
Hadi tersenyum lega saat jarum suntik itu berhasil ia tancapkan pada paha Riri. Seluruh obat dalam spuit yang ia pegang berhasil masuk ke tubuh Riri dengan sempurna. Kemudian ia mengibaskan tangan kanannya, menyuruh semua bawahan yang sedang memegangi Riri untuk keluar dari kamar ini.
Riri nampak ketakutan, air mata menetes di pipinya "brengs*k!! Apa yang sudah kau suntikkan ketubuhku?!!! *nj*ng!!! Hadi Kurang ajar!!! Orang gilaaa!!! Aku sumpahi kau menderita seumur hidupmu b*ngs*t!!! Maki Riri sambil terisak
Hadi tertawa girang "hahahaha sabar tunggu beberapa menit lagi, kau akan tahu Riri sayangku".
Dengan penuh nafs* tangannya mulai mengelus paha Riri. Riri berusaha berontak walaupun ia tahu usahanya sia-sia. Kedua kaki dan tangannya masih terikat dengan erat.
Hadi menelan ludahnya saat tangannya berhasil mengelus bagian dalam paha Riri, Hadi seperti kehilangan kesabaran.
"Cuih!!!" Riri meludahi wajah Hadi
"Hentikan!!! Lepaskan tanganmu yang kotor itu dari tubuhku!!! Ini menjijikan!!!" Riri berteriak histeris
Hadi mengusap air liur yang menempel pada wajahnya sambil tersenyum "ludahi aku sepuasmu. Nanti akan aku balas sepuas hatiku"
Hadi berdiri dan mulai membuka kancing kemejanya sendiri satu persatu. Ia lalu menanggalkan kemejanya diatas tempat tidur. Kemudian ia mengubah suhu AC menjadi lebih dingin. Tangannya mengambil bir dingin dari kulkas kecil yang berada di sebelah ranjang ini.
Mata Riri nanar melihat pemandangan menjijikkan ini didepan matanya.
"Riri mau minum? Masa belum haus? Sebentar lagi pasti minta minum. Tenang saja nanti aku suapi" Hadi berkata sambil menenggak bir dingin di tangannya.
Beberapa menit berlalu aku mulai bisa merasakan darahku mengalir deras, detak jantungku berdebar lebih kencang. Aku merasa kepanasan, keringat menetes dari semua pori-pori ditubuhku
Napasku kemudian rasanya seperti tercekat, aku mencoba menarik napas yang panjang tapi yang ada aku malah terengah-engah. Pandanganku sedikit berkabut, aku merasa seperti mulai kehilangan kendali atas diriku.
__ADS_1
"Gimana haus nggak?" Tanya Hadi mendekatiku, sadar kalau obat yang ia suntikkan sudah mulai bereaksi pada tubuh Riri.
Hadi mendekatkan mulut botol bir yang ia pegang ke bibirku, ia sedikit mendongakkan kepalaku. Aku bisa merasakan seteguk bir meluncur bebas masuk ke tenggorokanku.
"Sial, aku menjadi lemah seperti ini" Aku sama sekali tidak bisa mengendalikan gerakanku saat ini. Semua rasanya bergerak lambat seperti ada di alam mimpi.
Aku merasakan tangan Hadi melepaskan ikatan kakiku. Lalu dia juga melepaskan sepatu dan kaos kakiku. Bisa kurasakan bibirnya mulai mengecup kaki dan menjil*ti jari kakiku dengan rakus. Aku bergidik ngeri dan berniat menarik kakiku, tapi apa daya kaki ini hanya bisa kugerakkan perlahan. Malah terlihat seperti aku menyodorkan kakiku kearahnya.
Aku berteriak memakinya dengan semua isi kebun binatang yang aku tahu, tapi suara yang terdengar hanya berupa teriakan-teriakan kecil seperti meracau keluar dari mulutku.
Gerakan Hadi terhenti dan dia kembali tertawa "hahahaha jangan memaksakan diri, nikmati saja Riri. Aku akan membuatmu puas dan bahagia. Bisa jadi setelah ini kau yang akan memohon padaku untuk dipuaskan lagi hahaha"
Tangannya mulai membuka kancing kemejaku. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku mencoba menghalau tangannya berulang kali. Jantungku semakin menderu, aku semakin terengah-engah.
