
Sekitar jam sembilan malam Sugi dan Pak Doni mendatangi rumah ini dengan membawa serta dua box makanan di tangan Pak Doni.
"Riri mana?" Tanya Sugi pada Damar
"Dia ketiduran diatas mungkin kecapean, kamarmu diatas sebelah kiri ya"
"Ok, kalian sudah makan? Aku bawa ayam panggang"
"Pak Doni menyerahkan dua box makanan tersebut pada Damar
"Ck! Kebetulan aku lagi laper belum makan, baru saja mau memesan makanan lewat aplikasi. Thanks yah Sam"
"Iyah sama-sama, aku naik dulu ya. Sekalian bangunin Riri. Biar kita bisa makan sama-sama"
"Ok" Damar mengangguk dan membawa makanan di tangannya untuk diletakkan di atas meja makan. Sugi melangkah dengan cepat menuju kamar Riri.
Sedangkan Pak Doni mengikuti Damar dan membantunya menyiapkan meja makan.
"Rumahnya bagus pak, sejuk"
"Terimakasih kasih pak, mampir-mampir yah pak. Nanti mungkin saya akan minta bantuan bapak lagi untuk menjaga Riri saat saya kembali ke luar negeri"
"Kapan pak?"
"Secepatnya setelah urusan saya rampung disini"
"Tenang saja pak, Bu Riri pasti aman kok. Asal dia nggak berantem sendiri aja kayak waktu itu hahaha" pak Doni terkekeh
"Nah itu yang saya takutkan. Anaknya impulsif kalau sedang emosi. Saya nanti akan ingatkan dia lagi soal itu"
"Hahahaha tapi Bu Riri keren ya pak, bisa segessit dan sekuat itu"
"Tekadnya besar pak, rada-rada nekat juga kadang-kadang hahahaha"
"Saya senang bisa akrab begini dengan Bu Riri dan pak Damar. Kalau teman pak Sugi yang lain sih nggak seseru ini. Boring banget pak, ngeliatin saya kayak bilang kita nggak selevel. Sombong-sombong pak" kata pak Doni dengan wajah kesal
"Hahahaha namanya orang kaya yah kadang ada aja yang begitu. Tapi nggak semua sih pak"
"Padahal ada loh yang nggak sekaya itu, tapi tetep aja sikapnya sombong" pak Doni menggelengkan kepalanya keheranan
Damar hanya tersenyum mendengar curhatan pak Doni.
Di lantai dua Sugi berkali-kali mengetuk kamar Riri. Karena tidak ada jawaban, Sugi masuk perlahan kedalam kamar Riri. Ia melihat Riri sedang tertidur dengan lelap di kegelapan. Tangannya menekan tombol saklar di dinding dekat pintu masuk.
"Sayang bangun yuk" Sugi mengelus kepala Riri
"Riri...Riri ayo bangun sayang" Sugi menggoyang-goyangkan tubuh Riri pelan
Riri mulai menggeliat, matanya setengah terbuka melihat Sugi di hadapannya "hai sayang, jam berapa ini?"
"Udah jam sembilan, makan yuk bentar. Biar perutmu nggak kosong. Aku bawain ayam panggang dua ekor"
"Aku lagi cape banget, males turun" ujarku dengan suara serak
__ADS_1
"Mau aku gendong turun atau dibawain makanan kesini?"
"Aku turun sendiri aja deh, nggak usah digendong malu sama kak Damar" aku mengucek mataku yang masih sedikit kabur
"Kamu baru aja sampai ya? Pasti belum mandi. Kok sempat-sempatnya kemari, nggak cape?" Sahutku lagi sambil turun dari ranjang ku
"Nggak, kan mau ketemu kamu" jawabnya tersenyum
"Ck! Nggak usah bohong. Itu mukanya udah mulai kelihatan cape. Nanti abis makan mandi disini aja terus nginep deh" aku menarik tangannya untuk keluar dari kamar
"Memang rencananya begitu kok"
Kami turun berjalan beriringan menuju meja makan. Kulihat Kak Damar dan pak Doni sudah menunggu kami di meja makan.
"Lama banget sih, aku dah laper nih" gerutu Damar
"Iyaaaaa" sahut Riri dengan malas
Kami pun duduk dan mulai menikmati makan malam dengan tenang.
Setelah makan kulihat Damar memperhatikan raut wajah lelah Pak Doni
"Pak Doni nanti mau kembali ke rumah atau mau nginep disini" tanya Damar
"Saya boleh nginep disini pak?"
