Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Gangguan di hari pertama


__ADS_3

"Ya sudahlah, kalau dia berani membuat gosip dari obrolanku dengan pak Yuda aku akan memecatnya tanpa ragu" gumam Riri dalam benaknya. Riri juga tidak mengetahui kalau Ridwan adalah salah satu anak buah pak Doni yang menyelamatkan dirinya malam itu.


"Apa kabar Bu Riri? Saya sangat khawatir dengan Bu Riri. Semoga ibu selalu sehat" ujar pak Yuda pelan dengan wajah lega. Ia sebelumnya merasa sangat bersalah karena gagal melindungi Riri.


"Saya baik pak, terimakasih sudah mengkhawatirkan saya. Saya senang saat mendengar kabar pak Yuda selamat"


"Saya juga Bu, saya merasa lega sekali sewaktu mendengar kabar ibu ditemukan selamat. Yang lalu biarlah berlalu Bu. Semoga tidak ada lagi kejadian berbahaya yang menimpa kita semua Bu. Saya berjanji akan lebih waspada lagi" ujarnya penuh semangat


"Iya pak terimakasih"


Pak Yuda melirik sedetik ke arah Ridwan, Ridwan pun beberapa kali melihat ke arah Pak Yuda. Mereka mengenal satu sama lain cukup baik, namun mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal atas perintah Pak Doni.


Sementara itu Sugi sedang berada di kamar hotel tempatnya menginap. Matanya tidak bisa terpejam karena perasaan rindu yang ia rasakan pada Riri. Ia hanya bisa mendapatkan informasi keadaan Riri dari Damar dan sekarang informasi bertambah dari Ridwan sebagai asisten Riri.


Ia merasa senang kala mendengar Riri sudah mulai bekerja kembali.


"Pak, sebaiknya anda beristirahat. Saya lihat kantung mata anda terlihat jelas pagi ini" ujar Pak Doni yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya


"CK! Kenapa bapak masih disini? Kamar pak Doni kan di sebelah?" Sahutnya dengan nada dingin


"Saya mengambil ponsel saya yang tertinggal di atas meja pak" jawab pak Doni dengan raut wajah khawatir. Kemudian buru-buru pergi ke kamarnya melalui pintu connecting room.


Perasaannya tidak tenang, semenjak hubungan Sugi dengan Riri renggang, mood atasannya menjadi tidak stabil. Ia kembali dingin seperti sedia kala. Yang membuatnya lebih khawatir, insomnianya kambuh kembali seperti sewaktu belum mengenal Riri. Itu cukup mengganggu aktivitasnya yang padat.


Sugi berkali-kali memandangi foto Riri hari ini di ponselnya yang diam-diam diabadikan oleh Ridwan saat di Villa Lembayung. Perasaannya makin tidak tenang saat memperhatikan tubuh Riri yang semakin kurus, ditambah wajahnya yang tidak lagi ceria.


Saat melihat jam di ponselnya, ia buru-buru mengirimkan pesan pada Ridwan


"Tolong ingatkan Bu Riri untuk makan siang. Kalau Bu Riri bingung mau pesan makan siangnya apa, bapak sarankan saja untuk memesan Salmon. Bu Riri harus makan siang!!"


Ridwan membaca pesannya sekilas dan hendak langsung mengingatkan Riri. Namun wajah serius yang di tampilkan Riri yang sedang sibuk menjawab surat elektroniknya membuat Ridwan menelan kembali ucapannya. Ia memutuskan menunggu sebentar lagi.


"Pak Ridwan silahkan makan siang duluan, ini sudah waktunya. Saya sebentar lagi menyusul" ujar Riri tanpa menoleh kearahnya


Ridwan terperanjat, dia merasa gagal melaksanakan perintah Sugi karena malah Riri yang mengingatkannya makan siang.


"Mmm... Saya menunggu Bu Riri saja" jawabnya ragu


Riri menoleh "yakin pak? Saya belum lapar loh"


Tiba-tiba saja perut Ridwan berbunyi nyaring. Ridwan terlihat kaget.


Riri menatapnya dengan tatapan "Tuh kan, apa saya bilang!!"


