
"Pak Doni apa kabar?" Tanyaku pada pak Doni yang sedang berkonsentrasi menyetir
"Saya baik bu, bapak tuh yang kabarnya nggak baik hahahaha" ia tergelak
"Kenapa gitu?"
"Biasa Bu, Uring-uringan karena kelamaan ditinggal Bu Riri hahahaha" ia kembali tergelak
Aku jadi ikut merasa geli dengan ucapannya "Hahahaha oh ya?! segitunya pak?"
"Bu Riri nggak tahu sih gimana kacaunya mood bapak selama dua Minggu ini. Semuanya jadi serba salah. Beliau kesannya seperti pemuda terlantar yang tuna asmara Bu hahahaha" pak Doni terbahak-bahak dengan ucapannya sendiri
"Hahahaha pak Doni bisa saja"
Setelah tawanya mereda dia pun lanjut berbicara
"Tapi saya salut sama bapak, beliau mau lebih bersabar demi tidak menggangu Bu Riri bekerja"
Mendengar itu, Riri teringat pembicaraannya dengan Gia kemarin. Apa yang dikatakan Gia terbukti benar.
"Urusan pekerjaan bapak semua lancar kan pak?!" Tanyaku khawatir
"Lancar kok bu, sebenarnya waktu Bu Riri sibuk, kebetulan dua Minggu terakhir jadwal bapak juga padat sekali. Dan sepertinya jam tidur bapak juga kembali berantakan seperti dulu"
Pak Doni sesekali melirik ke spion atas.
Aku jadi menghela napas mendengarnya
"Ok pak Doni, nanti coba saya atur jadwal kembali. Paling tidak mestinya saya sudah bisa kembali seminggu sekali untuk menengok warung, dan kantor sekalian bertemu bapak"
"Jaga kesehatan Bu Riri juga ya, saya dengar laporan dari pak Yuda katanya Ibu bekerja sampai larut malam. Kalau Bu Riri sakit, saya takut bapak akan marah besar dan mengambil alih apa yang sudah ibu usahakan selama ini"
"Iya pak terimakasih atas perhatiannya, semalam juga bapak mengatakan hal yang sama pada saya. Hehehehe padahal kalau memang kondisi badan sedang tidak fit apapun kegiatannya kemungkinan akan jatuh sakit jadi lebih besar"
"Bu Riri kan tahu bapak gimana?!" Suara pak Doni terdengar khawatir
"Iyah pak saya tahu"
Riri kembali mengingat pembicaraannya dengan Gia kemarin. Ada debar aneh berdesir di dalam dadanya.
"Bu, kita sekarang menuju ke lokasi acara di Hotel Cakrawala. Tapi nanti saya lebih dulu akan mengantarkan ibu ke Villa Seaview di belakang, pak Sugi sudah menunggu disana" Ujar pak Doni yang membuat debaran jantungnya semakin berdetak kencang
"Iyah pak" jawabnya singkat
Seingatnya sewaktu bekerja di Wijaya Grup, hotel Cakrawala memang memiliki sejumlah villa cantik dengan pemandangan laut di bagian belakang hotelnya. Dan menurut laporan penjualan, Villa-villa tersebut lebih banyak di pilih oleh pasangan muda untuk berbulan madu.
Riri mencoba menghalau pikiran itu dalam benaknya, namun gagal. Wajahnya tiba-tiba saja menghangat ketika ia teringat kembali kenangan-kenangan hangat yang pernah terjadi diantara mereka berdua. Ia memalingkan wajahnya ke arah jalan raya, agar pak Doni tidak bisa melihat mukanya yang bersemu merah.
Kami telah memasuki kawasan hotel Cakrawala. Setelah melewati pos penjagaan di pintu gerbang pertama, mobil melaju agak ke dalam mencari tempat parkir.
Ketika kami turun sebuah kendaraan buggy telah disiapkan untuk kami.
"Selamat datang di Hotel Cakrawala, Silahkan lewat sini bu" seorang staf menyapaku sambil mempersilakan aku untuk naik
"Terimakasih" jawabku sambil naik ke atas buggy dibantu oleh pak Doni yang ikut serta lalu duduk disebelahku. Kendaraan buggy inu melaju dengan cepat menuju ke villa Seaview yang jaraknya lumayan jauh di belakang.
