
Mendengar suara teriakan itu membuat detak jantungku semakin kencang, badanku gemetar ketakutan. Terbayang kembali kejadian, saat aku diculik oleh Hadi. Tanpa kusadari air mata sudah tergenang di pelupuk mataku. Demi keselamatanku, aku mencoba untuk tenang dan berpikir jernih, kutarik napasku panjang berulang-ulang. Sampai akhirnya aku mulai merangkak mendekati mobil Sugi.
Aku tidak mau kali ini mereka menangkap ku kembali. Beruntung keseluruhan parkiran tertutup paving, sehingga aku tidak perlu lagi menyamarkan jejak kakiku. Aku mempercepat gerakanku merangkak. Akhirnya aku bisa sampai di samping mobil Sugi dengan selamat.
Dengan tangan yang gemetar aku membuka pintu penumpang kemudian masuk dengan cepat. Sugi melihat kearahku yang baru saja masuk. Telunjukku yang gemetaran berada di depan bibir, mengisyaratkan Sugi untuk diam. Dengan hati-hati kemudian aku menutup pintu mobil dan menguncinya dari dalam "klik!"
Sugi sepertinya mengerti dan berbisik "Ada apa?" dengan wajah khawatir.
Belum sempat menjawab pertanyaannya, sekelabat bayangan seseorang mendekat kearah kami. Aku merangsek pelan ke arah Sugi dan menutupi mulutnya dengan tangan kananku yang masih gemetaran hebat. Aku tidak menyadari posisi badanku menghimpitnya. Dia diam tak bergerak, sepertinya pasrah dengan perlakuanku.
Saking takutnya aku nyaris tidak bisa bernapas dengan baik. Sambil memandang kearah Sugi aku mencoba mengatur napasku perlahan. Sementara air mataku menetes tanpa bisa kubendung lagi, aku terisak tanpa suara.
Orang-orang yang mengejar Riri mulai berdatangan satu persatu, mereka terlihat mondar-mandir di sekitaran mobil ini.
"Kamu yakin tidak ada seorang pun yang masuk kemari?" Salah satu preman sepertinya bertanya pada temannya yang bertugas berjaga didepan.
"Tidak ada, aku dari tadi berjaga disini bos!" Jawabnya dengan tegas.
Mereka nampak memeriksa semua sudut yang ada di disana. Bahkan mengintip ke setiap mobil yang ada, karena mereka percaya orang yang mereka kejar masih berada si sekitar sini.
Untung saja kaca mobil Sugi berwarna gelap pekat, jadi tidak ada seorangpun yang bisa melihat orang yang berada di dalam. Tapi sebaliknya Riri dan Sugi bisa melihat pergerakan orang-orang itu dengan jelas.
Sugi menghapus air mataku yang mengucur deras dengan tangannya. Dengan perlahan ia menurunkan tanganku dari mulutnya. Masih kurasakan sisa kehangatan dari hembusan napasnya ditanganku. Tangannya menarik badanku dengan lembut ke arahnya, dia memelukku erat. Tangisku menjadi semakin kencang dalam pelukannya.
"Tidak usah takut, ada aku disini" bisiknya lembut di telingaku
Sementara diluar orang-orang yang mengejar Riri terlihat frustasi
"Sial!! Waktu kita mulai habis!!! Si tua Bangka itu tidak akan membayar sepeserpun kalau wanita itu tidak ketemu!! BRAK!!!" Satu orang memukul kap salah satu mobil yang ada di sana dengan keras.
"Dari jejak kaki yang ada disemak- semak seharusnya dia ada di sekitar sini" Kata satu orang yang lain
"Coba lihat dibawah mobil yang ada di sekitar sini. Kita berjaga disini sampai pagi. Aku yakin sebentar lagi dia keluar. Karena ini satu-satunya jalan keluar dari tempat ini" ujar yang lain menimpali
"Tapi apa kamu yakin itu gadis yang kita cari? "
"Kurang yakin sebenarnya tapi kalau bukan dia kenapa dia lari menghindari kita?!!
__ADS_1
Percakapan mereka terdengar menjauh.
Setelah merasa lebih baik, aku meregangkan pelukannya. Tanganku menjangkau tisu yang ada di sana.
"Bagaimana kalau aku membantumu menghajar mereka semua?!" Lanjut Sugi masih berbisik
Aku menggeleng "jangan keluar, mereka jumlahnya banyak dan membawa senjata tajam" aku ikut berbisik
"Kamu khawatir pada keselamatanku?" Bisiknya sambil tersenyum
Aku mengangguk "kalau kamu terluka, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri"
"Tenang saja sebentar lagi pak Tua akan datang membantu kita"
"Maksudnya pak Doni?" Aku menoleh kearahnya sambil tersenyum lega.
