
Beberapa hari telah berlalu, aku sudah kembali bekerja seperti biasa walaupun dengan sedikit memar-memar yang masih terlihat berwarna biru samar-samar di wajahku. Sore sepulang dari bekerja aku berjanji untuk bertemu kak Damar di rumah yang akan ia beli.
Ketika aku sampai, kudengar ponselku berbunyi. kulihat Gia melakukan panggilan, sambil menyetir aku memasang headset pada ponsel dan telingaku.
"Gia" jawabku
"Riri kamu lagi dimana? Dah pulang kerja?" Terdengar suara Gia yang sangat bersemangat
"Udah, kenapa?"
"Temenin aku yuk ketemu cowok ganteng gebetan baru"
"Kapan? Jangan sekarang ya, aku lagi ada urusan"
"Yahhh!!!" Ujarnya dengan nada kecewa
"Yah mau gimana? Memangnya lain waktu nggak bisa? Kenapa harus di temenin sih?"
"Aku janji ketemu dia sore ini, aku insecure Ri. Aku ketemu dia kayak nervous gitu. Orangnya tipe aku banget. Macho, kulitnya agak gelap, belum lagi kalau senyum, astaga....manisnya...duh Riri!!" Pekiknya bersemangat
"Hahahaha aku jadi penasaran Mmm... ya udah kalau urusanku cepat selesai, aku nyusul aja? gimana?"
"Okeh, nanti aku share lokasinya yah"
"Iyahh"
"Horeee aku tunggu ya"
"Ok"
Gia menutup sambungan teleponnya
Ketika aku sampai, Kak Damar terlihat sedang menungguku di luar.
"Kak, yang punya rumah belum datang ya?" Kataku pada Damar
"Belum"
Aku melihat sekeliling "Rumahnya cukup besar, berapa kamar?"
"Ada tiga, dua diatas satu dibawah. Kamar mandi ada empat, satu dekat dapur"
"Dapurnya bagus?"
"Lumayan kok tapi masih bersih banget, sepertinya yang punya rumah jarang masak atau mungkin nggak pernah masak sama sekali"
"Dibelakang ada taman?" Ku perhatikan halamannya yang cukup luas dengan taman yang rindang
"Ada plunge poolnya loh heeee" Damar tersenyum
"Yang benar? Wahh seru nih. Kita bisa barbeque-an disitu malam tahun baru ini"
__ADS_1
"Iyah, mudah-mudahan orangnya mau melepas dengan harga bagus"
"Iyah Mudah-mudahan" kataku bersemangat
"Satu lagi, beberapa Furniture miliknya memang dibiarkan disini. Kita boleh memakainya atau menggantinya sesuai keinginan kita. Katanya yang punya rumah dia sudah bosan dengan beberapa Furniture di dalam"
"Mmm orang kaya memang bebas ya mau ngapain aja"
Dari kejauhan aku melihat sebuah mobil berwarna merah mendekat, perasaanku mengatakan mobil ini mirip dengan milik Gia.
Aku memeriksa alamat yang ia berikan di ponselku, ternyata perasaanku benar "hahahahaha hei kak rumah ini ternyata milik temanku Gia. Kita dulu sempat sama-sama bekerja di Hotel Z"
"Wah Kok bisa kebetulan begitu??" wajah Damar terlihat antusias
"Dia naksir kakak loh hahahaha cieeee"
"Dia bilang begitu? Kapan?"
"Tadi dia telepon dan bilang mau ngajak aku ketemu cowok gebetan baru katanya. Orangnya ganteng tipe dia banget hahahah" aku memeluk lengannya erat sambil terkekeh. Damar ikut tertawa mendengar ceritaku.
Gia yang baru saja turun dari mobil nampak mendekati kami dengan wajah bingung
"Loh Riri, kalian .... Saling kenal?" Dia menunjuk kearah kami berdua bergantian, wajahnya berubah dingin saat melihat Riri memeluk erat lengan Damar.
"Iyah kami berdua memang saling mengenal dengan sangat baik" jawabku sengaja untuk membuat Gia semakin kecewa.
"Oh ya sudah, ayo masuk kita bicara di dalam saja" katanya dengan nada dingin
"Yuk sayang" aku mengangguk pada Damar disebelahku dengan satu mata mengedip kearahnya.
Kami diajaknya duduk di sofa ruang tamu. Gia nampak lama berpikir sambil melihat kami berdua.
"Riri, kamu kan belum sempat melihat sekeliling rumah ini. Aku antar sebentar yuk" ajaknya dengan wajah penuh pertanyaan. Tanpa menunggu jawaban dariku, tangannya menarik lenganku menuju ke dapur rumah ini.
"Sebentar yah babe!" Kataku pada Damar yang hanya bisa terkekeh melihatku seperti diseret pergi dari sana.
