
Riri menghirup napas dalam-dalam, ia sedang memikirkan cara untuk mengulur waktu.
"Kak di.." panggilku lembut
Hadi menoleh kearah Riri dengan wajah tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar.
"Hah? ... Kau memanggilku siapa? Coba katakan sekali lagi" ia mendekatkan wajahnya
"Kak di" aku tersenyum padanya
Raut wajah Hadi perlahan-lahan melembut, ia tersenyum lebar "Akhirnya kau memanggilku dengan panggilan itu lagi. Apa aku salah dengar?! Sudah lama aku menunggu panggilan itu Tari"
Samar-samar ia teringat akan kenangan manis mereka, sewaktu masih sering bermain bersama-sama di masa lalu. Ia hapal betul, panggilan dengan suara lembut itu juga menandakan kalau Riri sedang ingin lebih diperhatikan.
"Sebentar... .. Apa kau ingin membuatku lengah?! Itu tak akan terjadi Tari. Keadaan sudah berbeda, kau boleh saja memanggilku dengan panggilan masa kecil kita. Tapi aku tak akan terpengaruh oleh itu. Tujuanku kini sudah bulat untuk memilikimu seutuhnya sampai maut memisahkan kita" ujar Hadi dengan wajah serius
"Aku tidak memiliki maksud apa-apa, aku hanya lelah kak. Badanku sakit semua. Kalau memang lokasi ini jauh darimanapun, seharusnya kakak tak khawatir membuka ikatan tangan dan kakiku ini?"
"Tidak... Itu tidak akan aku lakukan"
"Kenapa? Apa menurut kakak aku bisa kabur dari sini?"
Hadi nampak berpikir, ia menggeleng
"Sudah kubilang lokasi ini terpencil, pulaunya juga hanya dihuni oleh beberapa orang saja. Dan mereka semua anak buah ku"
"Terus kenapa aku harus diikat begini?"
"Kalau tidak ku ikat, kau akan melawan"
"Percuma juga aku melawan, aku bahkan tidak tau harus pulang lewat mana" Riri menghela napasnya seperti orang yang pasrah, ia memasang wajah memelas.
"Ayolah kak, buka ikatan tanganku. Aku berjanji akan menurut padamu. Kakak kan tahu aku berjiwa lembut dan penuh pengertian. Lagipula aku sebenarnya sedang merasa lega karena bisa berada jauh dari laki-laki itu"
Hadi nampak terkejut mendengar ucapan Riri
"Kenapa? Apa dia menyakitimu? Dia tidak membuatmu bahagia?"
"Dia terlalu mengekang kebebasanku kak. Semua harus sesuai dengan aturannya, dan aku sudah muak. Kemana pun aku pergi setidaknya satu orang pengawal pasti ikut bersamaku, aku jadi tidak bebas melakukan hal-hal yang kusukai. Setiap kegiatan aku harus melapor padanya, hidup macam apa itu?!!" Jawabku berpura-pura geram
__ADS_1
Hadi nampak berpikir ia lalu mengulum senyumnya sambil mengangguk-angguk pelan.
"Ohh begitu. Tari yang malang. Baiklah akan ku buka ikatanmu tapi jangan macam-macam. Kau tahu kan, aku bisa segila apa!?" Ancam Hadi. Ia pun mengambil pisau dari dalam laci dan membuka ikatan tangan dan kaki Riri dengan sekali sabetan.
Riri perlahan membenarkan posisi badannya. Tangannya terasa pegal dan kebas saat berusaha menopang tubuhnya untuk bangkit. Hadi pun dengan sigap menolongnya.
"Pelan-pelan Tari. Apa tanganmu baik-baik saja?" tanyanya khawatir
Aku mengangguk "hanya kesemutan" jawabku singkat sambil tersenyum berusaha terlihat tenang dan nyaman berada di dekatnya. Padahal kenyataannya aku sedang merasa jijik sekaligus waspada dengan apa yang akan ia lakukan padaku sebentar lagi.
Hadi merapatkan tubuhnya lalu memelukku dengan erat. Detak jantungku berdebar-debar penuh emosi, tak sabar rasanya ingin segera mengakhiri adegan menjijikkan ini. Tanganku juga rasanya sudah mulai gatal ingin melayangkan tamparan pada wajahnya.
"Maafkan aku Tari, aku terpaksa melakukan ini. Kau tahu perasaan cintaku ini sungguh menyiksaku" ujarnya sambil menggesek-gesekkan kepalanya di atas pundakku.
"Aku tahu kak"
Ia melepaskan pelukannya dan mengecup kepalaku. Aku hanya terdiam tak bereaksi apapun. Tahu aku tidak marah dan menghentikan aksinya, ia pun turun melanjutkan aksinya ke pipi dan leherku.
