Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
lebih berwarna


__ADS_3

"Tari, aku mau bicara sebentar dengannya, kamu masuk dulu ya" kata Damar setelah kami selesai makan malam


"Iya kak" jawabku sambil melirik ke arah Sugi, dia mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Mencoba mengatakan semua akan baik-baik saja


Damar mengambil satu kaleng minuman ringan lalu duduk di sofa dimana Sugi telah lebih dulu duduk.


"Sam, sebelumnya aku mau berterimakasih padamu karena sudah menjaga adikku dengan sangat baik"


"Sudah kewajibanku Mmm aku manggil kamu Damar apa Rio sih?"


"Panggil Senyamannya aja"


"Tetap Rio aja ya, udah kebiasaan"


Damar mengangguk "boleh, coba ceritakan padaku kalian bertemu dimana? Sudah sejauh mana kamu mengetahui latar belakang keluarga kami?" Ia menyesap minuman di tangannya


Sugi pun bercerita tentang awal pertemuan mereka di Sentral Parkir sampai akhirnya Riri bekerja membantu Sugi di Eat and Love.


"Aku mengetahui tentang masa jaya keluargamu Keluarga Wirama, kecelakaan orang tua kalian, tentang paman kalian yang licik, Hadi dan tentu saja kamu... Oh Iyah Andi juga, aku pernah mengobrol dengannya"


Damar tampak mendengarkan dengan serius "Kata Tari, kamu sempat menyelamatkan nyawanya. Tapi dia belum mau cerita, aku ingin tahu Sam"


"Oh itu, tapi kamu harus berjanji tidak akan emosi setelah mendengar ceritaku"


"Kenapa? Apa ada hubungannya dengan pamanku?"


"Bukan pamanmu, kalau pamanmu hanya sempat mengirim orang untuk menangkap Riri. Dia mau membawa Riri kembali ke rumah, mungkin ada hubungannya dengan warisan orang tua kalian. Yang aku mau ceritakan ini tentang orang lain"


"Baiklah aku akan mencoba menahan emosi ku"


Sugi kemudian menceritakan tentang Hadi yang hampir saja melecehkan Riri waktu itu


Wajah Damar nampak menegang, menahan amarah mendengar cerita yang disampaikan oleh Sugi. "Sial*an! Harusnya aku tidak mempercayakan Tari padanya. Aku tidak menyangka dia akan berbuat hal sekotor itu. Dulu aku pikir dia sangat menyayangi adikku seperti seorang kakak. Ya Tuhan, untung saja kamu bisa menyelamatkan Tari" Tangannya kemudian terkepal "rasanya ingin kubunuh saja Hadi brengs*k itu"


"Sabar Rio, tenang saja. Pak Doni sudah membuatnya kapok, dia hampir saja dibuat koma. Dia tidak akan berani mendekati adikmu kembali"


"Tapi apa setelah itu adikku baik-baik saja? Apa dia tidak trauma?"


"Dia sempat ketakutan yang akhirnya membuat pertahanan dirinya kembali mendominasi. Saat itu dia seperti menarik diri dari semua orang termasuk aku. Terus terang aku susah payah untuk mendekatinya kembali. Itu kenapa perlu waktu untukku mengungkapkan perasaanku padanya"

__ADS_1


"Aku tidak bisa mengungkapkan betapa aku sangat bersyukur ada seseorang yang bisa diandalkan seperti dirimu di hidup adikku Sam"


Sugi tersenyum dan menepuk pelan bahu Damar


"Aku sungguh menyesali keputusanku meninggalkannya sendiri disini, pasti sungguh berat untuknya" nada suara Damar terdengar sedih


"Tapi dia bisa bertahan dengan sangat baik. Dia sangat tangguh dan kuat Rio, aku pun tidak menyangka. Kamu bayangkan saja dia bisa merobohkan seorang laki-laki hanya dengan sekali pukul hehehehe" Sugi tertawa geli mengingat aksi Riri saat itu.


"Oh ya? Dia memang sekuat itu. Dulu ayah menentangnya untuk ikut latihan Pencak Silat bersamaku. Dan kamu tahu kan kalau dia sudah suka pada sesuatu dia pasti gigih berusaha untuk melakukan yang terbaik. Tentu saja latihannya sembunyi-sembunyi hahahaha. Sampai akhirnya dia memenangi sebuah turnamen. Ayahku waktu itu hanya bisa bengong melihat putrinya memperlihatkan piala dengan wajah babak belur, senyumnya lebar penuh kebanggaan hahahaha " tawa Damar mengelegar mengingat semua itu


Sugi ikut tergelak sambil menggeleng mendengar cerita Damar


"Sam, kamu serius dengan adikku?"


