Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Salah sangka


__ADS_3

Aku terbangun sekitar pukul 08.00 hari ini dengan mata sepat, badan pegal dan kepala yang agak pusing. Di sebelahku ada Sugi yang masih tidur nyenyak meringkuk di bawah selimutnya dengan nyaman. Di sampingnya Damar juga masih lelap dengan posisi badan terlentang seperti ikan paus terdampar. Sedangkan Dion dan pak Doni juga nampak masih tidur dengan lelap di sisi yang berlawanan dengan kami. Ini adalah pemandangan yang langka dan unik pagi ini, aku ingin segera mengabadikan momen ini melalui kamera ponselku karena merasa hal ini mungkin tidak akan terjadi lagi di masa depan.


Dengan berhati-hati aku pun bangkit dan berjingkat mengambil beberapa foto mereka. Kemudian segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Semalam pesta barbeque yang kami lakukan benar-benar seru, mungkin ini yang paling seru di sepanjang pesta yang pernah aku dan Damar lakukan disepanjang hidup kami. Gia pun sebenarnya turut hadir semalam, namun ia harus pulang lebih awal diantar Damar karena harus menghadiri acara keluarga pagi ini. Aku pun mulai mengingat-ingat beberapa keseruan yang kami lakukan semalam di pinggiran kolam renang.


Saat menggosok gigi aku tiba-tiba teringat betapa kacaunya keadaan di belakang


"Astaga aku baru ingat semalam belum sempat membereskan semuanya. Belum lagi mereka sempat berenang dan melakukan permainan konyol dengan kondisi semua orang belepotan penuh remah makanan" gumamku dengan perasaan panik. Dengan bergegas aku membersihkan diri dan mengganti pakaian, lalu turun berniat untuk memulai bersih-bersih.


Mataku terbelalak saat melihat pemandangan belakang rumah yang benar-benar kacau seperti kapal pecah melebihi ingatanku semalam.


"Oh Sh*ttt!!! Umpatku sembari berlari kecil mengambil satu kantung plastik sampah besar berwarna hitam dari dapur. Aku mulai memunguti sampah yang berserakan. Suara berkelontang dari kaleng bir, minuman ringan serta beberapa botol wine beradu dalam kantung sampah menimbulkan keributan yang cukup mengganggu.


Rupanya kesibukanku ini membangunkan semua orang termasuk pak Doi. Ia terduduk sejenak menstabilkan dirinya lalu bangun untuk menghampiri Riri.


"Pagi bu" sapa pak Doni ia mengusap-usap wajahnya yang acak-acakan, matanya masih terlihat agak merah seperti bukan pak Doni yang aku kenal selama ini.


Aku menoleh sekilas "Pagi pak. Bapak boleh pakai kamar mandi yang mana saja. Handuknya ada di kamar mandi, bisa pilih salah satu disana" ujarku tanpa melihat kearahnya


"Iyah Bu, tunggu ya nanti saya bantu" ujarnya lalu berlari menuju kamar mandi. Tak lama satu persatu muncul dan ikut membantu Riri


Damar menghampiri Riri dan berbisik "Tari, tolong buatkan kopi untuk semua. Aku dan yang lain akan lanjut membereskan ini"


"Ok, eh kak jam 10 aku sudah harus kembali ke Villa. Mau ikut nggak?"


"Boleh tapi kenapa buru-buru? Ini kan hari Minggu" tanya Damar


"Bu Rita dan teman-temannya menginap di sana, siang ini check out. Aku harus menemuinya sebentar, tidak enak rasanya kalau berpura-pura tidak tahu. Padahal kan aku ownernya"


"Ohhh begitu, ok aku ikut"


Sugi yang sejak tadi memperhatikan mereka ikut mendekat "Ikut kemana?" tanyanya


"Kembali ke Villa, Ibumu dan teman-temannya kan menginap disana. Aku mau menyapanya sebentar sebelum beliau check out. Tadinya aku berpikir untuk membiarkan saja, tapi kok rasanya nggak baik begitu ya?"


"Yah senyamanmu saja sayang. Kalau itu menurutmu lebih baik ya lakukan saja"


"Kamu mau ikut?"


"Aku menyusul saja, usai ibuku check out. Aku malas bertemu dengan teman-temannya" ia mengernyitkan dahinya


"Hahaha baiklah" aku pun berlalu dari hadapannya


"Aku boleh ikut nggak?" Dion ternyata menguping pembicaraan kami


"Boleh!" "Nggak!" Ujar Damar dan Sugi bersamaan


"Aku mau tanya ke Riri ah" ia berlari terbirit-birit menyusul Riri


"Hei..!!" Sugi berteriak


"Biar aja Dion ikut, kasihan kalau ditinggal sendiri disini. Pergaulan dia sebelumnya sangat mengerikan, aku takut dia kembali pada mereka"


"Kenapa kamu peduli?"


