Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Sambal terasi


__ADS_3

Siang ini sesuai janjinya pada satu agen penjual rumah bernama Agus, Damar mendatangi rumah yang akan ia beli. Ketika sampai disana, Agus belum nampak batang hidungnya. Damar memutuskan untuk berkeliling sendiri disekitaran rumah tersebut, matanya memperhatikan ke segala sudut untuk memastikan rumah ini layak untuk dibeli.


Tiba-tiba muncul seorang perempuan berwajah manis dengan penampilan yang elegan turun dari mobil sport berwarna merah menyala. Perempuan ini nampak akan masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Jalannya terhenti kala melihat seorang laki-laki berdiri memunggunginya di balik pohon besar di dekat pagar. Laki-laki ini bertubuh tinggi, dengan lekuk maskulinitas yang mencolok. Kulitnya berwarna agak gelap dan rambut yang hitam bergelombang.


"Selamat siang" ucapnya tegas


Damar menoleh kearah suara "selamat siang bu" jawabnya dengan suara berat lalu mendekat.


Perempuan itu nampak terdiam cukup lama memperhatikan Damar.


"Maaf Bu, saya disini sedang menunggu agen penjual rumah ini" katanya lagi


Perempuan ini menurunkan kacamata hitamnya lalu memperbaiki letak rambut di atas dahinya kemudian tersenyum.


"Ini rumah saya, saya kemari untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal. Nama saya Gia tidak pakai bu"


Katanya pada Damar sambil mengulurkan tangan


"Saya Damar" ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman


"Kalau mau melihat kedalam, mari silahkan saya antar saja sekalian" ujar Gia terlihat senang


"Boleh Bu .. m.. maksud saya Gia, saya jadi tidak harus menunggu pak Agus lebih lama lagi"


Gia membukakan gerbang utama dan mendahului Damar untuk masuk ke dalam.


"Lumayan luas ya, ini milik Gia pribadi?" Tanyanya pada Gia


"iya Ini milik saya pribadi. Saya menjualnya karena sudah bosan tinggal disini, dan kebetulan saya sekarang sudah memiliki tempat tinggal baru yang lebih dekat dengan tempat saya bekerja"


Damar mengeluarkan satu kartu dari dalam dompet kartu nama "ini kartu nama saya" ia menyerahkan kartu tersebut kepada Gia


Gia menerimanya dengan senyum sumringah, apalagi setelah membaca nama lengkap Damar.


Gia juga mengeluarkan kartu namanya untuk Damar. Damar membacanya sekilas lalu menyimpannya kedalam dompet kartu nama.


"Masalah harga bisa di bicarakan kok, kalau saya menemukan pembeli yang sesuai saya akan dengan senang hati melepasnya dengan harga terbaik" kata Gia lagi, dengan mata yang melekat pada wajah tegas Damar


"Selamat siang pak Damar, Bu Gia" seruan suara seorang laki-laki mengagetkan mereka


"Maaf pak Damar, saya kena macet jadi terlambat sedikit"


"Tidak apa-apa pak, saya juga sudah ditemani oleh Gia"


Wajah Gia nampak berseri-seri ketika namanya di sebut Damar.


"Pak Agus, saya yang akan mengajak Damar berkeliling. Nanti saya kabari pak Agus ya" wajah Gia menatap tajam kearah Agus


Agus bergidik melihat lirikan mata tajam Bu Gia. Ia sudah mengenal baik keluarga Gia. Beberapa kali keluarga Bu Gia menggunakan jasanya untuk properti yang mereka miliki. Dan ia tahu sekali tabiat judes dan ringan mulut yang dimiliki oleh Bu Gia.


"Baik Bu, kalau begitu saya serahkan pada Bu Gia untuk hari ini. Saya tunggu informasi selanjutnya"


"Ok pak"


"Pak Damar, kalau begitu nanti kita komunikasi kembali lewat telepon saja. Saya pamit ya pak" kata Agus dengan nada sopan


"baik pak, Terimakasih" jawab Damar


Agus pun pergi dari rumah tersebut


"Silahkan pak kita langsung ke dalam" Gia mempersilahkan Damar untuk masuk terlebih dahulu di pintu masuk utama.

__ADS_1


Hari berlalu Riri sedang mematikan laptop lalu menyimpannya kembali ke dalam tas. Tadi ia sempat meminta tolong pada Bu Widi untuk membelikan beberapa jenis sayuran dan ayam potong beserta bumbu-bumbu untuk dimasak sebagai makan malam. Tadi Bu Widi juga menawarkan padanya untuk membantu memasak, karena khawatir saat melihat wajah Riri yang bengkak. Tapi di tolak oleh Riri karena merasa masih bisa melakukannya sendiri. Riri rindu akan masakan rumahan yang lebih sehat dan bergizi.


