Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Gaun pilihan


__ADS_3

Wajah Jeany semakin sumringah saat aku mencoba gaun terakhir. "Perfect!!! ia berteriak kegirangan


"Tapi ini terlalu seksi untukku mba" ujarku ragu. Belum pernah sekalipun aku memakai gaun berbahan satin sutra dengan bagian punggung terbuka seperti ini. Aku merasa risih.


"Bu Riri kan punya badan mulus dan petite begini, sekali -sekali ya dipamerkan dong. Cantik banget loh, kalau pak Sugi melihat pemandangan ini saya yakin ia akan terpana, ya kan Kar?!" Ia mengerling kearah Karmila yang sedang tersenyum sambil mengangguk pertanda sependapat.


"Mmm tapi yang ini sepertinya tidak cocok untuk acara besok, terlalu mencari perhatian. Saya lebih suka yang pertama, lebih sopan"


"Iyah saya mengerti, saya juga setuju kalau Bu Riri pakai yang pertama untuk acara besok. Kalau gaun yang kedua model kerah V dengan lengan puffy pendek itu bisa dipakai untuk makan malam spesial sama pak Sugi"


"Yang ketiga yang model tertutup, lengan panjang berbahan lace dan pas di badan itu bisa di pakai acara semi formal. Bisa dipakai kalau ada undangan ghatering misalnya. Nah yang terakhir ini dipakainya nanti kalau ada acara yang sangat resmi" tuturnya sambil memandangiku penuh rasa puas dan kagum.


Aku mengangguk mendengar sarannya.


"Saya baru menyadari kalau Bu Riri memang pantas berada di samping bapak. Maaf bu, Terus terang saya tadi agak ragu karena tadi kan Ibu memakai kaos kebesaran dan celana pendek rumahan. Jadi sempat berpikir, kok selera bapak yang seperti ini. Eh tahunya kalau didandanin cantik banget, apalagi nanti kalau sudah lengkap sama sepatu, tas, aksesoris dan make up... Luar biasaaaaa!!!! Perfecto my dear!!!"


Aku tersenyum "Terimakasih yah mba Jeany dan mba Karmila sudah bersedia datang hari ini"


"My pleasure Bu"


"Saya ganti baju dulu ya" ujarku sambil masuk kembali bersama Karmila


"Nanti coba-coba sepatunya ya Bu. Ukurannya sama, saya yakin semua cocok. Mau dipake yang mana saja pasti masuk, karena warnanya putih dan krem. Tasnya juga bisa dipake semua, tinggal pilih saja" Sahut Jeany lembut dari luar kamar


"Iyah mba saya mengerti" jawabku dari dalam


Aku keluar kembali dengan baju rumahanku, kulihat Jeany tertawa kencang


"Hahahaha lain banget sih tadi sama sekarang, tapi nggak apa-apa eik juga kadang gitu tomboy! Tapi cantik!! " Katanya sambil merapikan rambutnya yang berwarna pirang model Pixy cut itu.


Aku lagi-lagi hanya bisa tersenyum mendengarnya.


"Oh iya mba berdua mau minum apa? Saya sampai lupa menawarkan"


"Ada iced cofee nggak Bu? Mana ada sih yah. Tapi air putih juga tidak apa-apa. Saya haus" Jeany mengipas-ngipas lehernya dengan tangan


"Saya mau apa saja asal dingin Bu" Karmila ikut menimpali

__ADS_1


"Tunggu sebentar yah, kalian silahkan ke belakang saja. Disana lebih adem" aku menunjuk ke arah plunge pool dibelakang yang memiliki taman dengan banyak pohon rindang, sangat cocok untuk tempat bersantai di siang atau sore hari yang pengap


Jeany melangkah dengan gerakan luwes menuju tempat yang ditunjukkan oleh Riri.


Matanya terbelalak saat melihat pemandangan di belakang "Aaaawww!!! Karmilaaaaa... Astaga ini taman surga. Sini deh kita ngadem disini" serunya pada Karmila yang sedang duduk tenang


Karmila menghampirinya dan ikut berteriak "wahhh!!!..aku duduk disini aja deh. Enak adem, rumahnya Bu Riri seru ya!!"


"Ho'oh boleh nginep sini nggak ya?"


"Jangan macam-macam deh Jean!"


"Kita pulangnya nanti-nanti aja yah, aku mau rebahan disini" kata Jeany sambil merebahkan tubuhnya diatas daybed pada pinggir plunge pool. Udara terasa sejuk dengan angin sepoi-sepoi dibawah naungan hijaunya pohon rindang.


