Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Amarah Sugi


__ADS_3

"Pak, kita harus memindahkan orang-orang ini dengan cepat. Wartawan akan kemari saya khawatir akan menimbulkan keributan dan mengganggu acara hari ini. Belum lagi berita buruk akan sangat mempengaruhi image Hotel" kataku pada Pak Doni


"Benar Bu, saya setuju. Sebaiknya kita bawa kemana ya?" Wajah pak Doni terlihat khawatir


Aku teringat saat tadi kemari sempat melihat sebuah mobil box seperti mobil khusus laundry menuju belakang hotel.


"Pak Jono, apa hotel ini memiliki mobil box untuk mengirim laundry ke rumah binatu?"


"Iyah ada Bu, untuk pekerjaan laundry dengan jenis kain dan bedsheet yang susah dilakukan disini akan dikirimkan ke rumah binatu"


"kita pakai mobil itu saja pak, sebaiknya sekarang kita berangkat lewat tangga darurat. Pak Jono tolong hubungi pihak Laundry disini. Pak Doni, bapak yang mengurus Bu Silvi. Saya tunggu kabar selanjutnya. Sementara kita amankan mereka dalam mobil box"


Wajah Pak Doni terlihat lega dengan rencanaku "ok Bu saya mengerti"


Riri mengganjal pintu kamar dengan sebuah botol minuman ukuran besar, agar tetap terbuka lebar. Kemudian ketiga sekuriti membawa tiga orang laki-laki dan seorang wanita pramusaji ini keluar dari kamar. Mereka bergerak dengan cepat menuju tangga darurat. Lalu dengan sigap Riri memungut pisau, ponsel dan beberapa barang bukti yang nampak tercecer dilantai dengan tangan terbungkus tisu. Barang-barang tersebut dimasukkan kedalam tas anyaman pandan yang ia dapatkan dari dalam lemari kamar.


"Silvi jangan sampai lepas pak, wanita ini berbahaya" bisiknya sambil melewati pak Doni dengan terburu-buru untuk menyusul yang lain


"Siap Bu" kata pak Doni lalu menyelip bersembunyi di balik tembok toilet luar dekat kamar tersebut.


Beberapa saat kemudian, Silvi pun tiba dengan tiga orang wartawan dibelakangnya sesuai dengan ucapannya tadi.


"Silahkan masuk pak, ini berita besar yang saya janjikan tadi pada kalian" ujarnya penuh percaya diri dengan senyuman sumringah


Para wartawan yang nampak bersemangat masuk ke dalam kamar diikuti oleh Silvi dibelakang.


Ketika sampai tidak ada seorangpun berada di dalam, mereka hanya mendapati kamar yang berantakan dengan banyak bekas tisu tercecer di sekitar ranjang.


"Mana bu? Disini tidak ada siapa-siapa?" Ujar salah satu wartawan menoleh kearah Silvi dengan wajah kecewa


Wajah Silvi berubah bingung, ia memeriksa sekeliling kamar. Mulai dari lemari sampai kamar mandi di dalam ternyata benar-benar kosong.


"I.....ini sepertinya salah informasi. Maaf bapak-bapak saya salah informasi" ujarnya gugup


"Huuuu....!!!" Wartawan-wartawan itu bersorak kesal dan keluar dari dalam kamar dengan raut wajah kesal


"Buang-buang waktu saja!!!" gerutu satu orang sambil menjauh


"Iya... Duitnya kami ambil yah Bu, hitung-hitung biaya kecewa karena membuang waktu kemari" kata satu orang lagi sambil tersenyum sinis


"Yuk, mendingan dibawah bisa dapet gosip dan foto bagus. Dengar-dengar Dirut Wijaya Grup mengajak serta seorang wanita cantik, aku dari tadi menunggu mereka muncul" ajak wartawan satu lagi sambil setengah berlari


"Aku juga lagi nunggu mereka, ahh sial!!! bisa jadi sekarang malah mereka sudah menghilang dari mata publik" jawab yang lain ikut berlari


Silvi memandangi punggung mereka yang sudah menjauh dari tempat ini. Dengan gemetar ia mengambil ponselnya bermaksud menghubungi Ani atau salah satu laki-laki yang ia tugaskan tadi.


"Bu Silvi!!" Suara seseorang memanggil dibelakangnya, ia menoleh.


