
Sugi telah duduk di mejanya, ia tahu ada hal yang mengganjal dalam hati Riri. Karena saat ia masuk tadi senyum Riri terlihat hambar dimatanya. Mood ruangan ini pun rasanya seperti tidak semangat seperti biasa. Ia curiga terhadap Ibunya, "karena tadi ibu sempat kemari. Mungkin saja sempat mengatakan sesuatu yang tidak mengenakkan hati Riri" batin Sugi khawatir
"Pak Doni bisa keluar sebentar" perintah Sugi, matanya memberi isyarat kalau ia mau bicara dengan Riri sebentar
"Baik pak" jawab Pak Doni kemudian pergi dari ruangan tanpa bertanya kembali.
Sugi mendekati Riri yang sedang berkonsentrasi pada pekerjaannya kemudian berjongkok di sebelah Riri
"Sayang, Ibuku tadi kemari kan?"
Aku cukup kaget melihat Sugi tiba-tiba sudah ada disebelahku dengan posisi berjongkok. Belum lagi ini pertama kalinya ia melihat Sugi bersikap tidak formal padanya di kantor. Biasanya kalau mau menyapa atau bercanda pasti melalui pesan di ponselnya.
"Iyah kemari tapi hanya sebentar. Pak, lebih baik sekarang anda bangun dan duduk di sana. Biar saya yang ke sana kalau memang ada yang ingin dibicarakan. Ini rasanya kurang etis" jawabku pelan masih berusaha formal, aku takut ada orang lain yang tiba-tiba masuk kemari.
"Aku sekarang lagi nggak peduli formalitas Riri. Lagipula disini ada aturan siapapun tidak boleh masuk sembarangan kemari. Kalau sampai ada yang masuk lagi tiba-tiba siapapun orangnya, saya akan pecat Dewi sekarang juga" wajah Sugi terlihat dingin
Aku merasakan dia saat ini sedang kesal terhadap sesuatu "apa mungkin dia merasa kalau tadi Ibunya kemari mengatakan sesuatu padaku? Ah itu tidak mungkin. Rasanya aku sudah berusaha bersikap seperti biasa saat ia datang tadi" aku bergumam dalam hati.
Aku merapikan rambutnya yang terlihat sedikit mencuat "kamu kenapa Sayang? Rasanya seperti sedang kesal"
"Aku harusnya yang bertanya, tadi ibu bilang apa padamu?"
"Nggak ada bilang apa-apa" jawabku kali ini tanpa mamandang wajahnya
Ia memegang lenganku "Aku kan sudah pernah bilang, aku bisa mengetahui isi hatimu Riri. Jangan bohong"
"Apa sebaiknya masalah ini kita bicarakan dirumah saja? Aku merasa ini bukan tempat yang tepat untuk membahasnya"
"Aku nggak mau ada jarak lagi diantara kita, dan sekarang kamu seperti mulai melakukannya lagi Riri. Aku hapal dengan sikapmu ini" ada sebersit nada frustasi didalam ucapannya
Aku menghela napas ku "iya ibumu mengatakan sesuatu padaku tadi. Dan apa yang beliau bilang persis seperti yang saat ini ada di dalam benakmu. Atau mungkin lebih buruk lagi. Jadi yah sebaiknya kita tidak membahasnya disini. Karena ini jam kerja dan pasti akan mempengaruhi mood kita bekerja hari ini"
"Apa yang ia katakan 100 persen tidak mewakili perasaanku padamu. Kamu harus yakin itu"
"Aku tahu, Sayang. Apa pun yang ibumu katakan tadi sama sekali tidak mempengaruhi perasaan cintaku padamu" aku memegang wajahnya
"Yuk balik kerja lagi, aku nggak mau urusan perusahaan jadi kacau hanya gara-gara masalah sepele ini" lanjutku lagi
Ia bangkit dan mengecup keningku "alright!! Baby" Katanya sambil tersenyum lega dan kembali duduk di tempatnya.
"Riri, nanti antar saya pulang ya"
"Baik pak" jawabku sambil mengedipkan mata ke arahnya
__ADS_1
Sedetik kemudian nampak pak Doni masuk kedalam ruangan dan mendekatiku
"Ada perang apa?" Bisiknya sambil mengambil kursi kemudian duduk di depanku
Aku hanya menoleh kearahnya lalu tersenyum hambar
"Bu Rita bilang hal yang bikin kesel ya? Sabar ya Bu. Orangnya memang begitu, sebenarnya hatinya baik tapi terlalu mengatur. Dewi memeriksa meja Bu Riri juga perintah dari beliau"
Aku melotot padanya "masa pak?"
"Iyah, mungkin mau mencari-cari kesalahan atau bukti hubungan kalian. Atau bisa jadi merencanakan sesuatu agar Bu Riri punya masalah biar bisa dipecat. Ini hanya asumsi saya pribadi ya Bu, jadi bisa salah" katanya masih berbisik
"Bisa saja sih pak, dokumen segala macam semua saya simpan dengan baik. Kalau beliau merencanakan sesuatu agar saya di pecat sudah pasti susah untuk dilakukan. Tapi yah sudahlah saya juga tidak lama lagi kok disini" aku menutup mulutku terperanjat dengan ucapanku tadi
Pak Doni pun kaget mendengarnya "ibu mau kemana?" Tanyanya masih berbisik
"Saya mohon jangan bilang ke pak Sugi yah pak.