Setelah sampai kami pun turun dan langsung masuk ke salah satu villa bergaya minimalis. Dari pintu masuk kami sudah di suguhi infinity pool yang luar biasa indah pada bagian sisi yang menampilkan pemandangan laut di depannya. Warna biru langit dan laut mendominasi pemandangan ini. Sungguh pemandangan yang menenangkan dan memanjakan mata.
"Pantas saja villa ini laris di booking oleh pasangan muda" gumamku dalam hati
"DHEG!!" Jantungku kembali berdetak kencang
"Ok tenang Riri, tidak akan ada hal seperti itu yang terjadi hari ini" aku mencoba menenangkan pikiranku
"Bapak ada di dalam sana bu" ujar pak Doni sambil menunjuk ke arah kamar
__ADS_1
"Nanti saya akan menjemput ibu kembali" lanjutnya dengan senyuman lebar
"Pak Doni mau kemana? Nggak ikut masuk?!" tanyaku berbasa-basi
Ia menutup bibir dengan satu tangan untuk menahan tawanya "Hehehehe, masa saya ikut masuk bu. Yang ada bapak pasti emosi jiwa melihat wajah saya. Sudah Bu... kalau kita kelamaan ngobrol nanti yang di dalam sewot sama saya"
"Hahahaha ya deh pak, terimakasih ya"
"Sama-sama Bu, saya pergi dulu"
"Ok pak"
Kulihat pak Doni melangkah dengan tergesa menjauhi tempat ini
Aku pun bergegas masuk ke dalam ruangan yang ditujukan oleh pak Doni tadi.
Ketika aku masuk kulihat Sugi sedang duduk di sebuah sofa panjang berwarna merah marun. Kedua tangannya terbuka diatas sandaran sofa dengan kaki menyilang sedang tersenyum ke arahku.
Rindu yang kurasakan selama ini tiba-tiba saja membuncah kala melihat wajahnya, tanpa pakir panjang aku berlari kearahnya. Ku lihat ia berdiri bersiap untuk menangkap tubuhku.
"Bug!" Aku melompat ke dalam pelukannya, ia memelukku dengan erat. Tak kusangka aku bisa serindu ini padanya. Ku biarkan tubuhku berlama-lama berada dalam rengkuhannya yang hangat. Entah kemana hilangnya rasa khawatir yang membuatku gelisah sepanjang perjalanan tadi. Yang aku rasakan sekarang hanya rasa cinta dan rindu yang meluap untuk laki-laki yang paling aku cintai ini.
"Akhirnya kita bertemu, sayang. I miss you so bad" bisiknya ditelingaku
Ia mengecup rambut dan tengkukku
"Coba kulihat dulu pacarku yang cantik ini" katanya sambil meregangkan pelukannya
Mata kami bertemu, ia menelisik detail wajah dan tubuhku.
"You look gorgeous as ever baby..." ia tersenyum
Wajahku terasa menghangat saat mendengar ucapannya.
"Hahahaha... Lihat wajahmu sayang, jadi bersemu merah begini" ia tergelak
"Sini..." ujarnya sambil menggandeng tanganku agar mengikutinya untuk duduk di atas sofa
"Sayang, mau minum apa?" tanyanya sambil mengelus kepalaku yang sekarang rebah di dadanya
"Apa saja boleh"
"Sebentar ya" ia perlahan bangkit dari duduknya, aku pun ikut menyesuaikan posisi duduk.
Sejenak ia telah kembali membawa dua buah gelas kristal dengan sebotol sampanye ditangannya.
Ia menuangkan isinya kedalam salah satu gelas dan memberikannya padaku
"Terimakasih" ujarku tanpa ragu
"Tadi ngobrol apa sama pak Doni diluar sebelum masuk kemari?"
Aku menoleh kearah kaca besar yang berwarna gelap di depan, aku baru menyadari kalau kita bisa melihat keluar dengan leluasa dari sini dan itu tidak berlaku sebaliknya
"Mmm...hanya basa basi biasa"
"Terus kenapa pak tua itu sampai tertawa menutup mulutnya?"
