
Hari semakin senja, Riri masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Gia memutar badannya kearah Riri "ri ada yang bisa aku bantu nggak?"
Aku menjawab tanpa menoleh kearah Gia "Nggak yak, kamu pulang aja. Bentar lagi selesai kok"
"Bener?!" Gia memastikannya sekali lagi
"Bener! " Aku menoleh kearahnya "Aku lagi buat konsep desain untuk kalender Hotel tahun depan. Bentar lagi selesai. Aku mau kirim ke Oka yang staf desain grafis itu loh, biar bisa dia kerjain"
"Harus hari ini yah? "
Kepalaku tiba-tiba saja sakit, mungkin karena lelah "Harusnya aku kirim tadi siang, aku sudah janji sama si Oka" Jawabku sambil memijat keningku pelan
"Ya sudah, tapi kerjaan yang lain sudah selesai kan?! Tanya Gia lagi
"Tinggal nunggu balasan pak Daniel aja sih"
"Ok ri kalau gitu aku duluan yah" Gia menepuk pelan lenganku
"Sip, Thank you yah Yak"
"Yo'i yo'i" Jawab Gia sambil berlalu
Satu setengah jam kemudian Pak Daniel akhirnya membalas email dan pesan yang aku kirimkan. Aku melihat jam di ponselku, ternyata sudah pukul 7 lewat 15 menit.
Aku melihat sekelilingku, rupanya sudah sepi. Hanya ada satu staf yang sedang membersihkan ruangan. Aku bersiap untuk pulang dengan sakit kepala yang semakin menjadi.
Sementara itu Sugi kelihatan gusar, dia berdiri di depan Restaurannya menghadap ke Hotel Z. Tangan kanannya keatas, melihatnya pak Doni dengan gesit menghampiri.
"Cari tahu kenapa bu Riri tidak kemari? "
"Baik pak" Pak Doni dengan cepat menghubungi seseorang
Sejenak tampaknya pak Doni sudah kembali "pak Sugi, bu Riri katanya lembur hari ini"
"Kenapa sampai jam segini?!" Ujar Sugi dengan suara ketus
__ADS_1
Pak Doni melaporkan informasi yang dia dapatkan dari informannya di Hotel Z. Semua lini bisnis di bawah Naungan Wijaya Group memiliki orang-orang kepercayaan yang sengaja di susupkan oleh keluarga Wijaya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui semua informasi penting yang terjadi di internal masing-masing lini bisnis. Tentu saja identitas orang-orang tersebut sangat dirahasiakan.
Tampak kemarahan di wajah Sugi ketika mendengar nama Hartono didalamnya. Dia sudah lama sekali ingin menyingkirkan orang tidak berguna itu. Dari Laporan yang pernah ia baca di kantor pusat, selama 5 tahun Hartono menjabat sebagai Direktur Hotel Z, tak sekalipun hasil kerjanya memuaskan. Ia pun sudah tahu Hartono masih tetap berada disana karena campur tangan pamannya.
"Pak, minta orang Kitchen take away menu spesial hari ini cepat yah. Berikan pada Bu Riri"
"Baik Pak" Dengan cepat Pak Doni melaksanakan perintah dari Sugi. Ia kemudian menghubungi Riri.
"Selamat malam bu Riri"
"Malam pak, saya hari ini nggak mampir kesana yah pak. Saya baru saja selesai di kantor sini. Mau langsung pulang kepala saya sakit" Suaraku terdengar parau menjawab telepon pak Doni dengan rentetan kalimat panjang.
"Pak Sugi menyuruh saya mengirimkan makan malam untuk Bu Riri, sebentar lagi saya ke sentral parkir. Kita bertemu disana"
"Ok pak" Aku menutup sambungan teleponnya.
Aku berjalan dengan terhuyung-huyung. "Ck! Gini nih kalau telat makan, tidur nggak nyenyak. Sudah tahu sering kumat, eh lupa bawa obat. Mana sekarang tiba-tiba mual arghhh!!" Aku memarahi diriku sendiri.
"Eh kenapa pak Sugi mengirimkan aku makanan?? Biasanya kan aku ambil sendiri kalau sedang ingin. Kan dia kasih voucher makan?! Apa dia kasihan yah melihat aku yang melarat, hehehehe rejeki memang nggak kemana" Aku terkekeh sendiri dalam perjalanan ke central parkir masih memegangi kepalaku yang makin pusing.
"Heiii!!! Orang itu berteriak sambil ikut berlari kencang mengejarku. Kepalaku yang pusing membuat aku melambatkan langkahku. Hampir saja aku terjatuh saat berlari, untung saja ada sebuah tangan menarik lenganku dengan cepat.
"Kenapa lari?!" Kata orang yang menarikku itu kemudian. Aku menoleh ke arah suara yang terdengar mirip suara Pak Sugi. Aku bisa bernapas lega, karena ternyata orang itu memang Pak Sugi.
"Astaga Pak Sugi, saya pikir tadi ada orang jahat menunggu saya diparkiran" Kataku masih terengah-engah. Aku memejamkan mataku sambil memegangi kepalaku yang sakit luar biasa karena berlari tadi. Aku berusaha mengatur napasku kembali.