Nanti saya yang akan bilang sendiri. Nunggu waktu yang tepat aja pak. Saya mau membantu bisnis kakak saya" kataku pelan takut didengarkan oleh Sugi
"Ooo" mulut pak Doni membentuk huruf O dengan wajah mengerti
"Tenang saja Bu Riri, saya paham"
"Ehmm!!" Sugi berdehem seperti memberi tanda bahwa waktu bicara kami telah habis
Ponselku bergetar, kulihat Sugi mengirim pesan
"I love you â¤ī¸đ Pengin dicium pacarku yang cantik âšī¸"
"I love you too đđ iyah, nanti aku cium yang lama" jawabku singkat
Kulihat senyumnya mengembang saat melihat jawabanku pada ponselnya. "CK!.. Kenapa sih melihat dia senyum kayak gini aja bisa membuat moodku jadi lebih baik ya?" Aku jadi ikut tersenyum dan kembali fokus pada pekerjaanku
Sore hari menjelang, jadwal terakhir Sugi hari ini bertemu dengan beberapa komisaris perusahaan dengan ditemani oleh pak Doni. Sugi tadi berpesan untuk menunggunya saja di kantor sampai meetingnya selesai.
Hari sudah malam. Waktu menunjukkan hampir pukul 8 malam saat Sugi kembali tanpa ditemani oleh pak Doni. Aku berdiri untuk bersiap-siap menemaninya pulang. Saat mengambil tasku membelakanginya, ia menarik pinggangku dengan kuat sehingga punggung dan kepalaku membentur dadanya yang bidang.
Tangannya melingkar di pinggangku, dari belakang Ia memeluk dengan sangat erat. Kepalanya juga menempel di bahuku. Bisa Kurasakan hembusan hangat napasnya pada leherku.
"Sayang, ini di kantor" aku mengingatkan sambil mengucek lembut rambutnya yang lebat.
"Mmm, aku mau minta ciumanku yang tadi" katanya dengan nada merajuk
__ADS_1
Aku memutar tubuhku ke arahnya. Dengan berjinjit aku mengecup bibirnya. Ia menundukkan kepalanya dan menyambut ciumanku. Dalam keheningan kami saling memagut dengan hasrat yang perlahan mulai membara.
Sugi menahan punggung dan kepalaku agar tidak limbung ke belakang. Kemudian kedua tangannya mengangkat tubuhku perlahan. Seperti mengerti maksudnya, aku melingkarkan kaki di pinggangnya dan memeluk lehernya tanpa melepas ciuman kami. "Riri.." bisiknya ditengah-tengah napas kami yang menderu. Aku nyaris kehilangan akal sehat saat ia menyebut namaku berkali-kali.
Jantungku berdetak kencang saat Ia meletakkan tubuhku diatas meja kerjanya dan mulai menyusuri setiap jengkal wajah dan leherku dengan bibirnya yang hangat dan lembut. Bisa kurasakan tangannya yang dingin mulai menelusup masuk kedalam kemejaku yang sedikit terbuka. Logika menyuruhku berhenti tapi perasaanku berkata sebaliknya.
"Shhh.." aku mendesah tertahan saat tangannya berhasil menyentuh satu bagian sensitif di dadaku. Desahanku terdengar berulang, membuatnya makin semangat mencumbuiku. Aku benar-benar larut dalam gelombang perasaan yang menyenangkan ini.
"BRAKKK!!!" Kesadaran kami kembali saat satu benda jatuh dari atas meja akibat gerakan liar yang kami lakukan.
Wajah kami menegang menoleh ke arah benda tersebut, ketika sadar benda tersebut hanyalah sebuah kotak tempat alat tulis. Kami saling berpandangan dan menyemburkan tawa lega tertahan.
Riri yang mulai tersadar memperhatikan posisinya yang masih rebah di atas meja. Betapa terkejutnya ia saat melihat kancing kemejanya terbuka dengan rok yang sudah terangkat tinggi diatas lutut. Dengan cepat ia merapikan pakaiannya. Belum lagi rambutnya yang mencuat kesana kemari seperti habis ditiup angin ****** beliung. Riri merasa sangat malu dengan keadaannya saat ini.
Berbeda dengan Riri, wajah Sugi terlihat sangat bahagia saat melihat pemandangan di depan matanya. Senyumnya mengembang, ia berniat membantu Riri mengancingkan kembali kemejanya.
Saat tangannya terulur, Riri menahannya sambil menunduk. Sugi memiringkan kepalanya demi melihat wajah Riri yang memerah karena malu.
"Sayang, sini aku bantu"
Riri bergeming, tidak menjawab
Sugi mengerti kalau Riri sedang merasa tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Tanpa banyak kata ia memeluk Riri dengan erat.
"Maaf sayang kali ini aku keterlaluan" bisiknya
"Aku juga salah, tidak bisa menahan diri" jawab Riri pelan nyaris tanpa suara. Tangannya sibuk mengancingkan kemejanya.
"Pulang yuk, lanjut dirumah aja" candanya pada Riri
Riri memukul pelan dadanya gemas "CK!!' kali ini ia berani menatap mataku sembari menggigit bibirnya sendiri.
"I love you so much" katanya pada Riri
Riri tidak menjawab ucapanku hanya menempelkan wajahnya yang kembali memerah di dadaku.
"Hehehehe duh bikin aku tambah gemas. Sudah malam ayo kita pulang. Nanti di tengah jalan aku yang nyetir" katanya sambil mengusap kepala Riri
Riri mengangguk kemudian meregangkan pelukannya sembari merapikan rambutnya kembali.
Dengan gerakan terburu-buru ia mengambil tas di meja kerjanya kemudian mendekat
"Wajahku cemong nggak?" Tanyanya sambil terpejam mendongak ke arahku
__ADS_1
"Nggak, masih cantik" jawabku dan mengecup bibirnya dengan cepat. Wajahnya kembali memerah
"Hehehehe" Sugi kembali terkekeh sambil berjalan ke arah pintu diikuti oleh Riri yang perasaannya saat ini sedang bercampur aduk.