
Aku terbangun di tengah malam dengan rasa sakit di sekujur tubuhku. "Engg..!! Aku mengerang pelan menahan rasa sakit saat tidak sengaja menggeliat untuk melakukan sedikit peregangan.
"Mana yang sakit?"
Terdengar suara berat yang membuatku kaget. Kulihat Sugi terduduk disebelahku.
"Kenapa kamu ada disini?" Kataku dengan perasaan khawatir
"Aku mau jagain kamu. Tadi juga sudah minta ijin ke kakakmu untuk menggantikannya malam ini"
Dengan susah payah aku mencoba untuk bangkit, ia membantuku sampai akhirnya aku bisa duduk "Aku haus" ujarku dengan suara serak
Sugi mengambilkan segelas air dari atas nakas lalu memberikannya padaku. Setelah meneguknya, kuserahkan kembali gelas yang nyaris kosong kepadanya.
"Hei besok jadwalmu padat sekali. Sebaiknya kamu istirahat. Aku baik-baik saja kok, dokter juga bilang hal yang sama kan?!" Aku mengambil tangannya untuk ku genggam. Kemudian kembali merebahkan badanku yang terasa ngilu
"Tetap saja perasaanku nggak tenang kalau aku harus tidur terpisah diatas"
Aku menghela napas "gara-gara kelakuanku semua jadi repot"
"Kalau sudah tahu begitu, berjanjilah lain kali jangan mengambil keputusan berbahaya seperti ini lagi"
"Iyah aku tahu"
"Ck! Wajah cantikmu jadi hilang seketika. Besok lihatlah sendiri di depan cermin" Sugi menatapku di keremangan
"Ya sudah carilah yang lebih cantik dariku" jawabku ketus
"Iyah aku akan mencari yang lebih cantik, penurut, seksi, dan tentu saja lemah lembut" kepalanya miring menatap wajahku sambil tersenyum
"Tuh ada Silvi sesuai dengan keinginanmu kan?!"
Sugi nampak berpikir "Oh iya kenapa aku bisa lupa sih?! Benar katamu kenapa tidak sama Silvi saja ya?"
"Kalau begitu, kenapa kamu masih ada disini!!? Pergi sana ke kamarmu?! Jangan menggangguku yang sedang beristirahat" kataku kesal
"Hahahahaha aku senang ada yang sedang cemburu padaku" Sugi tergelak
"Jangan-jangan salah satu pemicu kamu mengamuk tadi karena aku dan Silvi makan siang bersama ya? Hahahaha ahh aku mengerti sekarang" lagi-lagi ia tergelak
"Lucu ya?"
"Iyah" katanya masih tersenyum
__ADS_1
Aku memunggunginya karena kesal "balik ke kamarmu Sanah!"
Bukannya menuruti permintaanku, Sugi malah memelukku dari belakang lalu mendekatkan kepalanya ke atas kepalaku. Dagunya menggesek gemas kepalaku. Kakinya tiba-tiba saja menimpa dan membelit tubuhku.
"Shh... Sakit!! Turunkan kakimu!" Pekikku tertahan
"Jangan berteriak, nanti kakakmu mengira kita melakukan hal yang tidak-tidak" Bisiknya di telingaku yang otomatis membuat tubuhku merinding
"Kenapa sih masih disini menggangguku? Kalau merasa kesepian, suruh saja Silvi menemanimu tidur!"
"Mmm Silvi pasti gembira dengan kesempatan itu, ia akan pasrah padaku, semua keinginanku pasti akan diturutinya. Tapi aku ternyata lebih suka yang mungil menantang. Aku suka perlawanan- perlawanan kecil darimu Riri" Bisiknya pelan.
Jari telunjuknya membuat garis pelan dari dahiku bergerak ke daun telingaku, kemudian ke mata, hidung lalu turun dan berakhir di bibirku.
Entah kenapa aku malah memejamkan mataku menikmati setiap sentuhan yang ia buat di wajahku. Aku bisa merasakan deru napasnya di punggungku yang langsung menempel padanya, napasnya tiba-tiba saja seperti tercekat saat tangannya mencubit gemas bibir bawahku.
"Shhh!!" Aku mendesis tertahan. Aku bisa merasakan dia bereaksi terhadap suara yang tidak sengaja aku keluarkan ini. Satu tangannya memalingkan wajahku kearahnya. Aku beringsut menghadap kearahnya lalu mendongak, tanpa canggung ia mendekat dan mulai ******* bibirku penuh hasrat.
Aku sedikit kaget merasa tidak siap dengan serangannya ini. Dengan kesadaranku sendiri aku mulai membuka bibirku agar ia lebih leluasa menjelajah dan ikut larut mengikuti gerakan bibirnya. Aku tidak ingat sama sekali rasa sakit di tubuhku, yang aku tahu aku sangat menikmati sensasi yang aku rasakan saat ini.
