
"Gia, temannya kenapa itu? Cara mukulin samsaknya serem banget" tanya pak Min sambil memperhatikan Riri yang sedang memukuli samsak di depannya dengan beringas.
Pak Min adalah paman dari Gia. Ia pemilik dari Klub kebugaran bernama Fittest yang sangat terkenal di kota ini. Ia sangat menyukai olahraga, tak heran tubuhnya masih sangat terjaga kebugarannya di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Biasalah paman, nggak jauh-jauh dari masalah cinta hehehehe" Gia nampak tergelak
Pak Min menggeleng "Ck! paling gitu-gitu aja kan masalahnya. Kamu kapan mulai gerak lagi? Mumpung masih muda, menjaga kesehatan itu penting loh Gia. Tuh lihat badan teman kamu kelihatan fit, beda sama kamu"
"Hahahaha kapan-kapan aja ya paman, aku sibuk banget di kantor" Gia nampak kembali terkekeh
Lagi-lagi pak Min hanya bisa menggeleng mendengar jawaban dari keponakannya ini.
"Temanku Namanya Riri paman, dia memang selalu kelihatan bugar. Anaknya walaupun mungil tapi kuat, dia bisa ilmu bela diri juga loh"
"Oh ya?!, pantas saja terlihat berbeda. Gerakan memukulnya lebih gesit dari orang biasa"
Dari jauh mereka masih memperhatikan Riri yang terus menerus memukuli samsak tanpa henti. Tiba-tiba terlihat seorang laki-laki tinggi besar, berkulit hitam legam mendekatinya
Wajah Gia terlihat kaget "paman, jangan biarkan laki-laki itu mendekatinya. Bisa gawat paman. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan"
Dengan wajah terkejut Pak Min seketika langsung berlari menghampiri, ia tahu sekali laki-laki yang bernama Rudi ini adalah laki-laki yang berbahaya. Sudah beberapa kali ia menyasar dengan paksa beberapa member wanita disini. Sudah berkali-kali juga diperingatkan, sampai akhirnya ia tidak muncul lagi. Namun tanpa diduga tiba-tiba saja ia kembali datang malam ini.
Riri sebenarnya sudah menyadari ada seseorang berdiri di sampingnya, hanya saja ia tidak mau memperdulikannya
Tangan Rudi terulur berniat untuk menyentuh bokongnya, namun sebelum itu terjadi pak Min sudah lebih dulu menghalangi tangan Rudi
"Riri, istirahat sebentar. Kamu pasti lelah, jangan diforsir tenaganya" ujar pak Min menyela
Rudi yang mulai melancarkan aksinya merasa kembali dihalang-halangi oleh pak Min.
Gerakan Riri terhenti dan berniat mengikuti saran dari pak Min. Wajahnya nampak bersimbah keringat dengan napas tersengal-sengal.
"Ternyata member yang cantik-cantik begini makin banyak yah pak" ujar Rudi sambil tersenyum lebar kearah Riri
"Kamu jangan macam-macam yah Rudi. Saya keberatan kalau kamu datang lagi kemari. Jangan merusak bisnis saya! Saya bisa adukan kamu ke pihak berwajib!!" Kata pak Min keras
Rudi tiba-tiba saja menarik kerah baju pak Min dan menamparnya cukup keras "PLAK!!" "PLAK!!" Dua kali tamparan mendarat di kedua bagian pipinya. Darah segar terlihat mengucur dari sudut bibir pak Min.
"Astaga!!! PAMANN!!!" Teriak Gia sambil berlari menghampiri
Beberapa orang yang sedang sibuk menggunakan alat kebugaran juga nampak terkejut dan menghentikan kegiatannya. Mereka bergegas menghampiri sumber suara.
Gia nampak menangis kebingungan, ia berniat untuk membantu pamannya agar lepas dari cengkeraman Rudi
Orang-orang mulai berkerumun disekitar mereka. Tak ada satu pun yang berani melerai mereka.
Sementara Riri yang nampak waspada, menggeleng ke arah Gia. Ia memberi isyarat agar Gia menjauh sementara. Gia mengerti dengan isyaratnya. Riri perlahan memutar ke arah belakang Rudi.
Kepala pak Min terasa pening dan telinganya berdenging akibat dari tamparan Rudi. Namun matanya masih bisa memperhatikan Riri yang sekarang sudah berada di belakang Rudi.
"Orang tua sial*n!!! Sudah bosan hidup ya, kamu?!" Ia membentak Pak Min yang berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Rudi
"Lepaskan tanganmu Rud!!!"
