
Ketika sampai di dalam kamar ia menurunkan tubuhku diatas ranjang.
"Jangan bergerak, biarkan aku yang menggantikan pakaianmu" bisiknya pelan di telingaku
"Tapi..."
Ucapanku terpotong karena Bibirnya sudah menyambar bibirku dengan cepat. Tanpa sadar aku memejamkan mata menikmati cumbuannya seketika kami sudah saling memagut menumpahkan semua rasa cinta yang kami miliki. Aku mulai kehilangan kendali atas diriku kala lidahnya menyeruak masuk menyapu lembut lidahku.
Satu tangan Sugi menopang tubuh Riri di punggungnya, sedangkan satu tangannya lagi memegang belakang kepala Riri yang sedang mengikuti irama gerakan mereka.
Ciuman mereka terhenti sejenak, mata mereka bertemu
"Riri..." Bisik Sugi sambil terengah-engah
"Mmm" jawab Riri nyaris tak terdengar, ia juga tengah mencoba mengatur napasnya dalam-dalam
"Aku... ...." Ucapannya terhenti, ia menatap Riri dalam-dalam
"Aku tahu..." Bisik Riri seperti mengerti apa yang hendak ia katakan
"Tapi... aku mau menunggu sampai kamu siap, dan aku yakin bukan hari ini" ia terlihat frustasi
Riri tersenyum "kalau begitu aku bantu ya?"
Wajahnya terlihat bingung "membantu?"
"Iyah aku bisa menyentuhnya menggunakan tanganku disana?" Riri mengangkat tangannya
Wajahnya berubah antara takjub dan malu "kamu yakin, mau melakukannya?"
"Iyah yakin"
"Ck!" Sugi menggeleng "aku nggak tega menyuruhmu melakukan hal itu, kamu ingat saat aku menyuruhmu menyentuhnya waktu itu. Aku merasa menyesal dan bersalah karena membuatmu terpaksa melakukannya"
"Tapi sekarang berbeda, aku yang memintanya. Aku mau mencobanya karena sedikit penasaran. Selama ini aku hanya melihatnya dari film-film yang aku tonton hehehe" Riri terkekeh
"Hehehehe such a naughty woman!" Ia mengelus pipiku dengan punggung tangannya
"Aku kan sudah cukup dewasa untuk melakukan hal-hal tabu ini, sayang.
"Aku tahu" ia terlihat khawatir
"Hei, kenapa jadi serius begini sih?! Apa ini juga pertama kali untukmu?" tanyaku penasaran
Ia mengangguk lemah
"Masa? Aku sempat mengira kamu sudah biasa dengan mantan-mantanmu di masa lalu? Tapi hal itu bukan masalah untukku"
Sugi menghela napasnya, lalu kedua tangannya turun menopang tubuhnya yang miring ke belakang. Ia menoleh kearahku
__ADS_1
"Hampir semua orang yang mengenalku mengira hal yang sama tentangku. Mereka pikir dengan statusku sebagai anak dari pengusaha besar, aku bisa bersenang-senang seenaknya dengan semua gadis cantik yang aku mau. Tapi pada kenyataannya aku tipe yang pemilih. Aku tidak selalu bisa merasa nyaman dengan semua orang, Riri.
Ia mengambil satu tanganku kemudian digenggam dengan kedua tangannya
"Satu hal, aku selalu menjaga reputasi ku, karena menurutku reputasi itu mahal harganya. Aku tidak mau hal-hal konyol seperti itu merusak masa depanku. Mungkin saat ini kamu belum sepenuhnya percaya pada ucapanku tapi aku mengatakan hal yang sebenarnya" lanjut Sugi dengan wajah serius
"Aku percaya sayang, tapi bagiku mencintaimu itu pilihanku saat ini. Termasuk menerima semua masa lalumu apapun bentuknya"
"Wow! Nice words kata-kata tadi jadi terdengar lebih istimewa karena kamu yang mengatakannya, sayang"
"Hehehe Jadi gimana? Mau lanjut?"
"Maybe next time, dia sudah tenang kembali hahahaha" Sugi merangkulku erat
Tiba-tiba tangannya menarik resleting di belakang gaunku dengan perlahan.
"Kok dibuka?" Tanyaku dengan wajah panik
"Kan tadi niatnya mau bantuin kamu ganti baju"
"CK! Masih inget loh padahal abis ngobrol panjang lebar"
Sugi tersenyum lebar "ingat dong, aku ini persistent"
"Ok, aku pasrah sajalah dengan tuan muda yang masih perjaka ini hahahaha" ujarku sambil tergelak
"Hati-hati dengan ucapanmu!" Bisiknya sambil memperhatikan resleting di punggungku
Sugi tiba-tiba berbisik "Aku ingin meninggalkan jejak di semua bagian tubuhmu. Tubuh mungil ini milikku selamanya. Aku mau ketika tidak bersamaku kamu akan ingat hari ini" suaranya terdengar dingin dan penuh gairah
Jantungnya berdebar-debar mendengar bisikan Sugi. Ia sadar ketika Sugi sudah mulai berbicara dengan nada dinginnya itu berarti ia sangat serius dan tidak bisa dibantah lagi.
