
"Saya makan di dalam saja yah pak" Riri pergi tanpa menunggu jawaban dari Sugi
Rio nampak duduk dimeja makan dan menikmati burgernya dalam diam. Begitu juga Sugi, dia sebenarnya ingin tahu apa yang sedang terjadi tapi rasa lapar yang ia rasakan mengalahkan segalanya.
Sesaat kemudian Riri nampak keluar lagi dari kamarnya. "Pak tadi katanya ada es krim vanilla ya?"
"Iyah, ada di freezer"
"Ok, terimakasih" jawab Riri sembari menuju lemari es dan mengambil satu cup kecil es krim vanilla
"Boleh minta tolong ambilkan saya satu Riri" kata Rio tiba-tiba
"Baik pak" Riri mengambil satu cup lagi untuk Rio
Setelah mendapatkan es krim dari Riri, Rio dengan cepat menarik tutup es krim tersebut dan mencelupkan sepotong kentang goreng kedalamnya.
Riri yang melihat apa yang dilakukan Rio nampak terpaku ditempatnya, matanya berkaca-kaca.
"Ya Tuhan, dia benar-benar mirip dengan kak Damar!! Dia mempunyai kebiasaan makan yang sama anehnya denganku. Salah satunya makan kentang goreng dicelupkan ke dalam es krim vanilla" gumam Riri dalam hatinya.
Belum sempat ia menikmati kentang goreng itu, ponsel Rio berbunyi
"Gimana pak?" Tanyanya
Rio menoleh kearah Sugi kemudian ke arah Riri dengan wajah kaget luar biasa "saya mengerti. Nanti saya hubungi kembali" katanya cepat lalu menutup sambungan teleponnya
Sugi merasa khawatir "Ada apa Rio?"
__ADS_1
Rio nampak terdiam sesaat kemudian menjawab "bukan apa-apa Sam" lalu kembali menikmati makanannya dalam diam.
Riri kembali ke kamarnya dengan tergesa. Di kamar ia menumpahkan tangisnya kembali sama seperti kemarin. Sedari awal dia sudah menyadari betul kalau Rio itu sangat mirip kakaknya.
"Bisa jadi Rio adalah Damar. Selama bertahun-tahun tidak bertemu, wajah, tinggi badan dan warna kulitnya mungkin saja bisa berubah namun ada beberapa hal kebiasaan makan dan karakter yang tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Kak Damar sangat menyukai kegiatan outdoor mungkin karena itu kulitnya sekarang terlihat lebih gelap dari beberapa tahun lalu. Mungkin juga karena tempaan hidup wajahnya sekarang terlihat lebih dingin dan muram kalau sedang tidak tersenyum. Tapi suaranya tetap tidak berubah, caranya tertawa, caranya bercanda semua masih sama. Badannya juga cenderung lebih berotot dan berisi, itu kenapa aku yakin sekali itu dia. Aku rindu sekali padanya." Riri memeluk bantalnya sambil terisak.
"Aku hanya takut dengan harapanku yang tidak masuk akal seperti ini. Kalau ternyata dia bukan Kak Damar seperti perkiraanku, aku pasti sangat kecewa. Tapi kalau aku tidak bertanya aku juga tidak akan tahu yang sebenarnya. Jangan-jangan ia tidak mengingatku sama sekali? Kalau ternyata benar dia, apa yang terjadi padanya ya sewaktu ia menghilang?" Banyak pertanyaan muncul dalam benakku.
Ku dengar Sugi dan Rio masih mengobrol sampai larut malam. Kucoba untuk memejamkan mataku sampai akhirnya aku terlelap tanpa sadar.
Aku tiba-tiba terbangun sekitar tengah malam dengan rasa haus. Kuputuskan untuk keluar mengambil segelas air. Aku sedang berada di depan dispenser, ketika ku dengar suara pintu Rio terbuka, jantungku tiba-tiba saja berdebar.
"Apa ini saat yang tepat untuk memperlihatkan wajahku padanya dan menanyakan beberapa hal kalau-kalau ternyata dia tidak mengenaliku?!" Bisikku dalam hati sembari tanganku menekan tombol biru pada dispenser. Suara gemericik air memenuhi gelas dibawahnya. Dengan perlahan aku menghirup air itu sampai tandas.
Tak kudengar suara Rio menyapaku, entah dia pergi kemana setelah keluar tadi. Ketika aku memutar badan tak kusangka Rio telah berada di depanku dengan wajah sedih. Nyala lampu utama disini memang tidak pernah dimatikan pada malam hari , sehingga dengan jelas aku bisa melihat bulir -bulir air mata menetes di pipinya. Air mataku tiba-tiba saja tergenang melihatnya seperti ini.