"Karena aku sudah mengganggap dia bagian dari keluargaku Sam"


"CK!"


"Ayolah!!! Sejak kapan pikiranmu jadi sesempit ini? Cemburu pada seseorang yang levelnya jauh dibawahmu, Sam. Adikku juga bukan wanita sembarangan kan?! Rileks!!" Damar menepuk bahu Sugi dan kembali melanjutkan pekerjaannya


Sugi hanya mengangguk pelan


Siang ini di Villa Lembayung, Bu Rita baru saja selesai melakukan perawatan pijat seluruh tubuh selama satu setengah jam. Sembari duduk di salah satu kursi berbahan kayu, ia memandangi hamparan sungai yang nampak terbentang luas dari tempatnya duduk di lantai dua. Ia terlihat sangat menikmati wedang jahe yang diberikan oleh seorang staf sebagai suguhan terakhir dari paket yang ia pilih.


"Jeng Rita, aduh menyenangkan sekali ya disini. Saya hampir lupa kalau hari ini, hari terakhir kita disini" ujar Bu Mike salah satu anggota arisan menghampirinya. Ia pun ikut duduk disebelahnya

__ADS_1


Bu Rita tersenyum "Iyah tempat ini sangat menyenangkan jeng"


"Villa ini milik pak Gilang kan? Setahu saya begitu"


"Saya dengar sudah di beli orang lain. Entah siapa, saya juga jadi penasaran"


"Oh begitu. Entah kenapa, disini saya merasa kalau saya sedang pulang kerumah yang nyaman hahahaha" ia terkekeh sambil menutup mulutnya


"Hahaha iya jeng sama" jawab Bu Rita


Ponselnya berbunyi diatas meja, ada nama Silvi yang muncul di layar ponselnya


"Iyah Silvi"


"Tan, maaf aku pulang duluan ya. Aku agak demam dari semalam"


"Loh Silvi kenapa nggak bilang? Kan Tante bisa suruh staf disini menghubungi dokter terdekat"


"Semalam aku sudah sempat minum obat, udah enakan. Eh pagi ini malah panas lagi, ya sudah aku memutuskan pulang. Tadi aku mau info, tapi katanya Tante lagi di massage"


"Iyah baru aja selesai. Ya sudah kamu istirahat dulu, minum air putih yang banyak. Bila perlu cek ke dokter, takutnya nanti kalau didiamkan tambah parah "


"Iyah Tan, terimakasih aku baik-baik aja kok. Oh Iyah terimakasih liburannya ya Tan"


"Iyah Silvi sama-sama"


"Ya deh ten, aku mau istirahat dulu"


"Ok"


Bu Rita meletakkan ponselnya diatas meja, ia seperti sedang memikirkan sesuatu


"Jeng , ada apa?" tanya Bu Mike dengan wajah khawatir


"Oh ini, Silvi katanya dari semalam demam. Tadi pagi dia pulang lebih dulu"


Bu Rita hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Mike.


Bu Mike adalah salah satu dari sekian teman ceplas-ceplos yang di miliki oleh Bu Rita. Komentarnya selalu jujur, walaupun terkadang disaat yang tidak tepat. Sehingga orang-orang banyak yang tidak suka dengan gaya bicaranya yang terlalu berterus-terang.


Silvi nampak sedang mengetik pesan untuk Hadi. Ia baru saja sampai di apartemennya. Sebenarnya hari ini ia merasa jauh lebih baik dari kemarin, ia pulang lebih dahulu karena menghindari bertemu dengan Riri.


Siang kemarin ia sempat berbincang dengan salah satu staf restauran. Dari sanalah ia mengetahui pasti siapa pemilik dari villa Lembayung. Dari pembicaraan itu ia juga mendapatkan beberapa informasi penting termasuk hari ini Riri akan kembali ke sana setelah menyelesaikan suatu urusan.


"Kamu jangan gegabah datang ke villa Lembayung. Aku punya rencana baru untuk kita berdua"


Ia mengirimkan pesan tersebut sambil tersenyum sinis


Riri nampak kembali tertidur lelap di jok belakang dalam perjalanan kembali ke Villa. Beruntung kali ini ada Damar yang bersedia menyetir ditemani oleh Dion di sebelahnya. Ia terbangun saat mereka hampir tiba disana.


"Udah mau sampai ya?" tanyaku dengan suara parau. Aku merapikan kembali baju dan rambutku.