Wajah Silvi berubah kaget luar biasa saat melihat asisten Sugi sudah berdiri dekat sekali dengan dirinya dibelakang


"K..kenapa kamu ada disini? Bosmu kan di dalam" katanya dengan gestur kikuk


"Saya memang sedang menunggu anda disini. Mau ikut saya dengan baik-baik atau saya seret paksa?" Suara pak Doni terdengar dingin


"Maksudmu apa???!!! Jangan macam-macam yah!!! Saya ini tamu terhormat disini!!" Teriaknya


"Ibu telah melakukan kejahatan, buktinya sudah ada pada saya"


Silvi melangkah mundur, belum sempat ia kabur tangannya sudah ada dalam genggaman Pak Doni


"HEI!!!! Lepaskan tanganmu yang kotor ini... Aku tidak bersalah!!!! Aku dijebak!!!! Heiii!!!! Sialan!!! Aku akan menuntutmu!!!! Teriak Silvi sambil mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman pak Doni

__ADS_1


"Ibu bisa tenang sedikit? Kalau berteriak begini saya harus menjelaskan kejahatan ibu pada semua wartawan di bawah. Apa ibu mau semua orang tahu kejahatan yang telah ibu lakukan??!" Ancam pak Doni


Silvi seketika terdiam, keringat mengucur deras dari dahinya. Matanya terbelalak menahan amarah dan rasa takut yang tiba-tiba saja menyeruak ke dalam pikirannya mendengar ucapan dari pak Doni


Kemudian ia menggeleng pelan "jangan pak, tolong saya. Saya akan lakukan apapun yang bapak perintahkan. Saya harus apa pak? Tolong saya pak" Silvi tiba-tiba menangis mengiba pada pak Doni


"Ikut saya Bu" ia menarik Silvi menuju tangga darurat menyusul Riri dan sekuriti yang telah terlebih dahulu menunggu dibawah. Langkah Silvi nampak terseok-seok mengikuti tarikan Pak Doni.


Sampai di bawah nampak sekuriti dan Riri sudah menunggu disebelah mobil box laundry hotel. Laki-laki dan seorang wanita yang di ringkus tadi telah mereka masukkan kedalam mobil box tersebut.


Wajah Silvi menahan amarah saat melihat Riri berdiri dengan tenang sambil tersenyum menatap kearahnya.


"Brengsek!!! Wanita brengsek!!! Kau telah menjebakku!!!. Tunggu saja ayahku akan menuntut kalian semua yang berada disini!!!! Aku tidak akan memberi ampun!!! Teriak Silvi pada Riri


Riri tidak menggubris ucapannya dan mendekat pada pak Doni


"Sebaiknya kita bawa kemana yah pak?" Bisik Riri


"Pak Jono, apa ada ruangan kosong yang tidak terpakai dibelakang?"


"Ada pak, mari saya tunjukkan. Dulu bekas kantor manajemen yang lama. Masih terawat pak"


"Ok kita bawa mereka kesana saja sementara waktu, menunggu sampai acara ini selesai"


Silvi mencoba melepaskan tangannya "aku wanita terhormat!!! Kemana kalian akan membawaku??!!! Ia meronta-ronta dalam genggaman pak Doni


Kami semua masuk kedalam mobil box untuk menuju tempat yang tadi di bicarakan oleh pak Jono.


Sementara itu di dalam ballroom, acara utama baru saja selesai. Sugi juga telah kembali ke mejanya. Sedari tadi perasaannya tak tenang karena Riri belum juga kembali, ia merasa ada sesuatu yang telah terjadi padanya. Ia mencoba menghubungi Riri, tapi yang muncul malah pemberitahuan untuk mematikan mode pesawat pada layar ponselnya.


"Silvi!...Ini pastinya disengaja oleh Silvi" gumamnya sambil mengulang sekali lagi untuk menghubungi Riri. Dari nada deringnya, kali ini ia berhasil menghubungi Riri.


Terlihat kelegaan di wajah Sugi saat ini "lagi dimana? Kenapa lama sekali?" Tanyanya


"Tadi aku dan pak Doni beberapa kali mencoba menghubungimu tapi tidak berhasil. Ada sesuatu terjadi sayang, aku hampir saja dijebak oleh Silvi."


"Hah!!!?? Kamu dimana? Aku kesana sekarang!" Katanya dengan nada panik


"Tidak usah terburu-buru. Aku aman kok bersama pak Doni disini. Nanti kabari yah kalau acaranya sudah selesai"


"Acara utama sudah selesai, aku akan kesana sekarang"


"Tapi ..."


Sugi telah mematikan ponselnya. Kini giliran ponsel Pak Doni yang berdering


"Malam pak"


"....."


"Iyah, saat ini kami berada di kantor manajemen hotel yang lama dibelakang"


"...."


"Baik pak"


Pak Doni memasukkan ponselnya kembali kedalam kantong kemejanya


"Pak Sugi sebentar lagi kemari, ia meminta kita untuk tetap disini, jangan kemana-mana"


Aku mengangguk mendengar ucapan pak Doni

__ADS_1


Pak Jono nampak mendekati kami


"Saya harus melaporkan kejadian ini pada manager yang bertugas pak"


"Silahkan pak, tapi jangan riuh yah. Laporkan hanya pada manager yang bertugas saja. Saya tunggu disini" pak Doni berkata sambil melihat kearah kantor yang tertutup dan sedang dijaga oleh dua sekuriti dari luar.


