Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Celah


__ADS_3

Wajahnya berubah marah dan kecewa


"Jadi kamu membiarkan dia seenaknya begitu dikantormu" ucapnya ketus


"Aku nggak tega mengusirnya secara kasar. Lagipula dia tidak menggangu pekerjaanku. Malah kemarin sebelum kamu datang, ada staf BHN Cargo memberikan penawaran namanya pak Jono. Tiba-tiba saja ia menyentuh bok*ngku"


"Heiii!!! Kenapa kamu baru bilang sekarang?!! Aku harus membuat perhitungan dengan perusahaan itu!!!" Suaranya terdengar meninggi. Aku memeluknya berharap ia akan sedikit lebih tenang


"Maafkan aku sayang. Ini yang aku takutkan. Aku tidak mau kamu melakukan sesuatu hal gegabah terhadap BHN Cargo. Aku tahu kamu nggak akan tinggal diam kalau aku menceritakannya tadi siang"


Ia menatapku kecewa "terus apa yang kamu lakukan padanya?"


"Aku menamparnya lebih tepatnya menempeleng dan Dion menendang orang itu sampai terjungkal"


"Pantas saja tingkahmu siang tadi aneh dan gelisah. Jadi kamu senang karena dia telah menyelamatkanmu?" Ucapnya sinis


"Bukan begitu, kebetulan saja dia ada disana dan membantuku. Padahal kamu tahu kan, aku sendiri bisa menghadapinya dengan mudah. Maksudku, aku mau bilang ternyata Dion tidak seburuk yang kita pikir"


"Aku nggak suka kamu akrab dengan orang itu. Dia womanizer Riri. Dia selalu punya cara agar bisa dekat dengan siapapun yang dia inginkan"


Aku menghela napasku "Aku tidak seakrab itu dengannya. Terus terang aku hanya merasa kasihan padanya. Mungkin saja dia memang tidak memiliki teman untuk bicara"


"Bullshit!!! dia itu sedang mencari celah diantara kita Riri. Dan kamu tidak tegas untuk menolaknya" nada suaranya kembali meninggi


"Dia tidak menggangguku, tidak menyentuhku sama sekali, juga tidak menyatakan perasaannya. Jadi aku harus mengusirnya saja, begitu? Aku nggak sekejam itu sayang" sahutku pelan


"Kamu menyukainya?" tanyanya lagi


Aku menggeleng "nggak sama sekali"


"Tapi kenapa membiarkan dia masuk diantara hubungan kita?"


"Astaga sayang, aku tidak berselingkuh!!!. Apa kamu pikir aku secepat itu menyukai seseorang? Kamu lupa ya apa yang pernah terjadi padaku dulu? Bagaimana susah payahnya kamu mendekatiku!!"


"Kamu periksa saja ponselku, aku tidak pernah menghubunginya sama sekali. Kalau aku mau bermain-main di belakangmu kenapa aku menceritakan ini semua padamu?!!"


"Tapi kamu sadar nggak? Dia berhasil masuk ke dalam hidupmu Riri. Dia sudah terbiasa melakukannya dengan mudah, kamu nggak akan sadar masuk ke perangkapnya"


"Ok, baiklah aku salah. Besok kalau dia datang lagi aku akan mengusirnya dengan tegas. Maafkan aku Sayang, aku nggak bermaksud begitu. Ketika aku melihatnya dengan keadaan menyedihkan begitu aku jadi teringat diriku sendiri"


"Aku juga pernah merasa kesepian, hanya mengandalkan diriku sendiri hari demi hari. Hidupku rasanya suram, jangankan materi, orang yang peduli pun tidak ada. Aku hanya ingin membantunya sedikit. Setelahnya nanti bukan urusanku lagi setidaknya sebagai sesama manusia aku sudah menjalankan kewajibanku"

__ADS_1


Ia menatapku dengan wajah sedih


"Am sorry baby, aku terbawa emosi. Aku cemburu. Aku hanya takut kehilanganmu. Besok biar saja sekuriti yang bertugas mengusirnya"


Aku mengangguk "Aku tahu sayang. Eh satu hal lagi ternyata dia mengenal kak Damar, sayang. Dia juga tahu cerita tentang keluargaku dan hilangnya kak Damar. Waktu aku katakan ia masih hidup matanya terlihat berbinar. Ia nampaknya gembira, katanya Damar itu panutannya semasa sekolah dulu. Semoga saja setelah ini hidupnya berubah menjadi lebih baik. Bagus kan kalau dia berubah, artinya kebaikanku tidak sia-sia"


"Asal jangan sampai mencuri kesayanganku yang ini" ia kembali memelukku erat


Aku merentangkan tanganku selebar-lebarnya "Cintaku sebesar ini, mana bisa secepat itu berpindah haluan. Masa aku membuang permata dan memungut batu apung"


"Yah siapa tahu kan?"