Tanganku mencengkeram erat bajunya, saat lidahnya menyapu lembut lidahku. "Ah!" Suara lenguhan dari bibirku meluncur begitu saja. Tangannya yang tadi menahan punggungku, kini mengelus-elus lembut pungungku yang kian melengkung menempel pada tubuhnya.
Sugi melepas ciumannya perlahan, matanya menatap wajah Riri yang masih terpejam.
Sugi membelai rambutnya "Riri...kau tahu, aku menginginkanmu seutuhnya" bisiknya dengan suara serak dengan sedikit nada frustasi didalamnya
"Tapi aku tidak sedang memintanya sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu siap" bisiknya lagi
Mataku mengerjap, aku mengerti apa yang ia maksud, wajahku terasa menghangat. Kalau saja cahaya kamar ini terang benderang tentunya ia akan bisa melihat rona wajahku yang kini merah padam.
Tanpa menunggu jawaban dariku, Sugi kembali mengecup bibirku berkali-kali, kemudian turun menelusuri leherku. Ia mengecup semua bagian tubuhku yang terlihat oleh matanya. Seperti memasang tanda di tubuhku yang secara tidak langsung mengatakan apa yang ia lihat sekarang sudah menjadi miliknya sendiri.
"Ahhh... Shh!! Sakit! Aku berbisik saat tangannya memeluk pinggangku erat
Ia melepas pelukannya "Maaf Riri, aku gemas padamu" sambil menatap langsung ke mataku
"Aku mencintaimu Riri, Siapa pun yang menganggu hubungan kita tidak berarti apa-apa sama sekali untukku, termasuk Silvi"
"Tapi kenapa kamu mengiyakan ajakannya makan siang? Bahkan sampai satu jam lebih bersamanya" jawabku sedih
"Aku tidak mau menimbulkan masalah jika mengusirnya pulang, karena aku menganggapnya sebagai tamu dekat keluarga kami, Itu saja. Kalau ternyata nanti dia datang lagi, aku mungkin akan secara tegas menyuruhnya pulang"
"Aku orangnya paling nggak suka ya kalau harus berebut laki-laki dengan wanita lain. Kalau nanti ternyata kamu mengkhianatiku, aku pasti akan pergi. Tidak ada yang namanya kesempatan kedua untuk pengkhianat" ancamku dengan wajah serius
__ADS_1
Sugi nampak tersenyum "gitu ya? Kok aku jadi takut sih"
Aku mencibirnya kemudian tertawa geli.
"Udah ah aku mau istirahat, kan aku lagi sakit" aku merengek
"Ck! Kapok hahahaha, yang bandel pasti kena batunya" Sugi tergelak sambil mencolek hidungku gemas.
"Hehehehe" aku terkekeh menahan malu
Keesokan harinya aku terbangun dengan badan yang terasa lebih ngilu daripada semalam. Kulihat Sugi sudah tidak ada di sampingku lagi.
"Tumben dia bangun lebih pagi" gumamku lalu pelan-pelan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Tok!tok!tok!" Suara pintu kamarku di ketuk
"Tari, aku membawa sarapanmu" terdengar suara Damar dari balik pintu
"Masuk aja kak" kataku sembari duduk di atas ranjang
Kak Damar masuk ke kamar membawa baki berisi makanan dan segelas teh hangat. Dari wanginya aku bisa menebak kalau itu adalah bubur ayam.
"Kok malah dibawa kemari kak, aku kan sudah baikan"
"Jangan bohong, aku tahu rasa sakitnya abis berkelahi terus babak belur. Mana bisa sakitnya hilang hanya dalam semalam?!" Damar mencubit kecil pipinya
"Hehehehe" aku tertawa geli
"Buburnya harus habis, itu pesan dari pacarmu yang ganteng itu. Tadi pagi-pagi sekali dia keluar dan membelikanmu bubur juga beberapa cemilan. Cari saja si kulkas atau diatas meja makan"
Aku melirik kak Damar dengan senyuman tertahan
"Halah, sok malu hahahaha" ia mendorong pundakku pelan sambil tergelak. Aku pun tidak bisa menahan tawaku lagi.
"Baik-baiklah sama dia, jangan suka ngambek" kata Damar sambil membuka Gorden dan Jendela kamar agar sinar matahari bisa masuk ke dalam.
"Siapa yang ngambek?" Dahiku berkerut
"Itu semalam apa? Sam cerita ke aku tadi pagi"
"Ck! ya gitu deh hehehehe" aku lagi-lagi tertawa geli
Damar hanya bisa menggeleng mendengar jawaban dari Riri
__ADS_1