
Siang ini Ibu Alina sedang menuju ke rumah Bu Rita untuk pertemuan arisan ibu-ibu sosialita. Mereka memiliki jadwal bertemu sekali setiap bulannya. Ibu Alina baru saja turun dari mobilnya, ia terlihat menenteng dua buah kotak berukuran sedang. Dua kotak tersebut adalah tempat penyimpanan perhiasan yang akan ia tawarkan nanti pada ibu-ibu sosialita anggota arisan ini.
Rumah Bu Rita yang bergaya Eropa ini terkenal sangat luas. Dari tempat parkir menuju rumah utama harus berjalan kaki sekitar seratus meter, kalau sedang beruntung ada kendaraan buggy yang akan menjemput tamu dadi parkiran ke rumah utama. Kemungkinan kendaraan buggy tersebut sedang di gunakan untuk tamu sebelumnya, jadi Bu Alina memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Saat menuju rumah utama ia berpapasan dengan Bu Siska yang juga baru saja sampai.
"Selamat siang Bu Siska" sapa Bu Alina ramah
Bu Siska menoleh, wajahnya tiba-tiba berubah cemberut "Jeng Alina, aku pikir siapa" katanya sambil melengos
Bu Alina menggandeng tangannya sambil menahan tawa
"Aku masih kesel loh jeng sama kejadian kemarin itu. Mestinya ponakanmu si Riri kenal Dion lebih dulu, kan kita selama ini sering banget ketemuan" katanya sambil berjalan cepat-cepat, sementara Bu Alina mengikuti langkahnya masih sambil menggandeng tangannya
"Aku juga jarang bertemu Riri. Dia main kerumah saja bisa dihitung dengan jari, jadi maklumlah Bu. Namanya anak muda jaman sekarang, mereka dekat sama siapa kan kita nggak bisa atur lagi. Memangnya jaman orang tua kita hahahaha" Bu Alina tergelak
Ia hanya beralasan agar kekesalan Bu Siska mereda. Lagi pula ia sendiri juga baru bertemu kembali dengan Damar dan Riri. Banyak kerabat dan teman-temannya yang belum mengetahui hal ini.
"Kamu kan tahu, Bu Rita ini pemilih sekali loh, siapa tahu dia ternyata tidak merestui hubungan anaknya dengan Riri. Itu artinya Dion mungkin masih punya kesempatan hehehehe" bisik Bu Siska sambil terkekeh wajahnya berubah cerah
"Iyah Bu benar, apapun masih bisa terjadi. Masalah jodoh itu rahasia kehidupan. Biarlah anak-anak muda ini memilih, kita yang tua-tua hanya bisa memberi saran. Benar begitu kan Bu"
"Iyah sih jeng, nanti aku mau kasih tahu Dion siapa tahu bisa nikung di tengah jalan. Hahahaha" ia terbahak-bahak kegirangan
__ADS_1
"Sttt, kita sudah mau sampai bu. Sebaiknya pembicaraan ini kita simpan untuk nanti. Ibu kan tahu Bu Rita tidak suka semua orang terlalu heboh di depannya" bisik Bu Alina
Bu Siska menutup mulutnya "ahh iya benar, aku hampir saja lupa" ia menarik napas panjang
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah. Para pelayan dan pekerja yang ada di sana sudah mengenal teman-teman Bu Rita dengan baik. Sehingga siapapun teman dekat Bu Rita akan langsung di sambut dengan hangat. Tak terkecuali Bu Alina dan Bu Siska. Ketika mereka datang langsung di sambut oleh pak Timur, kepala pelayan disana. Ia mengantarkan keduanya menuju Paviliun yang terletak di belakang.
Di paviliun belakang terdengar riuh suara obrolan dan senda gurau dari ibu-ibu yang akan mengikuti arisan hari ini. Semua tersenyum sumringah saat ada yang meminta untuk foto bersama. Bu Alina dan Bu Siska pun tidak ketinggalan, mereka berdua turut ikut berfoto bersama.