"Aku tipe setia loh, inget nggak? Andi yang sudah menikah saja aku masih tungguin. Aku merasa bodoh hehehe" Aku tertawa geli


"Bukan bodoh. Kamu kan nggak tahu. Pulang yuk, malam ini aku mau melakukan sesuatu padamu. Aku mau mengambil hakku sebagai pacar resmi" ujarnya sambil tersenyum penuh arti


"Ck! Ya sudah ayukk!!!" Jawabku sambil berdiri dan menarik tangannya


"Asyikkk!!" Serunya terlihat gembira


Ia tiba-tiba berjongkok di depanku "ayo naiklah, aku akan menggendongmu"


"Pokoknya tahun depan kita menikah, aku takkan menundanya lagi" ia berkata sambil berjalan


"Apa ini lamaran? Kenapa tidak seromantis yang di film-film?"


"Kamu mau yang seperti itu?"


"Ah nggak seru, masa ditanyain sih?" Gerutuku kesal


"Hahahaha ok... Anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa tadi. Kita ulang kapan-kapan"


"Nggak mau"


"Ya terserah pokoknya tahun depan kita jadi menikah"


"Ihhh!!..."


"Hahahaha" ia terbahak-bahak


Aku dengan sengaja mengigit daun telinganya

__ADS_1


"Heii..hei baby stop it, jangan sekarang. Nanti aja dirumah"


"Aku Mau diapain?"


"Mau di hujani kasih sayang, seperti yang kamu bilang pada pak Doni kan?! Hahaha" ia terbahak


"Lihat nggak wajahnya jadi kaget hahaha"


"Aku kadang merasa aneh melihat keakraban kalian, bukannya tidak suka. Jarang loh ada orang yang bisa seakrab itu dengannya. Orangnya kaku banget, seperti kanebo kering"


Aku menyemburkan tawaku "Hahahaha kasihan pak Doni jadi kanebo kering"


"Iyah kan kalau dia marah atau menghadapi lawan itu benar-benar yang tidak bisa ditawar lagi. Pokoknya hajar"


"Tahu nggak waktu tadi siang, dia kan kebelakang bilang mau bantuin aku. Eh akunya malah di marahin, dia tahu loh Dion sempat kekantor. Matanya awas dan sangat teliti. Beruntung kamu punya asisten seperti pak Doni"


"Oh gitu, dia tahu tapi nggak ngomong ke aku. Artinya dia lebih percaya kamu, dan takut aku bakal memarahimu. Dasar pak Tua" gerutunya


"Ah apaan? Kalau saja kamu melihat wajahnya waktu dia bilang "Saya sarankan agar Bu Riri tidak bermain-main dibelakang bapak!!" Wajahnya itu benar-benar bikin takut, rasanya kayak diinterogasi karena kejahatan berat sama pihak berwajib. Ngeri banget!!"


"Hahahaha, kapok... Kali ini aku dipihak pak Tua"


"CK! Baru sekali ini aku melihat pak Doni sebegitu seramnya. Hebat!!. Sampai aku pikir dia orang lain loh"


"Hahahaha, ya begitulah dia"


"Kamu juga gitu kok, sama. Kalau marah mengerikan sekali"


"Masa? Hatiku kan selembut sutra" ujarnya sambil menurunkan aku ketika kami sampai di sebelah motornya.


"Tapi aku suka, mau selembut sutra, mau sekasar duri salak aku nggak peduli. Aku mencintai semua yang ada padamu. Jokesmu yang aneh juga aku suka"


Ia tersenyum dan mencubit pipiku "kamu memang paling pintar kalau bicara"


Aku tersenyum lebar


"Yuk pulang" katanya kemudian saat aku sudah naik ke boncengannya


Aku memeluknya erat saat motornya melaju dengan kencang


"Semoga setelah ini hubunganku dengan Sugi bisa berjalan mulus tanpa ada hambatan yang berarti" gumamku dalam hati

__ADS_1


__ADS_2