"Sebaiknya aku mandi dulu kak, aku merasa kurang nyaman. Badanku rasanya lengket semua" ujarku lembut
Ia menghentikan kecupannya "ah benar juga"
"Tidak usah kak, aku mau melakukankannya sendiri"
"Ok, sini aku antar. Handuknya sudah ada di sana"
"Aku boleh pinjam baju kakak?" tanyaku dengan wajah manja dan memelas
"Hahahaha... tenang saja. Untukmu sudah ku persiapkan semuanya. Tapi kalau kau ingin memakai bajuku yang kebesaran, apa boleh buat terpaksa kuberikan padamu. Kamu pasti akan terlihat sangat menggemaskan memakai pakaian kebesaran itu" Ucapnya dengan penuh keyakinan. Ia pun merangkul ku mengajak keluar dari kamar ini.
Di dalam kamar mandi aku memeriksa setiap celah dan sudut termasuk cermin untuk memastikan tidak ada lubang ataupun kamera yang diam-diam merekam aktivitasku disini.
"Akhirnya untuk sementara waktu aku bisa sedikit berpanas lega" Sekelabat bayangan Hadi menciumi kepala dan leherku membuatku mual, hampir saja aku muntah dibuatnya.
"Tahan amarahmu sedikit lagi Riri, kamu harus bisa mempertahankan kehormatanmu apapun caranya. Kamu pasti bisa" gumamku dalam hati
Aku memutuskan memanjat naik melalui wastafel untuk melihat keadaan diluar dari ventilasi udara. Kulihat langit di luar nampak gelap dengan gemerlap bintang disekitarnya, angin pun cukup kencang. Suara jangkrik dan burung hantu bersahutan tanpa jeda di luar sana. Sesekali teriakan binatang seperti monyet terdengar jelas bergema di kegelapan malam.
Di antara suara-suara alam malam ini, aku mendengar sayup-sayup suara ombak menderu menghempas karang.
__ADS_1
"Artinya bibir pantai letaknya tidak terlalu jauh dari rumah ini" gumamku lagi dalam benakku
"Tari jangan lama-lama di dalam. Aku takut nanti kamu digigit nyamuk!!! hehehehe" Suara Hadi mengagetkanku
"Iyah" jawabku singkat kemudian turun pelan-pelan lalu bergegas membersihkan diri.
Di waktu yang sama, di dermaga kecil yang jaraknya dua jam dari sana, nampak Damar sedang mengatur orang-orang untuk melakukan pencarian Riri lebih lanjut. Menurut informan keluarga Wijaya, Riri kemungkinan besar berada di salah satu pulau tak berpenghuni yang tersebar di lokasi paling ujung sebelah Utara.
"Ada nelayan yang melihat sebuah perahu membawa peti besar ke arah Utara menuju kepulauan disana. Entah pulau yang mana, itu yang harus kita cari tahu. Mau tidak mau, kita harus menyebar dan memeriksa setiap pulau yang ada si sana" Ujar Damar
"Aku sudah menyiapkan beberapa kapal laut dan dua helikopter untuk pencarian ini. Helikopter sudah berangkat sejak tadi, sambil jalan kita akan berkomunikasi terus dengan mereka" Timpal Sugi
Ridwan yang sedang menerima telepon nampak berlari mendekat
"Pak, pak Doni dalam keadaan selamat, beliau sekarang sedang menuju kemari" lapor Ridwan pada Sugi
Sugi. dan Damar nampak sedikit lega mendengar berita tersebut
"Syukurlah pak Doni baik-baik saja" gumam Sugi sambil menarik napasnya dalam-dalam
"Sam, kalau begitu aku dan yang lain mendahului. Kamu tunggu pak Doni disini nanti menyusul saja"
"Ok, kabari aku secepatnya kalau ada apa-apa"
"Ok" sahut Damar dan bergegas menuju kapal yang akan membawa mereka ke kepulauan sebelah Utara.
"Dion kamu sama yang lain yah, biar kita berpencar"
"Ok kak" jawab Dion lalu mengikuti bawahan pak Doni menuju kapal yang berbeda dengan Damar.
Tak lama suara mobil berdecit terdengar mendekat ke arah Sugi. Dari kejauhan nyala lampu mobil menerangi Dermaga. Mobil itu pun berhenti tepat di depannya. Pak Doni pun turun dari dalam mobil.
"Pak Sugi anda baik-baik saja kan?" tanyanya dengan wajah tegang "Bu Riri bagiamana? Apa sudah ada petunjuk baru?"
Tanpa menjawab pertanyaannya, Sugi memeluk Pak Doni singkat lalu menepuk punggungnya "Syukurlah pak Doni baik-baik saja"
Pak Doni merasa terharu karena Sugi ternyata sangat khawatir padanya.
"Nanti saya update semuanya di perjalanan, kita sebaiknya berangkat sekarang. Boat kita sudah menunggu" ujar Sugi lalu berbalik badan dan berjalan tergesa-gesa diikuti oleh Pak Doni dan Ridwan dari belakang
__ADS_1