Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Posesif


__ADS_3

Sugi mendekati kami dengan langkah santai, kedua tangannya masuk ke dalam saku celana panjangnya


"Selamat malam Ibu-ibu" sapanya kepada Bu Alina dan Bu Siska, ketika ia sampai


"Selamat malam pak Sugi" jawab Bu Alina sambil tersenyum


"Ahh Bu Alina kenapa formal sekali. Kita kan sering bertemu" ujarnya sambil tersenyum


"Saya tidak enak memanggil Direktur Utama dengan sebutan Nak Sugi. Kesannya tidak menghormati jabatan di muka umum hehehe" Bu Alina tergelak


Bu Siska terpana menatap Sugi, raut wajahnya dipenuhi rasa kagum pada Direktur Utama muda di depannya ini


"Kalau saya tidak salah ini Ibu Siska, benar?" Kata Sugi sambil memandang kearahnya


"Iyah wah masih ingat rupanya" Bu Siska tersenyum


"Saya selalu ingat kok Bu, seingat saya kita sempat bertemu di acara ghatering beberapa bulan yang lalu. Ibu tidak mengajak serta Bapak Mahendra?"


"Oh bapak sedang flu, jadi hanya saya yang bisa kemari bersama Dion, anak saya. Perkenalkan ini anak saya" ujarnya sambil menoleh kearah Dion


"Saya Sugi" ia mengulurkan tangannya pada Dion


"Saya Dion" sahut Dion sambil tersenyum tipis menyalami tangan Sugi


"Salam untuk bapak yah Bu. Terimakasih Ibu Alina, Bu Siska dan Dion atas kedatangannya kemari memenuhi undangan dari kami. Saya sangat menghargai kedatangan kalian hari ini"


"Sama-sama nak Sugi, kami juga senang bisa hadir malam ini. Acaranya seru dan kami juga sangat menikmati hidangan hari ini loh. Saya sepertinya harus menanyakan pada Ibu Rita, dia menggunakan Katering dari luar atau memang makanan dari hotel ini. Rasanya enak, sangat spesial" Bu Alina terlihat bersemangat


"Hahahaha terimakasih atas pujiannya, nanti silahkan ditanyakan saja bu. Ibu saya pasti akan senang merekomendasikan pilihannya"


Giliran ia menoleh ke arahku "Rupanya kamu ada disini, aku tadi mencarimu kemana-mana Sayang" ia melingkarkan tangannya di pinggangku


Penekanan kata Sayang yang diucapkan oleh Sugi untukku membuat wajah Bu Alina dan Bu Siska terkesiap. Terlebih lagi senyum Bu Siska tiba-tiba berubah kecut.


"Kalian berhubungan dekat? Kenapa Riri tidak pernah bercerita pada Ibu" ujarnya dengan sedikit nada kecewa


"Maafkan aku Bu Ina, ini diluar dari perkiraanku, aku belum sempat mengabarkannya secara langsung" aku memandang Bu Alina dengan wajah menyesal


"Ya sudah tidak apa, nanti ajak Nak Sugi mampir ke rumah ya" senyumannya kembali mengembang


"Pasti, aku akan mengajaknya segera"


"Riri masih malu-malu mengakui hubungan kita Bu, ya kan sayang" ia tersenyum lebar


Aku hanya membalas senyumannya

__ADS_1


"Kalau begitu saya dan Dion pamit pulang lebih dahulu yah Pak Sugi, Bu Alina dan Riri. Sampai bertemu di lain waktu" ujar Bu Siska mencoba tetap tersenyum dihadapan kami. Tapi tentu tatapan mata tidak akan berbohong. Sorot mata Bu Siska menyiratkan rasa tidak suka dan kemarahan


"Silahkan Bu" ujar Sugi


"Iyah silahkan jeng, aku sebentar lagi juga akan menyusul pulang" sahut Bu Alina


Dion nampak tersenyum kearah kami "mari semuanya" lalu berlalu menjauh bersama ibunya.


"Duh Bu Siska pasti kesal luar biasa hahahaha" tawa Bu Alina pecah


"Dia sepertinya kesal padaku ya Bu?!"


"Tadi dia nampaknya senang sekali karena bisa bertemu dengan kamu Riri, dia berharap agar Dion cepat menikah dengan wanita baik-baik. Anak itu pergaulannya agak liar. Siapa yang menyangka ternyata kamu sudah memiliki laki-laki spesial. Dan laki-laki itu ternyata nak Sugi, Aku pun tadi lumayan kaget melihat kalian Hahahaha" tawanya kembali menggelegar


Sugi ikut tersenyum lebar "Saya boleh memanggil Bu Alina, Tante?"


"Ohh boleh nak, atau panggil Bu Ina saja seperti mereka memanggilku sekarang"


"Baik saya panggil Bu Ina saja" Sugi terlihat antusias


"Bu Ina kenapa tadi mengijinkan aku didekati oleh Dion?"


