Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
kambing congek


__ADS_3

Pak Doni yang nampaknya juga telah siap muncul dari kamarnya. Ia bergabung bersama kami untuk menikmati sarapan.


"Pagi pak Sugi, Bu Riri" sapanya dengan wajah berseri-seri


"Pagi pak" jawab Sugi sambil mengunyah rotinya pelan


"Pagi pak Doni" sapaku bersemangat


"Wajah Bu Riri jadi nampak lebih glowing dari sebelumnya, apa rahasianya Bu?" tanya pak Doni sambil menarik kursi di depan Sugi. Ia memandang kearah Riri sambil mengulum senyumnya. Ia menuangkan kopi panas kedalam cangkir yang ada di depannya.


Riri sepertinya mengerti arti pandangan pak Doni ini. Ia tahu kalau yang dimaksud pak Doni adalah 'telah terjadi sesuatu semalam'


"Glowing?.....karena saya dihujani kasih sayang pak...... sampai banjir" jawabku sambil menahan tawa


Pak Doni yang sedang menghirup kopinya nampak hampir tersedak mendengar jawaban Riri. Ia kerepotan mengambil tisu untuk membersihkan bibir dan mejanya dari tetesan kopi.


Sugi tiba-tiba menatapku penuh arti, ia menoleh ke arah Pak Doni yang sedang sibuk membersihkan sisa-sisa kopi di mejanya.


Ia kemudian memberikan gesture ciuman kearahku. Aku mengernyitkan hidungku sambil menggigit bibirku sendiri dan mengalihkan pandanganku ke arah lain.


Sugi nampak mengelus tengkuknya salah tingkah.


"Pak, wartawan masih ada di depan?" tanyanya kemudian


"Masih beberapa pak, semalam saya sampai harus menghubungi pihak pengamanan kompleks ini untuk menghalau mereka. Tapi pagi ini sepertinya mereka datang lagi"


"Hari ini kita ke kantor dulu ya pak, saya mau menginterogasi Dewi"


"apa perlu saya laporkan pada pihak berwajib pak?"


"Iya perlu, setelah interogasi selesai. Minta pihak sekuriti menahannya di kantor sampai mereka datang untuk mengamankannya. Hubungi pak Bram di kepolisian seperti biasa"


"Baik pak"


"Sayang, hari ini ngantor?" Ia beralih memandangku yang sedang sibuk mengunyah


"Hmm...." Aku menelan makanan di mulutku


"Aku pulang dulu kerumah, mau ganti baju. Tapi aku harus menunggu kalian berangkat, biar wartawannya pergi dulu"


Sugi tersenyum padaku "takut ketahuan nginep ya? Wanita nakal!!" bisiknya di samping telingaku


"Aku diajarin nakal sama pak Dirut mes*m" bisikku juga sambil tersenyum lebar


"Oh ya?? Pak Dirut Siapa sih itu?! Hahahaha" ia terkekeh


"Ada pokoknya...hehehehe" aku ikut terkekeh


"Ya deh aku berangkat dulu ya sayang" ia mengecup keningku dengan cepat


Pak Doni yang menyaksikan adegan ini nampak mengulum senyumnya


"Hati-hati di jalan, semangat yah Pak Dirut" aku menepuk lengannya


"Kok ditepuk? Cium dong disini" ia menunjuk pipinya, wajahnya nampak cemberut


Aku menoleh kearah pak Doni yang sedang menahan tawa dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain


Kemudian aku mendekatkan wajahku untuk mengecup pipinya, tapi ternyata ia malah sengaja menoleh sehingga bibir kami bertemu.


"Ihhh... " Aku menepuk pundaknya gemas,


"Hahahaha.." ia tergelak


"Padahal masih pagi, Rasanya udah kayak jadi kambing congek" celetuk pak Doni sambil menghela napasnya


"Bapak kan memang kambing, bandot tepatnya" Sahut Sugi ia pun berdiri dan berlalu melewati ku namun sempat-sempatnya mencubit gemas pipiku.


"Ihhh..." Aku meringis sambil memegang pipiku


Pak Doni nampak kesal, diam-diam ia mencibir Sugi di belakangnya. Aku hanya bisa tergelak melihat tingkahnya yang lucu.


"Saya berangkat ya Bu" katanya padaku, ia melangkah terburu-buru mengejar Sugi


"Iyah pak Doni"


Beberapa menit berlalu setelah mereka pergi aku mengintip dari celah jendela, tak nampak satu pun orang di depan. "Yes!!! Sepi" Ku putuskan untuk keluar saat itu juga.


Perjalananku ke kantor terbilang lancar pagi ini. Ketika sampai kulihat mobil merah mencolok milik Dion sudah terparkir di depan kantorku.

__ADS_1


"Ahhh orang ini lagi....merusak mood pagiku aja nih!!" Gerutuku. Dengan langkah santai aku menuju ke depan kantor lalu seperti biasa membuka kunci pintunya. Aku sengaja pura-pura tidak melihatnya ada di sana.


