Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Kecupan di tangan


__ADS_3

"Oh iya Pak Bram, saya berniat untuk mampir ke Penumbra. Sebenarnya sudah lama saya ingin datang, hanya saja jadwal saya tiba-tiba menjadi lebih padat dari biasanya. Itu pun kalau pak Bram tidak keberatan"


Riri nampak kaget saat mendengar ucapan Sugi pada pak Bram


"Oohh ternyata pak Bram adalah pemilik Penumbra yang terkenal itu, pantas saja beliau di undang kesini" gumam Riri dalam diam


"Aaahhh untuk Dirut Wijaya Grup tidak mungkin saya sampai mengatakan tidak bisa hahahaa gampang lah itu" pak Bram tertawa lebar


Sugi tersenyum cerah "Wah terima kasih pak Bram, saya dan Riri available Minggu ini" ujarnya sambil menoleh pada Riri.


Riri hampir saja memunculkan wajah kagetnya dihadapan mereka. Ia menarik napasnya pelan berusaha untuk tetap tenang


Pak Bram dan Tommy menoleh serentak kearah Riri, wajah mereka dipenuhi dengan tanda tanya besar


"Kami sempat membahas Penumbra beberapa waktu yang lalu, ketika Riri masih bekerja dengan saya. Saya sempat menjanjikan untuk mengajak Riri kesana. Seingat saya Penumbra sudah menjadi perbincangan orang-orang disekitar kami waktu itu, bahkan sebelum mendapat Michelin Star seperti sekarang" lanjut Sugi


"Benar seperti yang pak Sugi katakan, kalau ada kesempatan dengan senang hati saya pasti datang. Saya penasaran dengan Penumbra dari cerita-cerita luar biasa yang saya dengar"


"Waktu itu saya sempat mengatakan bisa kapan saja pada pak Sugi. Walaupun saya ada kesibukan lain saya pasti jadwalkan ulang demi Penumbra" ujar Riri bersemangat


Pak Bram dan Tommy nampak tersenyum, seakan lega setelah mendengar penuturan dari Sugi yang menyiratkan hubungan mereka masih dalam tahap profesional.


"Nanti ada staf saya yang akan menghubungi kalian. Saya tunggu kedatangan kalian berdua disana" jawab pak Bram antusias


"Terima kasih pak" Sahut Sugi


"Terimakasih pak Bram" jawab Riri


"Sebentar, saya tidak akan melewatkan hari spesial itu. Saya pastikan akan ikut datang di hari itu untuk menemani kalian berdua" ujar Tommy tersenyum, matanya menatap lekat wajah Riri


"Itu pasti akan sangat menyenangkan pak Tommy" jawab Riri berbasa-basi


Namun tidak begitu untuk Sugi, wajahnya nampak semakin dingin setelah mendengar jawaban Riri


Riri mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangan dan melihat layarnya "Maaf bapak-bapak semua saya sepertinya harus undur diri, karena besok pagi-pagi sekali saya ada jadwal meeting yang harus saya hadiri"

__ADS_1


"Bisnis apa kali ini? Saya penasaran" Tanya pak Bram


"Masih on proses pak, masih rahasia. Nanti kalau sudah berjalan lancar saya yang akan berbalik mengundang bapak untuk datang"


"Wah pasti menarik ini, ok saya tunggu Riri" jawab pak Bram


"Jangan lupa undang saya juga dong Riri!" Sahut Tommu sambil tertawa kecil


"Oh tentu saja, saya pasti undang pak Tommy juga"


"Yesss!!, saya tunggu" jawabnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya


Sugi menatap tajam ke arah Riri


"Kalau pak Sugi, saya tidak perlu sebutkan lagi. Karena anda mentor saya, saya pastikan undangan pertama untuk anda pak" ujar Riri dengan memberikan senyuman lebar kearahnya


Sugi hanya mengangguk pelan


"Kalau begitu saya mendahului pamit pulang, bapak-bapak"


Riri terperanjat, hampir saja ia tersulut emosi dan menamparnya. Namun beruntung ia masih bisa mengendalikan dirinya kembali


"Sial!! Kenapa sih orang ini nekat mencium tanganku?!! Arghhh!! Sugi pasti mengamuk setelah ini" gumamnya dalam hati


Ia sempat melirik sedetik kearah Sugi, seperti dugaannya wajah Sugi terlihat sedingin es di kutub Utara.