"Hehehehe aku berbasa-basi mengajaknya ikut masuk kemari" aku terkekeh
"CK!" Ia melirikku tajam
"Mmmm...Terus terang aku merasa deg-degan masuk kemari untuk bertemu denganmu. Rasanya seperti mengulang masa-masa saat kita baru bertemu dulu"
Ia tersenyum "Artinya kamu mengakui kalau kamu sudah menyukaiku sedari awal kita bertemu, benar kan?"
__ADS_1
Aku memalingkan wajah karena merasa malu mendengarnya
"Hahahaha tuh merah lagi mukanya" ia tergelak lantas menarik pinggangku agar duduk dipangkuannya
"Kiss me!" Ujarnya sambil menengadahkan wajahnya menunggu reaksiku
Aku merundukkan wajahku perlahan, bibir kami bertemu. Kami pun larut dalam hasrat yang menggebu, menikmati gelombang asmara yang mulai meletup-letup. Aku merasa semakin tak berdaya menghadapi cumb*annya.
Tiba-tiba aku teringat dengan gaun berbahan sutra satin yang aku kenakan. Terburu-buru aku melepaskan ciumannya
Ia menatapku bingung seperti bertanya "ada apa?"
"Sayanghhh hati-hati, jangan sampai gaunku jadi kusut. Aku hanya bawa inihh" ujarku sambil terengah-engah
"Oh ya?!" Ia mengigit bibirnya lalu tersenyum
Tanpa aku sadari tangannya dengan cepat menarik turun resleting gaunku yang ada pada bagian punggung. Bagian atas gaun tersebut nampak meluncur bebas dan turun melewati pundak dan lenganku.
"Hei, kenapa dibuka!" Ujarku sedikit panik
"Katanya biar nggak kusut"
"Bukan itu maksudku"
"Terus?" Ia menatapku sambil menahan tawa
"Aaaaa tarik lagi resletingnya"
"Kebawah lagi?? Ok!...hahahaha" ia nampak tergelak
"CK!"
"Di buka dulu ya sayang, nanti aku suruh staf disini biar dirapikan ulang"
"Terus aku pake apa?"
"Nggak usah pake apa-apa, aku lebih suka melihatmu polos begini hahahaha" lagi-lagi ia tergelak
"Tapi....kita nggak ... Itu kan?"
"Itu apa?... Hahahaha Nggak sayang. Tenang" katanya dengan lembut.
Dengan perlahan ia membantuku melepaskan gaun yang aku kenakan tadi. Ia pun berjongkok untuk membantu melepaskan sepatuku.
Kurasakan tangannya perlahan mengelus betis dan pahaku yang sontak membuatku mengejang. Tanpa sadar aku meraih rambutnya lalu menjambaknya pelan.
"Janganhhh..." Ucapanku terdengar lirih
Bukannya berhenti ia malah menciumi betis dan pahaku dengan rakus. Kemudian berdiri dan tiba-tiba membopongku ke arah tempat tidur.
"Hei!!!..." Aku berniat untuk berteriak namun suara yang keluar justru pekikan tertahan ku tatap lekat wajahnya
Ia kemudian menyadari pandangan mataku yang penuh keraguan saat meletakkan tubuhku diatas ranjang
"Sudah kubilang, kita tidak akan melakukannya sekarang. Mukanya jangan tegang gitu. Senyum dong" ia berkata dengan lembut sambil mencolek hidungku dengan gemas
Aku mengangguk sambil tersenyum
"Nah gitu, kan cantik. Aku benar-benar butuh beristirahat, temani aku tidur sebentar ya?!"
"Ok..." Belum selesai aku bicara ia sudah merebahkan tubuhnya lalu memelukku dengan erat. Ia menggesek-gesekkan dagunya di pucuk kepalaku sambil sesekali mengelus rambutku.
Beberapa saat kemudian napasnya terdengar teratur, ia benar-benar tidur dengan lelap.
"Ya ampun dia benar-benar kurang tidur persis seperti yang di katakan oleh pak Doni. Sepertinya aku tidak bisa beranjak dari sini. Ok, aku akan ikut tidur bersamanya" gumamku dalam hati
__ADS_1
Aku pun memutuskan untuk ikut beristirahat dalam pelukannya.