"Sepertinya bu Riri sedang sakit, sebaiknya pulang ikut mobil saya saja. Kebetulan saya juga sudah selesai" Kata Sugi matanya tajam mengawasi gerak-gerikku
"Ini tidak boleh terjadi Riri, jangan sampai orang tahu dimana kamu tinggal. Titik!" Aku berpikir sebelum menjawab tawarannya
"Saya tidak apa-apa Pak, saya pulang sendiri saja. Lagipula kalau saya ikut Pak Sugi, besok bagaimana caranya saya kekantor?"
Sebuah mobil berwarna hitam mendekat kearah kami dan berhenti tepat di sebelah ku. Pak Doni terlihat turun dari mobil itu.
"Silahkan" Kata Pak Sugi dengan wajah dingin memaksa.
__ADS_1
"Hei!!! Aku rasanya seperti mau diculik. Ya Tuhan ini jangan-jangan jebakan" Aku mulai panik, sakit di kepalaku kembali terasa berdenyut.
"Tapi pak... " Ucapanku terputus oleh jawaban Pak Doni
"Motor bu Riri, biar saya yang membawakan. Kuncinya dimana bu?" Kunci yang aku pegang sedari tadi nampaknya dengan cepat sudah berpindah tangan, dan Pak Doni bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dariku.
"Loh... Pak, Kunci saya... " Lagi-lagi ucapanku tergantung karena Pak Sugi dengan lembut mendorong dan mengarahkan aku masuk kedalam mobilnya. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku hanya bisa mengikuti arah dorongannya memasuki mobil.
Aku masih memproses kejadian ini dengan perasaan bingung, semuanya terasa begitu cepat. Dalam keadaan tubuh yang lelah seperti ini, aku benar-benar merasa kehilangan kendali atas tubuh dan pikiranku.
"Duh! Kemana kewaspadaanmu hilang ri?! Kalau dia berniat jahat gimana??" Pikiranku masih berputar pada kejadian yang baru saja terjadi. Sementara mobil sudah bergerak maju dan keluar dari sentral parkir.
"Bu Riri tinggal dimana?" Suara bernada dalam dari Pak Sugi mengagetkanku.
"Daerah timur Pak" aku mengetikkan alamat tempat tinggalku pada aplikasi peta di ponselku. Suara arahan dari aplikasi peta mulai terdengar. "Please turn left" Sugi mengikuti arahan itu dan belok kekiri.
"Tolong ambil bungkusan kertas berwarna cokelat dibelakang, itu untuk bu Riri" ujar Sugi, matanya sedang melihat kearah depan dengan serius, nampaknya jalanan sedang ramai malam ini.
"Makan dulu, sudah malam. Bu Riri pasti belum makan" Lanjut Sugi lagi.
Dengan ragu aku membuka bungkusan itu, ternyata isinya burger dan kentang goreng.
"Bu Riri masih terikat kontrak kerja kan sama saya, saya tidak mau staf saya sakit. Pekerjaan kita belum selesai. Jadi tidak usah berpikir terlalu banyak. Silahkan makan saja"
Aku mengambil botol air minum dari dalam tas dan meneguk isinya. "Seperti kata Pak Sugi, aku tidak boleh sakit. Pekerjaan memang sedang banyak-banyaknya" Aku membathin sendiri
Tanpa banyak kata lagi aku mulai menikmati makanan itu. "Sebenarnya aku sudah tidak punya tenaga lagi, bahkan untuk mengobrol. Yang terbayang saat ini hanya kasur dan bantalku saja. Iyah hanya mereka lah yang paling mengerti lelah dan letihku setiap malam"
Kami berdua hanya terdiam sepanjang sisa perjalanan. Anehnya aku merasa nyaman walaupun dalam diam seperti ini. "Perasaan tenang macam apa ini?!!" Aku bergumam dalam hati "Biasanya aku sudah gelisah ingin cepat-cepat hanya bersama diri ku sendiri, bukan perasaan nyaman ditemani dalam hening begini!!!" Aku refleks menoleh pada Pak Sugi.
Sugi melihat kearahku, dan berkata "Sama-sama Bu Riri" Sambil tersenyum samar
Dengan kaget aku menjawab "Ah Iyah, terimakasih Pak untuk semuanya malam ini" Ujarku dengan rasa malu disindir seperti tadi. "Ah sial aku lupa berterimakasih padanya" Aku memarahi diriku sendiri.
Lagi-lagi dia tersenyum bahkan lebih jelas lagi daripada yang tadi. Aku seperti tersihir melihat senyumnya yang menawan. "Ahh keadaanku malam ini benar-benar akut. Sungguh kombinasi dari awalnya pusing, lelah, lapar dan perut baru saja diisi sampai penuh memang bisa membuatmu berhalusinasi dengan sukses. Buktinya aku melihat senyum Pak Sugi berbeda malam ini. Kenapa dia jadi ganteng penuh pesona begini?? Cukup ri!!! Cukup yah!! kamu memang perlu istirahat!!!" Aku menggeleng sendiri pada hal-hal yang ada dikepalaku saat ini.
__ADS_1