Dengan cekatan ia mulai memarinasi beberapa potong sayap ayam dengan bumbu Barbeque serta beberapa bumbu tambahan lainnya untuk di panggang nanti. Beberapa potong paha ayam lainnya akan ia ungkep untuk di goreng. Ia bekerja dengan cepat dan bersih, ini ditanamkan oleh orang tuanya semenjak ia remaja. Jadi tidak heran untuk urusan memasak walaupun kemampuannya tidak sehebat itu tapi masih bisa dikatakan cukup untuk saat ini.


Dia selalu mengingat nasihat ibunya yang mengatakan seorang wanita walaupun tidak terlalu mahir tapi setidaknya pernah masuk dapur, tahu bumbu-bumbu, peralatan masak, bahan-bahan masakan sampai bisa masak sedikit masakan rumahan. Dan kemampuan ini kata ibunya sangat berguna dikala ia tinggal sendiri jauh dari orang tua dan saat memiliki suami.


Aku geli sendiri memikirkan nasehat Ibu mengenai memiliki suami ini "astaga, apa sih yang baru saja aku pikirkan" gumamku sambil menutup mulutku sendiri


Aku sedang menumis potongan buncis dan wortel saat ku dengar suara kaki seseorang masuk ke dalam rumah.


"Hei nona yang cantik lagi masak apa?" terdengar Suara Sugi yang lembut di belakangku, ia tersenyum


Aku menoleh ke arahnya "masakan rumah, aku lagi kangen sama masakan rumahan ibuku"


"Perlu aku bantu?" Katanya sambil meletakkan tasnya diatas meja. Ia mendekat lalu memelukku dari belakang, kemudian mengecup pipiku dengan lembut.


"Nggak usah babe, bentar lagi selesai kok. Kalau kamu mau beli yang lain untuk makan malam, beli aja ya siapa tahu kamu nggak suka makanan biasa seperti ini"


"Siapa bilang? Aku sih apa aja yang penting bersih dan enak"


"Nah enaknya itu aku nggak berani pastikan, karena ini masalah selera" jawabku sambil menghadap ke arahnya dan mengecup balik pipinya sambil berjinjit.


"Pasti enak, aku yakin" matanya menatapku lembut


"Kalau posisinya begini, aku malah jadi nggak bisa masak" aku pura-pura cemberut


"Iyah deh aku nggak bakalan ganggu kamu sekarang" katanya sambil mengecup bibirku dengan cepat kemudian melepas pelukannya


"Aku kayaknya masak lumayan banyak, apa suruh pak Doni mampir kemari ya?"


"Nggak ah, biarin aja pak tua itu pulang kerumahnya. Dia sekarang lagi mengecek mesin mobil di garasi, besok katanya mau dibawa ke dealer untuk service berkala"


"Hahaha jangan begitu, pak Doni gitu-gitu setia dan baik orangnya"


Aku menggeleng sambil tersenyum mendengar jawabannya


"Kamu yang terbaik sayangku" Ujarku sambil memperlihatkan ibu jari dan telunjukku yang membentuk lekukan bentuk love ke arahnya


"Hehehehe" Sugi terkekeh dengan tingkahku


"Sebaiknya kamu mandi dulu, nanti aku panggil kalau sudah selesai"


"Nggak ah, aku mau disini saja sambil melihat pacarku yang cantik memasak"


"Ya sudah tapi akunya jangan diajak ngobrol, nanti hilang konsentrasi"


"Ok siap Bu Riri" Tangannya membuat gerakan menarik resleting di depan mulutnya.


Aku tersenyum padanya, lalu mulai sibuk kembali dengan masakan ku.


Saat sedang menggoreng bahan untuk sambal terasi, tiba-tiba saja pak Doni muncul dari balik pintu


"Wah enak nih wangi sambal terasi" Ujarnya dengan cepat mendekat


Wajah Sugi berubah kesal "Loh pak Doni kenapa kemari? Bukannya pulang"


"Saya tadi mau pulang tapi tiba-tiba wangi sambal terasi membuat saya mampir kemari pak hehehehe" jawabnya sambil terkekeh


"Bu Riri masak buat saya kok"


Wajah Pak Doni menjadi kecewa "Benar Bu? Jadi saya nggak kebagian"

__ADS_1


Aku melihat mereka berdua hanya bisa menggeleng keheranan.


