
Acara berlangsung di Hotel Majestic Paradise, salah satu hotel bintang 5 yang dimiliki oleh Wijaya Group. Ketika kami sampai, nampak mobil-mobil para undangan mulai mengular menunggu giliran untuk masuk ke dalam.
Mobil kami masuk melalui jalur VIP. Saat turun di lobby hotel, Sugi meregangkan lengan kirinya sambil melihat kearah Riri, memberi isyarat padanya agar memegang lengannya.
Riri mendekat dan menuruti gesturenya. Sugi kemudian menepuk lembut punggung tangannya yang sedang melingkar di lengannya ini. Seolah-olah mengatakan semua akan baik-baik saja.
Mereka mulai memasuki hotel menuju tempat acara. Sepanjang jalan orang-orang yang sepertinya undangan acara mulai memperhatikan mereka berdua. Mereka nampak berbisik-bisik satu sama lain.
Saat mereka berdua melewati kumpulan wartawan, salah satu dari mereka berteriak "Pak Dirut!!! Pak Dirut datang, cepat-cepat ambil gambarnya". Gerombolan wartawan itu kemudian berlomba-lomba mendekati mereka dengan kamera ditangannya. Sebelum mereka sempat mendekat, empat orang bodyguard nampak muncul dibelakang dan menghalau mereka untuk tetap menjaga jarak. Kilatan blitz kamera dari kejauhan hanya berhasil mengenai punggung dari keduanya.
Mereka mempercepat langkah untuk masuk melalui jalur VIP.
"Sial, ternyata begini yah rasanya dikejar-kejar wartawan. Aku benar-benar merasa tidak nyaman" gumam Riri dalam hatinya
Sampai akhirnya mereka sampai di suatu ruangan yang sunyi. " Ini ruang tunggu VIP. Tempat acaranya di sebelah sana" Tunjuk Sugi pada ujung ruangan.
"Tarik napas dalam-dalam. Sudah tenang? Kita masuk sekarang ya!"
Riri mengangguk pelan
Kami mulai memasuki ballroom hotel ini. Ballroomnya sangat luas dengan kursi dan meja bundar diatur rapi berbaris dari depan ke belakang. Para undangan mulai memenuhi ruangan ballroom hotel ini. Masing-masing nampak lebih banyak berdiri di bagian depan dan samping untuk berbaur mengobrol dengan undangan lain sebelum mereka memutuskan untuk duduk di tempat yang telah ditentukan.
Saat kami tiba, orang-orang yang tadinya asyik mengobrol menoleh satu persatu ke arah kami. Mereka kemudian terlihat berbisik-bisik di tempatnya masing-masing.
"Dari gerakan bibir mereka sekilas aku bisa pastikan mereka memang sedang membicarakan aku dan Sugi. Ahh ini akan jadi hari yang panjang untukku" Riri bergumam dalam hati sambil tetap memasang wajah datar di permukaan
Saat kami menuju meja untuk mengambil tempat, terlihat seorang laki-laki berbadan tegap berpakaian rapi dan berwajah garang nampak menghampiri Sugi. Ia berbisik saat melewati kami.
"Sayang, Ibu sedang menungguku di dalam. Mau ikut ke dalam nggak? Atau mau tunggu disini saja?" Bisiknya di sebelahku
Demi menjaga kewarasan tentu saja Riri memilih untuk menunggunya disini dengan tenang. Tidak perlu melihat wajah sinis Ibunya di dalam.
"Aku tunggu disini saja" kataku yakin
"Ok, aku masuk dulu" ia mengusap punggung tanganku yang masih berada di lengannya. Ketika ia berbalik aku melepaskan lengannya perlahan dan duduk di kursi yang di tunjukkan oleh Sugi.
Cukup lama aku menunggunya dalam bosan. Tiba-tiba ada sebuah suara teriakan kecil seorang perempuan yang mengagetkanku "Riri!!!.."
Aku menoleh ke arah suara kulihat Bu Yuli tersenyum kearahku dan mendekat
"Bu Yuli, apa kabar?" Ujarku sambil mencium pipinya kanan dan kiri
"Hahahaha saya baik, duh cantik sekali sih Riri saya hampir saja tidak mengenali. Saya pikir kok dari belakang mirip Riri ya, terus saya perhatikan ternyata benar" ujarnya nampak bersemangat
"Terimakasih Bu, inilah kekuatan make up Bu hahahaha"
__ADS_1
"Ahhh tanpa make up begini aslinya juga cantik kok"
"Ahh hahaha Bu Yuli bisa saja. Memang Bu Yuli paling pintar membuat hati orang lain senang" elakku sambil terkekeh
"Tapi benar loh Riri, sangat cocok mendampingi Pak Sugi seumur hidup hehehehe" bisiknya disampingku sambil ikut terkekeh
"Hahahaha gimana ya Bu?!" Aku kembali berusaha mengelak
"Semua orang sedang membicarakan kalian loh, tadi pas saya lewat hampir semua topiknya tentang kalian" bisik bu Yuli kembali
"Mereka bilang apa Bu?"
