Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Khawatir


__ADS_3

Bu Alina sedang menangis dalam pelukan suaminya. Perasaan khawatir akan keadaan Riri sedang bergelayut dalam hatinya. Pak Arya terlihat mengusap punggungnya dengan lembut.


Mereka benar-benar kaget saat Sugi menghubungi mereka tadi siang. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Bu Alina tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Riri. Ketika mereka tiba, mereka benar-benar terpukul dengan kondisi Riri. Tangis Bu Alina pecah seketika saat melihat wajahnya yang nampak lebam-lebam dan bengkak disertai bagian pinggangnya yang terluka akibat tertusuk benda tajam


Pak Arya sampai harus memapah istrinya untuk duduk bersandar pada sofa di ruang tamu kamar rawat inap tersebut.


"Sabar Bu, Kata dokter kondisinya sudah mulai stabil kan. Jadi kita doakan saja semoga ia cepat siuman dan cepat pulih"


"Aku khawatir pak, nasibnya jadi seperti mba Lily" kata Bu Alina disela-sela isak tangisnya dengan suara parau


"Jangan berpikir terlalu jauh bu kita tunggu saja perkembangannya seperti apa" pak Arya nampak mempererat pelukannya


Di sebelah mereka nampak Gia dan Dion sedang duduk terdiam, sibuk dengan isi pikiran mereka masing-masing.


Gia mengusap lengannya sendiri kala teringat dengan Damar. Ia tiba-tiba saja menghubunginya untuk minta bantuan mengecek keadaan kantor, pasca Riri dibawa ke rumah sakit. Perasaannya sudah bercampur aduk sejak berita itu sampai ditelinganya sore tadi. Damar juga mengabarkan padanya akan tiba sekitar tengah malam hari ini dengan private jet


Gia sesekali mencuri pandang kearah Dion. Ia sedikit merasa aneh dengan kehadiran orang yang tidak ia sangka-sangka sebelumnya. Apalagi dari informasi Sugi, dia yang menyelamatkan nyawa Riri. Dalam benaknya tersemat pertanyaan tentang hubungan Dion yang terkenal playboy ini dengan Riri. Ia sangat penasaran kenapa bisa mereka saling mengenal dengan cukup baik seperti ini.


"Riri!! Sayang...kamu bisa mendengarkan aku?!!..


Riri!!..Riri ini aku Sugi"


Suara Sugi yang sedang memanggil Riri membuat semua orang yang berada di ruang tamu terkejut. Mereka terburu-buru menghampiri


Tak terkecuali Bu Alina. Ia melepas pelukannya dan langsung berdiri dengan sisa kekuatannya melangkah didampingi oleh pak Arya segera melihat kondisi Riri saat ini.


Riri nampak menggenggam erat tangan Sugi yang sedari tadi duduk dikursi yang ada si sebelah ranjangnya. Matanya pelan-pelan mulai terbuka. Ia terlihat beberapa kali mengerjap berusaha membuka matanya menyesuaikan dengan cahaya disekitarnya.


"Kamu bisa mendengar suaraku sayang?" tanya Sugi lagi


Riri mengangguk pelan. Sugi lalu memencet satu tombol darurat yang tersambung ke perawat yang sedang berjaga malam untuk meminta bantuan pemeriksaan


Wajah khawatir semua orang yang ada di sana seketika berubah tenang dan lega setelah melihatnya siuman. Mereka sengaja hanya terdiam menunggu perawat datang melakukan pengecekan


Ketika seorang perawat datang, mereka berdiri agak menjauh untuk memberikan ruang yang cukup untuk perawat bekerja dengan baik.


Sementara itu Pak Doni saat ini sedang berada di kamar rawat inap pak Jon yang berada jauh dari tempat Riri di rawat. Ia terlihat gelisah menunggu informasi dari Gatot mengenai anak buahnya.

__ADS_1


Menurut cerita pak Jon tadi, kedua orang yang datang menyerang sangat kuat. Ia bercerita kalau dirinya dan Bu Riri bukanlah tandingan mereka


"Beruntung Bu Riri bisa bela diri pak, kalau tidak mungkin beliau sudah diculik oleh kedua orang tadi. Saya sampai kewalahan menghadapi mereka" ujar pak Jon terbata-bata


"Tapi saya merasa bersalah pak, Bu Riri jadi terluka gara-gara saya" wajahnya berubah khawatir mengingat peristiwa tadi


"Apa Bu Riri baik-baik saja pak? Siapa yang membawanya ke rumah sakit?"