"Silahkan Riri" ujar Tommy sembari melepaskan tangan Riri perlahan


Riri pun berbalik badan dan melangkah menuju arah dimana pak Danu dan Bu Rita berada. Ia hendak berpamitan pada keduanya.


Semua tamu yang masih memperhatikan mereka terhenyak melihat aksi Tommy. Mereka kemudian yakin kedua pria muda ganteng dan kaya raya ini sama-sama menyukai Riri.


Bu Teti nampak tersenyum kecil kemudian sedikit menggeleng, ia merasa heran dalam hatinya


"kok bisa??!, Riri yang awalnya terlihat biasa saja, sekarang menjadi terlihat lebih segala-galanya dibandingkan dengan Silvi. Aku harus akui keponakan Bu Alina ini memang berbeda, dia memiliki kelasnya sendiri"

__ADS_1


Silvi tiba-tiba saja berdiri dan melangkah cepat keluar dari ruangan. Wajahnya merah padam menahan amarah, Ia merasa terhina karena kalah telak dari Riri dihadapan teman-teman sosialita Bu Rita.


Bu Teti dan teman-temannya melirik sejenak kearah Silvi, mereka nampak tersenyum sinis.


Sementara itu pandangan mata Tommy masih melekat pada punggung Riri


"Wanita yang menarik, aku yakin dia masih belum memiliki kekasih" ujarnya sambil berkacak pinggang


"Kalau aku bilang dia sudah ada yang punya, kamu percaya?" Sugi menatap tajam pada Tommy


Tommy menggeleng, ia membalas tatapan tajam pada Sugi "kecuali dia yang mengatakannya sendiri padaku"


Seketika suasana menjadi tegang.


"Sepertinya ayah sudah lelah, kita kembali saja Tom. Kita ke pak Danu dulu sebentar" sahut pak Bram tiba-tiba memecah ketegangan diantara keduanya


"Ok yah" Jawab Tommy pelan


"Sam, kita pulang dulu yah" Pak Bram menepuk pundak Sugi


"Silahkan pak, terimakasih sekali lagi atas kedatangannya memenuhi undangan ayah hari ini"


"Ahh Sammy formal sekali sih hahahaha" ia tergelak sambil memeluk Sugi singkat


"Aku pulang Sam" sahut Tommy sambil tersenyum tipis. Ia bersama pak Bram kemudian menuju pada pak Danu


"Ok Tom" Jawab Sugi lalu melangkah menjauh dari sana.


Pak Doni yang sedari tadi berada di belakang Sugi hanya bisa menghela napasnya dalam diam. Ia tahu sekali mood atasannya ini sedang dalam keadaan tidak baik saat ini.


Setelah berpamitan dengan orang tua Sugi, Bu Alina dan pak Arya, Riri pun keluar dari tempat acara. Ia berniat untuk menghubungi Pak Doni untuk membantu mengantarkannya kembali.


Saat melangkah menjauh dari tempat itu, tanpa ia sadari di sebuah sudut gelap Silvi telah menunggunya dengan sebilah belati di tangannya. Napas Silvi memburu, keringatnya mulai mengucur deras. Amarah yang sejak tadi ia tahan sepertinya akan meledak sebentar lagi. Ia sudah tidak sabar untuk menusukkan belati ditangannya ini pada tubuh dan wajah Riri. Ia ingin segera menuntaskan amarah yang berkecamuk dalam benaknya.


Sudah terbayang kepuasan batin yang akan diperolehnya sebentar lagi. Ia sudah tidak sabar ingin melihat Riri bercucuran darah dan air mata.

__ADS_1


"Tak akan kubiarkan wanita rendahan itu mengambilnya semua dariku... Tak akan!!! Sebentar lagi wajahmu yang kampungan itu akan aku rusak hingga tak berbentuk. Hehehehehe..." Ia menutup mulutnya sambil terkekeh dalam kesunyian


__ADS_2