Tanpa menunggu jawaban dari Riri ia mulai menciumi punggungnya di beberapa titik agak lama dan keras bahkan sesekali menggigitnya gemas.
Riri hanya bisa pasrah sambil mengigit bibir menahan gejolaknya sendiri.
Kini ia menurunkan bagian depan gaunnya dengan perlahan. Mata Sugi terlihat menatap bagian atas tubuh Riri yang kini hanya di balut dengan bra menutupi dadanya. Ia lalu menepuk ranjang dibawahnya.
"Berbaringlah disini sayang"
Riri nampak benar-benar tunduk dengan perintahnya, ia berbaring dengan perlahan tanpa penolakan. Hal itu membuat Sugi semakin bersemangat dan yakin akan tindakannya.
Sugi mulai menciumi leher bagian bawah dan dadanya. Sama seperti punggungnya, ia juga tidak lupa meninggalkan jejaknya disana. Ketika Sugi mulai bergerak naik ke lehernya, tangan Riri terlihat naik untuk menghentikanya
"Please hhh..., janganh... di bagian yang bisa dilihat orang lain...hhh.." bisiknya sambil terengah-engah
"Biar semua orang tahu kamu sudah ada yang punya" Sugi menggerakkan jari tangannya mengelus leher Riri lalu turun mengelilingi permukaan dada dan perutnya
"Ssshhh...sayang...Merekahhh ... Akan... berpikir kalau..hhh aku wanita nakal...hhh...please babe.... Kamu boleh melakukannya...di bagian hhh manapun asal tidak terlihat orang lain hhh.." ujarku masih terengah-engah termakan oleh n*fsuku sendiri
__ADS_1
"Oke boleh dimana pun ya, selain yang bisa dilihat oleh orang lain. seperti katamu akan kulakukan dengan senang hati"
Ia memulai kembali gerakannya memberikan tanda di setiap sudut tubuhnya. "Ahhh!!"Riri mulai mengerang tipis ketika mendapati Sugi melakukannya di daerah perut bagian bawah.
"Shithhh! Sayanghhh!!" Riri tidak sengaja memakinya sambil mencoba tetap sadar, usahanya gagal yang terdengar malah seperti rintihan bagi telinga Sugi.
"You are so sexy... Its beautiful baby!" Sugi terdengar bersemangat
Riri meringkuk dengan wajah seperti memelas ke arah Sugi "stop it please sayang"
"Kenapa? Dingin?" ia keheranan karena ia merasa suhu di dalam sini termasuk hangat bahkan saat ini ia bisa melihat titik-titik keringat muncul di dahi Riri
Riri menggeleng "aku ... Aku... mulai Bern*fsu!" ungkapnya jujur
Sugi tergelak dengan kepolosan Riri "hahaha, Kamu pikir aku gimana sedari tadi?"
"Makanya berhenti" Riri merengek
"Iyah iya... sepertinya segini cukup. Jadi setiap kamu melihat tanda ini kamu akan selalu ingat padaku" ia tersenyum puas sambil menatap jejak-jejak lengkung berwarna merah tua di sekujur tubuh Riri
"Sini aku pakaikan bajumu" ia menarik tangan Riri membantunya untuk bangun.
Sugi mengambil sweater berbahan rajut berwarna biru muda dan memakaikannya pada Riri. Kemudian dengan cepat ia menarik gaun Riri kebawah.
Tiba-tiba tanpa diduga Sugi mengecup bagian bawah tubuh Riri dari luar pakaian dalamnya dengan cepat. Tubuh Riri mengejang karena terkejut "ahhh F*CK! Damn you!" Pekiknya tertahan
Sugi lalu memeluknya erat sambil kembali tergelak "hahahaha kaget yah?"
Riri mengangguk "itu tadi benar-benar... ."
"Sensasinya berbeda ya?" tanyanya
"Iya sangat berbeda" jawab Riri pelan
Sugi meregangkan pelukannya dan segera memakaikan celana panjang berbahan jeans berwarna hitam pada Riri.
Riri kemudian kembali meringkuk tanpa suara, tiba-tiba ia merasa hampa seperti merasa bersalah dengan apa yang baru saja terjadi.
"Hi kamu marah padaku?" tanya Sugi yang sedang menyusulnya lalu memeluk dari belakang
Riri menggeleng
"terus kenapa diam, apa aku keterlaluan?"
Riri memutar badannya menghadap Sugi
"Baru segini saja aku sudah merasa ada yang hilang dari diriku, padahal ini belum apa-apa, aku malu" Riri merapatkan tubuhnya pada Sugi yang langsung memeluknya erat.
Sugi tersenyum bahagia "ternyata memang benar kalau dia belum pernah sekalipun berhubungan sedekat ini dengan laki-laki lain sebelumnya" gumam Sugi dalam hatinya
__ADS_1
"Terimakasih sudah percaya penuh padaku, aku sangat mencintaimu Riri. Sekarang kita sebaiknya tidur, karena besok kita akan bersenang-senang" Sugi mengecup keningnya dengan lembut
Riri mengangguk, saat ini tubuhnya terasa lelah sekali. Tak butuh waktu yang lama mereka pun tertidur dengan lelap.