"Iyah serius, aku sangat mencintai Riri. Aku berencana untuk menikahinya"


Damar menghela napasnya "Aku tidak akan menghalangi hubungan kalian, aku hanya khawatir dengan keluargamu Sam"


"Iya aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi mereka tidak berhak mengatur kehidupan pribadiku"


"Aku dengar mereka sudah memilihkan calon istri untukmu?"


"Mungkin Riri nanti akan kesusahan untuk berbaur dengan keluargamu"


Sugi menoleh ke arah Damar "aku paham itu, tapi aku akan perjuangkan hubungan ini. Aku tidak bisa melepaskan kesempatan untuk bersama wanita sebaik adikmu Yo"


"Baiklah, aku hanya ingin membicarakan ini saja. Asal adikku bahagia, apapun itu aku pasti mendukungnya"


"Terimakasih Rio, sudah begitu percaya padaku"


Damar tersenyum dengan perasaan lega karena dia sudah menyampaikan apa yang ada di kepalanya sedari tadi.


"Besok aku mau ke pedesaan di daerah Utara, kemungkinan menginap. Aku pinjam motormu ya"


"Ok, pakai saja"


Mereka berdua masih mengobrol beberapa saat sampai akhirnya Rio kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Riri yang sedang berada di kamarnya merasa gelisah. "Apa yang mereka bicarakan sih?! lama banget" gerutunya

__ADS_1


Setengah jam kemudian ponselnya bergetar, dia melihat Sugi mengirimkan pesan padanya


"Sayangku sudah tidur? Kalau belum aku tunggu di atas yah. Aku hanya ingin mengobrol denganmu sebentar saja"


Riri tersenyum malu melihat sebutan sayangku pada pesan itu.


Dengan ragu aku masuk ke dalam kamar Sugi. Kulihat ia tersenyum kearahku dengan posisi duduk sedang membaca sesuatu pada notebook nya. Sesuai kebiasaannya, Tangan Sugi menepuk ranjang, memberikan tanda agar aku duduk disebelahnya.


"Lagi baca apa?" Tanyaku dengan mata melihat ke arah Notebook di tangannya


"Laporan, tadi ada beberapa laporan yang belum lengkap. Ku suruh mereka ulang mengirimkannya padaku hari ini. Aku heran kenapa bisa orang-orang seperti ini yang duduk di jabatan pimpinan usaha lini. Masa laporan begini saja masih banyak salah" kening Sugi berkerut menyatakan kekesalannya


"Sering kali yang berhasil jadi pimpinan adalah orang yang banyak pendukungnya, biasanya politik kantor kan begitu. Atau ada juga orang yang bisa bekerja dengan baik tapi payah dengan urusan administrasi dan laporan-laporan. Nah mereka termasuk yang mana, itu yang perlu di cari tahu lebih lanjut"


Sugi nampak berpikir "sepertinya aku harus melakukan evaluasi". Ia meletakkan notebooknya diatas nakas


"Kalian tadi membicarakan apa?" Tanyaku penasaran


"Ngomongin kamu, si cantik yang menggemaskan" ia mencolek hidungku gemas


Aku tersenyum "Kakak pasti mengkhawatirkan aku ya?!"


Sugi mengangguk "dia sayang sekali padamu, aku jadi iri. Seandainya saja aku juga memiliki saudara kandung pasti hidupku lebih berwarna"


"Kan sekarang ada aku yang bisa membuat hidupmu lebih berwarna" kataku sambil menaikkan satu alisku


Sugi memelukku erat "Iyah dong, tidur disini please. Sepertinya insomniaku kumat lagi"


"Mau ku pijat?"


Bibirnya tersenyum lebar "Mau banget" tanpa diminta ia mulai melepaskan bajunya kemudian badannya menelungkup.


Setelah mengambil minyak andalan, aku mulai membalurkan punggungnya secara merata. Aku memijat bahunya yang keras lalu turun ke arah punggung dan pinggangnya secara perlahan


Belum ada beberapa menit napasnya mulai teratur. Aku masih mengusap-usap punggungnya agar tidurnya semakin nyenyak. Setelah usai aku menutupi punggungnya dengan selimut, lalu memadamkan lampu utama kemudian merebahkan tubuhku disebelahnya.


Aku memandangi wajahnya dalam hening. Matanya yang terpejam sedikit bergerak-gerak pertanda ia sedang bermimpi. "Kalau sedang tidur begini, wajahnya seperti seorang pemuda yang polos, berbeda sekali ekspresinya ketika bekerja. Argh!! Aku baru ingat, Bagaimana ya caranya mengatakan kalau aku harus resign dan tidak bisa tinggal lagi bersamanya?? Ini lebih sulit dari yang ku kira. Aku juga sebenarnya mulai nyaman tinggal disini bersamanya. Tapi seperti kata kakak memang lebih baik kami tinggal terpisah"


Pikiran Riri melayang kesana kemari, sampai akhirnya tanpa sadar ia pun ikut terlelap.

__ADS_1


__ADS_2