"Aku suka dengan perlawanan seperti ini, membuatku semakin bergair*h Riri"
"Ayah, Ibu, kakak apa yang harus aku lakukan?, Apakah hidupku akan berakhir suram seperti ini?? Aku pasti akan menyusul kalian nanti kalau ini benar-benar sampai terjadi" aku terisak dalam ketakutan
Tangan Hadi mulai meraba-raba dan mengelus setiap jengkal tubuhku yang saat ini hanya terbungkus pakaian dalam. Tiap sentuhannya membuat aku merinding, diantara jijik dan keinginan untuk menuntaskan hasrat yang tiba-tiba saja muncul.
Aku masih mencoba meronta, tangisku semakin kencang saat dia mulai menciumi bagian-bagian tubuhku yang sensitif. Rintihan kecil yang tidak bisa kutahan meluncur dari mulutku
"Ahhhh!!. Shh!!." Aku menggigit bibirku menahan gejolak yang sama sekali tidak aku inginkan.
Hadi menghentikan ciumannya dan tertawa geli "hehehe tuh kan sudah kubilang ini akan menyenangkan. Tubuhmu tidak bisa kamu bohongi Riri. Kamu menyukai sentuhanku"
__ADS_1
"BRAKK!!! PROK!! DEG!! GUBRAKK!!"
Suara gaduh terdengar dari luar kamar, Hadi terdiam dan berkonsentrasi pada apa yang terjadi diluar .
Dengan wajah kesal ia berdiri, menuju pintu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Belum sempat ia memutar gagang, seseorang menendang keras pintu tersebut hingga terbuka.
Sebuah pukulan dan tendangan telak di layangkan padanya. Kemudian pukulan lanjutan bertubi-tubi mengenai wajah dan tubuhnya tanpa ia sempat melawan. Sehingga ia jatuh tersungkur berdarah-darah tak berkutik.
Aku mendengar samar-samar kegaduhan yang terjadi. Sebuah suara seperti suara pak Doni terdengar jelas "Bawa Riri keluar pak, saya dan yang lain akan membereskan sisanya"
Seseorang memakai topi kupluk berwarna hitam mendekatiku. Aku sendiri tidak yakin dia siapa, karena seluruh wajahnya tertutup topi. Dengan hati-hati dia membungkus tubuhku dengan selimut dan menggendongku keluar. Aku diletakkan di jok belakang sebuah mobil. Lalu dia pergi sejenak dan kembali lagi membawa pakaian dan tas ranselku. Kali ini ia ikut masuk kedalam mobil, tangannya mengangkat badanku untuk rebah dalam pelukannya.
Di depan rumah, Pak Doni terlihat sedang menelanj*ngi Hadi dan mengikatnya pada sebuah pohon yang dipenuh dengan semut merah. Semua anak buahnya yang sudah babak belur diikat satu sama lain, agar mereka kesusahan bergerak.
Pak Doni kemudian berbisik di telinga Hadi yang sedang setengah sadar "Jangan pernah lagi mengganggu Mentari. Kalau sampai kamu dan orang -orang bodohmu ini muncul lagi dihadapan Mentari, saya akan membunuhmu tanpa ragu"
Pak Doni juga sempat mengirimkan pesan pada pak Brata dengan menggunakan ponsel Hadi
"Selamat siang, silahkan anda datang kerumah putra Anda yang baru. Dia sedang membuat anda Bangga hari ini" disertai dengan foto telanj*ng Hadi yang terikat pada sebuah pohon.
Pak Doni lalu memerintahkan semua anak buahnya untuk pergi dari sana. Sepeda motor Sugi dibawa oleh salah satu anak buahnya. Pak Doni kemudian masuk ke belakang stir mobil Sugi.
"Sudah beres semua pak" ujarnya sambil menghidupkan mesin mobil dan pergi dari tempat itu.
"Apa ada yang melihat kita?" Tangan Sugi melepaskan topi kupluk hitamnya.
__ADS_1
"Sepertinya tidak ada pak, semua CCTV sudah kita hancurkan sebelum masuk. Lagipula wajah kita tertutup begini, saya yakin aman" jawab Pak Doni sambil menyetir. Tangannya ikut melepaskan topi kupluk yang sedari tadi cukup mengganggunya.