"Bam!" Suara pintu mobil di tutup


"Riri!!! Kok jam segini baru datang?" tanyanya sambil berjalan mendekatiku


"Kantornya libur pak, orangnya pulang kampung!!. Bapak sebaiknya datang kembali seratus tahun lagi" ujarku ketus. Aku masuk tanpa menoleh kearahnya


"Hiks! Jahat banget sih. Ri....ri!!!!"


Aku benar-benar sedang malas meladeninya. Aku melakukan aktivitas seperti biasa dan menganggap tidak ada orang lain disana selain diriku sendiri


Ia nampak duduk di sofa "Ku dengar pak Dirut gantengnya sudah kembali. Jangan-jangan kamu telat hari ini karena semalam 'lembur' ya? Hahahaha" ia terbahak-bahak


Lagi-lagi aku tidak meresponnya, malah sibuk mengerjakan urusanku.


"Gitu ya? Dion kok dicuekin. Dion jadi sedih loh Riri"


Aku mulai sibuk membaca email yang masuk tanpa memperdulikan ucapannya saat ini.


"Hmm wangi banget sih" ujarnya di telingaku tiba-tiba


Aku yang kaget luar biasa, tanpa sadar memukul wajahnya dengan punggung tangan.


"Aduh!!! sakitttt" ia meringis memegang pipinya


"DION!!!!" Aku berteriak


"Riri kok kasar banget sama Dion"


"Siapa suruh ngagetin!"


"Abisnya aku dicuekin" ia berkata dengan wajah sedih


"Dion tujuan kamu kemari apa sih? Jam segini aku lagi sibuk-sibuknya tahu"


"Nemenin kamu"


"Aku nggak butuh di temani"


"Aku yang butuh" ia tersenyum kemudian duduk kembali di sofa seperti semula


"Nggak nanya!!!" Kataku Sewot


"Kan dari tadi juga begitu!!" Ucapku ketus


"Ooooo hehehehe" katanya sambil tertawa geli.


Ia kemudian nampak mengeluarkan termos kecilnya dari dalam tas berbahan blacu kemudian menghirupnya dengan tenang.


"Enak banget disini, tenang. Moodku selalu jadi lebih baik setelah kemari" ujarnya sambil melihat sekeliling


Aku yang sedang berkonsentrasi tidak menanggapi ucapan Dion. Beberapa menit kemudian aku baru sadar ruangan ini tiba-tiba sunyi kembali. Ketika menoleh kearah Dion, ia nampak tertidur di sofa.


"Astaga, orang ini kenapa sih?" Aku menggeleng melihatnya saat ini. Matanya terpejam dengan posisi duduk, badannya agak miring ke kanan.


Ku lihat Ponselnya kembali menyala dan bergetar berkali -kali. Karena penasaran aku melihat ponselnya, nama "nona Siska" terlihat melakukan panggilan.


"Hah? Nona Siska? Jangan-jangan itu maksudnya bu Siska, ibunya Dion" Aku terkekeh sendiri


"Dion...Dion!!" Aku memanggilnya dengan maksud agar ia terbangun. Nampaknya tidurnya sangat lelap, tak sedikitpun ia mendengar panggilanku


"Ah sudahlah!!" Aku bergegas kembali dengan pekerjaanku yang mulai padat hari ini.


Tak terasa waktu makan siang telah tiba. Namun Dion sama sekali tidak bergerak, ia masih tertidur nyenyak di posisinya semula. Aku sampai tidak tega untuk mengganggunya.


"Selamat siang Bu Riri!!" Suara seseorang mengagetkanku. Nampak seorang laki-laki berbadan pendek gempal berkulit hitam legam berdiri di depan kantor. Ia mulai melangkah masuk ke dalam perlahan-lahan dengan senyuman aneh.


Disaat yang bersamaan Dion terbangun karena mendengar suara dari laki-laki tersebut. Ia mengucek matanya lalu meregangkan otot leher dan pinggangnya.


"Selamat siang pak, bapak siapa ya?" tanyaku


"Saya Jono dari BHN Cargo. Yang sempat berbicara dengan ibu melalui chat tadi" ia menatap Riri dengan wajah tersenyum mencurigakan


"Oh iya, silahkan duduk pak. saya menunggu pricelist bapak. Kenapa belum dikirim ke email saya?"


"Belum sempat Bu. Kebetulan saya lewat sini ada meeting dengan seseorang jadi sekalian saja saya mampir kemari. Untuk berkenalan langsung, eh ternyata ibu Riri cantik juga ya? Hehehehe" Ia tertawa kemudian duduk di kursi depan mejaku


Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya

__ADS_1


"Ibu sudah bersuami? Saya masih single loh Bu" tiba-tiba saja tangannya terulur ingin menyentuh lenganku.


