dari teman-teman yang menuju kesana. Foto Iwan dan plat mobilnya pun sudah saya edarkan ke beberapa informan"
"Ridwan, saya kirim informasi beberapa hal yang harus kamu lakukan sekarang. Ingat ini confidential, selesaikan dengan cepat sebelum acara dimulai"
__ADS_1
"Baik pak" ujar Ridwan ia pun undur diri dan mulai melaksanakan tugasnya
Sugi melirik jam di pergelangan tangan kanannya, waktu sudah menunjukkan pukul 3 lewat sedikit. Ia sama sekali tidak tenang memikirkan keselamatan Riri saat ini.
Ponselnya bergetar, ayahnya mengirimkan sebuah pesan padanya. Ia diminta datang segera ke ruangan conference hotel, untuk menemani ayahnya menemui tamu penting Wijaya Grup.
Ia mengusap wajahnya sendiri karena merasa cemas dan tidak fokus saat ini "Ck! D*mn!!" umpatnya kesal. Ia pun berdiri dan bergegas menemui ayahnya kembali.
Di waktu yang sama mobil Iwan dan rekannya beriringan meluncur dengan cepat. Riri ternyata dimasukkan ke dalam mobil berwarna putih terpisah dari pak Yuda yang masih tak sadarkan diri di dalam mobil Iwan.
"Kita akan menyusul mereka setelah membuang orang ini disuatu tempat" ujar Iwan sambil menoleh ke arah pak Yuda yang sampai detik ini masih bergeming di jok belakang
"Kenapa tidak kita habisi saja orang ini dan asisten Wijaya Grup itu pak?"
"Kamu harus ingat, kita bekerja sesuai bayaran dan tugas, urusan lain di luar itu bukan tanggung jawab kita" Iwan menghela napasnya
"Aku tidak mau mengotori tanganku, lagipula bayarannya hanya segitu. Aku menolak Rugi, yang penting wanita itu sudah berada di tangan kita" lanjutnya sambil tersenyum sinis
Teman Iwan lalu mengganti plat mobil dengan plat berbeda. Ia bahkan sempat menyemprotkan cat Pilok berwarna merah ke beberapa bagian kecil badan mobil agar susah dikenali lagi. Usai melakukan itu mereka pun tergesa-gesa pergi meninggalkan lokasi tersebut. Di dalam mobil Iwan pun menarik tempelan topeng di wajahnya dengan kasar. Wajah aslinya pun muncul, ia terlihat berbeda dari sebelumnya.
Mereka pun menyusul rekannya melalui jalur yang berbeda agar tidak mudah terlacak oleh CCTV.
Di Waktu yang sama bawahan pak Doni ternyata berhasil melacak keberadaan terakhir kendaraan Iwan dari rekaman CCTV yang ada di beberapa titik jalan raya. Mereka pun menyusul mobil Iwan masuk ke suatu lokasi sepi tak berpenghuni.
Namun ketika mereka sampai disana, mobil Iwan sudah lenyap. Mereka malah menemukan pak Yuda yang sedang tergelak tak berdaya di dalam semak belukar. Beruntung mereka melihat jas pak Yuda yang tersangkut sampai menyembul keluar sehingga mereka berhasil menemukannya.
Sementara itu Damar memperhatikan GPS yang bergerak menjauh dari Pom Bensin tempat Riri semula berada.
"Dion, mereka bergerak menjauh dari Pom Bensin. Nanti di depan ada perempatan itu belok kanan ya"
__ADS_1
"Ok" jawab Dion singkat, ia berusaha tetap fokus menjalankan kendaraannya. Beberapa kali ia terlihat mencari celah untuk mendahului mobil lain ditengah kemacetan siang menjelang sore hari ini
"Kalau aku tidak salah jalan ini mengarah ke pantai, seingatku dulu disana ada semacam pelabuhan kecil...." Wajah Damar terlihat makin panik
"Dion, aku punya firasat buruk. Mereka bisa saja membawa adikku dengan menggunakan kapal Ferry atau perahu ke suatu pulau terpencil. Ya Tuhan, semoga saja pikiranku salah. Kalau mereka berhasil menyebrang akan lebih sulit bagi kita untuk mencarinya"
"Ok....ok tenang kak. Ini aku lagi berusaha mempercepat mobil ini untuk sampai disana
Sejam berlalu, Sugi masih berada di tengah-tengah urusan pekerjaan bersama ayahnya. Ia terlihat beberapa kali memeriksa ponselnya menunggu informasi dari Ridwan mengenai keadaan Riri saat ini.
Tiba-tiba saja Silvi ikut masuk ke dalam ruang pertemuan, diikuti oleh dua orang staf hotel yang membawa tambahan air mineral dan lima cangkir kopi sesuai permintaan.
Wajah Sugi mengeras, ia yakin semua ini ada sangkut pautnya dengan Silvi.
"Maaf om, aku salah masuk ruangan. Aku datang lebih awal karena ada janji bertemu seseorang di sekitar sini " ujar Silvi sambil tersenyum ramah salah tingkah
"Oh Silvi kemarilah ikut duduk disini, kami hampir selesai" Ujar pak Danu Wijaya
Pak Danu kembali beralih ke tamunya "Kebetulan bapak-bapak ada Silvi disini. Silvi ini putri dari pak Karta, mungkin kalian pernah bertemu sebelumnya"
"Ah iya, kalau tidak salah tiga tahun lalu saya sempat bertemu bu Silvi" ujar seorang tamu sambil tersenyum melihat ke arah Silvi
"Ahhh bapak Reno ya? Ternyata anda masih ingat pada saya"
"Bu Silvi, apa kabar?" Ia menjulurkan tangannya hendak bersalaman
Mereka pun lanjut mengobrol berbasa basi membahas Silvi dan keluarganya.
Di sela-sela obrolannya itu Silvi pun ikut membantu menyerahkan kopi yang di bawa staf ke pada semua orang. Saat meletakkan cangkir kopi di depan Sugi ia nampak tersenyum semakin lebar. Ia menurunkan kepalanya dan berbisik pada Sugi
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja Sam? Kamu terlihat sedikit pucat. Sebaiknya kamu minum air putih ini lebih banyak. Atau mau kubawakan obat?"
Sugi menggeleng "tidak usah" jawabnya dingin