"Pak Doni boleh kok ikut makan malam disini"


"Tuh kata Bu Riri, boleh pak" wajah pak Doni keliatan kembali cerah


"Ck!" Sugi melirik tajam ke arahnya


Pak Doni pura-pura tidak melihatnya "Saya kembali ke garasi dulu ya Bu, nanti saya kesini lagi" katanya lalu bergegas keluar


"Iyah pak" kataku sembari mendekati Sugi


"Senyum dong sayang jangan cemberut" Aku mengecup lehernya dengan cepat dan kembali ke dapur dengan terbirit-birit


Sugi tersenyum tangannya berniat menggapai tubuhku tapi karena aku berlari dengan cepat ia hanya mendapatkan angin dalam genggamannya. Sugi lalu mengelus lehernya.


Ketika aku telah selesai memasak, semua makanan aku letakkan diatas meja makan dibantu oleh Sugi. Disaat yang tepat Damar juga telah kembali.


"Wah wangi masakan rumah!!!" serunya dari balik pintu dengan suara bersemangat


"Tari, kamu masak ya?" Katanya bergegas menuju meja makan


"Iya kak, aku lagi kangen masakan Ibu"


"Tahu gitu aku pulang lebih cepat aja tadi, biar bisa bantuin kamu"


"Aku aja niat mau bantuin nggak dikasih" sungut Sugi


"Hahahaha tenang Sam, masih banyak waktu kalau mau bantuin dia. Bantuin aku aja dulu, gimana caranya biar dia nggak berulah lagi"


"Hehehe Iyah benar juga" Sugi terkekeh


"Ihhh siapa yang berulah? Sanah suruh Silvi gebetan princessmu itu masak sambel terasi dulu" gerutuku yang disambut tawa riuh dari keduanya


"Waduh saya hampir saja terlambat, sudah mulai makan rupanya" terdengar suara dari pak Doni yang kembali dari garasi


"Belum pak, saya baru mau memanggil pak Doni. Mari pak duduk disebelah sini" aku menarik satu kursi disebelah Damar


Sembari makan kami mengobrol mengenai hal-hal ringan dan umum yang terjadi di sekitar kami. Terdengar gelak tawa kami memenuhi rumah ini.


"Meja makan malam ini terasa lebih hidup dari hari-hari biasanya. Hatiku terasa hangat melihat pemandangan ini. Padahal hanya ada masakan rumahan biasa. Tidak kusangka mereka makan dengan lahap, entah karena tidak ada pilihan lain atau memang masakanku sesuai dengan selera mereka" gumamku dalam hati sambil memperhatikan sekelilingku


"Mantap sekali Bu Riri, besok-besok kalau Bu Riri masak lagi ajak-ajak saya numpang makan disini lagi ya! Tapi saya request sambal yang lebih pedas dari ini" seru Pak Doni


"Sudah dikasih makan gratis masih pake request segala" cibir Sugi


"Bu Riri saja nggak apa-apa ya kan Bu?"


"Iyah pak, terimakasih sudah ikut makan disini pak, walaupun seadanya" Ujarku sambil mengeluarkan semangkuk besar es buah dari dalam kulkas


"Wah segini sih bukan seadanya lagi bu" Jawab pak Doni


Damar dan Pak Doni membantu mengangkat piring kotor untuk dibawa ke wastafel. Sedangkan Sugi sibuk mengelap meja dan mengambil beberapa mangkok kecil dan sendok.


"Nanti piringnya saya yang bantu cuci ya Bu" ujar pak Doni lagi


"Hahaha Nah gitu baru benar" ujar Sugi sambil tertawa


Pak Doni nampak mencibir Sugi diam-diam, Damar tergelak melihat kelakuan dari pak Doni disebelahnya


"Nanti saya yang bantu pak Doni, tenang saja" Damar berkata sambil duduk menunggu Riri menuangkan es buah ke dalam mangkok kecil untuknya.

__ADS_1


Gelak tawa kembali terdengar di meja makan. Kali ini Sugi dan Damar menceritakan gegar budaya yang mereka alami serta kejahilan-kejahilan mereka ketika kuliah di luar negeri.


Malam semakin larut tapi obrolan seru mereka di meja makan nampaknya belum berakhir sama sekali. Di bawah meja makan, nampak Sugi menggenggam erat tangan Riri sepanjang mereka mengobrol. Sungguh malam yang luar biasa menyenangkan.


__ADS_2