
Aku belok dan berhenti di depan sebuah mini mart 24 jam, kulihat Sugi membuka paksa matanya kemudian melihat sekeliling.
"Sebentar ya, aku mau membeli sesuatu" aku keluar dari mobil tanpa menunggu jawaban darinya
Sejenak aku telah kembali dengan beberapa belanjaan. Salah satunya air mineral. Karena aku perhatikan di mobil ini tidak ada persediaan air mineral seperti mobil yang dibawa oleh Pak Doni. Air mineral botolan itu aku serahkan padanya.
"Sugi, minum air putih yang banyak" aku menepuk pelan pahanya
Tanpa jawaban Sugi mengikuti saranku, ia meneguk habis air mineral yang aku berikan. Sementara aku mulai menjalankan mobil ini dengan perlahan.
Setibanya kami dirumah, Sugi turun dari mobil dan berjalan sedikit limbung. Ia menolak tawaranku untuk membantunya. Sementara ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, aku langsung menuju dapur untuk membuat sup ayam bakso bihun dengan rasa pedas. Aku merasa ini akan membantu meringankan sakit kepalanya saat ini.
"Riri" panggil Sugi dengan suara lemah
Aku berlari mendekatinya "Iyah?! Kenapa? mau muntah yah?"
Sugi menggeleng "kamu lagi ngapain di dapur?"
"Buat sup ayam pedas buat kamu, tunggu yah sebentar" kataku kemudian kembali ke dapur
Sugi tersenyum karena mengetahui Riri ternyata perhatian padanya.
Beberapa saat kemudian Riri telah kembali ke ruang tamu membawa sup ayam dalam mangkok diatas baki kayu. Sup ayam ia letakkan diatas meja, kemudian ia mendekati Sugi yang sedang dalam posisi rebah.
"Sugi bangun sebentar, sup ayamnya sudah siap. Makan sedikit yuk!" Riri menepuk-nepuk lembut lengannya
Sugi yang sedari awal memang tidak bisa tidur karena sakit di kepalanya dengan perlahan merubah posisinya untuk duduk.
"Suapin" katanya lemah dengan mata terpejam, kedua tangannya memegang kepalanya yang sakit.
Aku hanya menggeleng melihatnya seperti ini. Dengan sabar aku menyuapinya sedikit demi sedikit, sampai nyaris habis. Dia mengangkat tangan memintaku untuk berhenti menyuapinya. Keringat mengucur deras di dahinya. Aku menatapnya dalam diam.
"Katakan apa yang ada di pikiranmu" ujarnya dengan mata setengah terbuka
__ADS_1
"Lain kali kalau ada acara seperti tadi, sebaiknya minum alkohol sedikit saja, jadwalmu besok tidak kalah padat dari hari ini. Bagaiman kalau kamu sampai sakit? Silahkan deh sepuasnya kalau ternyata keesokan harinya libur. Itu tidak akan menjadi masalah untuk siapapun" kataku pelan
"Satu lagi, aku merasa tidak nyaman dengan keadaan yang seperti tadi itu. Kalau aku boleh minta satu hal, harusnya yang menjemputmu tadi pak Doni"
Sugi membuka penuh matanya, ia balik menatapku "Maaf yah Riri aku jadi kacau begini. maaf juga untuk kelakuan mereka. Aku juga baru tahu kalau mereka seperti itu. Tadi aku belum sempat makan siang yang kenyang, karena itu baru minum alkohol sedikit saja aku sudah pusing. Aku minum nggak banyak kok. By the way supnya enak, pedas yah? Aku suka. Thanks yah"
Aku mengangguk "Sama-sama Sugi, sekarang kita naik yuk!, aku bantu ganti baju. Atau mau dibantu lap hangat?" Ujarku spontan lalu menutup mulutku sendiri, terkejut karena merasa salah bicara.
"Mau" Sugi menjawab dengan cepat dengan senyuman samar di bibirnya.
"Maksudku bukan begitu, lap badan atas aja aduh gimana sih?" Aku gelagapan
"Iyah aku mengerti" Katanya sambil berdiri.
Aku memapahnya sampai ke kamar
dan membantunya melepas baju dan sepatunya. Aku mengambil satu atasan berbahan kaos dan satu celana boxer yang ada di dalam lemarinya lalu aku serahkan padanya.