"Atau apa???!! Hah?!! Siapa yang akan menolongmu pak Tua. Aku kemari memang sengaja untuk membuat perhitungan denganmu!!" Pekiknya dengan mata melotot
__ADS_1
Tanpa menunggu lebih lama Riri langsung bergerak menendang salah satu bagian belakang lutut Rudi. Cengkeramannya otomatis terlepas dan ia jatuh berlutut dengan ekspresi wajah terkejut sambil menahan sakit di kakinya "arghhh!!! Bangs*tttt!!!" Ia berteriak
Pak Min yang terdorong ke belakang dengan tangkas menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh ketika cengkraman Rudi tadi terlepas dari lehernya.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu nampak terpukau oleh Riri.
"Telepon Pihak berwajib yak!" Perintah Riri pada Gia. Gia yang masih kaget, nampak gelagapan mendengar perintah dari Riri "eeee... Ah iya ...iya.. aku.. aku telepon sekarang!" Sahutnya, terlihat tangannya merogoh ke dalam tasnya untuk mengambil ponsel
Rudi mencoba untuk bangkit kembali, namun gagal. Dengan susah payah ia memutar badannya ke arah Riri yang berada tidak jauh darinya. Tangannya terangkat berniat menyambar lengan Riri dengan penuh amarah.
Riri yang sedang memalingkan wajahnya kearah Gia tidak sadar akan datangnya bahaya. Lengannya berhasil ditarik oleh Rudi. Satu tangannya nampak bersiap untuk memukul Riri. Orang-orang yang menyaksikan hal tersebut nampak berteriak histeris.
"Aaaaaaa!!!" Awassss!!!!" , "Dibelakangmu kak!!!"
Riri terhenyak karena lengannya sudah berada dalam genggaman Rudi. Ia sedang mempersiapkan dirinya karena yakin sebentar lagi wajahnya akan dihadiahkan bogem mentah oleh Rudi. Namun sebelum itu terjadi, ternyata Pak Min sudah lebih dulu memukul lengan Rudi dengan barbel "PLOK!!"
Rudi mengerang kesakitan, cengkeramannya lagi-lagi terlepas. kesempatan ini tentu tidak di lewatkan begitu saja oleh Riri. Ia langsung bergerak memberikan pukulan bertubi-tubi kearah wajah dan tengkuk Rudi tanpa ampun.
Pak Min sampai harus menarik Riri dari hadapan Rudi yang sudah terlihat babak belur. Darah segar nampak menetes dari hidungnya.
"Sudah Riri, sudah... Orangnya sudah kapok!!" Ujar pak Min
Rudi pun tumbang, ia meraung-raung menahan sakit di wajahnya
Wajah Riri terlihat puas. Ia menatap Rudi dengan napas yang masih memburu, keringat mengucur deras dari kepala dan keningnya.
"Sebentar lagi pihak berwajib akan kemari paman. Untung kantor mereka berada tak jauh dari sini" sahut Gia sambil memegang lengan Riri menggantikan Pak Min
"Kalian jangan pulang dulu ya, kita harus memberikan keterangan pada mereka"
"Tarik napas Riri, kamu baik-baik saja kan? Kamu harus tenang" ujar Gia khawatir, takut Riri mengamuk kembali
Riri terkekeh "Hehehehe aku baik-baik saja Yak. Tenang saja. Memangnya aku mau kabur kemana sih? Nggak usah dipegangi begini" Riri menurunkan tangan Gia dari lengannya
"Aku takut kamu memukulinya lagi"
"Aku nggak sebrutal itu. Tadi pukulanku yang serius hanya empat. Sisanya aku hanya main-main kok" Riri terlihat nyengir
Gia menghela napasnya "serius?"
"Iyah beneran. Ini pertama kalinya aku memakai sarung tinju. Ternyata rasanya seru juga ya. Apalagi tadi pukulanku mengenai wajahnya" ia mengacungkan tangannya yang masih berbalut sarung tinju ke arah Gia
"Dasar yah, aku dari tadi deg-degan tahu! Sudah terbayang di pikiranku kamu mengamuk dan memukuli orang itu dengan sadis. Kalau itu terjadi Damar pasti marah besar padaku" wajah Gia terlihat sedih
Pak Min hanya menggeleng mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Hahahaha pantas saja paman tadi memegangiku" Riri terkekeh
"Gimana nggak, saya beneran takut loh tadi. Kalau sampai Rudi sekarat kita berdua bisa kena kasus" pak Min nampak mengerutkan dahinya
Sebanyak empat orang pihak berwajib akhirnya datang. Mereka dengan cepat mengamankan Rudi yang masih tersungkur di lantai menahan sakit. Riri dan Gia akhirnya bisa pulang setelah dimintai keterangan.