Ridwan tersenyum salah tingkah "Saya hanya khawatir dengan kesehatan Bu Riri. Kalau Ibu sakit nanti pasti saya yang dimarahi oleh pak... pak..D..Damar Bu" ucapnya terbata-bata nyaris keceplosan. Sebutir besar keringat terlihat menetes dari dahinya.


Riri menghela napasnya "ya sudah ayo kita makan siang. Kita ke restaurant disini saja" ujarnya kemudian bangkit dari duduknya, lalu mengambil ponsel diatas meja dan berlalu. Ridwan terlihat mengekor padanya sambil bernapas lega.

__ADS_1


"Untung saja Bu Riri mau makan siang. Kalau tidak aku akan mendapat masalah besar dari pak Dirut" bathin Ridwan dalam perjalanan


Saat di Restauran, Riri nampak setengah hati membolak balik menu di tangannya.


"Bu Riri mau makan siang apa Bu?" tanya Ridwan berbasa-basi


"Saya sedang tak berselera hari ini" jawabnya pelan


"Bagaimana kalau steak salmon Bu?! Saya dengar Salmon bagus untuk ....kesehatan" jawab Ridwan ragu


Riri melihat kearahnya dengan tatapan curiga


"P..pak Damar yang memberitahukan pada saya, katanya itu menu favorit ibu" Ridwan berkata lagi dengan jantung yang hampir copot.


"Ahh ya ampun kenapa tatapan Bu Riri jadi mirip sekali dengan Pak Dirut. Sama-sama bikin merinding" bisiknya dalam hati sambil bergidik


"Ok saya pesan itu saja" sahut Riri lalu kembali ke lamunannya. Ia sedang tidak mau berpikir terlalu banyak.


"Mungkin saja memang kakak memberitahu beberapa hal mendetail tentangku pada Ridwan. Aku tak mau terlalu ambil pusing bagaimana Kakak merekrut orang ini" bisik Riri dalam benaknya


Disaat mereka sedang makan siang, tiba-tiba pak Kanis datang menghampiri mereka.


"Maaf Bu saya mengganggu makan siangnya. Tapi ada tamu dari travel angkasa mau bertemu"


"Mereka ada janji bertemu sebelumnya pak? Kenapa tidak info ke sales kita saja langsung" Tanya Riri


"Oh gitu. Sekarang mereka ada dimana pak? Suguhkan afternoon tea pada mereka, nanti saya menyusul. Katakan saja saya sedang makan siang. Info ke salah satu sales kita untuk menemani mereka sementara waktu"


"Baik Bu, sekarang mereka ada di lobby, saya akan sampaikan hal ini pada mereka" Pak Kanis pun pergi kembali pada tamu yang datang.


Usai makan siang Riri pun menuju ke Lobby bersama Ridwan.


"Selamat siang" sapa Riri menghampiri tamu yang datang. Ia melihat satu sosok laki-laki muda mungkin seumuran Damar, berpakaian modis, dan potongan rambutnya mengikuti jaman. Kulitnya juga putih bersih, dengan wajah yang lumayan menarik.


Mata Pak Andika berbinar saat melihat Riri, senyumannya merekah. Ia tak menyangka pemilik Villa Lembayung masih begitu muda dan cantik.


"Selamat siang" jawabnya sambil bangkit dari duduknya. Semua orang yang berada di sana ikut berdiri


"Saya Riri" ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman


"Saya Andika, ini tim sales kami" Andika memperkenalkan dua orang lainnya pada Riri.


Mereka pun mulai membicarakan maksud kedatangan mereka. Sedari awal pembicaraan, mata Andika tak sedetikpun lepas dari wajah Riri. Ia kentara sekali sangat mengagumi Riri.


"Sebaiknya kita inspeksi terlebih dahulu pak, kami akan mengajak anda dan tim untuk berkeliling" ujar Riri sembari berdiri dan mempersilakan mereka untuk berjalan terlebih dahulu.


Di tengah-tengah inspeksi, sementara yang lain sedang serius mendengar penjelasan pak Kanis tiba-tiba saja Andika menghampiri Riri dalam jarak yang cukup dekat.