Seperti yang dikatakan Damar tadi, dapur ini memang terlihat lumayan bagus dan masih baru.
"Riri, itu laki-laki yang aku bilang tadi padamu. Kenapa kamu bisa bersamanya? Aku pikir kamu dan pak Dirut pacaran" bisik Gia, matanya menatapku menyelidik
"Hehehehe hidup memang penuh misteri Gia. Damar ganteng ya? Kamu suka juga?" Tanyaku dengan wajah penuh senyum
"Kalau aku tahu sejak awal ternyata dia sudah punya pacar, apalagi pacar teman sendiri yah pasti aku mundur" ujar Gia sambil menunduk "apalagi sepertinya hubungan kalian serius. Dia sampai meminta penilaianmu tentang rumah yang akan dibelinya ini. Aku yakin rumah ini akan kalian tempati bersama"
"Yah, kami akan tinggal bersama"
Gia kembali memandangku "Sudah sejauh itu ya? Kalian akan.. mm...akan... segera menikah?"
"Hah? Belum sejauh itu kok" aku menahan tawaku, tapi aku juga tidak tega melihat kekecewaan bercampur sedih jadi satu di wajah Gia saat ini.
"Ooo" Gia tiba-tiba terdiam
__ADS_1
"Kamu kenapa?
"Nggak sih, hanya masih kaget aja. Kok bisa kebetulan begini ?"
"Kamu suka sama Damar juga bikin aku kaget, aku pikir kamu menyukai laki-laki yang suka kemewahan atau bad boy mungkin?"
Gia menggeleng "you are such a lucky girl, dia kelihatan laki-laki yang baik, tipe family man"
"Memang, dia baikkk banget, belum lagi kalau cape minta pijit sama dia itu enak banget hahahaha"
"I'm happy for you Ri, tapi sekaligus iri banget. Maafin aku ya" ujarnya pelan matanya terlihat berkaca-kaca
Aku memeluknya erat "kenapa minta maaf sih, kan kamu nggak salah. Yang salah aku, Damar itu kakakku Gia hahahahaha" aku tergelak melepas pelukanku
Ia memandangku tak percaya "hah? Kakak? Ihhh Ririiii!!!" Ujarnya sambil memukul-mukul gemas lenganku. Ia mengusap air matanya.
Aku makin terbahak melihat kelakuan Gia yang merasa malu, sedih sekaligus gemas padaku.
Sepertinya Damar mendengar gelak tawaku, ia mendekati kami sambil tersenyum "sudah main-mainnya??
"Kasihan dia kak, dari tadi wajahnya kayak mau nangis karena sirnanya harapan bertemu laki-laki baik dan macho hahaha" Ujarku mendramatisir
Dengan cepat Gia menutup mulut Riri dengan tangannya "hushh!!! Riri aaaaaa!!! ...aku ngambek nih!!" gerutu Gia
Damar hanya menggeleng melihat kelakuan dua wanita ini didepannya
Gia lalu melepas tangannya dari mulutku karena aku mengangkat tangan tanda menyerah
"Jadi mau diambil nggak?" Damar melihat kearahku
"Aku mau, kitchen set ini kasih ke aku aja yah buat bonus, nanti aku tukar sama cintanya Kak Damar hahahaha" sahutku lalu berlari kebelakang Damar sambil kembali tergelak
"Riri!!!!!" Teriak Gia menahan marah
"Tariii.... Anak ini duh!! dia memang bandel sedari kecil Gia, nggak usah didengerin" Damar merangkulku sambil mengucek kepalaku gemas
Gia hanya tertawa geli kearah Damar, tapi begitu melihat kearah Riri wajahnya berubah sewot
Riri menutup mulutnya sendiri menahan tawa melihat perubahan drastis di wajah Gia
"Sudah ah Tari, Gianya jangan dikerjain terus. Untuk masalah pembayaran nanti sama pak Agus bukan?" Damar menoleh ke arah Gia
"Iyah nanti sama pak Agus, untuk perubahan harganya nanti saya yang akan sampaikan langsung ke pak Agus"
"Maksudnya berubah bagaimana?"
"Tidak usah khawatir. Saya kasih harga sangat spesial karena ternyata yang beli adalah teman baik saya Riri si bandel ini yah gampang lah" kata Gia masih sambil melirik tajam ke arah Riri
"Hahahahaha Gia memang keren" jawabku sambil mendekat dan memeluknya
"Sebel ah aku dikerjain"
__ADS_1
"Iyah maafin aku Gia hehehe" kami berdua akhirnya terkekeh bersama-sama
Aku melepas pelukanku "aku tinggal pulang duluan ya kak, kalian ngobrol aja dulu siapa tahu beneran cocok hahahaha, dah Gia". Aku lari terbirit-birit tidak menghiraukan teriakan gemas Damar dan Gia di belakangku