"Basa basi Riri, tahulah sendiri. Bu Siska itu pelanggan setiaku, yah mungkin setelah kejadian ini dia akan agak menjauh selama beberapa saat. Nanti juga balik lagi"


"Ibu pulang sama siapa? Aku antar yah?"


"Tidak usah, aku bawa mobil sendiri. Kalian baik-baik yah, aku tunggu kabar kalian untuk main kerumah" ujar Bu Alina sambil merapikan bajunya


"Ok Bu aku pasti kabarin"


"Aku pulang duluan ya Riri, nak Sugi ini sudah malam" Bu Alina memelukku erat dan menyalami Sugi


"Hati-hati dijalan yah Bu"


"Iyahh" katanya sambil berlalu perlahan


Sugi menoleh kearahku


"Baru juga ditinggal sebentar sudah kenalan aja sama laki-laki lain" bisiknya


"Terpaksa sayang, aku juga nggak nyangka ketemu Bu Ina disini"


"Tapi senyumanmu tadi ke laki-laki itu sepertinya tidak terpaksa"


"Terus aku harus cemberut kalau bertemu orang lain? Jangan mulai drama deh" jawabku

__ADS_1


Iya menundukkan kepalanya menatap wajahku "Jangan sering-sering tersenyum pada laki-laki lain. Aku tidak suka. Senyuman manismu ini milikku Riri" ia berkata tegas dan mencubit kecil bibirku


Aku mengigit bibirku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kami dengan gelisah. Aku merasa terkejut dengan cubitannya.


"Astaga!, ini pertama kalinya ia melakukan pamer kemesraan dimuka umum. Beruntung tamu-tamu undangan hanya sedikit yang masih tersisa di ruangan ini. Kalau tidak kejadian ini pasti akan menjadi pembicaraan hangat ibu-ibu sosialita" gumamku dalam hati


Tangannya terangkat, nampak pak Doni terburu-buru mendekati kami


"Pak, antarkan bu Riri ke mobil terlebih dahulu, saya menyusul sebentar lagi"


"Baik pak" ujarnya pada Sugi yang beranjak pergi menjauhi kami


"Mari Bu kita ke mobil sekarang" ajaknya sambil mengedipkan sebelah matanya tanpa sepengetahuan Sugi


"Ayo pak, saya juga sudah mulai lelah. Mau cepat-cepat pulang terus tidur"


"Bu, saya paham pasti rasanya kesal yah tadi dimarahi pak Sugi? Apalagi tadi saya lihat dia buru-buru menyela obrolan ibu dengan seorang laki-laki muda di dalam" tanya pak Doni saat kami berada di dalam mobil


"Iyah rasanya kayak hidup saya di atur terus pak" jawabku dengan malas


"Dia posesif sama Ibu. Dia pasti belum pernah cerita tentang mantannya bernama Mita. Mita meninggalkan dia menikah dengan teman baiknya. Itu mungkin yang menyebabkan dia menjadi posesif begini"


'Masa begitu pak?, saya saja nggak begitu kok. Kan pacar saya nikah juga dengan teman baik saya"


"Kan tiap orang beda-beda cara berpikirnya, tapi kalau saya punya pacar seperti Bu Riri mungkin saja saya akan seposesif ini"


"Kenapa begitu?"


"Dimana lagi coba bisa mendapatkan wanita baik-baik seperti Bu Riri, tidak selalu mementingkan materi, bisa kerja kantoran, bisa masak, bisa menjaga dirinya sendiri, cantik, mandiri dan memiliki sikap dan etika yang baik"


"Hahahaha pak Doni kenapa jadi memuji saya segitunya sih? Berlebihan pak. Saya seperti mendengar pelajaran pendidikan moral disekolah. Saya juga punya loh sifat-sifat yang saya sendiri juga kadang tidak habis pikir dengan kelakuan saya. Termasuk sifat saya yang impulsif"


"Apa yang saya katakan tidak berlebihan kok bu, jadi wajar dia merasa takut kehilangan. Kalau dia sampai mengomel itu sudah pertanda perhatian yang luar biasa Bu. Dia kalau marah sama orang lain paling ngomongnya sekali tapi bikin sesak dan tidak nyaman. Tapi kalau sama Bu Riri saya yakin akan panjang dan lama, dan bisa lanjut lagi keesokan harinya hahahaha"


"Jadi... menurut bapak saya harusnya merasa bersyukur karena dia mengomeli saya pak?"


"Yyy yah... bukan itu maksud saya bu"


"Hahahaha" aku tergelak melihat wajah pak Doni yang tiba-tiba seperti kehabisan kata-kata


"Semenjak diculik Hadi dulu, ia khawatir sekali dengan keselamatan Bu Riri. Pahami maksud baik bapak, Bu"


"Iyah saya mengerti pak"


"Tutup telinga saja Bu, diam-diam saja tidak usah ditanggapi. Kalau cape juga dia diam Sendiri"

__ADS_1


Riri mengangguk mendengarkan saran dari pak Doni.


__ADS_2