Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Sensasi luar biasa


__ADS_3

"Sayang, marahnya jangan lama-lama ya. Aku rinduuuu sekali" bisikku pelan sambil mengirup wangi tubuhnya. Aku berharap dengan begini marahnya akan berkurang.


"Kamu kok wangi banget? pacar siapa sih wangi begini??" Bisikku lagi lalu mengecup leher dan pipinya tanpa menghiraukan tatapan dinginnya ke arahku


Sugi menghela napasnya dan masih terdiam. Kami sekarang telah berada di dalam kamarnya. Satu kakinya menendang pintu ke belakang dengan kasar agar tertutup "JEGREKK!!!"


Kemudian ia duduk di atas ranjang dan menurunkan aku di pangkuannya. Ia menatapku tajam. Beberapa detik berlalu ia masih terdiam menatapku.


Demi memecah kesunyian aku memberanikan diri untuk mengecup bibirnya perlahan-lahan. Matanya terpejam saat bibirku menyentuh bibirnya. Lalu aku menjauhkan wajahku, tiba-tiba saja ia memajukan wajahnya seperti mengatakan ia meminta lebih. Aku menggeleng dan menutup bibirnya dengan telapak tangan


"Nggak boleh cium kalau masih marah" ujarku sambil balik menatapnya


"Ck! Aku speechless sama kamu. Apa yang harus aku lakukan terhadapmu?" jawabnya pelan


"I'm sorry baby, aku nggak tahan jauh dari kamu. Abisnya kangen banget. Mau lewat depan pasti jadi masalah. Yah sudah, jadinya lewat belakang" aku memegang wajahnya dengan kedua tangan


"Aku hanya takut kamu celaka, sayang. Bisa nggak punya ide itu yang normal-normal aja?"


Aku mengangguk sambil memasang wajah sedih


"Aku juga rindu sama kamu, tapi aku berusaha untuk menahannya. Sehari, dua hari lagi kita pasti bertemu kan?" Ia terlihat khawatir


"Pokoknya lain kali nggak boleh gini lagi, titik" lanjutnya lagi sambil memelukku erat. Ia mulai mengelus punggungku dengan lembut.


"Iyah, aku nggak bakalan kayak gitu lagi kok" ujarku penuh penyesalan


Ia meregangkan pelukannya "nanti kalau kita sudah menikah, semua tingkah lakumu akan dinilai orang. Banyak yang harus kamu pertimbangkan terlebih dahulu sebelum bertindak lebih jauh. Aku nggak mau kamu dinilai tidak layak untukku hanya karena hal-hal sepele seperti ini. Kamu mengerti kan maksudku??"


"Iyah aku mengerti"


"Kalau hanya ada kita berdua aku tidak akan mempermasalahkan hal-hal kecil. Kamu bebas melakukan apa saja asal tidak membahayakan dirimu sendiri. Tapi ketika berada di tempat umum, kita harus siap dinilai. Kamu tahu kan, bagaimana tajamnya penilaian orang-orang terhadap keluargaku?"


Aku mengangguk "aku tahu kok"


"Aku bicara begini karena aku khawatir. Kadang-kadang kamu bertindak tanpa berpikir panjang, sayang"


"Iyahhh cintaku, aku berjanji nggak akan membuatmu khawatir berlebihan lagi. Tapi kamu juga jangan terlalu cepat marah, aku takut"


"Takut?? Barusan itu namamya takut?? Yang cium-cium pipi sama leherku tadi itu takut?? Kalau takut itu gemetar, bukannya cium-cium" ia menarik gemas pipiku


"Ahhh sakit...Hehehehe aku hanya mencoba menenangkanmu. Siapa tahu abis dicium jadi lupa sama marahnya" aku tertawa geli

__ADS_1


"Iyah sih marahnya berkurang, tapi yang muncul sekarang malah jadi n*fsu. Gimana dong?" ia menatapku penuh arti


"Yah itu bukan urusanku hahahaha" aku tergelak berniat untuk bangkit dan lari dari pangkuannya


Ia tiba-tiba mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggangku "Eittt...!!! mau kabur kemana sayang?" ia mengecup kening dan kedua mataku. Mata kami bertemu, kurasakan debaran jantungku mulai bertalu-talu. Mata tajamnya selalu mampu menyihirku untuk tetap menatapnya dalam-dalam.


Tanpa sadar mataku mulai terpejam saat bibir kami saling bertemu. Lidahnya mulai menyeruak masuk ke dalam, menari-nari menyapu lembut lidahku. Kami pun terhanyut dalam buaian gairah yang meletup-letup.


Tanganku bergerak sendiri masuk kedalam kaos yang dikenakannya. Kurasakan hangat tubuhnya menjalar di kedua tanganku. Sugi terdengar melenguh saat tanganku mengusap lembut dadanya. Ia kemudian menggigit-gigit gemas bibirku


"mmphh!!" Aku melenguh tanpa bisa dicegah lagi, menahan deru gejolak yang muncul secara perlahan


Di tengah-tengah ciuman kami, tangannya mulai melepaskan jaket yang aku kenakan. Ia kemudian melepaskan ciumannya dan menatapku dengan mata yang sayu. Kami terengah-engah.