Aku menarik tanganku yang berada di atas meja dengan wajah datar "saya perlu daftar harganya pak" jawabku bermaksud mengalihkan topik pembicaraan


"Ah gampang lah itu bu. Bisnis cargo saya ini lagi berkembang pesat loh. Rata-rata semua eksportir make jasa perusahaan saya kok"


"Nanti coba saya pelajari dulu ya pak, saya harus membicarakannya juga dengan pak Damar, atasan saya"


"Saya biasanya keluar negeri sekali sebulan, yah kadang jalan-jalan nggak cuma urusan bisnis. Mungkin nanti sekalian bertemu pak Damar"


"Iyah pak, kapan bapak mau bertemu beliau saya akan kabarkan padanya"


"Mmm mungkin seminggu lagi. Dijadwalkan saja ya. Bagaimana kalau Bu Riri ikut saja sekalian, saya tanggung akomodasi dan tiket pesawatnya. Nanti saya yang mintakan ijin sama pak Damar. Nggak usah takut di pecat Bu, sekalian kerja bareng saja kalau sampai dipecat" cerocosnya tanpa rem


"Terimakasih atas tawarannya tapi saya cukup disini saja" jawabku sambil tersenyum


"Duh tenggorokan saya seret, ada air bu?"


"Ada, sebentar ya"


Riri bergegas menuju ke pantry untuk mengambil segelas air. Ketika ia berjalan mata pak Jono nampak menatap bok*ng Riri dengan penuh hasrat. Ia beberapa kali nampak menelan ludahnya


Tanpa ia sadari Dion sedang memperhatikannya dalam diam.


Ketika Riri kembali, ia meletakkan segelas air yang ia bawa di atas meja.


Tangan pak Jono tiba-tiba mengelus bok*ng Riri dengan cepat. Riri terkejut dan refleks menghentikan tangannya dan menampar wajah pak Jono dengan keras "PLAK!!!"


Pak Jono nampak kaget "kurang ajar!!!" Ia mendorong tubuh Riri sampai membentur tembok di belakangnya


Dion yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam. Ia beranjak dan menendang kursi yang di tempati pak Jono hingga terjerembab "GUBRAKK!!"


"Eh Tua Bangk* BANGS*TTT!!!!. Teriaknya kencang. Ia kemudian membantu Riri untuk bangkit. Riri terlihat meringis mengusap-usap kepala dan punggungnya yang sakit


"Cuih!!! Kamu berdua akan saya tuntut melakukan penyerangan terhadap saya" ujar pak Jono setelah bangkit kembali


"Eh TOL*L tanganmu yang kurang ajar duluan!!"


"Nggak ada bukti, hehehehe tapi saya punya bukti bekas tamparan di pipi saya. Telinga saya sampai berdenging begini" ia tersenyum sinis. Seperti yang ia katakan pipinya memang berwarna merah dengan cetakan bentuk tangan nampak sangat jelas.


"Saya blacklist perusahaan ini, akan saya sebarkan berita kepada teman-teman yang lain kalau perusahaan baru ini tidak profesional"


"Silahkan saja di blacklist, dasar pegawai rendahan!, Jong*sss!! Apa semua staf pak Ali seperti ini?!!" Ujar Dion menatapnya tajam.


Pak Jono nampak terkejut mendengar nama pak Ali disebutkan, ia memalingkan wajahnya


"Kamu kira saya tidak tahu pemilik BHN Cargo?. Sebaiknya kamu pergi sekarang juga atau saya hancurkan lagi wajahmu yang sudah buruk ini?!!!"


Ancam Dion dengan nada serius


Riri sampai ternganga karena belum pernah ia mendengar nada kejam seperti ini keluar dari mulut Dion selama ini.


Pak Jono nampak ketakutan dan berlari keluar dari kantor ini tanpa menoleh kembali


"Kamu nggak apa-apa? Apanya yang sakit?" Ia melihat ke sekitar wajah dan tubuhku


"Kepala aja nih yang masih agak pening. Tapi nggak apa-apa kok"


"Enak saja dia menyentuhmu sembarangan, aku saja belum berani"


Aku melirik tajam kearahnya


"Hahahaha....maksudku bukan begitu. Kur*ng ajar tuh dia!!!" Ujarnya bersungut-sungut


"Terimakasih ya Dion"


"Kalau mau berterimakasih tolong belikan aku makan siang Riri, aku lapar" ia memasang wajah memelas


"Tunggu ya" dengan segera aku mengambil ponsel dari laci mejaku dan memesan makanan


"Mau makan apa?"


"Apa aja yang penting enak"


"Mmmm ok... "


"Riri aku penasaran kenapa tamparanmu bisa sekeras itu sih? Kamu bisa bela diri ya?"


"Menurutmu?"

__ADS_1


"Wahhh hebat sekali, aku jadi semakin iri pada pak Dirut itu"


"Setengah jam lagi makanannya sampai" ujarku tidak menjawab ucapannya tadi. Aku kembali ke mejaku


__ADS_2