Usai berpamitan dengan pak Min, mereka menuju mobil Gia yang parkir tak jauh dari sana.
"Handuknya tidak usah dikembalikan pada pamanku. Kamu ambil saja sebagai kenang-kenangan karena telah membantu pamanku mengatasi laki-laki brengsek itu"
__ADS_1
"Ok, tapi untung kamu mengajakku kemari. Moodku seketika membaik loh. Thanks yah Bu Gia"
"Aku yakin kamu pasti akan sering-sering kemari. Apalagi pamanku tadi memberikanmu hadiah membership gratis selama dua tahun. Duh senangnya hehehehe" Gia tertawa geli sambil melajukan mobilnya
"Hahahahaha seperti sih begitu"
"Terus gimana dengan Sugi? Any news?"
Riri terdiam sejenak
"Tadi dia sempat menghubungiku. Katanya dia akan mengatasi masalah ini, secepatnya. Dia juga bilang kalau anak itu bukan anaknya"
"Bagus dong. Tapi kenapa nada suaramu terkesan seperti biasa saja ri. Apa kamu meragukan kesetiaannya? Atau jangan-jangan kamu merasa cemburu dengan masa lalunya?"
Riri tidak menjawab pertanyaan Gia
"Tuh diem, pasti keduanya. Ya kan?" Ia melirik Riri yang nampak sedang memperhatikan jalan raya.
"Riri, aku bukan orang yang ahli dalam masalah percintaan. Tapi aku yakin Sugi itu laki-laki yang baik, dia sangat mencintaimu. Kamu keterlaluan kalau sampai mempertanyakan kesetiaannya"
"Kenapa?" tanya Riri dengan mata yang masih melekat pada kaca jendela disebelahnya
"Bayangkan saja dari sekian juta wanita yang ada di negara ini, bahkan milyaran wanita yang ada si dunia, dia memilih mengejarmu. Dengan posisi dan kekayaannya saat ini, ia bisa saja kan memilih wanita lain kan. Belum lagi usahanya selama ini untuk membuatmu merasa aman dan bahagia. Yah nggak masuk akal aja kamu masih kepikiran hal ini"
"Entahlah! mmm.. Iya yah, kenapa aku baru kepikiran. Kenapa dia malah mengejar wanita biasa sepertiku? Apa jangan-jangan karena aku gampang di atur dan ditipu ya?"
"Ck! Sifat sinis mu itu kumat lagi? Kita sepertinya harus ke rumah sakit, otakmu kayaknya perlu diperbaiki"
"Terus aku harus gimana? bersyukur? ternyata dia memilih wanita biasa sepertiku? Bukan yang cantik luar biasa, tinggi semampai dan berpendidikan?! "
Gia menghela napasnya "please Riri jangan membuat keadaan semakin panas. Kamu tahu sendiri kalau nilaimu lebih dari sekedar itu"
Riri kembali terdiam
"Jangan terbawa pikiran-pikiran negatif yang belum tentu benar, Riri. Satu hal lagi aku yakin anak itu memang bukan anaknya Sugi. Kalau Sugi merasa benar artinya dia akan melakukan test DNA, kita tinggal menunggu hasil testnya saja kan?"
Gia kembali menghela napasnya
"Ayolah Riri, jangan begini. Di saat-saat seperti inilah seharusnya kamu memberikan dukungan penuh padanya. Kasihan dia, sudah lelah bekerja seharian, ditambah masalah seperti ini eh pacarnya malah ikutan ngambek" lanjut Gia sambil mengelus punggung Riri
Riri menoleh kearah Gia. Ia tiba-tiba merasa sedikit malu pada dirinya sendiri. Apa yang tadi dikatakan Gia memang benar. Seharusnya ia memberikan semangat dan dukungan padanya.
Gia memberikan senyuman terbaiknya "ucapanku benar kan?!"
Riri nampak membalas menyunggingkan senyuman
"Nah gitu dong, senyum! Semua akan baik-baik saja Riri" ujarnya yakin
Beberapa saat kemudian kami telah sampai di rumah. Setelah mandi dan mengganti pakaian aku merasa lebih segar. Kulihat Gia sudah tertidur lebih dahulu di ranjang ku.
Tiba-tiba saja ia merasa rindu yang luar biasa pada Sugi. Ia memutuskan mengirimkan pesan padanya sebelum tidur
"Sayang, maafin aku 😔 aku egois banget yah tadi? Semangat yah untuk hari ini. I miss you so much 😚. Pasti lagi sibuk. Nggak usah dibales, aku juga sudah mau tidur. I love you"
Ia mengirimkan pesan ini tanpa ragu kemudian bersiap-siap untuk tidur.
__ADS_1