Benar saja belum ada sepuluh menit ku dengar suara dua mobil berdecit dari kejauhan. Nampaknya pak Doni datang membawa beberapa orang kemari. Mobil itu berhenti tepat di depan kami.
Aku bisa mendengar derap kaki orang-orang yang mengejarku tadi berlarian mendekat ke arah mobil itu untuk mengepungnya. Pak Doni yang sedang memakai masker dan topi kemudian keluar dari dalam mobil bersama anak buahnya.
"Kalian siapa?? Berani-beraninya kemari membuat kekacauan di daerah kekuasaan kami!!!" Teriak pak Doni
"Oh si brengs*k ini lagi, apa nyawamu sebanyak itu sampai kamu berani datang kemari?!!!" Pak Doni membuka masker dan topinya
Orang yang bertampang paling seram tadi terkejut. Langkahnya mendadak terhenti karena melihat wajah Pak Doni yang berdiri di depannya
Orang tersebut mundur perlahan kembali pada anggotanya. Wajahnya seperti tidak percaya pada apa yang dia lihat sekarang. Orang yang ada di depannya adalah tangan kanan dari penguasa wilayah ini. Dia ingat betul perkelahian mereka di satu bar tempat mereka berkumpul. Dirinya hampir meregang nyawa karena berani menantangnya secara langsung. Hanya dengan sekali pukulan dan tendangan berhasil membuatnya tidak sadarkan diri, berakhir koma selama sebulan di rumah sakit.
"Sial*n!! Kenapa tangan kanan keluarga Wijaya ini tiba-tiba datang kemari? Apa jangan-jangan mereka yang melindungi wanita yang aku cari?! Kalau dari awal aku tahu akan berhadapan dengannya, aku pasti akan menolak tawaran itu" gumamnya dalam hati
"Hei Anj*ng kenapa diam saja? Apa kau mau aku patahkan lagi tulang rusukmu seperti dulu?"
"Maafkan saya, saya sepertinya salah datang kemari mencari seseorang" Ujarnya kemudian memberikan kode kepada anggotanya untuk pergi dari sana
"Hei sebentar, jangan pergi dulu. Coba katakan dulu padaku kenapa kau datang kemari? Enak saja mau pergi!"
"Saya disuruh seseorang untuk mencari seorang wanita bernama Mentari. Tapi saya akan hentikan pencariannya sekarang juga" katanya sambil menunduk
__ADS_1
Pak Doni mendekat
"Siapa orang itu? Katakan cepat!"
"Ba..bapak Subrata" jawabnya tergagap
"Katakan pesanku padanya, Menteri sudah menjadi bagian dari kami. Mengganggunya sama artinya dengan mengganggu kami. Kamu paham?!" Pak Doni menepuk lengan orang itu dengan keras
Dia tersentak kemudian mengangguk "paham bos" ujarnya mulai gelisah
"Ya sudah, sekarang cepat pergi dari sini atau aku berubah pikiran lagi" pak Doni tersenyum sinis
Orang itu lari terbirit-birit menyusul anggotanya yang sudah lebih dulu pergi dari tempat itu.
Sugi turun dari dalam mobil diikuti oleh Riri yang masih bengong melihat adegan tadi.
"Kenapa lama sekali ?!" Ujarnya pada Pak Doni
"Maaf pak, Saya sudah berusaha secepat mungkin datang kemari" jawabnya dengan kepala menunduk
"Lain kali di luar jam kerja, selalu ingat pakai masker dan topi. Saya tidak suka pak Doni dikenali oleh lebih banyak orang lagi" ujar Sugi lagi, tangannya mengisyaratkan pak Doni dan anak buahnya untuk pergi dari sana.
"Baik pak"
"Pak Doni memang paling hebat!!!" Aku mengacungkan kedua jempol ku padanya
Pak Doni tersenyum sumringah mendengar pujian ku "Terimakasih, Bu Riri terlalu berlebihan. Ini sudah menjadi tugas saya Bu"
"Terimakasih yah pak" kataku lagi padanya
"Dengan senang hati Bu, kalau begitu saya pamit duluan yah"
"Iyah pak, hati-hati dijalan" jawabku sambil menoleh ke arah Sugi. Ku lihat Sugi mengernyitkan dahinya
Aku mengikutinya dari belakang, kulihat ia masuk dan duduk dibelakang stir
"Aku saja yang menyetir" kataku merasa tidak enak
__ADS_1
"Masuk" jawabnya singkat, aku merasa moodnya berubah kesal.