"Seperti yang saya bilang tadi, mereka bilang Riri calon istrinya pak Sugi" wajah Bu Yuli terlihat senang
Aku mendengar ucapan Bu Yuli dengan perasaan tak menentu
"Yuli...!" Seorang laki-laki mendekat
Bu Yuli menoleh kearah laki-laki tersebut "pah, sini aku kenalin deh" ia memanggil laki-laki yang ternyata suami itu
"Riri ini kenalkan suami saya, dia Direktur di Hotel Cozy Spot. Dibawah Wijaya Grup juga. Pernah dengar kan?!"
"Iyah hotelnya keren bu, saya pernah lihat ulasannya di satu majalah. Temanya untuk anak muda yang suka traveling banget kan Bu!"
"Saya Riri pak, senang bertemu dengan anda" aku menjulurkan tangan untuk bersalaman dengannya
"Saya Sandi, saya juga senang berkenalan dengan Anda. Setelah beberapa kali diceritakan oleh istri saya" sahutnya ramah sambil menjabat erat tanganku
"Saya cerita yang baik-baik loh Riri hahaha" ujar Bu Yuli sambil tergelak
"Hahahaha Saya hanya sebulan pak bekerja dibawah Ibu, tapi cukup berarti untuk saya bisa mengenal atasan sebaik beliau" kataku pada pak Sandi yang terlihat mengangguk sambil tersenyum
"Tuh kan pah anaknya baik, cerdas lagi" Bu Yuli menimpali
Aku tersenyum mendengar pujian dari Bu Yuli "terimakasih bu atas pujiannya"
"Tapi Riri, Sayangnya meja kita letaknya berjauhan, jadi nggak bisa ngobrol lagi. Nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi yah Riri, kami mau ke meja kami di sana" Bu Yuli menunjuk kearah mejanya di belakang
"Iyah bu, jauh. Iyah kapan-kapan saya main ke kantor deh Bu" jawabku sambil tersenyum
"Ya deh Riri telepon saya yah kalau lagi senggang"
"Baik Bu Yuli"
"Mari Riri" kata Pak Sandi
__ADS_1
"Iyah pak silahkan" jawabku Sambil kembali duduk dengan tenang.
Tampak ada sepasang mata wanita sedang memperhatikannya dari kejauhan.
Sementara itu di ruangan VIP, Sugi nampak masuk untuk menemui ibunya di dalam. Wajah ibunya terlihat kesal saat Sugi menyapanya.
"Ibu"
"Kenapa kamu mengajaknya kemari Sam?"
"Karena aku ingin dia menemaniku" jawab Sugi datar
"Ini acara penting untuk ibu dan ayahmu. Seharusnya perhatian orang-orang tertuju pada acara ini. Kalau begini ceritanya ibu yakin kalian yang akan menjadi topik utama acara ini. Dan itu rasanya kurang etis Sam" sahut ibunya khawatir
"Tidak usah menghiraukan omongan orang-orang Bu. Aku tidak mengajak siapa pun pasti juga akan menjadi topik berita hangat kok"
"Harusnya kamu lebih tahu Sam, ini lebih dari sekedar berita untuk Wijaya Grup. Kamu sengaja yah bikin Ibumu kesal di hari spesial ini?"
"Aku nggak bermaksud begitu Bu, aku hanya ingin ia menemaniku. Itu saja"
"Aduh Sam, apa dia yang memaksa ikut kemari?"
"Aku yang memaksanya untuk ikut"
"Kenapa sih Sam nggak datang sama Silvi aja?"
"Sudah ku bilang, aku tidak menyukai Silvi. Terserah Ibu mau suka atau tidak pada Riri, tapi aku mencintainya"
"Sam... Imagemu gimana? Kamu itu cerminan dari Wijaya Grup, Sammy" Wajah Ibu Rita menegang
"Memangnya aku melakukan tindak kriminal ya Bu sampai harus sebegitunya. Riri itu wanita baik-baik Bu, dia dari keluarga Wirama
"Ibu sudah tahu, tapi tidak selevel dengan keluarga Silvi. Kamu tahu kan perusahaan keluarga Wirama sekarang sedang kacau" kata Bu Rita ketus sambil memalingkan wajahnya kearah lain
"Akan ada banyak sekali spekulasi-spekulasi dari media dan lawan bisnis kita untuk menjatuhkan image yang telah kita bangun dengan baik ini Sam. Kalau memang kamu bersikeras memunculkan dia di publik seharusnya tidak hari ini. Ibu merasa kamu mau mensabotase acara ini"
Sugi menghela napasnya, ia tahu jalannya dengan Riri tidak akan mudah. Tapi Sugi tidak menyangka kalau ini lebih susah dari yang ia bayangkan selama ini. Tapi ucapan ibunya ada benarnya juga, seharusnya ia tidak memaksa Riri untuk ikut Hari ini.
"Kenapa? Ucapan Ibu benar kan Sam? Coba kamu pikir sendiri. Akan berbeda kalau yang kamu ajak itu dari keluarga sukses luar biasa. Berita yang muncul akan menjadi lebih positif"
"Tapi Riri sudah terlanjur ku ajak kemari. Aku tidak akan mengecewakannya Bu"
"Ahh gampang, suruh Doni menemuinya di belakang diam-diam dan antar pulang. Masalah selesai"
Sugi menatap wajah ibunya dingin
__ADS_1