"Kira-kira lima belas menit lagi" jawab Damar sambil memperhatikan aplikasi peta di ponselnya yang tergantung pada dasbor mobil.


Dion menoleh ke belakang dengan wajah penuh senyum "Kalau masih ngantuk, tidur aja lagi. Nanti aku yang bangunin"


"Nggak ah, jangan sampai staf melihatku dengan muka bantal begini"


"Muka bantal apa? Masih cantik kok!" jawabnya santai


"Ehm!! Hahahaha.." Damar tergelak


"Apa sih kak?!!" Aku menarik sedikit ujung rambut di atas tengkuknya


"Ishhh!! Sakit Tari"

__ADS_1


"Biarin!!"


Dion hanya tertawa melihat kelakuan dua bersaudara ini


"Kok undangan soft launchingnya nggak sampai di aku sih?" tanya Dion kemudian


"Aku tidak mau mengganggumu Dion dan aku juga tidak mengundang banyak orang, hanya acara kecil-kecilan"


"Nggak ganggu kok. Kalau kamu yang mengundang aku pasti datang"


"Maaf ya, lain kali aku akan mengingatnya"


"Basa-basi banget sih hahaha... Tenang Dion, setiap acara apapun aku pasti informasikan. Kan mulai sekarang aku tinggal di sini lagi" kata Damar antusias


"Oh iya, artinya mulai sekarang aku punya kerabat lain yang bisa aku kunjungi setiap kali kembali"


"Kan sudah aku bilang Dion, jangan sungkan padaku. Bahkan pada Tari, asal kamu tidak macam-macam"


"Hahahaha Iyah kak" Dion tergelak


Aku tiba-tiba teringat akan ibu Siska "Ibu mu sehat Dion?!"


"Oh sehat, sampai lupa beliau titip salam kamu sama kak Damar juga"


"Salamku untuk ibumu ya, nanti kapan-kapan aku sama kakak mampir kesana deh"


"Iyah Riri nanti aku sampaikan"


Kami pun masuk ke jalan kecil menuju Villa Lembayung. Setelah parkir kami pun turun menuju lobby. Beberapa staf menyambut kami dan membantu membawakan beberapa tas tenteng dari tangan Dion dan Damar.


Wajah mereka seperti bertanya-tanya mengenai siapa dua laki-laki yang diajak Riri hari ini. Termasuk salah satu staf kantor depan bernama Alit.


"Alit, Bu Rita sebentar lagi kan check out. Apa ada perubahan yang mungkin saja saya belum tahu" tanyaku padanya


"Tidak ada Bu, grup Bu Rita saat ini sedang makan siang di restauran"


"Ok, pak Kanis ada di restauran ya?"


"Iyah Bu, apa saya perlu menghubungi beliau?"


"Tidak usah, saya saja yang kesana. Terimakasih ya Alit"


"Sama-sama Bu" jawabnya sambil tersenyum


"Kita ke restauran aja langsung ya, sekalian makan siang" ajakku pada Damar dan Dion


"Horee makan..kita akhirnya makan..." bisik Damar yang membuatku merasa agak geli dengan tingkahnya


Saat kami menaiki buggy, Damar dan Dion nampak terpana dengan pemandangan asri sepanjang perjalanan kami menuju restauran


"Gilaaa.. ini bahkan lebih indah dari yang aku lihat di foto" pekik Damar tertahan "kerennnn banget Riri!!"


"Asli kak keren banget tempatnya, aku kayaknya bakalan betah tinggal disini. Boleh tinggal sebulan full nggak?"


"Boleh tapi bayar!!!" sahutku sambil menahan tawa


"Oh tenang Abang Dion sekarang banyak duit neng" ia memelankan suaranya


"Hahahaha dasar Dion" Damar tergelak


"Hahahaha" Aku pun tak sanggup menahan tawaku


Kami pun tiba di Restauran.


Bu Rita sedikit terkejut saat melihat Riri dengan dua orang laki-laki nampak akrab memasuki Restauran. Beberapa ibu-ibu yang mengenali Riri pun terlihat kaget.

__ADS_1


"Bu, lihat deh itu kan Riri. Keponakannya Bu Alina. Kenapa dia ada disini sih? sama Dion lagi anaknya Bu Siska. Tahu sendiri kan Dion itu pergaulannya gimana?!! Itu siapa laki-laki gagah yang bersama mereka?! Ih jangan-jangan....duh saya jadi berpikir yang bukan-bukan" Bisik Bu Teti pada teman-temannya. Suasana nampak riuh, mereka ikut berbisik-bisik membicarakan hal ini.


Tak berbeda dengan mereka, Bu Rita pun melihat mereka bertiga dengan perasaan kaget bercampur aduk.


__ADS_2