Sejenak Riri nampak muncul dengan membawa baki berisi dua gelas es kopi dengan penganan setoples kue kering


"Aduhh Terimakasih Bu Riri sayangku, maaf saya merepotkan tapi ini benar-benar kesukaan saya. Saya jadi tidak enak badan menerima ini semua" katanya sambil mengambil es kopi yang aku sodorkan padanya


"Silahkan diminum mba. Kalau kurang manis ini ada gula cair" aku meletakkannya di atas meja disebelah daybed. Karmila menghampiri Riri dan mengambil satu gelas es kopi dari tangannya.


"Terimakasih Bu" ujarnya kemudian kembali ke daybednya


Jeany nampak memejamkan matanya saat menghirup es kopi ditangannya "fiuhhh enak sekali, manisnya pas Bu. Duh!! Kapan lagi di jamu sama calon istri pak Sammy Sugi Artha Wijaya, ya kan?! Hahahaha" ia tergelak dengan ucapannya sendiri


"Dibayangan saya tadi sebelum bertemu, saya pikir Bu Riri akan sesombong wanita-wanita itu. Yah nggak Jean??"


"Ternyata baik hati dan cantik yah Kar, mana es kopinya enak banget. Bu Riri saya boleh mampir-mampir ya Bu kalau mau es kopi enak" katanya dengan wajah memohon


"Silahkan, asal saya dirumah. Kan saya juga bekerja"


"Pokoknya kalau saya mau kemari saya kabari ibu dulu. Nomor ibu dari pak Sugi sudah saya simpan"


"Iyah mba" kataku singkat sambil tersenyum geli


"Besok kita kan harus kemari lagi Jean" ujar Karmila


"Ah iya, benar! Saya kemari jam empat sore ya bu. Kan mau Make up sama hair do. Saya pastikan Bu Riri yang paling menawan di acara besok" Jeany menoleh ke arahku

__ADS_1


"Ohh jadi urusan make up juga sama kalian ya?"


"Iyah kami kan serba bisa Bu" Karmila menyahut


"Ember!!! Mmm saya pulangnya boleh nanti saja ya Bu, mau menikmati sore yang indah ini" jeany tampak meregangkan otot-ototnya diatas daybed


"Iyah boleh, silahkan. Saya mau melanjutkan beberes belanjaan di dapur ya" sahutku sambil berlalu masuk kedalam rumah


"Duh baiknya Bu Riri" batin Jeany, ia nampak benar-benar menikmati istirahat sorenya di rumah ini


Selang sejam kemudian akhirnya dua orang itu pergi, meskipun Jeany harus sedikit dipaksa oleh Karmila untuk pergi dari sana. Riri pun telah selesai merapikan barang-barang belanjaanya di dapur. Saat ia sedang beristirahat, ponselnya berbunyi. Ia yakin tanpa nada dering khusus pun yang menghubunginya pasti Sugi.


Benar saja nama Sugi muncul sedang melakukan panggilan di layar ponselnya.


"Hai sayang"


"Hai, ada stylist yang datang kerumah nggak?"


"Ada, kok nggak bilang-bilang sih kalau mereka berdua mau datang kemari?"


"Namanya juga kejutan hehehe, tapi kamu suka gaun-gaunnya? Pas nggak? Modelnya cocok?" Berondongan pertanyaan keluar dari mulut Sugi


"Hahaha nggak sabaran banget. Semua bagus, kok kamu bisa milih yang pas begitu sama ukuran tubuhku?"


"Ukuran tubuhmu masih tersimpan di catatan pribadiku, tanpa itupun aku masih ingat. Tinggal kasih foto dari internet dan sisanya biarkan stylist yang bekerja" jawabnya yakin


Aku takjub dengan penjelasan singkatnya ini


"Aku sudah nggak sabar mau lihat kamu memakai salah satu gaunnya, pasti cantik banget"


"terimakasih yah sayang"


"Iyah sama-sama, aku lega kamu menyukainya. Mmm aku mau nanya itu aja sih. I Iove you, aku meeting dulu ya"


"I love you too babe"


Ia memutuskan sambungan teleponnya dengan cepat.

__ADS_1


"Ck! Sudah tahu meeting, sempat-sempatnya nelepon. Kebiasaan banget nih pak Dirut nggak sabaran" aku mengomel sendiri pada ponsel yang aku pegang.


__ADS_2