"Tari Mu..ngil!" Panggilnya pelan dengan suara bergetar
"ka..kak!!" Panggilnya tersendat. Tangan Riri terulur menyentuh wajah kakaknya . "Ini benar kak Damar??" Tanyanya dengan isak tangis mengetahui kalau Rio ternyata memang benar kakaknya
"Ya Tuhan Tari" Damar memeluk Riri dengan dengan erat "Tari, katakan padaku ini benar-benar kamu?! Maafkan Kakak" katanya lagi dengan air mata yang mengalir semakin deras.
Riri nampak tidak bisa menjawab pertanyaan Damar, ia hanya bisa membalas pelukannya. Air matanya juga mengalir deras mengetahui ternyata Rio memang benar adalah kakaknya yang hilang.
Dengan terbata-bata ia mencoba bicara "kak..Damar, aku...aku tidak sedang bermimpi kan?" tanyaku masih sambil terisak tak percaya
Keduanya terlihat mengeratkan pelukannya dan menangis terharu. Setelah sekian lama berpisah akhirnya mereka bisa bertemu kembali di tempat yang tak terduga.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Damar yang mulai tenang meregangkan pelukan, lalu menghapus air mata Riri dengan jari tangannya. Rio menatap adiknya dengan perasaan penuh penyesalan. Riri nampak masih tersedu belum mampu menghentikan tangisnya.
"Coba kulihat dirimu dengan jelas" Rio menunduk memperhatikannya
Riri memukul pelan dada Rio, kali ini ia lebih bisa mengendalikan dirinya "... kenapa kakak pergi meninggalkanku? Kenapa kak?!! Aku berjuang sendiri disini!" Ucapnya pelan dengan wajah marah
"Aku tahu, aku minta maaf. Selama ini saat aku berada di luar negeri, aku sudah berusaha mencarimu melalui beberapa orang yang aku kenal. Tapi hasilnya nihil" bisik Damar
"Kau tahu?? Aku rindu sekali padamu, pada orang tua kita juga. Setiap kali mengingat kalian, aku pasti menangis sampai dadaku terasa sesak kak"
"Aku tahu Tari, ayo kita masuk dulu ke kamarku, kita bicara disana. Aku tidak mau Sugi terbangun gara-gara pembicaraan kita" Damar merangkul Riri menuju kamarnya.
Aku duduk diatas ranjangnya dengan bersandar pada sandaran tempat tidur dengan satu bantal dibelakangku. Damar juga melakukan hal yang sama di sebelahnya.
Aku mengambil beberapa lembar tisu untuk menghapus sisa-sisa air mataku.
"Besok pagi aku akan meminta Sammy untuk memberikanmu libur beberapa hari. Aku ingin mendengar ceritamu dan menghabiskan beberapa hari berdua denganmu. Aku juga sangat merindukanmu, adikku sayang" katanya sambil tersenyum
"Jangan beberapa hari kak, pekerjaanku sedang padat. Bagaimana kalau besok aku libur sehari, setelahnya aku akan mengaturnya lebih lanjut. Biar nanti aku bisa melimpahkan beberapa urusan kepada pak Doni sebelum mengambil libur"
"Kau sudah banyak berubah Tari. Aku senang kamu menikmati pekerjaanmu. Sebentar coba kulihat dulu wajahmu, dulu pipimu sedikit gemuk, sekarang menjadi tirus seperti ini. Apa Sam tidak memperhatikanmu selama disini? Apa dia selalu merepotkanmu? Apa perlu ku beri hukuman padanya?" Tanya Damar dengan wajah khawatir
Aku tersenyum geli "Sugi baik kak, dia bahkan sudah berkali-kali membantuku bahkan juga menyelamatkanku"
Damar menatap Riri dengan wajah penasaran "menyelamatkanmu dari apa?"
"Mungkin ceritaku akan membuatmu emosi, nanti sajalah aku ceritakan. Sekarang ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka bilang kakak hilang di pendakian?"
__ADS_1
"Iyah aku memang sengaja menghilang. Waktu itu aku sudah merasa ada hal yang janggal dengan kematian orang tua kita. Kamu masih ingat asisten ayah, pak Amir?"
Riri mengangguk "iyah aku masih ingat, semenjak orang tua kita meninggal dia seperti hilang juga entah kemana"