"Boleh, tidurnya bisa bareng saya" ujar Damar
"Wah saya mau pak, rasanya malas untuk kembali ke rumah jam segini. Saya mau tidur di sofa ruang tamu saja pak"
"Terimakasih kasih pak Damar"
"Ck! Ngerepotin banget" Sugi melirik ke arah Pak Doni yang pura-pura tidak mendengar apa-apa
"Hahahaha nggak apa-apa Sam, kasihan pak Doni" Damar menoleh kearah Sugi
Aku menepuk punggung tangannya yang dia letakkan diatas pahanya "iya sayang, nggak apa-apa pak Doni pasti lagi cape juga hari ini" kataku sambil tersenyum ke arah Sugi.
Pak Doni tersenyum dan mulai membantu Damar membawa piring-piring kotor ke wastafel yang ada di dapur.
Saat mereka sedang sibuk mencuci piring, Tiba-tiba saja Sugi memegang tanganku di atas pahanya dibawah meja, lalu dengan sengaja ia membawa tanganku menyentuh bagian tubuh paling sensitif yang dimilikinya dibawah sana.
Aku terperanjat, dengan refleks aku menarik kembali tanganku. Tapi ia menahannya disana sambil menatapku dengan wajah tersenyum dan mata menggoda.
Aku mendelik ke arahnya "lepas sayang, iseng banget sih?!" Aku berbisik
"Hahahaha" ia terkekeh lalu melepaskan tanganku.
Aku menarik tanganku dan buru-buru ku letakkan diatas meja.
"Selamat yah untuk rumah barunya, selamat juga untuk pengalaman pertamamu menyentuhku dibagian itu hahaha" ia kembali terkekeh
"ih dasar ketawa lagi. Ini pelecehan tahu" aku menjulurkan lidahku mengejeknya
__ADS_1
"Kan kamu yang menyentuhku, jadi aku dong yang di lecehkan. Bagaimana ini Riri? Aku merasa kotor!" Bisiknya sambil menahan tawanya sendiri
Aku jadi ikut terkekeh sambil menutup wajahku mendengar jawabannya
"Hati-hati ya aku mau laporkan masalah ini ke pihak berwajib" bisiknya lagi dengan nada serius
"Lapor dah sana, buktinya bahkan nggak ada. Aku akan menuntut mu balik karena aku merasa dirugikan secara mental. Aku kan belum siap" aku kembali berbisik
"Silahkan, buktinya juga nggak ada" ia berbalik ikut menjulurkan lidahnya ke arahku
"Pak Dirut m*sum" umpatku pelan sambil menahan tawa
"Mesum tapi suka kan? Hahaha" ia terbahak-bahak dengan ucapannya sendiri
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum geli melihat kelakuannya ini
"Aku baru tahu ternyata kamu seperti ini"
"Aku laki-laki normal sayang, ini juga pertama kalinya aku merasa senyaman ini dengan lawan jenis. Jadi aku nggak akan menyembunyikan lagi hasratku saat kita sedang bersama"
Ia melihat sekeliling. saat tahu Damar dan pak Doni masih sibuk, dengan cepat ia mencium bibirku yang sedari tadi terbuka. Sedetik aku membalas ciumannya dan ia melepaskannya terburu-buru karena takut ketahuan Damar dan Pak Doni.
Aku memeluk lengannya "gini yah rasanya punya pacar yang sudah siap bertanggungjawab" bisikku
"Lanjut diatas yuk" ajaknya sambil mengedipkan matanya
"Ihhh lanjut apa?? Jangan... " Aku memukul lengannya pelan
"Apa sih? hahaha aku mau ngobrol aja kok" ia kembali terkekeh
"Awas yah!" Aku menatapnya tajam
"Hahahaha iya iya... Duh takut banget sih"
"Abisnya aku baru tahu kamu mesum banget"
"Kamu loh yang bikin aku gini" wajahnya terlihat memelas
"Halah alasan, pasti memang aslinya begitu" aku bangun dan hendak pergi naik ke lantai dua
"Kak, pak Doni aku naik dulu ya" teriakku pada keduanya yang sedang mengobrol di dapur
"Iyah" kata keduanya serempak
Sugi mengejar lalu merangkulku
"Kamu mau apa?" Tanyaku mendelik kearahnya
"Bareng ke kamar" Sugi menahan tawanya
"Nggak mau..." Aku berteriak kecil dan melepaskan rangkulannya lalu berlari kencang naik ke lantai dua. Sugi menyusul langkahku dengan cepat ...
"Aaaaaa!!!! Hahahahaha!!" Riri berteriak kencang sambil tertawa saat ia merasa Sugi ikut berlari naik mengejarnya
__ADS_1
Damar dan pak Doni hanya saling pandang sambil tersenyum geli, merasa maklum melihat kelakuan dua orang sejoli yang sedang di mabuk cinta itu.