"Diantar kemari oleh seorang kenalan. Keadaan Beliau sudah mulai stabil tapi masih belum sadar Jon" jawab pak Doni sambil memijit keningnya


"Pak kalau terjadi apa-apa sama Ibu, saya rela bertanggung jawab. Saya keluar dari kerjaan ini ya pak?!"


"Kamu bicara apa Jon?!! Pokoknya kamu tetap sama saya. Usahamu ini namanya sudah luar biasa melindungi beliau. Kalau saja ada satu lagi anggota kita tadi disana, pasti kamu nggak sampai harus babak belur begini" ia menghela napas. Matanya menelusuri luka-luka di sekujur tubuh dan wajah pak Jon


"Tidak usah khawatir Bu Riri pasti akan baik-baik saja. Yang penting kamu cepat pulih. Nanti saya yang akan menghajar orang itu" lanjut pak Doni lagi sambil mengepalkan tangannya geram


Ponsel pak Doni berbunyi, ia melihat nomor Gatot melakukan panggilan


"Gimana tot?" tanya pak Doni dengan tegas


"...."


"..."


"Ok" jawab pak Doni lalu menutup teleponnya


"Kamu Istirahat Jon, aku mau bertemu dengan pelakunya"


"Siapa mereka pak?" Pak Jon nampak penasaran


"Anak buahnya Gatot, tahu Gatot kan?!"


"Gatot Kobra?"


"Iya" pak Doni menjawab singkat lalu berlalu dari sana


Pak Jon nampak termenung, ia baru menyadari kalau tato itu memang nampak seperti lambang kelompok Kobra yang terkenal itu

__ADS_1


Sugi sedang membaca pesan dari pak Doni mengenai keberadaan pelaku penyerangan itu dan saat ini ia sedang menuju kesana. Setelah menyimpan ponselnya di saku celana ia menghampiri Bu Alina dan pak Arya


Perawat mengatakan keadaan Riri baik-baik saja dan alat bantu pernapasannya juga sudah dilepaskan. Setelah pemeriksaan itu nampaknya Riri kembali tertidur dengan nyenyak


"Syukurlah Riri katanya baik-baik saja Bu" ujar Sugi yang ikut duduk di sofa didepan mereka


"Iyah Bu Ina juga jadi merasa lebih baik" sahut Bu Ina sambil tersenyum samar


"Sebaiknya Bu Ina dan paman pulang saja ke rumah terlebih dahulu untuk beristirahat. Besok pasti keadaan Riri sudah lebih baik. Saya khawatir kalian jatuh sakit kalau menunggu disini sampai tengah malam"


"Iyah paman pikir juga lebih baik begitu, gimana Bu?" tanya pak Arya pada istrinya


"Iyah kita pulang dululah pak, besok pagi-pagi kita kemari lagi. Yang penting Riri sudah dalam keadaan baik, aku sudah merasa sedikit lega" Jawab Bu Alina sambil mengangguk


"Gia, Dion, Bu Ina sama bapak mau pulang duluan, mau istirahat di rumah" ujar Bu Ina kearah Gia dan Dion


"Silahkan Bu, pak, saya mau menunggu Damar disini katanya beberapa jam lagi sampai" jawab Gia


Bu Alina terlihat mengangguk "katakan pada Damar, Bu Ina sama paman besok pagi-pagi datang lagi"


"Baik Bu Ina"


"Iya silahkan Bu Alina dan pak Arya, saya juga mau tinggal disini sementara waktu" jawab Dion


"Dion, terimakasih sekali lagi yah nak. Bantuan yang benar-benar luar biasa. Saya sangat bersyukur nak Dion berteman dengan Riri. Jangan sungkan-sungkan kalau nanti butuh bantuan, Ibu sekarang sudah menganggap nak Dion kerabat dekat"


"Iyah saya juga merasa bersyukur sekali Riri dalam keadaan baik itu berkat bantuan nak Dion"


Dion tersenyum ia mengigit bibirnya karena merasa terharu, baru kali ini ia bisa merasakan seseorang dengan tulus mengucapkan terimakasih padanya. Hatinya tiba-tiba terasa hangat.


"Iyah Bu, pak, Sudah kewajiban saya menolong Riri..." jawab Dion, suaranya tercekat


"Ehm.. Beruntung juga saya datang di waktu yang tepat" lanjutnya dengan mata berbinar


Bu Ina dan pak Arya mengangguk dan tersenyum


"Mari semua" kata Bu Ina dan berlalu keluar dari ruangan tersebut

__ADS_1


"Ya Bu, hati-hati di jalan" sahut Gia


__ADS_2