Ketika Riri pergi, Sugi dengan susah payah mengganti celana kerjanya dengan boxer.
"Sugi, aku sudah boleh masuk?!!" Teriak Riri dari luar
"Sudah" jawabnya sambil tersenyum geli
Riri masuk membawa baskom stainless berisi air suam-suam kuku kemudian ia letakkan di atas nakas. Riri memeras washlap yang ada di dalam mangkok dan diberikan pada Sugi.
Sugi meraih tanganku kemudian menariknya perlahan ke wajahnya "bantu aku" katanya dengan suara berbisik. Wajahnya menengadah matanya terpejam.
Aku mengikuti tarikan tanganku ke wajahnya. Perlahan aku mengusap wajahnya dengan washlap. Kuperhatikan seluruh wajahnya. "Hidungnya mancung, bulu matanya panjang. Alisnya tebal, tulang pipinya tinggi, bibirnya tebal berwarna merah pucat. Sugi memiliki tulang rahang yang tegas. Astaga dia begitu sempurna" gumamku dalam hati.
Dari balik washlap bisa kurasakan area sekitar bibir, rahang dan dagunya sedikit kasar. Kemungkinan rambut kumis, jenggot, jambang dan brewoknya mulai tumbuh.
Tiba-tiba matanya terbuka, aku bisa merasakan jantungku mulai berdebar kencang. Dia tersenyum kemudian memejamkan matanya kembali. Washlap kubilas kembali, kini aku membersihkan lehernya. Napasku tercekat kala Sugi semakin menengadah. Jakunnya terlihat semakin jelas, aku menghembuskan napasku perlahan. Belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
"Tenang Riri, jangan sampai ia tahu kamu berdebar-debar saat ini"
Setiap kali aku menempelkan washlap pada bagian atas tubuhnya, sekian kali juga aku menelan ludahku sendiri. Tiba-tiba tangan Sugi terulur kali ini ia mengarahkan tanganku pada badannya. Demi menjaga kewarasanku sendiri aku sedikit mempercepat usapanku.
"Pelan- pelan Riri" suaranya terdengar parau
"Ok" sahutku hampir tak bersuara, tapi gerakan tanganku tidak berkurang kecepatannya.
"Ya Tuhan, kali ini aku ingin sekali menyentuhnya. Tadi kupikir aku bisa Menaham diri dengan baik. Tapi nyatanya setiap gerakan yang dia lakukan membuatku semakin ingin merengkuhnya" batin Sugi Kedua tangannya bertumpu pada tempat tidur di sisi kanan dan kiri badannya. Setiap kali Riri membuat gerakan mengusap, tangan Sugi meremas gemas sprai yang ada dibawah tangannya.
Setelah selesai, aku mengambil minyak gosok hangat untuk dibalurkan pada badannya.
"Sudah selesai, sekarang pakai bajumu dan beristirahatlah"
Kulihat Sugi memakai kaosnya dengan cepat kemudian berbaring
Aku menarik napas panjang dan mengusap peluhku "Fiuh!!! Akhirnya selesai. Bantuin dia segini aja kenapa jadi kayak olahraga berat ya? aku jadi banjir keringat begini" gerutuku didalam hati sambil mengambil baskom stainless yang ada si atas nakas.
"Riri...."! Panggil Sugi
Aku menoleh ke arahnya "ya?"
Dia menatapku lekat sambil berbaring, seperti ingin mengatakan sesuatu tapi urung dia lakukan
"Apa sih?" Tanyaku penasaran
"Terimakasih yah, kamu ternyata sangat telaten" jawabnya kemudian memejamkan matanya kembali
Aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya ini "Iyah, mau bilang terimakasih aja lama banget" gerutuku sembari keluar dari kamarnya.
Sugi tersenyum kecut "Riri andai semudah itu mengatakan cinta padamu, pasti sudah kukatakan sejak awal. Aku takut pernyataan cintaku yang terburu-buru akan membebanimu. Saat ini aku hanya ingin mendapatkan kepercayaanmu secara penuh. Agar kamu tahu kalau kamu aman bersamaku. Tadi hampir saja aku menyebut kata sayang saat memanggilmu... Ck!"
Pikiran Sugi melayang kemana-mana,sampai akhirnya ia tertidur pulas.
__ADS_1