Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Rencana di mulai


__ADS_3

Silvi cukup lama memandangi nama Tante Rita yang muncul di ponselnya. Ia merasa enggan untuk mengangkat telepon darinya, namun suara deringan yang terdengar berkali-kali membuatnya tak tahan dan berakhir menerima telepon tersebut


"Halo Tan, apa kabar?" Ujarnya berbasa-basi sambil menduga-duga maksud tante Rita yang tiba-tiba saja menghubunginya


"Silvi, tante kabar baik dong. cantikku apa kabar kamu? Kenapa sudah lama sekali tidak pernah menghubungi tante?"


"Ck! yah aku disini cukup sibuk. Ada apa ya Tan?" tanyanya dengan suara datar, ada nada keengganan yang sengaja ia tunjukkan pada Bu Rita


"Tante dengar bisnis konsultan interior designmu sedang bagus-bagusnya. Beberapa kali tante cek di website ternyata keren-keren ya?! Nah Tante ada properti baru, mau dong kerjasama sama kamu"


"Beneran nih Tan? Nggak apa-apa sama Sam? Tante kan tahu sendiri aku sempat ada masalah sama dia" sahutnya ketus


"Ahh Tante yakin itu hanya salah paham biasa. Asal kamu tahu, setelah kamu pergi tante marahin Sam habis loh. Mana mungkin sih kamu bisa melakukan hal sekejam itu, tante masih nggak percaya. Kamu kan dididiknya dikeluarga baik-baik, bedalah sama wanita itu, tante terus terang nggak sreg"


Silvi terlihat menyunggingkan senyuman, ia yang tadinya mondar-mandir akhirnya duduk dengan tenang


"Mmmm... Hubungan Sam sama wanita itu kabarnya bagaimana tan? Sedang serius ya?"


"Halah!! terserah dia mau serius atau nggak, Tante pokoknya tetap nggak setuju"


"Kenapa Tan?" tanyanya penasaran


"Yah kamu pikirlah wanita nggak jelas begitu kok tetap dipertahankan. Mana tante katanya sekarang dia sedang kena musibah loh Silvi. Dia ditusuk preman, kena perutnya sebelah kanan. Kata dokter itu mengenai rahimnya. Haduh bagian itu kan penting sekali untuk masa depan"


Senyum terlihat Silvi semakin lebar dengan mata berbinar ia melanjutkan rasa penasarannya


"Yang benar Tante? Kok bisa?"


"Serius, entah dia bergaul dengan level mana kok malah di bidik preman. Tante khawatir sekali kalau Sam jadi menikah dengannya apa bisa memberikan keturunan yang baik? Apalagi rahimnya malah koyak begitu, aduh ngeri sekali"


"Silvi kapan kamu pulang kemari? Tante jamin deh Sam nggak akan berani mengusik kepulanganmu. Kita buat strategi baru untuk mendekatkan kembali hubungan kalian, tenang saja Tante yang bertanggung jawab"


"Tapi aku takut tan"


"Nggak usah takut, punya kuasa apa dia melarang kedatanganmu? Tante pasang badan buat kamu"


"Benar Tan?"


"Benar. Nanti kapan kamu kembali kabari Tante secepatnya. Properti Tante juga tidak bisa menunggu lama untuk di renovasi"


"Baik Tan, aku pikir dulu yah. Nanti aku kabari lagi"


"Ok sayang, Tante tunggu yah kabarmu"


"Iyah Tan"


Bu Rita memutuskan pembicaraan mereka


Silvi mendekap erat ponselnya didada, sejenak ia melemparkan ponsel itu ke ranjang di sebelah tempat duduknya. Ia kemudian tertawa-tawa kegirangan sambil menari mengelilingi kamarnya seperti orang yang tidak waras

__ADS_1


Tanpa pikir panjang ia pun menghubungi asisten pribadinya untuk mempersiapkan penerbangan untuk keesokan harinya


"Gimana?" tanya Sugi yang ternyata sedari tadi duduk dengan tenang dekat Bu Rita


"Ah kamu nggak sabaran banget. Awalnya tadi dia pasti kesal dan curiga tapi ibu yakin sebentar lagi dia akan menghubungi kita"


"Aku harap juga begitu, ya sudah Bu aku mau kembali ke kantor. Nanti kabari aku kalau dia sudah memberi jawabannya"


"Iyah ibu pasti kabari" Bu Rita mengelus punggung Sugi ketika ia berdiri hendak beranjak dari sana


Sepeninggalan Sugi, ponsel Bu Rita bergetar. Silvi mengirimkan pesan padanya


"Tante, aku berangkat besok penerbangan pertama. Aku mau tante yang menjemputku setelah aku sampai"


Bu Rita membaca pesan itu dengan wajah datar, segera ia menjawab pesan tersebut


"Ok sayang, Kirimkan saja jadwal penerbanganmu ❤️"