"Saya mengerti pak, sebentar lagi saya kembali" jawab pak Jono lalu bergegas pergi


Selang sepuluh menit kemudian, sebuah buggy dengan lampunya yang terang nampak mendekat kearah kami. Kulihat Sugi turun dan membiarkan supir dan buggy itu kembali melayani tamu acara hari ini.


Sugi melangkah dengan tergesa mendekati kami. Tangannya merangkulku dengan satu tangan sambil mengusap pundak ku dengan ibu jarinya.


"Are you ok?!" Tanyanya dengan wajah khawatir


"Iyah aku baik-baik saja sayang"


"Apa yang telah ia lakukan padamu?"


Riri lalu menceritakan apa yang telah terjadi sore itu saat Sugi berbicara dengan ibunya.


Wajah Sugi nampak menahan amarah mendengar ceritanya.


"Sebentar aku kirimkan dua video bukti ke ponselmu dan pak Doni"


Wajah Sugi semakin beraura gelap saat melihat video yang dikirimkan oleh Riri


Sugi meregangkan rangkulannya dan berjalan menuju kantor lama dimana orang-orang jahat itu dikumpulkan. Riri dan Pak Doni mengikutinya dari belakang. Mereka khawatir Sugi tidak bisa menahan dirinya dan berbuat kasar pada mereka. Riri dan pak Doni yakin kalau hal itu sampai terjadi hanya akan menambah panjang masalah ini.


Wajah Silvi terlihat panik saat Sugi mendekat kearahnya. Ia tidak bisa menyatakan alasan dan penyangkalannya karena mulutnya juga sudah dilakban oleh pak Doni.


"Silvi, aku tidak menyangka kau bisa merencanakan hal sekotor ini. Apa ini yang diajarkan oleh orang tuamu selama ini? Sungguh bejat!!! Aku pasti akan melaporkan kejadian ini pada pihak berwajib. Aku tidak peduli apa yang akan orang tuamu lakukan untuk membantumu, yang pasti kamu harus dihukum untuk perbuatanmu ini. Mulai detik ini hubungan pertemanan kita berakhir sampai disini" ujar Sugi secara tegas.


Sugi berkacak pinggang, dadanya terlihat naik turun menahan amarah. Ingin sekali ia mencabik-cabik semua orang yang terlibat dalam rencana jahat itu. Ia mengambil sebuah kursi dari kayu yang berada di dekatnya, lalu menghantamkan kursi tersebut pada tembok didekatnya.


"PRAK!!!!" Sekali hantaman, kursi kayu yang nampak kuat itu hancur berkeping-keping. Tembok yang dihantam koyak seketika memperlihatkan batako yang berada di dalamnya.


Mereka yang terikat nampak gemetar, suara Isak tangis Silvi dan wanita pramusaji semakin kencang usai melihat kemarahan Sugi di depan mata mereka.


"Astaga baru kali ini aku melihatnya semarah ini, aku harus menenangkannya" gumam Riri


Riri hendak mendekati Sugi, tapi tangan pak Doni menghalangi. Ia nampak menggeleng agar Riri urung untuk mendekatinya sekarang.


"Biarkan Bu, sebentar lagi bapak akan baik-baik saja. Ia hanya meluapkan amarahnya saat ini" bisik pak Doni mencoba menenangkan Riri


Sepertinya amarah Sugi belum mereda, sekali lagi ia mengambil sebuah kursi. Kali ini kursi yang ia ambil terbuat dari besi.


"TRANGGGG!!!!" Kursi tersebut hancur, tak berbentuk. Kaki kursi bengkok meleot kesana kemari. Serpihan baut dan tembok beterbangan ke segala arah"


Napas Sugi terengah-engah, ia nampak tersenyum puas. "Kau lihat Silvi hampir saja aku meremukkan kepalamu dan teman-teman kriminalmu seperti ini!!!" Sugi melempar kursi besi yang koyak tadi kearah mereka.


"PRANG!!!"


Mereka terperanjat semakin gemetar melihat keberingasan bapak Direktur Utama.


Riri buru-buru mendekati Sugi lalu memeluknya erat, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah


"Sudah sayang hentikan amarahmu. Aku baik-baik saja. Jangan turuti amarahmu, aku tidak mau kamu marah lagi" bisik Riri didadanya


Sugi melihat wajah Riri yang berlinang air mata. Ia mengusap air matanya dengan perlahan


"Aku sudah selesai, jangan khawatir sayang" ia tersenyum

__ADS_1


__ADS_2