"Bu Alina, Bu Siska" Sapa Bu Rita sambil mencium pipi kanan dan kiri mereka satu persatu
"Bu Rita, maaf saya datang agak terlambat. Karena tadi tiba-tiba ada hal mendadak yang tidak bisa saya tinggalkan" ujar Bu Alina dengan wajah tidak enak
"Saya juga jeng Rita, saya tadi harus mampir sebentar ke kantor suami. Biasalah manjanya sedang kumat, minta di bawakan makan siang rumahan hahahaha" tawa Bu Siska menggelegar
"Oh iya ibu-ibu silahkan di sambil juga makanannya" lanjut Bu Rita lagi tersenyum
"Iyah Bu, terimakasih" ujar mereka berdua hampir berbarengan
"Aduh kok kalian baru datang sih, kita dari tadi malah sudah nyemil ini itu. Sampe begah hahahaha abis enak sih" ujar seorang ibu-ibu berbadan besar sambil tertawa terbahak-bahak
Ibu-ibu yang lain hanya bisa saling senggol mendengar ujaran si Ibu berbadan besar, karena mereka sedari tadi melihat juga kalau dia tak henti-hentinya menyuapi mulutnya sendiri dengan makanan.
"Iyah Bu, kita tadi ada urusan mendadak" sahut Bu Alina tersenyum lalu ikut duduk di salah satu sofa yang ada di sana
__ADS_1
Arisan pun di mulai, pekik kegirangan dari salah satu anggota arisan terdengar jelas setelah mendengar namanya disebut Bu Rita sebagai penerima arisan bulan ini.
Sedangkan Bu Alina nampak sedang berbicara dengan seorang ibu-ibu muda yang cantik di sebelahnya. Ia terlihat antusias setelah melihat isi dari kotak perhiasan yang dibawa olehnya. Semua anggota arisan ini mengetahui jika Bu Alina berbisnis perhiasan, dan juga mengakui perhiasan yang ia jual sangat berkualitas dengan desain yang sangat elegan dan tidak pasaran.
Beberapa orang pun ikut mendekat ke arah Bu Alina, tidak terkecuali Bu Rita. Ia adalah salah satu pelanggan tetap nya. Bahkan kali ini ia memesan beberapa set perhiasan berlian dan permata setelah melihat katalog terbaru bulan ini.
"Borong nih jeng, pasti dengan harga spesial. Ya kan Bu Alina?? Gimana nggak spesial kan nak Sugi berhubungan dekat dengan keponakan jeng Alina hehehehe nggak mungkin lah harga umum" Bu Siska terkekeh sambil melirik kearah Bu Rita yang terlihat bingung
Ucapan Bu Siska membuat semua orang yang berada disana terdiam siap menyimak kelanjutan obrolan ini. Sejak acara wedding Anniversary waktu itu mereka sudah mendengar gosip tentang seorang wanita yang diajak Sugi ke acara tersebut. Namun sayang sekali selain Bu Siska tidak ada satu pun yang sempat melihatnya secara langsung.
Bu Alina merasa semua orang sedang memperhatikannya saat ini
"Harganya sama kok Bu, ibu mau juga? Nanti kalau Bu Siska pesan banyak tentu saya akan beri diskon yang lumayan" Bu Alina tersenyum gelisah mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Yah nantilah, masih pikir-pikir dulu" jawabnya lalu menoleh pada Bu Rita
"Bu Rita kenapa wajahnya bingung begitu? Pasti belum tahu yah anaknya dekat sama keponakannya jeng Alina hahahaha sudah saya duga sih pasti nak Sugi belum berani berterus terang pada jeng Rita, takut ibunya nggak setuju hahahaha"
"Bu Siska masalah anak-anak muda sebaiknya tidak di bicarakan disini, namanya juga anak muda. Jalan mereka masih panjang, masih perlu banyak pertimbangan untuk masa depan. Yah kan Bu Rita" Bu Alina menoleh kearah Bu Rita sambil tersenyum
"Iya benar Bu, namanya anak muda. Mungkin mereka masih mau pengenalan dulu, bergaul dulu, belum serius" Bu Rita menyunggingkan senyuman. Ia merasa penasaran siapa keponakan dari Bu Alina yang dibicarakan oleh Bu Siska ini.
"Eh tapi jeng Alina, omonganku yang waktu itu serius loh kalau mereka benar hanya teman jangan lupa ada Dionku yang masih setia menunggu hahahaha" Bu Siska kembali terkekeh
__ADS_1
"Iyah Bu saya akan mengingatnya" ujar Bu Alina yang terlihat kembali tenang