Bu Rita juga langsung mengabarkan hal ini pada Sugi melalui aplikasi akun private yang dimiliki olehnya dan Sugi


Sementara itu dalam mobilnya Sugi sedang membaca pesan dari ibunya


"Pak Doni, besok Silvi akan terbang kemari"


"Sudah mulai ya pak?" Pak Doni melihat dari arah spion atas


"Iya, sekarang kita kembali ke kantor saja pak"


Riri saat ini sedang melakukan rapat kecil dengan Lisa. Mereka membahas beberapa hal menyangkut pengiriman barang yang beberapa kali terlambat Minggu ini termasuk kebijakan pemerintah yang baru saja berubah mengenai ekspor barang kerajinan


"Untuk pengiriman furniture jati seminggu lagi sudah sampai mana Lisa?"


"Kata mereka sudah di tahap finishing Bu, nanti siang saya akan tanyakan kembali"


"Ok, kalau begitu cukup ya hari ini. Kalau ada kendala baru kabari pada saya secepatnya" Riri berdiri dari sofa


"Baik Bu" jawab Lisa ikut berdiri untuk kembali ke mejanya


"Lisa, saya kesebelah dulu ya"


"Baik Bu" katanya sambil mengangguk


Riri bergegas keluar dari kantor menuju warung disebelah


Terdengar musik keroncong mengalun lembut, Ia melangkah masuk sambil melihat beberapa pelanggan sedang menunggu pesanan mereka di meja masing-masing


"Selamat pagi Bu Riri" sapa Angga, seorang barista yang ia pekerjakan di warungnya


"Selamat pagi Angga" jawab Riri sambil memperhatikan pelanggan yang datang. Ia kemudian masuk kedalam dapur.

__ADS_1


"Selamat pagi Bu Riri" sapa staf yang ada didalam termasuk Rista dan Weni dua orang pramusaji yang sedang bertugas pagi ini


"Selamat Pagi semua" jawabnya bersemangat


"Rista, itu bukannya bapak yang beberapa hari ini selalu kemari ya untuk sarapan?" Dibalik partisi Riri menunjuk seorang pelanggan laki-laki berusia lanjut yang sedang duduk dimeja nomor dua. Orang tersebut nampak sedang menyantap makanannya dengan tenang


"Iyah Bu, kalau saya tidak salah sudah seminggu berturut-turut orangnya sarapan disini. Dan menunya selalu sama"


"Apa yang dia pesan?"


"Bubur ayam sama teh jahe Bu"


"Saya minta tolong bungkuskan satu gelas teh jahe hangat untuk dibawa pulang. Berikan pada saya"


"Baik Bu saya buatkan sekarang"


"Terimakasih Rista"


"Sama-sama Bu" Rista nampak bergegas memproses pesanan Riri


Riri kemudian keluar dari dapur menuju meja nomor dua tersebut


"Selamat pagi pak, maaf apa saya boleh menganggu waktu bapak sebentar" tanyaku padanya


Ia menoleh "kamu siapa? ada perlu apa?" tanyanya dengan wajah datar


"Perkenalkan saya Riri pak, pemilik warung ini. Saya perhatikan bapak hampir setiap hari kemari. Dan hal tersebut menggembirakan untuk saya yang baru mencoba di bisnis ini. Saya hanya penasaran dengan pendapat bapak mengenai bubur yang bapak pesan ini" kataku dengan penuh senyum. Berharap kita dapat mengobrol sebentar.


Ia menatapku beberapa saat


"Enak, kalau tidak enak saya tidak akan datang setiap hari kemari" jawabnya singkat lalu menyantap buburnya kembali


"Oh iya pak ini saya bungkuskan satu gelas teh jahe hangat untuk diperjalanan pulang nanti, bapak tidak usah khawatir ini dari saya sebagai ucapan terimakasih karena sudah menjadi pelanggan setia kami"


Aku meletakkan bungkusan tersebut di depannya


Ia hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun


"Bapak ini kaku banget sih?!. Ya sudah, yang penting kan dia mau datang lagi setiap hari Riri" gumamku dalam hati


"Baik psk, selamat menikmati sarapan anda. Saya permisi dulu" ujarku lalu perlahan berlalu dari hadapannya


Aku kembali masuk ke dalam Dapur


"Gimana Bu?" tanya Rista saat melihat wajah Riri yang kecewa


"Orangnya rada kaku, seperti tidak suka diganggu. Layani beliau dengan baik ya Rista"


"Baik Bu"

__ADS_1


Aku kembali memeriksa persiapan untuk makan siang nanti di dapur. Saat semua kulihat sudah berjalan dengan baik aku kembali ke depan. Bapak tersebut rupanya sudah tidak nampak lagi dimejanya.


"Setidaknya ia tidak menolak pemberianku" gumamnya lagi sambil menghela napas


__ADS_2