__ADS_1


"Bu Riri, kalau tidak keberatan saya ingin mengudang anda untuk makan malam. Yah sembari membahas kerjasama ini lebih lanjut. Saya rasa akan sangat menguntungkan untuk kita berdua" katanya sambil tersenyum penuh arti padanya


"Maaf pak, saya harus melihat jadwal saya terlebih dahulu. Terus terang jadwal saya sudah cukup padat belakangan ini" tolaknya dengan sopan


Andika tersenyum "Ibu Riri menolak saya?! Anda harus tahu, pengaruh saya cukup besar diantara asosiasi travel. Jangan sampai sikap tak sopan anda ini tersebar luas" bisiknya dengan nada mengancam.


"Bukan maksud saya begitu pak, saya memang sedang sibuk. Bapak kan tahu belakangan tamu sedang ramai-ramainya, ditambah kesehatan saya belakangan dalam kondisi yang kurang baik" jawab Riri dengan tatapan dingin


"Pak Kanis!!, kita langsung ke Spa saja pak" ujar Riri bermaksud mempersingkat inspeksi. Tanpa menoleh lagi pada Andika ia mendahuluinya keluar dari sana. Ia merasa muak dengan laki-laki seperti Andika.


Tanpa di minta yang lain mengikuti Riri menuju ke Spa.


Senyum Andika lenyap ia mengumpat tipis "Brengs*k! Dasar munafik!"


Umpatannya didengar oleh Ridwan yang sedari tadi memperhatikanya, tanpa pikir panjang ia menghampiri Andika


"Sebaiknya anda tidak menggangu Bu Riri pak" katanya tegas


"Kamu siapa?! Hanya asisten kok mengatur saya!" Hardiknya


"Saya memang hanya asisten, tapi saya tidak suka bapak mengumpat dibelakangnya"


Andika tersenyum sinis


"Halah villa kecil begini saja sombong sekali! Saya akan membuat perhitungan dengan anda dan bos anda" semburnya dengan emosi


"Bapak yang harusnya berhati-hati, bapak pikir Bu Riri siapa?! Beliau bisa memporak-porandakan bisnis anda dalam waktu sekejap. Jangan main-main pak, kalau sampai sesuatu terjadi pada Bu Riri dan villa ini saya tahu siapa yang harus bertanggung jawab" sahut Ridwan dengan tegas lalu bergegas pergi dari sana menyusul Riri dengan emosi yang meletup-letup. Hampir saja ia memberi bogem mentah di wajah busuknya itu.


"Pantas saja pak Dirut bersikukuh untuk mengirimkanku bekerja pada Bu Riri. Baru sehari bekerja beliau sudah ada gangguan" gumam Ridwan dalam hati


Andika terperanjat tanpa bisa berkata-kata. Ucapan Ridwan terngiang-ngiang di telinganya. Ia merasa itu bukan sekedar ancaman main-main. Dengan peraaan takut ia pun bergegas pergi dari tempat itu dan memutuskan menunggu di dalam mobilnya.


Tamu dari travel Angkasa pun sudah pergi meninggalkan Villa Lembayung. Wajah Ridwan masih terlihat sepat.


"Bu, kurang aja sekali pak Andika itu" katanya tiba-tiba ketika mereka telah kembali ke ruang kerja


"Pak Ridwan dengar juga ya?"


"Tentu saja saya mendengarnya, kan orang itu berada di depan saya. Dia mengata-ngatai Ibu, saya jadi emosi"


Riri tersenyum "sudah Pak, biarkan saja"


"Apa ibu masih mau bekerjasama dengan mereka?"


"Kalau mereka masih mau lanjut dan menguntungkan Villa ini, yah kenapa tidak. Apapun yang terjadi kita harus tetap profesional. Kalau nanti ternyata mereka menyulitkan yah lepas saja, selesai" jawabnya tenang


Pak Ridwan mengangguk, ia akhirnya mengerti kenapa pak Dirut sangat menyukai Bu Riri. Mereka berdua memang pasangan yang serasi.

__ADS_1


__ADS_2