"Sayang...." ia tidak meneruskan ucapannya. Ia terlihat ragu


"Mmmm"


Ujung jari telunjuknya menarik turun kaos yang aku kenakan


"Apa aku boleh melihatnya? please"


Rasa penasaran tiba-tiba muncul dalam benakku. Aku menggangguk pasrah pada permintaannya.


Ia memandangnya dengan wajah takjub "perfect!" Katanya sambil tersenyum


"i love you" bisiknya sembari mengelus rambutku yang terurai dan menyibakkannya ke belakang telinga.


Perasaan malu dan menyesal tiba-tiba muncul kembali padaku, aku menaikkan tangan berniat untuk menutupinya. Rupanya niatku ini terbaca olehnya. Ia menahan tanganku dengan cepat sambil menggeleng


"Kenapa ditutup lagi? Aku sangat menyukainya sayang. Kamu tahu nggak? Aku bahagia sekali malam ini, karena menurutku ini adalah salah satu bentuk penyerahan dirimu padaku. Thank you baby, I love you so much" ia mengecup semua bagian wajahku.


"Aku malu!"


"Malu kenapa? Karena aku sudah melihatnya?"


Aku mengangguk "aku kan belum pernah memperlihatkannya pada orang lain"


"CK! Duh sayang, aku tahu. Aku sungguh laki-laki yang beruntung ... " Ia memelukku erat


"Masih per*w*n ya mba? Hahahah" ia tergelak mencoba menggodaku

__ADS_1


Aku mencubit pinggangnya gemas


"Ahh sakit, sayang Hahahaha" ia masih tergelak sambil meringis menahan sakit di pinggangnya


"Boleh cium disana nggak?" Bisiknya pelan


Aku terdiam karena merasa bimbang dengan pertanyaannya


Tiba-tiba saja tangannya sudah berada disana menyentuhnya dengan lembut. Kurasakan sensasi yang luar biasa saat ini.


"Ssshhh" aku mendesis tanpa sengaja


"Oh God, kamu cantik sayang" ia memperhatikan wajahku yang nampak tanpa sadar menengadah sambil memejamkan mata


Ia sengaja meremasnya dengan perlahan... hingga aku mendesis semakin tak terkontrol akibat perbuatannya ini. Ia semakin bersemangat setelah melihat reaksiku saat ini. Tanpa kusadari ia bergerak turun dan mengecup salah satu ujungnya lalu mengul*mnya pelan.


"Arghhh!!!" Aku mengerang, kali ini kurasakan seluruh tubuhku mengejang merespon sentuhannya ini


"Stop it sayanghh! Aku suka, tapihhh... Tapihhh aku pasti akan menyesalinya nantihh" ujarku sambil tersengal-sengal


Ia menghentikan ciumannya dan memelukku kembali. Aku merasa tak berdaya dan lunglai dalam pelukannya.


"Aku bahagia sekali, Aku lega karena kamu menikmatinya. Kita berhenti disini ya. Ini sudah lebih dari cukup untukku saat ini. Melihat wajahmu tadi itu pengalaman luar biasa untukku" ujarnya masih memelukku erat


Ia kemudian membantu memakaikan bajuku kembali dan membopongku ke ranjang.


"Kita istirahat ya, besok hari yang panjang untukku"


Aku mengangguk pelan dan merinngkuk di ranjangnya. Ia lalu memelukku dari belakang.


"Yang baru saja terjadi tidak usah dipikirkan, aku bertanggung jawab penuh untuk itu" ia mengecup pucuk kepalaku


"Kenapa diam saja sayang? Kemana perginya wanita cantik yang tadi duduk diatas tembok sambil bersenandung itu? Hehehe" ia terkekeh


Aku mencubit tangannya yang melingkar di pinggangku


"Diam ahhh... Nggak usah dibahas" aku mengerutu


"Iya..iya...iya nggak dibahas lagi kok, yah sudah tidur yang nyenyak ya sayang" bisiknya pelan sambil mengelus lembut kepalaku


Entah kenapa aku merasa sangat lelah malam ini. Rasanya tenagaku terkuras lebih banyak dari biasanya, rasa kantuk pun mulai menyerang ku.

__ADS_1


Sugi masih tersenyum mengingat-ingat kejadian tadi "Astaga....dia cantik sekali, aku sungguh beruntung memilikinya. Dari rasa ragu dan malu yang ia perlihatkan tadi memang benar-benar milik seorang wanita yang tidak pernah disentuh sejauh itu oleh laki-laki lain. Aku akan menjaga kepercayaan mu sayang, kamu milikku selamanya" gumam Sugi dalam hati. Ia memperhatikan Riri yang terlihat mulai terlelap dalam pelukannya


__ADS_2